
Adam dan Leony sudah berada di rumah baru mereka. Rumahnya terlihat sangat cantik, dengan halaman yang tak terlalu luas namun bersih terawat.
"Mas, rumahnya bagus sekali, aku sangat suka."
ucap Leony yang berjalan mengintari seluruh rumah.
"Baguslah kalau kamu suka, apa sih yang nggak buatmu dan anak kita," ucap Adam duduk di sofa. Hanya sofa yang dan horden yang ditinggalkan oleh pemilik rumah. Ia mengatakan anggap saja itu bonus, Adam tersenyum mengingat perkataan pemilik rumah sebelumnya.
"Mas, kamu seyum-senyum sendiri?"
"Iya, Hani. Mas teringat perkataan yang punya rumah saja. Ia sangat baik hati sampai-sampai memberikan bonus sofa dan gorden."
"Alhamdulillah mas, mungkin dia perlu uang cepat dan males ribet dengan sofa dan gordennya."
"Ya, hani. Dia juga meninggalkan kasur kecil di kamar dan beberapa meja." ucapnya sambil berjalan menuju pekarangan belakang rumah. Leony juga menyusulnya.
"Mas, pekarangan rumah ini sangat bersih, halan depan rumah juga. Padahal ada beberapa pohon mangga dan kelengkeng. Speepertinya sengaja dibersihkan sebelum ia meninggalkan rumah ini."
Tak berapa lama ponsel Adam berdering, ibunya menelpon.
"Adam, katanya kamu menjemput istri kamu di desa? ini sudah sore, kenapa belum sampai rumah juga? kamu nginep di sana?"
"Aku sudah di kota mah, dan aku sedang melihat-lihat rumah baru kami."
"Apa?? kamu sudah membeli rumah baru? kenapa kamu nggak bilang sama mamah??"
"Ma'af mah, aku nggak sempat bilang."
"Dasar kamu Adam, seenaknya kamu sama mamah ya! kamu nggak anggep mamah kamu apa??"
"Ma'af mah."
"Di mana alamat kamu, mamah mau ke sana!"
"Di jalan Melati komplek 3 no. 90 mah!"
__ADS_1
Tut tut, ibunya mengakhiri panggilan telponnya. Dengan sigap ia meluncur ke alamat yang diberikan Adam.
Tak berapa lama ia sudah sampai di alamat tujuan, ibunya langsung masuk ke dalam tanpa permisi.
"Ya ampuuunn Adaamm Leony! kenapa kalian membeli rumah sekecil ini??!" ekpresi ibunya keheranan, ia menelusuri setiap ruangan yang ada, "kamu lihat kamar tidur ini, sempit sekali! mau kentut aja susah!"
Ibunya terus memeriksa dan terus berjalan ke arah kamar mandi, "Ya ampuuunn, kamar mandinya kecil sekali?! mamah nggak bisa mandi di kamar mandi yang kecil begini!"
"Mah, memangnya siapa yang suruh mamah mandi di situ?" celetuk Adam.
"Sekarang mamah mau kalian tinggal di apartemen mamah saja sana! nanti kalau barang-barang sudah lengkap seperti kasur dan alat masak, baru kalian pindah kemari!"
"Memangnya kenapa mah harus di apartemen mamah, di rumah mamah kan bisa? lebih luas dan nyaman," ucap Adam keheranan.
"Anggap saja kalian sedang bulan madu!" ibunya menyerahkan kunci kepada Leony, "ini kunci apartemen mamah, sekarang kalian tidur saja di sana! sementara barang-barang kalian sudah lengkap!"
Mereka bertiga menuju apartemen ibunya di pusat kota. Apartemen di sana sangat mewah, Adam berpikir sebenarnya kenapa tiba-tiba ibunya menyuruh mereka untuk tinggal di sana. Ia menjadi sangat baik padanya dan Leony. Padahal ibunya membeli apartemen itu secara sembunyi-sembunyi. Keadaan itu membuat Adam semakin bingung dan bertanya-tanya.
Mereka tiba di depan apartemen, melalui akses lift. Mereka masuk ke dalam kemudian ibunya memesan beberapa makanan melalui telpon. Ia memesan beberapa menu.
Tak berapa lama makanan telah tiba. Mereka makan bertiga dengan lahap. Ibunya mengatakan bahwa Leony harus istirahat dan makan yang banyak. Sontak perkataan ibu mertuanya itu membuatnya terkejut.
Setelah semua itu, ibunya berpamitan pulang. Ia juga mengatakan mereka boleh tinggal di sana selama yang mereka mau. Adam dan Leony dibuat saling berpandangan karenanya.
"Mas, mamah sudah tahu kalau aku hamil?" tanya Leony pada Adam. Mereka masih mengantarkan kepergian ibunya di depan pintu.
"Nggak tuh hani, mamah kok berubah drastis ya? aku jadi bingung... tapi, ya sudahlah. Ambil hikmahnya aja hani. Toh, mamah kan bilang ingin cepat punya cucu, kalau dia tahu kamu sedang mengandung pasti mamah akan lebih bahagia lagi. Iya kan?"
"Iya mas."
Mereka berdua istirahat dengan tenang.
**************
Rizka seharian tak bisa menemukan Adam dan juga ibunya. Ia mondar mandir mencari Adam dengan memegang sebuah berkas. Ia juga tak bisa menemukan Anita.
__ADS_1
Rizka mencoba menelpon ibu Adam, namun tak ada juga jawaban. Ia memutuskan untuk menunggunya di sana, karena jarak perusahaan Adam dan perusahaannya jaraknya lumayan jauh. Tiba-tiba ibu nya Adam muncul bersama dengan Anita.
"Mamah darimana saja? aku mencari mamah seharian," ucap Rizka ramah seperti biasa.
Ibunya Adam tak melihat sedikitpun kearah Rizka, ia menatapnya dengan sinis, "saya habis menyambut kedatangan menantu saya, Leony. Ia sudah pulang dari desa," ucapnya sambil berlalu.
Rizka dan Anita terkejut mendengar kedatangan Leony. Mereka bertiga berjalan menuju ruangan ibunya Adam.
"Rizka, kamu mau ngapain ngikutin saya terus?" tanya ibunya Adam pada Rizka, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Aku mau ngasih proposal ini ke mas Adam mah, tapi seharian ini aku nggak bisa bertemu dengannya mah."
"Pertama-tama saya bilangin kamu, jangan panggil saya mamah. Saya nggak pernah ngelahirin kamu! kedua, Adam sedang sibuk sama istrinya. Dan ketiga, kamu tiap hari bolak-balik ke perusahaan ini ngapain? kamu kurang kerjaan? kalau kamu nggak ada kerjaan mending kamu pulang ke perusahaan kamu sana, kamu bantuin ayah kamu yang sibuk ngurus ini itu sendirian!"
Rizka terdiam mendengarkan perkataan ibunya Adam. Sedangkan Ibunya Adam dan Anita terus berjalan menuju ruangan ibunya.
"Mah, kenapa sih mamah kok akhir-akhir ini kayaknya nggak suka gitu sama Rizka? kasian lo, dari kemarin mamah perlakukan seperti itu."
"Kamu nggak tahu kan Anita, kemarin mamah dapat apa?!" ucap ibunya melotot ke arah Anita.
"Dapat apa mah?"
Ibunya mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Rizka dan Adam yang tidur bersama dalam keadaan telanjang. Hanya selimut yang menutupi sebagian tubuh mereka.
Anita terkejut bukan kepalang melihat foto yang ditunjukkan ibunya. Andai saja ibunya hanya mengatakan di bibir saja tanpa bukti, Anita tak akan pernah mempercayainya.
"Apa-apaan ini mah? ini nggak mungkin! sangat keterlaluan!"
"Mamah lihat langsung ini Anita! mamah hampir pingsan melihat pemandangan ini!"
"Adam sangat keterlaluan mah!"
"Ya, adik kamu dan si Rizka itu memang keterlaluan Anita! mamah akan beri perhitungan untuk mereka berdua!"
"Pantas aja, mamah tiba-tiba benci sekali sama Rizka," ucap Anita yang terduduk di kursi, ia juga syok melihat foto di ponsel ibunya.
__ADS_1
Dan tanpa sepengetahuan mereka, Rizka mengintip dari luar. Rizka gemetar, pantas saja ibu nya Adam berubah sikap kepadanya. Ia pikir, ibunya Adam tak menginginkan Leony sebagai menantunya. Ia pikir, ibunya Adam lebih menyukainya ketimbang menantunya sendiri.
Kali ini hati Rizka menjadi luluh lantak. Ia menjadi geram, gigi nya gemerutuk menahan marah, 'oh, begini wajah asli kamu mah, aku nggak menyangka! dan mas Adam, kamu seharusnya milikku. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menyerah! aku sudah mendapatkan lampu hijau darimu mas, aku nggak akan menyerah! kalian semua akan hancur!' timpal Rizka dalam hati.