Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Tolong !


__ADS_3

Malam hari Anita dan ibunya mengunjungi anggota baru keluarga mereka, baby boy. Mereka membawa banyak makanan untuk Adam dan Leony.


Si bayi terus saja tidur meskipun terus diganggu oleh Vania dan Vanya.


"Vania, Vanya! jangan ganggu adek, main nya di luar saja."


"Mamaaah .... mau main sama adek."


"Kan udah dari tadi kalian berdua cium adek terus, sekarang biarin adeknya bobo. Kalian main di luar dulu, oke?"


Vanya yang lebih penurut langsung keluar dari kamar, berbeda dengan Vania yang masih terdiam mematung dengan wajah cemberut.


"Vania... adeknya biar bobo dulu, kalau udah bangun nanti main lagi."


"Iya, iya." Vania berbalik dan keluar dari kamar.


Ibu terlihat sangat sibuk di dapur menata makanan yang baru saja dia beli. Ia menata dengan rapi di meja.


Vania dan Vanya menghampiri meja makan. Mereka berlari berhamburan hampir menubruk nenek mereka.


"Kalian berdua ini, nggak lihat nenek lagi angkat piring-piring? kalau jatuh pecah kena kaki nenek gimana??"


"Si Vania nek, ngejar aku terus!"


"Kakak bohong nek, dia yang kejar aku duluan!" Ucap Vania kesal dan masih cemberut.


"Sudah sudah, sekarang kalian bantuin nenek. Kalian kan sudah besar, itu di wastafel ada cucian piring dikit kalian cuci sama-sama sekarang!"


Vania dan Vanya dengan senang hati berlarian menuju wastafel untuk mencuci piring.


"Hati-hati, nanti piringnya pecah!" Ucap neneknya berteriak pada Vania dan Vanya.


"Mamah, sssttt jangan teriak dong nanti bayi nya kaget." Anita mengambil air minum di dispenser.


"Nggak kedengeran lah... kan, jauh." Ibu nya membela diri.


Adam datang ke dapur dengan gontai. "Mah, aku laper banget."

__ADS_1


"Kamu nggak boleh makan sekarang!" Ucap ibunya tanpa menatapnya sama sekali.


"Loh, kok nggak boleh mah??" Adam menutup kembali sayuran yang dia intip.


"Panggil dulu istri kamu! kalau punya anak bayi, usahakan istri kamu duluan yang makan! kasian dia lagi menyusui."


"Denger tuh!" Anita melemparkan pandangan meledek.


"Iya iya."


Adam berdiri dan masuk ke kamar. Dilihatnya sedang menyusui anaknya. Ia bahkan belum sempat membersihkan diri sore ini karena terlalu sibuk. Tapi apalah daya, setiap Adam bertanya selalu saja dia diam kan seperti tak ada seorangpun yang sedang berbicara.


Adam menghembuskan nafas panjang. "Hani, di suruh mamah makan dulu sana. Biar aku yang jaga baby boy."


Leony mencari sela untuk melepaskan ****** susu nya dari sang bayi. Bayi kembali tidur nyenyak. Setelah itu ia meninggalkan suaminya tanpa sepatah kata pun.


"Duuuhh, nasib-nasib. Sabar ya..." Anita yang melihat kejadian itu langsung meledek Adam.


"Makanya, kalau mau selingkuh di pikir dulu!"


Adam langsung berlari dan berlutut di depan kakaknya.


"Kamu lebay banget sih?! berdiri!"


"Nggak, aku nggak mau berdiri sebelum kamu tolongin aku kak!"


"Tolongin apa coba?! dasar nggak jelas!" Anita risih melihat kelakuan Adam yang seperti itu.


"Rizka kak..."


"Rizka, kenapa??"


"Rizka.... hamil anak aku."


Anita terperanjat mendengar ucapan Adam.


"Angkat wajah kamu!"

__ADS_1


Adam berhenti mencium tangan Anita dan mengangkat wajah nya.


Plaakkkk !!!!


"Aduh!!"


Adam terkejut, malah mendapat tamparan dari Anita.


"Kok malah nampar sih kak??"


"Sekarang aku tanya sama kamu, istri kamu sejak kamu tahu selingkuh apalagi Rizka sekarang hamil, kamu udah kena tampar belum??"


Adam terdiam mendengar perkataan Anita.


"Belum kan??"


Adam masih terdiam, kini ia terduduk di lantai.


"Aku yang mewakili dia nampar kamu."


Anita berjalan mendekati bayi dan membenarkan selimutnya karena si bayi mengubah posisi tidurnya.


"Kamu sadar, rumah tangga kamu sekarang bisa kandas kapan aja. Makanya Dam, sebelum melakukan dipikir dulu. Jangan kamu rasain enaknya dulu baru dipikir!"


Adam tak berkutik mendengar perkataan kakaknya.


"Kalau mamah tahu, habislah kamu. Nanti biar aku yang kasih tahu mamah masalah ini." Anita menghembuskan nafas kasar. "Ini kejutan besar buat mamah." Anita menggelengkan kepala sambil memijat-mijat keningnya.


"Ma'afkan aku kak. Tapi aku yakin, mamah nggak akan mau tahu tentang Rizka dan kehamilannya. Tapi anak itu juga butuh pengakuan kak."


"Makanya biar aku yang ngomong, kalau kamu yang ngomong pasti sudah kena tampar mamah!"


"Bukannya aku ngomong sama kamu juga kena tampar??"


"Bajingan kayak kamu pantas lah Dam!"


Adam terdiam mendengar Anita setengah berteriak, dan itu membuat si bayi terbangun.

__ADS_1


"Aduuh, kaget ya sayaanng... ma'afin tante yaa?"


Anita menggendong si bayi ke luar kamar. Membiarkan Adam masih terduduk dalam kegalauan yang ia rasakan. Yang sebenarnya kegalauan yang ia buat sendiri.


__ADS_2