Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Bunuh Diri


__ADS_3

"Buk... Nita mau ke pasar malam cari angin."


"Jangan sendirian Nita, Ibuk temenin ya, kamu kan baru sembuh, gak baik kena angin malam".


"Gak papa buk, Nita ditemenin Ayu koq."


Terdengar suara motor matic Ayu.


"Nit, Ayo berangkat!"


"Iya yu. Buk Nita berangkat."


"iya, hati-hati dijalan."


Merekapun menghilang dari pandangan ibu Nita. Tiba-tiba Bapak keluar.


"Mau kemana si Nita?"


"Mau ke pasar malam katanya pak, kasian di rumah terus."


"Memangnya sejak kapan anak kamu itu betah di rumah? dari dulu juga dia kerjanya keluyuuraann saja. Apalagi tinggal di kota, semakin bebas dia keluyuran! Lihat perutnya yang mblendung semakin besar itu, akibat dia suka kelayapan siang malam!"


"Sekarang kan sudah beda pak... Dia juga mikir to pak, kalau dia di rumah terus lama-lama nanti bisa dia stres, tertekan."


"Kenapa dia bisa stres?? karena bapak ngomel terus tiap hari,iya? Itukan akibat ulahnya sendiri. Bapak mengomel marah-marah bukan tanpa sebab! dan kamu buk, kamu bela anak kamu itu terus, dia semakin besar kepalanya! Ibuk sama anak sama saja! punya anak satu aja koq gak bener!" Bapak pergi meninggalkan istrinya yang masih berdiri di depan pintu.


Ibu jarang membalas perkataan suaminya itu, karena dirasa percuma saja.


Di pasar malam, Nita membeli jajanan tradisional. sudah lama sekali dia makan jajanan pasar sejak tinggal di kota. Nita suka sekali cenil, dia membeli 10 ribu cenil, pentol bakar dan minuman dingin. Ayu menemaninya makan.


"Nit, itu kan Nurin calon suami kamu?" kata Ayu menunjuk seseorang.


"Iya, ngapain dia di sini ya?" Nita menyedot minumannya.


"Sama siapa tuh Nit, cewek."


"Temennya mungkin Yu..."


"Temen koq gandengan tangan semesra itu Nit."


"Biarin aja Yu... memangnya mau ngapain coba, aku sama dia juga menikah terpaksa."


"Kamu gak marah atau kesal?" tanya Ayu heran.


"Buat apa kesal, apalagi marah? mungkin cewek itu pacarnya. Akulah yang sudah memisahkan mereka."


"Tapi Nita, suatu saat cewek itu bisa saja jadi duri dalam daging, dia bisa aja buat rumah tangga kamu nantinya gak bahagia!"


"Memangnya sejak kapan aku bahagia Yu... kalaupun Nurin mau berpisah dari aku ya silahkan."


"Kamu koq gitu sih Nit, dia itu calon suami kamu. Kalau nanti udah sah jadi suami kamu, kamu harus perjuangkan suamimu Nit!"

__ADS_1


"Sudahlah Yu, gak ada yang perlu diperjuangkan, anak ini punya bapak aja aku sudah syukur."


Ayu mengalah mendengar kata-kata pasrah temannya itu. Mereka menyaksikan Nurin dan Leony berfoto dengan badut kemudian pergi mengelilingi pasar. Posisi Nita dan Ayu yang agak tersembunyi tak memungkinkan untuk terlihat Nurin.


Setelah menikmati jajanan pasar, mereka berdua pulang kerumah. Nita merasa lega setelah jalan-jalan. Sudah berhari-hari dia sakit dan di rumah hanya mendengar Omelan Bapaknya. Membuatnya sumpek berada di rumah.


******


Esok hari Nita pergi ke rumah ayu untuk main, dan betapa terkejut Nita bertemu dengan Sandi.


"Mas.... kamu ngapain di sini?"


"Nit Nita, kamu ngapain di sini? aku lagi ada perlu di sini."


"Mas...aku perlu bicara sama kamu."


"Bicara apa sih, gak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Sandi pergi, tapi Nita menarik tangannya.


"Mas... kamu lihat mas, aku sedang mengandung anak kamu. Apa kamu benar-benar akan mencampakkan aku mas?"


"Kamu ngomong apa sih Nita... kitakan sudah lama putus! kamu bisa gak jangan tarik-tarik tangan aku. Gak enak dilihat orang." kata Sandi mengibas tangan Nita.


"Mas... jadi selama ini aku cuma mainan kamu ya mas?" Nita mulai meneteskan air mata, "kenapa mas? kamu tega sama aku dan anak ini? ini anak kamu mas..."


"Dengar ya Nit! aku kan sudah bilang, kita sudah lama putus! jadi mana mungkin anak itu anakku?!"


"Kita baru putus 2 bulan yang lalu mas.. kamu bilang lama??! apa kamu memang sebrengsek itu?!!"


"Brengsek kamu mas!!!"


Nita langsung pergi ke rumah Ayu dan menangis di sana. Hatinya benar-benar hancur kali ini. Laki-laki yang dicintainya selama ini sudah mempermainkannya dan mencampakkan anak yang dikandungnya.


Hari itu, hari yang naas bagi Nita.


Seharian penuh dia di rumah Ayu, menjelang sore barulah dia pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Nita langsung masuk ke kamarnya.


Tak lama kemudian, ibu berteriak histeris.


"Bapaakkkkk bapaakkkkk anakku anakkuu !!!!!"


Bapak yang mendengar teriakan ini sontak berlari menuju asal suara. Betapa terkejutnya Bapak melihat Nita yang sudah berlumuran darah karena menyayat nadinya.


Bapak pergi mengambil kain panjang dan mengikat jalan darah. Kemudian membopong Nita menuju kedalam mobil. Dan melaju ke rumah sakit.


Bukan hanya menyayat nadinya, dia juga menelan banyak obat untuk menghabisi diri dan bayinya.


Di depan ruangan IGD bapak dan ibunya hanya bisa berdoa semoga tak terjadi apa-apa pada anak dan cucunya.


Terlebih ibu, tak berhenti-hentinya menangis.

__ADS_1


Bapak menyuruh ibu mengabarkan Nurin dan keluarganya kejadian itu. Dengan cepat mereka pergi ke rumah sakit yang jaraknya agak jauh.


Nurin meminta izin untuk pulang lebih awal. Dan segera pergi menyusul.


"Gimana buk keadaanya Nita?" tanya Nurin sangat khawatir.


"Dia sudah sadar, tapi dia belum mau ngomong apa-apa." kata Bapak Nita.


Mereka semua sangat khawatir dengan keadaan Nita saat itu. Kemarahan dan keputus asaannya membuatnya berfikir pendek.


Melihat keadaan Nita membuat Nurin sangat prihatin, dia membayangkan jika itu terjadi pada Leony. Apakah Leony bisa menerima kenyataannya nanti. Nurin menjadi sangat takut dan bimbang.


Nurin tak mengabari Leony apapun. Dan begitu juga dengan Leony.


Sejak Nita sakit, Nurin terus datang kerumah Nita untuk menjenguk dan memberikannya perhatian. Nurin juga tidak lagi pergi bekerja. Hanya Bian yang selalu pergi.


Sudah dua hari, namun Leony tak mengirimkan pesan apapun ke Nurin. Membuat Nurin menjadi penasaran dengan apa yang terjadi.


"Nak... kamu makan dulu sana dibelakang. Kamu belum makan dari tadi." ucap ibu Nita.


"Iya buk, Nurin makan dulu." Nurin pergi ke dapur.


Sejak ada Nurin di rumah, bapak tidak pernah terdengar omelannya yang pedas lagi.


Kehadirannya juga menjadi penyemangat untuk Nita. Sesekali ibu dan Nurin bergantian menyuapi Nita makan.


"Mas, apakah kamu benar-benar ingin menikah denganku?" tanya Nita kepada Nurin.


"Iya Nit, saya akan menikahi kamu."


"Ma'af kalau sudah menghancurkan hidupmu mas."


"Saya melakukan ini demi orang tua saya Nit."


"iya mas... saya tahu."


Suasana menjadi hening.


"Apa yang membuat kamu melakukan hal ***oh begini ?" tanya Nurin, "kamu kan tahu, sekarang ada nyawa yang harus kamu jaga. Anak itu anugerah, rezeki. jangan sekali-kali kamu tega berbuat hal seperti itu kepada anakmu yang tak tahu apa-apa."


Nita hanya terdiam bisu mendengar ucap Nurin.


"Kalau kita menikah, akan ada orang yang tersakiti mas. Aku tahu kamu punya kekasih."


"Saya juga bingung masalah itu, tapi.. saya gak terlalu mengkhawatirkan hidupnya."


"Kenapa mas? diakan kekasih kamu?"


"Karena aku tahu, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Bahkan dia selalu bermanfaat untuk orang lain. Kehilangan orang seperti saya gak akan membuatnya terlalu bersedih."


Nita tertegun mendengar pernyataan Nurin. Sosok seperti apakah perempuan yang dicintai Nurin itu.

__ADS_1


__ADS_2