
Semua orang sudah pergi bekerja, Tiba-tiba saja listrik padam. Leony lupa kalau ia harus mengisi token listrik. Untung saja ibu mertuanya sudah berangkat kerja, kalau tidak habislah ia jadi sasaran amarah.
Ia bergegas menelpon suaminya, beberapa kali ia menelpon namun tak ada jawaban. Terpaksa ia menggunakan uang pribadinya. Ia masuk ke kamar dan membeli token listrik menggunakan mobile banking.
Dan seketika itu juga ibu mertuanya masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Ibunya merebut kartu ATM di tangan Leony. Kemudian menampar wajah menantunya itu, plakk!!
"Kamu belajar menipu mamah? apa ini?" tanya ibunya menunjukkan kartu ATM di tangannya.
"Mah, itu ATM pribadiku mah," ucap Leony, kini air matanya mengalir tak terbendung.
Ibunya terdiam sejenak, "Kamu bilang ATM pribadi kamu ini sama temen kamu? kamu bohong juga kan sama mamah? kalau kamu nggak suka sama mamah, atau kamu nggak senang tinggal di rumah ini, kami boleh angkat kaki kapanpun kamu mau! sekarang bilang berapa pin ATM ini?!"
Dengan tersedu ia mengatakan nmor pin kartu ATM nya kepada ibu mertuanya. Setelah mendapatkan nomor pin, ibu mertuanya langsung pergi.
Setelah beberapa saat, ibu mertuanya kembali dan menemui Leony di dalam kamarnya, "uang di ATM kamu ini sangat banyak jumlahnya, kamu ngasih mamah 30 juta nggak akan buat kamu jatuh miskin! dasar menantu pelit, medit!" ia melemparkan kartu ATM kepada Leony lalu pergi dengan uang 30 juta di tangannya.
Leony semakin terisak, begitu tega ibu mertuanya memperlakukan dia seperti itu. Ia hanya bisa duduk terdiam. Selang beberapa saat, Adam menelpon.
"Hani? siap-siap nanti jam 3 mas jemput," ucap Adam dengan bersemangat.
"Iya mas,"
"Suara kamu kok gitu? kamu habis nangis?"
"Nggak mas."
"Kamu pasti baru bangun tidur kan?" Adam berdecak heran, "hani, jangan biasakan tidur pagi-pagi. Nggak bagus buat kesehatan kamu, sekarang kamu mandi yang cantik. Mendingan kamu temenin Ayah, okey? nanti mas jemput kamu harus pakai dress yang cantik."
"Iya mas."
Panggilan telpon berakhir, Leony kembali menangis. Rasanya seperti tak ada harapan kehidupan yang baik untuknya. Ia bahkan tak punya seorangpun sebagai tempatnya bercerita mengadu. Ia teringat Fira, bude Sum. Ia sangat ingin memeluk mereka saat ini. Bahkan suaminya tak mampu menghangatkan suasana hatinya.
Ia turun untuk mengisi token listrik karena listriknya sudah mati sudah 1 jam yang lalu. Setelah mengisi token ia kembali ke kamarnya, menghidupkan AC dan berusaha tidur.
__ADS_1
Di dalam tidurnya ia bermimpi mempunyai seorang bayi, ia menggendong bayi dengan kasih sayang. Namun tiba-tiba ada sebuah badai angin topan yang besar. Ia berlari menghindari angin topan tersebut. Ia juga melihat Adam sedang mengendarai mobil, ia memanggil suaminya namun ia tak mendengar.
Tak ada seorangpun yang menolongnya saat itu, ia hanya bisa berlari dan terus berlari menghindari badai angin topan sambil menggendong bayinya.
Setelah beberapa saat ia terbangun dari tidurnya. Mimpinya tersebut layaknya sebuah gambaran perasaannya saat ini, ia kembali menangis.
Tengah hari yang terik, ia tak beranjak dari kamarnya. Ia hanya pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Agar ketika nanti Adam menjemputnya, matanya dan wajahnya tak terlalu sembab.
Ia lupa belum sarapan pagi ini, namun tak juga merasakan lapar. Sakit di hatinya melupakan rasa laparnya. Ia hanya berbaring menunggu kedatangan Adam.
Selang beberapa waktu, Adam telah tiba. Ia mengetuk pintu kamar. Ia bingung tak biasanya istrinya mengunci pintu.
"Hani, tumben kamu kunci pintu? nggak seperti biasanya?"
"Nggak ada apa-apa mas," jawabnya, ia kembali ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
"Hani, kamu menangis?"
Leony hanya duduk di depan meja rias, ia sadar wajah dan matanya terlalu sembab, "aku nggak apa-apa mas," sahutnya sambil mulai merias wajahnya.
"Memangnya dari mana aku bisa tahu mas, kalau kamu jujur atau berbohong?"
"Itu terserah kamu saja hani, kamu mau percaya mas bersyukur. Kalau kamu nggak percaya silahkan kamu cari kebenarannya sendiri," ucap Adam sambil duduk diatas kasur. Ia terus memandang istrinya yang duduk membelakanginya, namun dapat terlihat jelas dari cermin rias.
"Jadi, apa penjelasan kamu mas?"
"Tadi malam, sewaktu kami pesta minum bir Rizka jatuh terpeleset. Ia jatuh menubruk ma..." belum selesai Adam bercerita istrinya sudah memotong kalimatnya.
"Cukup mas,"
"Kenapa hani? apa kamu nggak mempercayai mas?"
"Aku percaya sama kamu mas, tapi untuk saat ini aku nggak mau mendengar apapun. Aku sedang lelah, apapun yang terjadi sekarang aku akan nilai sendiri," ucapnya terus memoles wajahnya dengan perlengkapan make up nya.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu kenapa hani? kalau terjadi sesuatu sama kamu mas mau kamu berkata jujur. Akhir-akhir ini kamu banyak berubah. Bisakah kamu katakan saja sebenarnya apa yang saat ini sedang kamu rasakan?" tanya Adam berusaha membujuk istrinya.
"Aku akan cerita nanti mas, kalau aku sudah punya keputusan."
"Keputusan?" Adam tersenyum kecut, "cepat selesaikan dandanan kamu, mas tunggu di bawah. Lama-lama bicara sama kamu bikin mas pusing sendiri!" Adam keluar kamar dan menutup pintu dengan kasar. Baamm!!!
Air mata mengalir lagi di pipi Leony, membuat make up-nya sedikit luntur. Ia menghapus air matanya dan kembali memoles make up-nya kembali.
Ia memakai dress berwarna biru gelap. Dress yang lumayan cantik matanya. Ia kemudian turun ke bawah. Ia mengenakan sendal wedges berwarna coklat muda.
"Mas, apa kamu buru-buru?" tanya Leony kepada Adam.
"Nggak juga, kita masih punya waktu 2 jam, kenapa?"
"Anterin aku ke salon dulu, bisa?"
"Ya, bisa. Ayo berangkat!"
Mereka menuju salon terdekat, Leony turun dan masuk ke dalam salon. Adam terheran-heran dengan sikap istrinya akhir-akhir ini. Ia sama sekali tak mau mengatakan apa yang sebenarnya dirasakannya. Padahal dengan kejujuran semuanya akan jadi lebih mudah, pikirnya.
Leony telah selesai, ia keluar dengan rambut baru. Berwarna sedikit pirang, sangat cocok dengannya. Adam terkagum dengan penampilan istrinya.
"Hani, kamu sangat cantik!"
"Benarkah mas?"
"Ya!"
Leony juga merasa senang dengan penampilannya. Beberapa bulan ia tinggal dengan mertuanya, baru sekarang ia memiliki waktu untuk merawat diri.
Sebenarnya ia takut menggunakan pewarna rambut mengingat kondisinya yang tengah hamil, namun keinginannya itu tak terbendung. Seakan-akan itu juga bawaan dari kehamilannya.
"Mas, sebenarnya aku belum makan dari tadi pagi. Maukah kamu anterin aku makan sebentar?" tanya nya kepada Adam.
__ADS_1
"Ya," Adam tak ingin banyak bicara kali ini. Ia menuruti saja kemauan istrinya. Lagipula ia juga belum sempat makan siang, akan lebih baik jika mereka mengisi perut dulu sebelum akan lebih sibuk nantinya.