
Malam yang dingin sangat nyaman untuk tidur namun Arif tak bisa tidur dan rewel. Nita kewalahan menenangkan anaknya. Sang nenek juga tak dapat menenangkan cucunya yang terus saja menangis.
Perut Arif sangat kembung. Nita terus menggosokkan minyak telon ke seluruh tubuh anaknya. Silih berganti Nita dan sang Nenek menggendongnya namun tangisannya semakin kencang.
Nurin yang mendengar tangisan histeris Arif langsung datang dan mengambil Arif untuk menggendongnya. Setelah beberapa saat kemudian Arif tertidur dipelukannya. Sudah sering seperti itu, seakan-akan Arif mengerti dengan sosok Nurin yang tulus menyayanginya.
Nita sangat lega, hampir saja dia juga ikut menangis melihat anaknya. Mengurus bayi memang tak mudah, perlu kesabaran dan kasih sayang yang besar.
Keesokan hari Nurin libur bekerja. Hari bersantai untuknya di rumah. Namun Nita tetap sibuk mengurus anaknya jadi Nurin membuat kopi sendiri dan bersantai di teras rumah.
Pagi itu bapak meminta semua untuk berkumpul di ruangan keluarga untuk membahas sesuatu. Semuanya sekarang sudah berkumpul. Nita terlihat sedang menggendong Arif yang rewel karena mengantuk.
Bapak menghidupkan televisi dan duduk santai, "Nurin, Nita. Sudah saatnya kalian menikah secara sah menurut agama, masa iddah kan sudah habis," ucap bapak.
"Maaf pak, buk. Nita minta izin bicara duluan." Nita berkata sambil menyusui Arif anaknya yang kini mulai tertidur.
"Ada apa Nita?" Bapak bertanya. Agaknya kali ini anak kesayangannya itu akan mengatakan sesuatu yang akan membuatnya darah tinggi lagi.
"Pak, Buk. Nita gak akan menikah sama mas Nurin." ucapan Nita membuat semua orang terkejut. Sedangkan Nurin hanya diam.
"Ada apa Nita?" tanya bapak berusaha untuk tenang.
"Nita dan mas Nurin gak saling mencintai pak, buk," tegas Nita.
Bapak menarik nafas, dia merasa akan emosi lagi kali ini. "Nurin, bagaimana dengan kamu?"
"Saya dan Nita memang tidak saling mencintai pak. Tapi saya telah menerima Nita dan Arif dalam hidup saya. Tapi semua itu kembali lagi ke Nita, apapun keputusannya saya juga menerimanya. Dan saya sarankan Nita untuk memikirkan matang-matang keputusan yang akan dia ambil," kata Nurin sambil menarik nafas dalam.
"Saya sudah memikirkannya berulang kali mas, kamu hanya korban dari kesalahan saya dan hutang piutang orang tua kamu, saya merasa malu." Nita berkata dengan menunduk.
"Ibuk, bagaimana menurutmu?" tanya bapak ke Ibu.
"Ibu manut saja Pak, toh mereka yang menjalani. Segala hutang piutang juga sudah dilunasi, dan Nita ingin melanjutkan kuliahnya lagi. Ibuk harap ini awal yang bagus dan yang paling penting tak ada yang tersakiti hatinya dengan keputusan ini."
__ADS_1
"Tapi, itu namanya mempermainkan pernikahan. Belum lagi kalian mengurus berkas-berkas perceraian. Kalian juga akan jadi omongan tetangga nantinya, anak baru berumur 2 bulan orang tuanya koq sudah bercerai?." Bapak menarik nafas panjang. Rasanya sesak sekali dada dan hatinya melihat nasib anak dan cucunya. "Yasudahlah kalau itu keputusan kalian, Bapak hanya bisa mendo'akan kalian akan bahagia nanti," bapak mengakhiri kalimatnya.
Semua lega mendengar Bapak tak keberatan dengan keputusan Nita. Biasanya akan langsung marah mendengar perkataan yang tak sesuai dengan keinginannya.
Bapak kemudian melanjutkan, "bapak hanya minta satu hal, jangan dulu kalian publikasikan perceraian kalian. Karena akan buruk dimata masyarakat nantinya. Hanya anggota keluarga saja yang boleh mengetahuinya."
"Baik Pak." ucap Nita.
"Bapak juga minta kepada Nurin untuk tinggal di sini selama proses perceraian kalian berlangsung. Dan kalau sudah resmi bercerai nanti, sering-seringlah main kesini Nurin. Tali silaturahmi harus tetap dijaga oleh keluarga kita."
"Baik Pak." hanya itu yang dapat dikatakan Nurin.
Meskipun tak ada yang tersakiti diantara mereka semua. Akan tetapi hari itu kesedihan menyelimuti seisi rumah. Kehadiran Arif lah yang membuat mereka semua bisa tersenyum.
Nurin masuk ke kamar untuk tidur. Hari itu hampir seharian dia tidur. Tak habis fikir selama ini dia merasa hubungan mereka baik-baik saja. Nita malah memutuskan untuk bercerai. Dia merasa sudah mempermainkan pernikahan dan semua orang.
Fuuuhhhhh.
Nurin membuang nafas kasar. Keesokan hari dia meminta izin untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dia berniat untuk bermalam selama dua hari. Sebelum pergi dia masuk ke kamar Arif untuk menjenguknya.
"Mas, bawakan ini buat bapak sama Ibuk disana ya!" kata Nita sambil menenteng plasik besar berisikan buah melon.
"Panen ya dek?"
"Iya mas, panen sedikit. Kamu tahukan bapak sama Ibuk belum pernah menanam apapun, ini adalah tanaman pertama dan panen pertama juga. Meskipun lahannya sempit tapi lumayanlah kalau buat makan sendiri." kata Nita sambil mengambil Arif dari pelukan Nurin. "Kamu makan dulu melonnya di atas meja dapur sudah aku kupas."
"Manis apa nggak? sebenarnya mas gak terlalu doyan melon."
"Manis mas, yang aku kupas tadi terlalu matang sih. Jadi rasanya lumayan manis."
"Mas langsung berangkat aja deh, nanti makannya bareng-bareng di sana saja."
"Yasudah mas."
__ADS_1
Nurin beranjak mengambil kunci motor dan helm kemudian pergi.
Dipandanginya punggung Nurin yang perlahan hilang dari penglihatannya. Sekarang dia masih bisa melihatnya. Beberapa Minggu lagi mungkin dia tak akan pernah bisa melihat Nurin lagi. Laki-laki yang mau menerima dirinya. Akankah dia bisa mendapatkan laki-laki seperti Nurin nanti. Hatinya terasa sakit, menyia-nyiakan laki-laki sebaik Nurin.
Dia selimuti Arif yang sudah tertidur pulas. Sebentar lagi dia juga akan meninggalkannya untuk melanjutkan kuliah. Air matanya mengalir tak terbendung lagi.
Kali ini dia harus kuat, kuliah untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Demi buah hatinya, Arif. Suatu hari nanti dia juga akan mencari laki-laki yang baik dan tulus seperti Nurin.
Nita mencari map kumpulan berkas dan buku nikah. Sebentar lagi dia akan mengurus perceraiannya. Tak mungkin dia membiarkan Nurin bertanggung jawab atas semua perbuatannya.
*******
Di perjalanan, Nurin melihat Leony sedang berjalan tertatih. Dia membawa kakinya yang pincang menuju sebuah toko. Kebetulan Nurin juga ingin mampir ke toko membeli rokok untuk bapaknya.
"Mas, mau berangkat kerja ya?" tanya Leony yang terlebih dulu menyapa.
"Iya, cuma mau ke rumah ibuk dulu baru ke kerjaan, kamu mau beli apa?"
"Saya mau beli sabun mandi dan beberapa camilan mas."
"Masih belum bisa naik motor ya?"
"Belum mas, ya kayagini di rumah cuma baring-baring nonton televisi sambil ngemil." kata Leony sambil memilih-milih camilan.
Tiba-tiba muncul Bi Inah untuk berbelanja. Ekspresi Leony berubah drastis setelah melihatnya. Dan benar saja keahlian Bi Inah kini ditonjolkannya kembali.
"Wah, kebetulan nih ada dek Leony sama mantannya. Kalian berdua lagi ngapain di sini?" tanyanya dengan senyuman sinis.
"Ya belanjalah Bi... memangnya mau ngapain disini?" kata Leony memperlihatkan ekspresinya yang tak senang.
"Belanja bareng ya dek? rumah kaliankan jauh. Kayak janjian aja belanja di sini." katanya sambil berlalu tanpa mengharapkan jawaban apapun dari mereka berdua.
Nurin dan Leony menjadi merasa canggung dan segera mengambil belanjaan masing-masing dan segera pergi.
__ADS_1
Sesampainya Nurin di rumah, tak ada satupun orang disana. Jadi ia hanya meletakkan sekantong plastik besar melon yang dibawanya, kemudian pergi bekerja.