
"Dek, ayo pulang.. sudah sore," ucap Nurin mengajak Leony.
"Ya mas."
Nita mengganti pakaian Arif dengan yang lebih hangat dan tebal. Mereka nampak bercanda satu sama lain. Tak terasa Arif kini sudah berusia 2,5 tahun, anak itu semakin lucu.
Mereka semua kini sudah berada diatas sepeda motor. Arif melambaikan tangannya pada ibunya.
"Bye bye mamah...."
Mereka semua hilang dari pandangan Nita. Sepanjang jalan, Arif yang lucu bernyanyi dengan suka cita. Dia duduk di depan di bangku nya sendiri.
"Ayah.. dedek di belakang kedinginan nggak ayah?" tanya Arif yang lucu.
"Nggak dong Rif, dedek di belakang kan di peluk mamahnya."
"Aku mau duduk dibelakang cama dedek yah..."
"Nggak muat dong, nanti ayah duduk di bangku Arif?"
"Nggak muat yah, bangku Alif kan kecil."
"Iya makanya, Arif aja yang duduk di bangku ya."
"Iya yah..."
"Pinter anak ayah..."
Leony yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum saja. Arif sangat menggemaskan baginya.
"Anak kamu pinter ya mas..."
"Iya dong, siapa dulu ayah nya..."
Mereka berdua tertawa bersama. Hingga tak terasa mereka sudah tiba di Desa tepat pukul 5 sore. Leony hanya sendirian, karena Fira sudah kembali ke rumahnya.
"Mas, Arif pulang ke rumah mu atau nenek nya?" tanya Leony duduk di teras depan rumahnya. Bahunya keram karena menggendong begitu lama.
"Di rumah ku dek, Arif sudah terbiasa tidur di sana. Kakek sama nenek nya nggak akan khawatir. Lagian rumah kakek neneknya lumayan jauh dari sini, kasian si Arif sudah kelelahan, besok saja aku antar.
"Iya mas, baguslah kalau begitu. Kalian sangat serasi."
"Iya, yasudah kamu masuk sana. Kasian anak kamu kedinginan dan kecapean juga."
Leony masuk ke dalam rumahnya. Tak berapa lama Adam menelponnya, namun ia tak mengangkat telponnya.
Malam itu menjadi malam yang sepi untuk Leony dan bayi nya. Untung saja si bayi tidak rewel. Bude Sum yang mengetahui kedatangan Leony secara mendadak langsung mendatanginya.
__ADS_1
"Ndook, kamu ada masalah sama suami mu?" tanya bude Sum prihatin.
"Begitulah bude... ternyata menikah tak seindah yang pernah aku bayangkan, berharap suami menjadi teladan dan milik kita seutuhnya, ternyata..." raut wajahnya sangat sedih sekarang.
"Kasihan anak kamu ndook..."
Leony meneteskan air mata mendengarnya. Namun segera ia mengusapnya kembali. Baginya, pilihannya sudah benar dan keputusannya sudah bulat.
"Kamu pasti belum makan kan? bude ambilkan makanan dulu, untung saja bude masak banyak hari ini." bude Sum berjalan menuju rumahnya.
Tak berapa lama bude Sum kembali dengan beberapa mangkuk penuh sayur, ikan dan nasi.
"Ndok, ayo kita makan dulu."
"Iya bude, tapi aku mau sholat dulu sebentar."
"Iya, biar bude jagain bayi nya. Sana kamu sholat dulu."
Leony bergegas mengambil air wudhu dan segera mengerjakan sholat sebelum bayi nya terbangun.
Setelah selesai sholat, barulah mereka makan malam bersama.
"Aku beruntung, masih punya bude di sini... kalau nggak, aku bisa kelaparan malam ini." Ucap Leony pada bude Sum.
"Ingat kata nak Fira ndok... makan dulu, baru bisa beraktivitas." Ucapnya sambil tersenyum.
"Kenapa kamu nggak telpon saja dia ndok??"
Leony menghela nafas perlahan, "aku takut mengganggunya bude, karena dia sudah bekerja keras. Dia pasti sangat lelah."
"Kami memang anak baik, sayang sekali cobaan hidup ku begini. Tapi, bude akan selalu ada di samping kamu. Kamu nggak perlu khawatir, bude adalah orang tua angkat mu sejak dahulu."
Bude Sum merasa sangat iba dengan apa yang telah terjadi pada Leony. Ia berharap akan segera ada titik terang untuk setiap masalah nya. Bude tak bertanya terlalu detail, takut hanya akan menambah beban pikirannya.
Ponsel Leony berbunyi, Adam mengirimkan pesan.
[Hani, ma'afkan mas.. mas nggak bisa mengunjungi kamu malam ini, mas sedang di tangkap oleh para body guard Rizka.]
Pesan dari Adam membuatnya sangat terpukul. Ia tak tahu harus bagaimana, yang ia pikirkan saat ini hanyalah keselamatan anaknya.
[Hani, jaga anak kita baik-baik.]
Adam kembali mengirimkan pesan. Hati Leony terasa remuk sekarang.
Beruntung, bude Sum selalu bersamanya. Ia menginap untuk membantu Leony, ia merasa kasihan kepadanya.
Malam hari si bayi menangis tak karuan. Bude Sum dengan sabar menggendong si bayi hingga tertidur kembali. Malam itu mereka berdua begadang, hanya tertidur beberapa jam saja.
__ADS_1
"Bobo ya le... sama mbah, gendong mbah ya le... cup cup cup cup cup."
Bude Sum menyanyikan lagu sholawat untuk si bayi. Dan membuatnya tenang tertidur dalam dekapan bude Sum.
Hingga menjelang pagi, si bayi tertidur pulas. Leony dengan sigap mengerjakan pekerjaan rumah. Bude Sum selalu membantunya menjaga si bayi.
Drrrttt drrrrtttt drrrrttttt.
Ponsel Leony bergetar, sekilas ia melihat ibu mertuanya menelpon. Tetapi ia tak memperdulikannya.
Drrrrttt drrrrtttt drrrrtttt drrrrtttt
Ponsel berbunyi kembali, ibunya kembali menelpon namun sengaja tak ia hiraukan. Hingga getaran yang kelima masih tetap tak ia hiraukan.
Hingga ibu mertuanya mengirim pesan chat kepadanya.
[Leony, kembali lah ke rumah. Rizka tak akan berani mengganggu kamu. Jangan lah kamu menyerah dengan rumah tanggamu, perjuangkan rumah tanggamu Leony...]
Pesan singkat dari ibu mertuanya membuatnya menitikkan air mata. kenangan bersama dengan keluarga besarnya terpajang jelas di kepalanya.
Tak berapa lama, Nurin datang bersama dengan Arif.
"Dedeeekkk....!" teriak Arif sangat senang bertemu dengan si bayi.
"Ma'af ya pagi-pagi sekali aku sudah bawa Arif kemari. Dia merengek terus katanya minta tempat dedek." Ucap Nurin kepada Leony yang baru saja selesai memandikan bayinya.
"Nggak apa-apa mas, Arif bikin aku gemes."
Bude Sum yang melihat Arif langsung menggendongnya.
"Anak siapa ini ya?? pagi-pagi sudah ganteng sekali...!"
Arif tertawa riang di gendongan Bude Sum. Mereka bercanda satu sama lain.
"Dek, kalau kamu perlu bantuan tinggal bilang aja sama aku, oke?"
"Iya mas." Leony mengangguk.
Bude Sum kembali ke rumahnya sambil menggendong Arif. Ia memetik sayur yang dia tanam di samping rumah. Di sana ada beberapa pohon katuk. Ia memetiknya untuk di masak oleh Leony.
Sayur katuk sangat bagus untuk ibu menyusui, membuat asi menjadi lancar. Beruntung ia tak memangkas tanaman itu, sebelumnya ia berniat memangkasnya karena tangannya yang sakit membuatnya batal untuk memangkas katuk tersebut.
Bude Sum juga membawa beberapa bumbu dapur, karena ia tahu di rumah Leony tidak memiliki bumbu dapur sama sekali. Bahkan kulkas juga telah di cabut setelah kepergjan Fira. Jadi, kulkas itu kosong sama sekali tak ada isi nya.
Bude Sum kembali dengan membawa sayuran dan bumbu-bumbu. Hari itu b
Bude Sum memasak untuk Leony.
__ADS_1