Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Obat


__ADS_3

Baru sehari Fira dan Leony di desa Makmur, mereka sudah menjalani aktivitas yang sangat padat. Terlebih Leony, ia menyempatkan pergi ke tambak ikan milik suaminya. Semua nampak tak berubah, pengunjung juga terlihat seperti biasa tak terlalu ramai.


Sore hari, Leony menyempatkan pergi ke ladang. Disana para pekerja juga seperti biasa, sebagian dari mereka mulai menanam padi dan sayuran. Hanya ada cabai yang bisa di bawa pulang. Dengan menenteng sekantong plastik cabai Leony kembali pulang.


Menjelang malam, mereka bersantai di depan televisi. Bude Sum datang membawa beberapa camilan, ia sangat senang melihat kedatangan Leony dan Fira. Seakaan-akan sedang melihat anak kandungnya yang pulang ke kampung halaman.


Mereka bercengkrama melepas rindu malam itu. Tiba-tiba sebuah mobil tiba di depan rumah, Adam. Adam memberi salam dan masuk, wajahnya terlihat kusut dan lesu. Pakaiannya juga belum diganti, rupa-rupanya ia baru saja pulang kerja dan langsung menyusul istrinya.


Leony menemani Adam makan di dapur, ia tahu bahwa suaminya sangat kelelahan dan lapar. Setelah makan, Adam pergi mandi.


"Hani, apa kamu sudah melihat tambak ikan?" tanya Adam sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Iya, sudah mas."


"Maaf ya hani, mas malah membuatmu semakin repot. Kamu malah jadi semakin sibuk," ucap Adam sambil melingkarkan tangan ke pinggang Leony.


"Nggak papa mas, nanti kalau aku sudah hamil aku kan nggak bisa kemana-mana lagi mas. Apalagi kalau untuk kerja berat," ucap Leony melepaskan lingkaran tangan Adam di pingganganya.


"Iya hani, ngomong-ngomong kita harus pulang besok pagi ya?"


"Loh, kenapa buru-buru mas?"


"Karena mas ada kunjungan ke suatu daerah besok, mas mau kamu tetap di rumah, bukan di sini," ucapnya sambil mengenakan pakaian kaos oblong putih polos.


"I-iya deh mas," Leony mengiyakan dengan berat hati.


"Mukanya cemberut gitu?" Adam mengangkat dagu istrinya.


"Aku baru sehari di sini mas, aku masih kangen di sini," Leony mulai nampak sedih.


"Mas janji, setelah mas selesai kunjungan kita akan kesini lagi satu minggu full, gimana?"


"Yang bener mas?" sekarang ekspresi istrinya nampak sangat senang.


"Iya, jangan cemberut ya sayang," Adam memeluk dan mencium kening istrinya dengan hangat.


**********


Keesokan pagi, mereka langsung kembali pulang ke rumah. Leony sangat sedih, ia tak bisa membantu Fira yang sedang bekerja keras. Namun ia berusaha tak memperlihatkan kekecewaannya itu di depan suaminya.


Sesampainya di rumah, Adam bergegas menyiapkan perlengkapannya selama kunjungan kerja, istrinya ikut membantu menyiapkan segala keperluan suaminya untuk selama kurang lebih 5 hari. Setelah itu, Adam bergegas pergi.

__ADS_1


Hati Leony kembali bersedih, entah kenapa ia setaip hari merasa kesepian di rumah besar itu. Rumah itu besar dan mewah, namun tak ada kehangatan di dalamnya. Rumah mewah penuh dengan kehampaan.


Ditengah lamunannya, ia dikejutkan dengan kedatangan ibu mertuanya. Ibunya terlihat sumringah.


"Mamah sudah pulang?"


"Ya iyalah, masa mamah mau kerja terus. Memangnya kamu, udah kayak ratu aja di rumah ini?" ucap ibu mertuanya dengan nada pelan.


Degh! kalimat itu seperti Sambaran petir di telinga Leony. Ia tak tahu harus menjawab apa, ia hanya terdiam membiarkan ibu mertuanya berlalu.


"Ngomong-ngomong kamu masak apa? mamah udah laper," kata ibunya menuju dapur.


"Aku baru datang mah, yang masak bi Sri," kata Leony mengambil jamu herbal yang diseduh untuk diberikan pada ayahnya.


"Bawa apa kamu dari sana? katanya kamu punya ladang luas?"


"Nggak luas mas, nggak seberapa. Para petani baru mulai menanam, aku cuma bawa cabai sedikit."


"Cabai, buat apa? kamu suruh mamah makan cabai?" kata ibu mertuanya dengan ketus.


"Aku sama mas Adam juga bawa ikan beberapa kilo dari tambak ikan mah."


"Ya, bagus lah. Mana ikannya? sudah Mateng belum?"


"Oya, Leony. Ini catatan barang yang harus kamu beli, bulan depan akan ada sukuran di kantor, persiapkan segalanya dari sekarang. Tenang aja, kamu cuma beli barangnya. Untuk bagian konsumsi bukan tugas kamu," kata ibunya menyodorkan selembar kertas.


"Iya mah," Leony mengambil kertas dan menyimpannya di dalam saku celananya. Ia pergi memberikan jamu herbal kepada ayah mertuanya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sejak tadi ia merasa pusing.


Di dalam kamar ia berbaring di kasur sambil membaca perlengkapan acara syukuran. Ia masih terheran-heran, haruskah keperluan kantor ia juga yang harus membelinya dengan uang pribadi? apakah ibu mertuanya memang sengaja melakukannya. Namun, untuk sekedar bertanya saja ia malu, apalagi membantah perkataan ibu mertuanya.


Ia hanya menghela nafas panjang melihat daftar catatannya yang seharusnya bukanlah tugasnya. Beberapa perlengkapan dekorasi, alat-alat kebersihan, sabun cuci tangan ***** bengek dan sebagainya.


Ia mengambil tas selempang miliknya dan segera pergi menggunakan motornya, "Mah, aku pergi belanja sekarang," katanya sambil mengenakan helm.


"Ya, bagus! usahakan semua harus dapat. Supaya besok mamah sudah nggak kepikiran lagi."


"ya, mah."


Leony pergi ke arah swalayan terbesar, disana sudah lengkap tak perlu pergi kemanapun lagi. Setelah belanja banyak ia bersiap membayar ke kasir. Meskipun kesulitan, ia tetap berusaha membawa barang-barang yang di belinya. Motornya terlihat sesak, hingga hampir tak ada ruang untuk ia duduk.


Dengan susah payah, ia sampai ke rumah. Ia membawa masuk barang-barang yang dibelinya dan menyusunnya dengan rapi. Dari arah dapur ia mendengar ibunya memarahi bi Sri, ia segera datang menyusul.

__ADS_1


Ternyata ibunya marah karena bi Sri memasak ikan yang membuat ibu mertuanya alergi. Seluruh tubuh ibu mertuanya kini penuh dengan bentol bulat dan sensasi gatal bercampur perih. Berulang kali bi Sri meminta maaf, namun ibunya terus saja mengomel.


Ibunya memerintahkan Leony untuk pergi ke apotek membeli obat alergi. Dengan sigap ia segera berangkat kembali menuju apotek. Hari sudah mulai petang, angin bertiup kencang pertanda akan hujan lebat. Ia bergegas melajukan motornya dan segera membeli obat yang diperintahkan.


Setelah mendapatkan obat yang diminta, ia segera pulang. Hujan mulai turun sangat deras, membuat seluruh pakaiannya basah kuyup. Tak berapa lama ia sampai di rumah, di depan pintu ibunya sudah tak sabar menunggu. Setelah memberikan obat, Leony beranjak menuju kamarnya.


"Tunggu! Leony, kenapa kamu beli obat yang salah?!"


"Apa mah, obatnya salah?" Leony sangat heran.


"Kamu lihat, ini obat mamah. Coba kamu lihat nama obat yang kamu beli, kamu punya mata nggak sih?!"


Leony memperhatikan nama obatnya ternyata memang salah. Keliru satu huruf terakhir membuatnya telah salah memberi obat.


"Sekarang kamu pergi beli obat lagi! pastikan jangan salah!"


"Tapi mah, diluar sedang hujan lebat mah," ucap Leony mulai gemetar kedinginan.


"Mamah nggak mau tahu! siapa suruh kamu ceroboh?! sekarang belikan mamah obat yang benar, kamu dengar perintah mamah?!"


"I-iya mah," Leony mengambil kembali helmnya yang sudah sangat basah.


Ia menyalakan motor dan kembali menuju apotek. Di perjalanan ia tak bisa melihat jalan raya dengan jelas karena hujan yang begitu deras. Hanya sorot lampu motor atau mobil yang menjadi patokannya agar ia tak celaka.


Sesampainya di apotek, ia segera membeli obat yang benar dan langsung pulang. Badannya sudah terasa kaku, jari-jari tangannya sudah mati rasa. Ia berusaha pulang dengan selamat, dan segera memberikan obat kepada ibunya.


Setelah memberikan obat ia langsung pergi ke kamarnya dan mengganti pakaian. Ia juga mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, ia bahkan lupa kalau harus menaruh ponselnya ke dalam jok agar tidak basah. Untung saja ponselnya hanya basah sedikit di bagian depannya.


Ia mengambil selimut karena merasakan menggigil yang hebat. Ia menyalakan ponselnya dari dalam selimut. Dilihatnya panggilan tak terjawab dari suaminya, segera ia langsung menelpon suaminya kembali.


"Mas,"


"Leony, kamu dari mana saja?! mas capek dari tadi menelpon kamu!" Adam terdengar sangat marah di telpon.


"M-mas, aku tad-"


"Kamu ngeluyur kemana? aku tahu kamu pergi ngeluyur kan? aku khawatir kamu kenapa-kenapa, kamu tahu?!"


"Mas, aku keluar sebentar karena ibu butuh obat," tak terasa air matanya mengalir deras mendengar bentakan dari suaminya.


"Aku tahu kamu keluar dari tadi pagi, apa yang kamu cari seharian? baru aku tinggal sebentar kamu sudah ngeluyur nggak jelas! aku tahu kamu nggak betah di rumah itu tapi harusnya kamu bersabar, sebentar lagi aku akan membeli rumah untuk kita berdua. Karena itulah aku bekerja siang dan malam!"

__ADS_1


Kalimat terakhir suaminya sukses membuatnya menangis tersedu, ia mengakhiri panggilan suaminya. Sakit sekali mendengar perkataan suaminya tadi. Ia menangis sesenggukan di dalam kamarnya, di bawah selimut.


__ADS_2