Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Pernikahan Adam


__ADS_3

Siang itu hening setelah kepergian Adam, Leony kembali terpuruk dengan kesedihannya. Hanya terdengar suara Fira yang menimang-nimang si bayi dan mengajaknya mengobrol.


"Syaaanng ku, kamu lucu sekali... kamu mirip aku deh."


Perkataan Fira sukses membuat Leony melirik kearah Fira dan bayinya.


"Sayaannggku, kalau udah besar jangan cengeng kayak aku ya...?" lanjut Fira.


Hanya lirikan Leony yang mewakili balasan terhadap sahabatnya itu. Ia merasa sebal tapi juga merasa senang. Dalam perasaannya yang bercampur aduk dia melanjutkan melipat pakaian bayinya yang sudah kering ke dalam keranjang baju.


Bude Sum selesai memasak dan membuat minuman segar untuk mereka minum bersama.


"Ndok... kamu kan masih masa nifas, ini bude buatkan jamu buat kamu. Ini jamu resep turun temurun." Bude Sum menyerahkan segelas jamu pada Leony.


"Mkasih Bude."


"Di habiskan ndok..."


Fira juga mendekati satu teko minuman dingin di hadapannya dan minum.


Bude Sum mengambil si bayi, kalian berdua makan dulu sana. Biar ai tole sama bude."


Tanpa pikir panjang mereka berdua makan terlebih dahulu di dapur. Bude Sum memasak sayuran bening, tempe dan tahu rebus. Makanan setelah melahirkan masih wajib di rebus, ala bude Sum.


"Hmm, enak nih ayam goreng." Fira mengeluarkan seplastik kentucky yang ia bawa dari rumahnya.


Leony melirik ayam Kentucky yang di bawa Fira. Ia tergiur dan membuka bungkusan Kentucky kemudian mengambil potongan kecil.


"Bude, tempe rebus nya dimana sih?" tanya Fira dengan nyaring.


"Eeh, di atas meja kan??" Bude Sum bergegas ke dapur memastikan tempe rebus ada di atas meja.


Leony yang terkejut dengan kedatangan bude Sum melemparkan kentucky nya ke piring Fira dan mengalihkan pandangan.


"Lah, itu tempenya..." bude Sum menunjuk tempe di samping teko air yang memang letaknya agak tersembunyi.


"Ooh, iya... nggak lihat," ucap Fira santai dan menyuguhkan tempe rebus itu dihadapan Leony.


Leony tersenyum kecut melihat akting Fira yang begitu menyebalkan. Bude Sum kembali masuk ke dalam rumah, Fira tertawa berhasil mengerjai Leony.


"Awas kamu ya," Leony mengacungkan sendok di piringnya.


**********

__ADS_1


Mereka bertiga bergantian makan siang dan menjaga si bayi. Setelah itu hanya duduk bersantai di depan televisi. Bayi yang mungil itu sama sekali tidak rewel, dia anak yang sangat pintar.


Tak berapa lama, Nurin datang bertamu. Suasana semakin hangat siang itu, Leony membuatkan segelas kopi hitam untuk Nurin.


Nurin merasa prihatin dengan keadaan Leony saat ini, wajahnya yang biasanya bulat putih berseri. Sekarang menjadi tirus, lusuh seperti pakaian yang tidak pernah di setrika. Dan matanya yang masih bengkak dan sembab.


"Si Arif bagaimana mas, apa dia nangis kamu tinggal?" tanya Leony menyuguhkan kopi kepada Nurin.


"Aku kalau pergi diam-diam dek, tunggu Arif di gendong sama nenek nya terus aku kabur. Kalau nggak kayagitu nanti dia ngamuk."


"Arif akrab sekali sama kamu mas."


"Iya, meskipun dia bukan anak aku... aku juga heran kenapa Arif menempel sekali sama aku."


"Aku pernah salah sangka kamu mas... ternyata kamu laki-laki yang baik."


"Salah sangka apa dek?"


"Nggak... nggak kenapa-kenapa mas. Di minum kopinya."


"Panas dek, kan baru dibikin..."


"Iya ya, masih panas.. ma'af lupa."


Si bayi menangis.


"Ndok, anak'e jaluk mimi...." bude Sum membawa menggendong dan memberikan bayinya pada Leony.


Leony menyusukan bayi nya yang rewel hendak tidur siang. Fira muncul dari dalam dan membawa beberapa lembar kertas.


"Rin... kamu sibuk kerja nggak?" tanya Fira pada Nurin.


"Emm, nggak juga mbak. Aku cuma di sawah aja, memang ada apa mbak?"


"Aku minta tolong sama kamu, tolong hitung kan dan catat bahan-bahan bangunan untuk desain rumah ini ya Rin!" Fira menyodorkan beberapa kertas dan pulpen.


"Rumah siapa ini mbak, besar sekali... tipe 130. Rumah mbak Fira ya?"


"Iya Rin..."


Semua senang mendengarnya.


"Rumah ibu aku kan sudah lama Rin, sudah hampir roboh... jadi, aku harus bangun yang baru, dan yang pasti permanen."

__ADS_1


"Ini mau dikerjain cepat mbak?"


"Iya Rin, secepatnya. Nanti yang nukang kamu aja sama Bian ya?"


"Siap mbak."


Nurin mulai menghitung jumlah bahan bangunan seluruhnya. Tak butuh waktu lama untuk Nurin karena dia sudah ahli. Di menghitung jumlah seluruhnya dalam waktu kurang dari 30 menit. Setelah itu ia memberikannya kepada Fira.


"Kamu memang ahli Rin, makasih banyak ya!"


Seharian mereka mengobrol bersama, di sana bagaikan tempat nongkrong untuk mereka. Tak ada rasa ragu apalagi canggung.


Ddrrrttt drrrttt drrrrtttt


Ponsel Leony bergetar, ia melihat Adam mengirim pesan.


"Hani, aku sudah menikah siri dengan Rizka. Pernikahan sudah usai, ma'af kan mas Hani..."


Begitu hancur hatinya saat melihat pesan Adam, hatinya semakin beku. Namun air matanya sudah tak dapat mengalir. Ia berusaha menenangkan dirinya agar tak terlihat yang lain kalau ia sedang sedih.


Ia telah menerima kemungkinan terburuk ini. Ia sudah menerima dengan lapang dada apapun takdir nya. Dia melihat lagi Fira, ia berhasil move on dari keterpurukannya dulu dan berhasil menjadi ibu tunggal. Ia pun pasti bisa melakukannya.


"Di rumah bude ada ayam potong di kandang, kalau kalian mau kalian panggang nanti. Mentok juga ada, potong aja mentok 1 ayamnya 2 buat rame-rame." Ucap bude Sum kepada Nurin dan Fira.


Nurin dan Fira senang mendengarnya. Dengan sigap mereka berdiri menuju kandang ayam bude Sum. Sedangkan bude Sum mambantu menidurkan si bayi.


"Ndok, kok lemes gitu. Ayah nya tole jadi menikah sama si Rizka?"


Bude Sum seakan mengetahui isi hati Leony dan Leony menangis di bahu bude Sum sesenggukan. Ia mengira air matanya tak akan jatuh lagi, tetapi ia salah.


Bude Sum berusaha menenangkannya.


"Sing sabar ndok, seng legowo...."


Hanya kalimat itu yang mampu dikatakan bude Sum, ia juga menangis tak dapat menahan air matanya.


Tak berapa lama Fira dan Nurin sudah tiba dengan 2 ayam potong dan seekor mentok. Mereka berdua sibuk mengurusi yang akan mereka masak.


Fira membuat bumbu dan Nurin menyembelih kemudian membersihkannya. Sedangkan Leony memandikan bayinya karena hari sudah mulai sore.


Selesai memandikan bayinya, ponselnya berbunyi lagi. Ia terkejut yang menelpon adalah ibu mertuanya.


Ia mengangkat telpon ibu mertuanya, agak lama mereka mengobrol. Mereka berdua nampak sama-sama bersedih. Ibu mertuanya mengatakan bahwa ia sudah keluar dari penjara dan tak perlu mengkhawatirkannya. Ia juga menanyakan tentang cucunya, ia sangat merindukan cucunya.

__ADS_1


Ibu mertuanya juga mengatakan bahwa ia akan ke desa nanti untuk bertemu dengan cucunya yang sangat ia rindukan.


__ADS_2