
Leony dan Fira sedang bersantai di teras menikmati ubi goreng.
"Dingin banget ya Fir malam ini?"
"Iya, dingin banget." Fira asyik memainkan ponselnya.
"Chat sama Anjar ya?"
"Iya, siapa lagi?"
"Kamu gak kangen apa sama dia?"
"Males ah kangen sama dia."
"Koq gitu sih?"
"Kalau ada yang lain aku mending yang lain aja."
"Kamu gak serius ya sama dia?"
Fira hanya menggeleng, tanda kalau dia memang tak serius menanggapi Anjar.
Leony menarik nafas dalam-dalam.
"Umur kamu berapa sih Fir?"
"Coba tebak"
"Hmmm 25?"
Fira menggeleng.
"27?"
Fira menggeleng lagi.
"Terus berapa?"
"31."
"Ha? beneran?" Leony terkejut mendengarnya. Mulut nya masih melongo selebar biji matanya, "serius?"
Fira hanya mengangguk.
"Pantesan kamu dewasa banget, umur aku aja baru 22."
"Ngomong-ngomong tadi kamu kasih bonus buat Nurin sama Bian berapa?"
"Aku kasih mereka masing-masing 6 juta."
"Apa gak terlalu sedikit? kamu gak adil, kamu kasih aku 150 juta."
"Gak adil gimana? mereka kan sudah aku kasih 300 untuk melunasi hutang orangtua mereka beberapa bulan yang lalu."
"Iya juga sih, tapi hutang kamu sama mbak Ningsih kan banyak banget?"
"Iya Fir, aku baru bisa bayar sepertiganya. Sisanya masih banyak, tapi mbak Ningsih selalu yakin aku bisa bayar semuanya nanti."
"Kamu tenang aja, aku akan selalu mendampingi kamu."
"Iya Fir, makasih banyak ya."
__ADS_1
Fira hanya mengangguk.
********
Nita membawakan kopi untuk Nurin yang sedang duduk di teras.
"Mas, ini minum kopinya." Nita menurunkan kopi perlahan.
"Gak usah repot-repot dek, mas sudah bikin tadi, tuh." Nurin menunjukkan kopi di sampingnya.
"Gak papa koq mas, mas aku minta maaf atas sikap dan perkataan aku kemarin ya mas." Nita berkata dengan sedih.
"Nggak papa dek, yang sudah ya sudah."
"Aku jadi gak enak sama kamu mas, kemarin aku terlalu kasar."
"Aku masih simpan uangnya dek, kalau kamu perlu kamu tinggal bilang aja ya."
"Gimana sama bapak dan ibuk mas? apa kamu sudah sisihkan untuk mereka?"
"Kamu tenang aja, aku sudah sisihkan 2 juta untuk mereka."
"Yasudah kalau gitu mas."
"Ngomong-ngoming usia kandungan kamu sudah berapa bulan?"
"Sudah jalan 7 bulan mas."
"Apa nanti mau dibikin acara tujuh bulanan?"
"Iya mas, maunya bapak sama ibuk seperti itu tapi mereka maunya bulan depan aja. Dan masalah biaya kamu gak perlu ikut mikirin."
Mereka mengobrol panjang lebar malam itu.
********
Bian sangat senang tetapi lain halnya dengan Nurin. Status dia sekarang bukan lagi bujangan yang bebas pergi kemanapun dia ingin. Sekarang dia adalah laki-laki beristri. Bersenang-senang selama 1 Minggu bukanlah hal mudah sekarang.
"Mas, ajak saja istrinya. Kasian kalau ditinggal dirumah." ucap Leony.
Nurin terkejut mendengar perkataan Leony. Dia berfikir Leony mungkin akan sakit hati nantinya, tapi malah menyuruhnya untuk mengajak Nita.
"Dia gak akan mau ikut dek."
"Loh kenapa mas? tapi kalau mas pergi sendirian kan gak enak sama istrinya mas."
Dalam hatinya sebenarnya sakit jika Nurin benar-benar akan mengajak Nita. Namun dia tepis perasaan yang menurutnya tak berguna itu.
"Iya, nanti aku ajak dia siapa tahu dia mau ikut nanti."
"Mbak maaf, aku boleh ajak pacar aku nggak?" tiba-tiba Bian bertanya.
"Boleh, asal jangan mesum disana ya!"
"Hahahahahaha mbak tenang aja, aku sama pacar aku akan jaga diri koq." katanya tersenyum malu.
"Mbak gak sabar loh, mau lihat ceweknya kamu."
"Jadi kapan kita berangkat mbak?"
"Besok lusa kita berangkat, mbak juga lagi sibuk di rumah harus beres-beres dulu."
__ADS_1
"Oke deh mbak."
"Leony, kamu sudah telpon mbak Ningsih belum?" Fira bertanya.
"Sudah, katanya tinggal jemput aja lusa."
"Sip."
Hari itu pekerjaan tinggal sedikit dan mereka semua pulang cepat. Bian menuju rumah Fitri, pacarnua untuk mengajaknya. Bian juga mengajak kakak laki-laki Fitri untuk menjaga Fitri disana. Kebetulan kakaknya Fitri adalah teman akrab Bian sehingga mereka mengantongi izin orangtua.
Bian sangat menjaga kehormatan dirinya dan Fitri, begitu juga dengan Nurin. Mereka sadar meskipun mereka adalah orang yang tak punya, tapi mereka adalah orang yang memiliki etika dan sopan santun.
Bian dan Fitri berencana akan bertunangan bulan depan, kemudian menikah secepatnya. Bian trauma kepada Nurin yang berhubungan lama dengan Leony namun tak memiliki komitmen untuk segera menikah dan akhirnya hanya kandas ditengah jalan. Sehingga Bian memutuskan untuk sesegera mungkin menikah dengan Fitri.
Segala sesuatunya sedang dipersiapkan oleh Fira, dari memilih vila dan tempat yang nyaman. Sedangkan kakak laki-laki Fitri sudah berkeluarga dan memiliki 3 anak, sehingga mereka nantinya akan menyewa mobil sendiri untuk pergi berlibur besok. Tak ada tanda keberatan di wajah sang kakak karena istrinya yang juga merengek minta untuk pergi berlibur bersama-sama.
Sedangkan Nurin yang mengajak Nita sudah menduga kalau Nita bukanlah istri penguntit yang akan mengikuti kemanapun dia pergi. Sebenarnya Nita sangat ingin ikut, apalagi setelah mendengar Leony meminta dia ikut karena tidak enak jika Nurin harus pergi tanpa istrinya. Tapi Nita yang malu bertemu dengan Leony sehingga dia memutuskan untuk di rumah saja. Siapa yang tidak ingin pergi berlibur? setahun sekali saja belum tentu.
Fuuuuuhhhhh
"Kenapa Nak? kamu sepertinya kesal." Ibu muncul dari belakang Nita yang sibuk memasak.
"Nggak apa-apa buk, Nita cuma sedih gak bisa ikut berlibur sama mas Nurin."
"Bukannya tadi dia ngajak kamu?"
"Iya buk, tapi Nita nggak mau."
"Loh, kenapa?"
"Nita gak mau ketemu sama Leony, mantannya mas Nurin."
Ibu menarik nafas panjang "Itukan masa lalu Nita."
"Iya buk, Nita tahu itu masa lalu. Tapi Nita juga perempuan buk, Nita tahu bagaimana rasanya dicampakkan."
Ibu memahami perasaan anaknya itu dan menarik nafas panjang lagi, "Yasudah, lagian kamu sekarang sudah hamil tua. Nggak bagus buat kesehatan bayi kamu kalau melakukan perjalanan jauh."
"Iya buk, mungkin nanti lain kali kita libura ya buk."
"Iya, tunggu anak kamu lahir dan gede udah bisa jalan. Nanti ibu ajak kalian jalan-jalan."
"Kemana buk?"
"Ya lihat nanti, lagian kita juga punya mobil. Tapi gak pernah di pakai buat apa coba ?"
Hari itu Nita menanyakan apa yang akan diperlukan Nurin. Nita juga menyiapkan beberapa perlengkapan sabun selimut.
"Gak usah repot-repot dek, mas bisa siapin sendiri."
"Gak papa mas, mas ingat-ingat siapa tahu ada yang ketinggalan. Nah, ini ransel punya aku mas pakai aja. Aku yakin mas gak punya ransel."
"Iya dek, mas punya ransel buat apa coba? orang tua dekat, Mbah sendiri juga dekat. 2 jam perjalan aja sudah sampai, jadi baju-mas mas tempat Mbah banyak. Gak perlu repot-repot bawa ransel segala."
"Iya mas, beda sama aku. Aku kan kuliah jauh, aku malah suka banget koleksi ransel, mas tahu nggak aku punya 6 ransel." Nita tertawa kecil.
"Pemborosan itu dek."
"Iya mas, aku suka buang-buang uang. Pantas saja kalau bapak sering marah sama aku."
"Kamu kan memang suka dengar bapak ngomel-ngomel."
__ADS_1
"Pusing mas."
Mereka tertawa kecil mengingat bapaknya Nita yang kalau sudah ngomel panjang lebar seperti kereta api. Satu rumah tak ada yang berani membantahnya. Sejak kehadiran Nurin dirumah, frekuensi omelannya mulai menurun sekarang.