Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Hati yang Tersakiti


__ADS_3

"Nita, ayo nak... makan dulu, nanti kamu bisa sakit" tiada henti ibu nya membujuk Nita untuk makan.


"Gak mau Buk, Nita gak lapar" Nita tetap berbaring di kasur semakin menarik selimutnya .


Tiba-tiba ayah Nita datang dan melempar piring nasi yang dipegang ibunya Nita.


Prraannnggggg !!!


Piring terlempar dan pecah.


"Buat apa kamu buukk menyuruh dia makan! biarkan saja dia kalau tidak mau diurus!!"


"Astagfirulloh paakk bikin kaget ibu saja!"


ibu langsung berdiri memandang suaminya penuh heran.


"Selama ini bapak sama ibu suruh kamu ke kota untuk kuliah. Tapi apa?!! kamu sekarang sudah hamil! dan laki-laki yang menghamili kamu entah kemana!!" ucap bapak sangat marah.


"Sabar paakk, istigfhar! nanti darah tinggi Bapak kumat!"


"Bapak memang sudah darah tinggi melihat kelakuan anakmu yang bikin orang tua pusing seperti ini! sia-sia bapak bekerja siang malam untuk mencukupi kebutuhan anakmu itu! supaya dia bisa kuliah! bisa jadi orang sukses! tapi apa??!!" ayah Nita mengomel terdengar sampai kedepan pintu rumahnya yang besar.


"Masih untung Nurin anak pak Mistam mau menikahi kamu karena mereka punya hutang banyak sama bapak!" bapak terus mengomel, "Bapak harap kamu bisa jadi menantu yang baik dikeluarga itu nanti! kalau sekali lagi kamu bikin malu bapak, bapak cekik leher kamu!!" Bapak menyudahi omelannya sambil membanting pintu kamar.


Nita sesenggukan oleh omelan bapaknya.


"Ma'afkan Nita buk.. Nita bukan anak yang baik" ucap Nita lirih.


"Sudahlah Nak... biar bagaimanapun ibu tetap menyayangimu, kamu kan anak ibu. Sekarang kamu juga sedang mengandung. Ibu minta kamu jaga kesehatan, makanlah walaupun kamu sedang sakit, sedang mabok. kasian anak yang ada diperutmu," ucap ibu sambil memeluk anaknya itu.


********


"Rin, ibu sudah dengar tentang Leony, apa semua itu benar?" ibu Nurin bertanya dengan serius.


"iya buk... ternyata selama ini Melani adalah Leony buk. Nurin juga sebenarnya masih gak nyangka."


"Terus bagaimana hubungan kamu sama Leony?"


"Yah begitulah buk, dia gak pernah melupakan Nurin."


Ibu dan ayah Nurin yang mendengar pernyataan Nurin hanya bisa menarik nafas panjang. Sedangkan Bian hanya mendengarkan saja sambil menonton tv.


"Jadi, kamu masih mau melanjutkan sama Leony nak?" tanya ibu


"Mau melanjutkan bagaimana buk, sementara tanggal pernikahan saja sudah ditentukan," ucapnya lesu.


Akhirnya Bian bersuara, "Pak, Buk... Kak Leony kan punya banyak uang. Apa salahnya kalau kita meminta bantuan kak Leony keluar dari masalah ini?"


"Kalau kita minta bantuan Leony dia pasti mau menolong, masalahnya tidak se simpel itu Bian. perkataan tidak semudah itu bisa ditarik kembali. Tapi, ibuk akan menghargai apapun keputusan Nurin."


"Tapi Pak,Buk... itu nggak adil buat Kak Nurin. Kakak gak melakukan kesalahan kenapa dia yang harus menanggung semuanya."


"Tenang Rin, kakak baik-baik aja." ucap Nurin menenangkan Bian, "jadi tanggal berapa kami menikah Pak, buk?" lanjut Nurin.


"Bulan depan Rin, tanggal 15. Undangan disebar 4 hari sebelumnya." ucap bapak.

__ADS_1


Suasana menjadi hening dan Bian masuk ke kamarnya dengan kesal.


Nurin yang memiliki hati lembut penuh kasih sayang terhadap orangtuanya membuatnya rela berkorban apapun demi melihat orang tuanya bisa keluar dari masalah.


Nurin berjalan dengan gontai menuju dapur. Dilihatnya bingkisan yang masih utuh perlengkapan rumah tangga seperti sabun mandi, sabun cuci, gula kopi dll. Dia tak menyangka selama ini Leony sangat dekat. Dia mengambil buah diatas meja yang dikirim bersama bingkisan tempo hari.


Dia makan dan menikmati buah sekarang ini masih terasa manis, ketika Leony sudah mengetahui segalanya mungkin nanti apapun yang diberikan ataupun yang dimakannya akan berubah menjadi rasa pahit.


Malam itu Nurin kembali menemui Leony, dia ingin melihat senyum manis kekasihnya itu lagi,"Assalamu'alaikum." Nurin mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam mas."


"Lagi pada ngapain nih?"


"Lagi nyantai aja mas, Fira lagi main HP tuh"


"Jalan-jalan yuk?"


"Kemana mas?"


"Ada pasar malam ini, yuk lihat! ajak Fira sekalian."


Baru Leony ingin memanggil Fira, dia sudah menyahut, "Kalian pergi aja, aku gak bisa naik motor."


"Kan bisa naik mobil?" kata Nurin.


"Emang ada tempat parkir mobilnya disana?"


"Ada aja lah." sahut Nurin


"Yakin nih...gak mau ikut?" tanya Leony meyakinkan.


"Mau...Kalo dibonceng motor."


"Sama Bian mau?" tanya Nurin.


"Boleh deh...."


********


Mereka berempat pergi ke pasar malam. Disana banyak permainan anak-anak dan orang dewasa. Mereka mencoba semua permainan dan bersuka ria malam itu.


Leony memakai dress simpel dengan rambut lurus diurai sebahu membuatnya terlihat feminim. Sedangkan Fira memakai Hem tipis dengan celana jeans hitam membuatnya terlihat sexy.


"Mas... sweater couple itu bagus banget deh mas, kita beli yuk!" Leony mendekati baju yang ada didepannya. Baju couple berwarna hitam dengan garis merah itu sangat simpel dan bagus.


"Gak usah buang-buang uang dek, beli yang lain aja."


"Koq gitu siihh... kan mas yang bayar, bukan aku." Leony tersenyum.


"Kamu yang bayar aja mas gak mau, apalagi mas yang bayar," kata Nurin sambil tertawa kecil.


Melihat Leony yang agak cemberut Nurin langsung membayar sweater couple didepan mereka.


"Makasih," Leony tersenyum.

__ADS_1


"Kamu belajar matre ya?"


"Nggak koq." Leony makin cemberut.


Nurin tertawa kecil melihat tingkah Leony yang terkadang manja itu. Sementara Fira asyik mencicipi jajanan pasar tradisional di sana. Fira sangat suka bakso pentol, bahkan dia mencicipi empat penjual pentol bakso sekaligus .


"Dek... coba kamu lihat deh badut itu."


"Iya mas... Bagus costumnya," Leony melihat badut itu membelai rambut anaknya, "eh, bawa anak-anaknya mas!"


"Kasian ya dek..."


"Iya mas..." Leony dan Nurin memandang prihatin badut itu, "Mas, kita foto sama badutnya yuk!"


"Kamu aja dek yang foto sama badutnya, nanti aku yang masukin uangnya kedalam kaleng."


"Koq gitu siihh, nanti kalau aku naksir sama badutnya gimana doonng?"


"kalau kamu naksir badutnya dan dia juga naksir sama kamu terima aja dek!"


"Loh, koq gitu sih mas?"


Nurin tertawa kecil melihat Leony yang dari tadi dikerjainnya.


"Ayo, katanya mau foto?" Nurin berjalan kedepan. Leony mengikuti dari belakang, dan mereka berdua pun berfoto bersama badut.


Setelah berfoto Nurin memasukan uang 100 ribu kedalam kaleng. Kemudian Leony juga memasukkan 200 ribu kedalam kaleng.


Mereka berdua pun tersenyum merasa senang bisa berbagi kepada orang lain malam ini.


Mereka juga membelikan pecel 4 bungkus pecel lele dan beberapa camilan untuk kedua anak badut itu.


"Mas... Laper, makan yuk!"


"Kamu... makan teruss."


"Kan laperrr mas, makan lah.. kalau ngantuk tidur."


"Tapi mas kalau ngantuk meskipun lapar tetap tidur." kata Nurin cuek.


"Pantesan mas kurus..males makan sih."


"Mas kurus karena banyak fikiran dek..."


"Mikirin apa mas?"


"Apa ya?"


Melihat ekspresi Nurin yang gundah, Leony faham tidak melanjutkan lagi kata-katanya lagi.


Mereka terus mengelilingi pasar malam itu dengan berjalan santai sambil bergandengan tangan.


Sementara Fira asyik duduk santai dengan bakso pentol pedas yang sudah dibungkusnya. Melahap menikmati gigitan demi gigitan. Sesekali terlihat ekspresinya kelihatan kepedasan dan menyeruput es blender.


Dan Bian yang asyik makan pentol bakar sesekali tersenyum melihat Fira yang badannya agak kurus, berbicara to the poin, misterius. Tapi kalau urusan perut lumayan rakus.

__ADS_1


__ADS_2