Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan Nurin sudah tiba. Semua orang terlihat bergembira. Meskipun pernikahan ini hanya untuk menutupi aib, namun mendapat dukungan dari semua pihak.


Nita dan Nurin kini sudah didepan pak penghulu dan semua saksi. Nurin terlihat gugup, namun kegugupannya dapat disingkirkannya dengan cepat.


"Kita latihan dulu ya mas Nurin Apriyadi, saya tes dulu sebentar." pak penghulu menjabat tangan Nurin, "Bismillahirahmanirahim saudara Nurin Apriyadi saya nikahkan kamu dengan Nita Mariyana binti Dwi Anggara dengan mas kawin 50 ribu rupiah dibayar tuunaaii."


Dengan cepat Nurin menjawabnya "Saya terima nikahnya Nita Mariyana binti Dwi Anggara dengan mas kawin 50 ribu rupiah dibayar tunai."


"Bagus mas Nurin, nah tadi latihan sekarang kita lakukan sungguhan." kata pak penghulu.


Dan secara resmi mereka sudah menjadi pasangan suami istri dengan menandatangani buku nikah mereka masing-masing. Namun siapa yang tahu jika mereka bukanlah pasangan yang sah. Dalam hati Nurin dan Nita mereka sudah mempermainkan pernikahan.


Semua keluarga terlihat bahagia kecuali kedua pengantin. Mereka hanya sedang memainkan perannya masing-masing. Bukan ini yang Nita inginkan, yang Nita inginkan adalah menikah dengan pria yang sudah menjadi ayah dari anak yang dikandungnya. Dan yang diinginkan Nurin adalah menikah dengan wanita yang selama ini dicintainya. Hari itu mereka hanya pasrah dengan takdir Tuhan.


Pelaminan yang dihias sedemikian rupa dan dekor yang sangat cantik bernuansa navy terlihat sangat anggun. Para tamu undangan silih berganti datang, dan memberikan banyak kado.


Setelah semua selesai dan tamu mulai habis, Nita buru melepaskan pakaiannya yang tebal dan berat. Tak sanggup rasanya dia memakinya lebih lama lagi.


Kamar yang sudah dihias dengan cantik, malam itu mereka tidur bersama di kamar.


"Mas, sesuai sama yang pernah kita bicarakan. Aku sama kamu belum sah menikah, jadi kita tidur berdua di kamar cuma supaya keluarga besar tidak curiga."


"Iya Nit, aku tahu koq. kamu tidur aja di kasur, saya tidurnya di ambal saja."


"Iya mas, ini selimut buat kamu." Nita menyodorkan selimut.


Malam itu mereka menghabiskan malam mereka masing-masing. Mereka yang kelelahan dengan cepat bisa tertidur lelap hingga pagi.


Nurin bangun lebih awal untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Untungnya Nita memiliki kamar mandi pribadi, jadi dia tidak perlu jauh-jauh ke dapur untuk mengambil air wudhu. Bisa-bisa nanti menjadi bahan perbincangan keluarga besar.


Setelah sarapan Nurin kembali menjalankan rutinitasnya untuk bekerja. Teman kerjanya mulai mengusili Nurin yang tetap bekerja setelah hari pernikahannya.


"Loh mas Rin, manten baru kemaren udah berangkat kerja?"


Nurin tersenyum lebar mendengar pertanyaan itu. "Iya lah, masa istrinya mau ditungguin terus."


"Ya harus, manten baru istrinya harus ditungguin dulu."


"Kalau ditungguin terus nanti pancinya ngguling."


"Hahahahahahaa." teman kerjanya itu terbahak-bahak mendengar perkataan Nurin.


Fira yang melihat Nurin juga tak kalah heran melihatnya sudah pergi bekerja.

__ADS_1


"Kamu sudah kerja Rin?"


"Iya mbak, lagian aku kan sudah libur selama 3 hari kemarin."


Fira tersenyum mendengarnya.


"Mbak mau kemana?"


"Gak kemana-mana koq, cuma mau ke warung Bulek Sum aja."


"Aku ikut nongkrong ya mbak."


"Boleh, yang penting jangan minta bayarin ya!"


"Nggak lah mbak."


Fira mengambil nasi lauk dan sayur kemudian makan dengan lahap. Sedangkan Nurin memesan kopi hitam dan gorengan serta sebungkus rokok.


"Rin, kamu ingat gak bangunan punya Sandi tempo hari?"


"Iya mbak, aku ingat. sekarang setiap hari aku lewat situ karena sekarang aku tinggal di rumah mertua. Memang kenapa mbak?"


"Bangunannya cepat sekali jadi ya Rin."


"Iya, aku juga lihat."


"Cuma aku sudah gak pernah lagi lihat Sandi nya mbak."


"Aku juga gak pengen lihat sih." ucap Fira cuek.


"Mbak masih tidur sama Bude ya?"


"Kadang-kadang. Aku gak perlu khawatir sekarang, karena sebentar lagi Leony akan kembali."


Degh!


Jantung Nurin terpacu mendengarnya.


"Yang bener mbak?"


"Iya, dia bilang dalam bulan ini akan pulang."


"Syukurlah kalau begitu mbak."

__ADS_1


"Iya Rin."


"Nak Fira, ayo tambah lagi makannya." ucap bude Sum.


"Iya bude." dengan senang hati Fira menambahkan nasi sayur dan lauk lagi ke dalam piringnya.


"Mbak, kamu makannya banyak juga ya."


"Ya iyalah Rin, makanan itu sumber tenaga. kalau sudah makan baru bisa kerja."


Nurin tertawa kecil mendengar yang diucapkan Fira. "Kalau belum makan jangankan mau kerja, mau berfikir aja buntu, ya kan bude?" tanya Nurin ke bude Sum.


"Ya iyalah, apalagi kalo belum ngopi kan?"


"Hahahahahahahahahaha."


Mereka tertawa bersama, pagi itu pagi yang cerah. Ditambah lagi kabar akan pulangnya Leony menjadi kebahagiaan buat mereka semua.


Sekarang pembangunan sudah hampir 50%, begitu cepat rasanya berlalu. Apapun yang terjadi sekarang, Nurin akan bisa membantu mewujudkan keinginan Leony. Agar Leony juga dengan cepat bisa melunasi hutang-hutangnya pada Ningsih. Sekarang, Nurin juga membantu Fira ke ladang. Segala kesibukan Fira kini menjadi kesibukan Nurin juga.


Nurin yang seharian lelah bekerja, ketika sampai di rumah langsung mandi dan makan. Duduk sebentar berkumpul dengan keluarga besar yang sebagian masih menginap di rumah Nita yang yang cukup luas. Setelah berkumpul dengan keluarga sejenak, Nurin masuk kamar dan tidur.


Sudah beberapa hari mereka menjadi suami istri namun tak ada yang bicara banyak, hanya sesekali itupun jika perlu. Nurin yang melihat Nita tak banyak tingkah, merasa betah saja tinggal dengannya meskipun tanpa adanya cinta.


"Dek, ini uang gajih aku. Untuk beli keperluan dapur."


"Tapi mas, maaf aku gak enak menerima uang dari kamu."


"Sudahlah dek terima saja, gajihku satu Minggu 900ribu dan aku hanya memberimu 600 ribu saja. Kuharap itu cukup untuk keperluan di dapur."


"Itu terlalu banyak mas, aku akan mengambil 300 ribu saja. Kalau aku butuh uang nanti aku akan meminta lagi nanti sama kamu. Sekarang aku gak punya penghasilan, tapi minta sama Ibu dan Bapak juga gak mungkin karena aku sudah punya suami sekarang." Nita mengambil 300 ribu dan mengembalikan 300 ribu lagi kepada Nurin.


"Dek, uang 300 ribu mana cukup untuk di dapur, untuk beli beras minyak goreng dan lain-lain saja sudah habis."


"Mas, Bapak dan Ibu gak akan membiarkanku membeli keperluan dapur selama tinggal disini."


"Yasudah, tapi kalau uang kamu kurang kamu harus bilang!"


"Iya mas tenang saja, aku gak akan membuatmu malu didepan Bapak dan Ibu, dan aku mau uang 300 ribu tadi sebaiknya kamu berikan Ibu Bapakmu. Aku yakin mereka lebih membutuhkannya mas."


Nurin menarik nafas panjang "Yasudah kalau begitu."


Ternyata menjadi anak laki-laki itu tidak mudah, banyak tanggung jawab yang harus di emban. Masih untung sekarang dia mendapatkan gajih tetap mingguan selama bekerja di perumahan. Sebelumnya dia hanyalah pekerja serabutan, terkadang bekerja sebagai kuli bangunanan jika ada pekerjaan, terkadang juga hanya menggarap lahan milik orang lain. Lahan sendiri tak seberapa luasnya jadi bapak dan ibu saja sudah cukup untuk mengerjakannya.

__ADS_1


__ADS_2