
Adam bangun dipagi hari, hampir semalaman ia tak dapat tidur. Pukul 3 pagi barulah ia dapat terlelap. Perasaannya bercampur aduk tak karuan, ia sangat marah dengan keputusan Leony yang memilih untuk pergi dari rumah.
Ia pergi untuk mandi, setelah mandi ia bersiap untuk kerja. Adam mengambil tas nya dan kunci mobil lalu turun ke bawah. Tiba-tiba ibunya memanggilnya.
"Adam, sebelum berangkat kerja sarapan dulu!" ucap ibunya dengan nada agak nyaring.
Adam terus berjalan menuju keluar, "aku akan sarapan di luar, mah," ucapnya acuh tak acuh.
Adam pergi bekerja, ia bahkan tak fokus menyetir karena hanya istrinya yang selalu terbayang-bayang dibenaknya. Sesampainya di kantor, ia bekerja seperti biasa. Ia duduk di ruangannya, tiba-tiba Rizka datang membawakan makanan.
"Mas, ini aku bawakan makanan untuk kamu," ucapnya sambil meletakkan beberapa kotak makan di meja Adam.
"Kebetulan sekali Rizka, aku memang belum sarapan. Kamu beli di mana makanan ini?" tanya Adam membuka kotak nasi yang dibawa Rizka.
"Aku beli di warung makan terkenal mas, di sana masakannya sangat enak menurutku. Aku beli banyak untuk aku bagi-bagikan, kebetulan aku lagi nyari mamah kamu mas, jadi aku bawakan sekalian kalian nasi kotaknya."
"Kamu baik sekali Rizka," ucap Adam sambil mulai makan.
"Jangan seperti itu mas, masih ada yang lebih baik dari aku, istri kamu. Dia pandai dalam segala hal," ucap Rizka sambil mengambil kotak nasi dan ikut sarapan bersama dengan Adam.
"Iya, Rizka kamu benar. Kamu tahu, akhir-akhir kepandaiannya itu bertambah satu hal lagi," ucap Adam sambil makan dengan lahap.
"Oya? apa itu mas?" Rizka menjadi penasaran dengan ucapan Adam.
"Dia sekarang pintar minggat dari rumah, kamu tahu?"
"Oh, tidak." Rizka mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Aku masih banyak pekerjaan, akan lebih baik kalau aku nggak memikirkannya untuk saat ini, aku yakin dia baik-baik saja di kampung halamannya itu."
"Ya, mas. Seorang istri harus patuh terhadap suaminya, tapi menurutku dia istri yang baik. Dia pasti akan pulang nanti, kamu nggak perlu repot-repot menjemputnya. Yang ada nanti dia malah besar kepala."
Adam terdiam sejenak, "yang kamu katakan benar juga ya, kalau aku jemput dia nanti dia malah besar kepala."
"Iya dong mas, kamu kan juga punya harga diri. Masa, harga diri kamu mau di injak-injak istri sih mas? kalau karyawan kamu tahu nanti kamu yang malu lo mas," ucap Rizka sambil terus memakan makanannya.
"Iya, kamu benar Rizka."
Kali ini, Rizka merasa menang 1 langkah. Ia seakan bisa mendapatkan apa yang dia mau. Setelah selesai makan, Rizka terus saja berada di ruangan Adam. Ia berdalih ingin menemaninya bekerja sesekali. Adam merasa senang dan bisa melupakan kesedihannya sejenak.
************
Hari yang cerah, Leony bersemangat sekali untuk pergi ke ladang. Pagi-pagi sekali ia bangun dan menyiapkan bekal. Ia pergi dengan sepeda motor maticnya. Di ladang sudah ada 3 orang pekerja ladang yang mengerjakan ladangnya.
Seorang sedang menyemprot insektisida ke seluruh tanaman, seorang lagi sedang memetik sayuran yang telah matang kedalam lanjung besar yang di bawanya. Dan yang seorang lagi mencabut rerumputan yang tumbuh di sekitar tanaman.
Menjelang tengah hari mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Namun Leony melanjutkan pergi ke kantor pemasaran griya makmur. Di sana ia di sambut hangat oleh semua pekerja kuli bangunan yang sedang beristirahat siang di warung bude Sum.
"Ndok, kamu kapan datang? kok bude nggak tahu?" tanya bude Sum yang merasa sangat senang dengan kedatangan Leony. Ia bagai melihat kedatangan anak kandungannya.
Leony duduk mengambil kursi, "aku datang kemarin bude, ma'af belum sempat memberi kabar."
"Kamu penuh keringat begitu ndok, habis dari mana?" bude Sum terus saja bertanya sambil membuatkan segelas teh es untuk Leony.
"Habis dari ladang bude, sudah lama nggak ke sana," Leony menyambut segelas teh es yang disuguhkan bude Sum.
__ADS_1
"Mbak, lama nggak kelihatan," Tiba-tiba Bian datang menyapa. Ia nampak lebih gemuk dan lebih hitam sekarang.
"Bian, apa kabar?" tanya Leony.
"Baik, mbak. Mbak sendiri gimana kabarnya?"
"Aku baik, ngomong-ngomong istri kamu sedang hamil kan? hamil berapa bulan?" Leony begitu antusias menanyakan tentang kehamilan Fitri, istri Bian.
"Istri aku hamil 6 bulan mbak," katanya dengan senyuman yang sumringah, "Mbak, gimana? udah isi belum?" Bian balik bertanya.
Leony bingung harus menjawab apa, ia ingin semua orang mengetahui tentang kehamilannya. Namun, suaminya saja hingga saat ini sama sekali tidak mengetahui tentang kehamilannya. Ia menjadi dilema dan bersedih.
"Ada isi nasi," Leony tersenyum kecut mengatakannya, "semoga istri kamu sehat terus ya."
"Iya mbak, amin. Makasih," Bian duduk di kursi panjang di samping Leony, ia memesan seporsi nasi kepada bude Sum.
Tak berapa lama kemudian, terlihat Nurin tiba di depan kantor pemasaran dan masuk dengan membawa beberapa dokumen. Ia terlihat berpakaian sangat rapi. Di dalam ia menyerahkan semua dokumen kepada Fira. Kantor pemasaran yang sebagian besar di pasang kaca tembus pandang membuatnya terlihat transparan dari luar.
Nurin dan Fira terlihat mengobrol serius. Kemudian Nurin keluar dari kantor pemasaran dan menuju warung bude Sum. Di warung menjadi sangat sumpek karena para pekerja kuli bangunan yang memenuhinya.
Nurin terlihat letih dan memesan seporsi makanan dengan segelas kopi panas. Ia terlihat makan dengan lahap. Sesekali ia bercanda dengan teman-teman sebayanya maupun dengan yang lebih tua darinya.
Suasana di sana sangat hangat, Leony kembali membanding-bandingkan dengan kehidupannya di rumah mertuanya. Ia menarik nafas panjang. Seakan ia merasa di sana bukanlah tempat untuk orang seperti dirinya. Di sinilah hatinya selalu terpaut.
Andaikan saja ibu mertuanya bersikap baik padanya, kemudian suaminya bisa bersikap lebih lembut, pastilah ia akan lebih nyaman berada di sana. Setengah hatinya ia menyesali kepergiannya dengan cara yang tak baik. Namun setengah hatinya lagi, ia hanya ingin berada di tempat yang nyaman, dan yang lebih penting aman untuk bayi yang dikandungnya.
Ia teringat kembali perkataan ibu mertuanya akan menggugurkan kandungannya. Hatinya kembali sakit, bagai diiris sembilu. Tak terasa matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Bude Sum menyadari, ada sesuatu yang telah terjadi pada Leony. Untung saja ia tak menanyakan perihal Adam padanya barusan. Bude Sum berusaha mengajaknya mengobrol dan menghiburnya. Seakan akan ia tak menyadari apapun.
Leony semakin sedih, bahkan sampai saat ini Adam tak berniat menelponnya. Atau hanya sekedar mengirim pesan chat kepadanya. Apakah ia benar-benar telah dilupakan? ia mengubur perasaannya itu dalam-dalam. Ia berharap bisa mengatakan apa yang seharusnya ia katakan pada suaminya selama ini.