
Pagi-pagi sekali mereka sudah siap tinggal menunggu mobil rombongan Bian dan Fitri. Tak lama kemudian mobilnya nampak di spion, lalu mereka meluncur pergi. Fira memutar musik dengan kencang, semua terlihat bergembira.
Mereka juga menjemput Ningsih. Ningsih yang nampak membawa banyak barang, Nurin segera membantu memasukkan barang bawaannya ke dalam mobil.
Dalam perjalanan menuju pantai, Fira membelok ke arah yang berbeda sehingga membuat yang lain kebingungan.
"Fir, kita mau kemana lagi?" tanya Leony.
"Ada perlu, sebentar ya!"
Setelah mengikuti jalan tanpa aspal, hanya ada pepohonan besar yang rindang dan bunga-bunga pohon yang sangat cantik. Tibalah mereka di sebuah rumah sederhana. Fira turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian Fira berjalan berdampingan dengan seorang anak perempuan.
"Mah, Zahra duduk dimana?"
Seisi mobil terkejut mendengar pertanyaan anak perempuan itu dan langsung terperanjat syok.
"Sini, samping mamah." sahut Fira tanpa memperdulikan ekspresi teman-teman satu mobilnya.
"Cantik sekarang sudah besar ya." kata Ningsih. Rupanya Ningsih juga terlihat dekat dengan anak itu. Zahra tersenyum manis mendengar perkataan Ningsih.
Leony dan Nurin tak bisa berkata apa-apa melihat kenyataan mengejutkan di depan mereka. Fira terus saja mengemudikan mobilnya menuju vila di pantai.
Sesampainya di vila, mereka semua mengemasi barang masing-masing.
"Mah, aku mau mandi ya?"
"Sama siapa? nanti aja sama mamah."
"Biar sama saya saja." Ningsih tersenyum kearah Zahra, "ayo Zahra kita mandi!"
Leony dan Nurin masih terperanjat heran. Sambil mengemasi barang-barang Leony terus bertanya kepada Fira perihal Zahra.
"Fir, Zahra beneran anak kandung kamu?" Leony bertanya sambil mengangkat tas berukuran sedang di tangannya.
"Iya, Zahra itu anak kandung aku."
"Jadi, berapa umur Zahra sekarang?"
"Umur Zahra 10 tahun, aku menikah umur 18. Dan bercerai waktu itu umur Zahra 3 tahun."
Leony dan Nurin terkejut mendengar kenyataan tentang Fira dan anaknya. Mereka tak menyangka bahwa Fira sudah menikah dan mempunyai anak sebesar itu. Miris sekali rasanya, berbulan-bulan mereka saling mengenal dan tinggal bersama, sedikitpun mereka belum mengetahui apapun tentang Fira.
"Jadi, yang tadi itu rumah siapa?" tanya Nurin kepada Fira, "rumah orangtua kamu ya mbak?"
"Iya, itu rumah orangtuaku. Sejak aku bercerai dari suamiku, gak lama kemudian ayah aku meninggal. Selama itu aku jadi tulang punggung keluarga."
"Saudara kamu dimana? ada berapa?" tanya Nurin lagi.
"Ada 3, cuma mereka jauh. Jarang pulang, terkecuali waktu lebaran aja."
"Anak kamu cantik ya Fir, mirip kamu." kata Leony yang sudah selesai merapikan barang-barang bawaannya.
"Yaiyalah, lihat induknya dong."
Mereka semua tertawa mendengarnya. Satu anggota keluarga lagi bertambah. Leony sangat senang dengan kehadiran Zahra.
__ADS_1
Zahra anak yang cantik, dan penurut. Bila berkata-kata penuh sopan santun. Membuat semua orang merasa bahagia melihat Fira dan Zahra.
Vila yang sangat besar itu cukup untuk mereka semua tempati, apalagi fasilitas disana sangat lengkap. Mereka cukup membawa bahan mentah saja, segala perlengkapan masak sudah tersedia.
Disana mereka membeli beberapa hiasan kerang yang dijual oleh pengrajin setempat. Mereka juga berfoto-foto dengan suka ria.
Sesekali Leony mencuri pandang ke Nurin tanpa sepengetahuannya. Begitupun juga dengan Nurin yang sesekali mencuri pandang tanpa sepengetahuan Leony. Andai saja mereka saat ini masih bersama. Perasaan mereka yang masih sama membuat mereka sulit untuk melupakan. Namun juga sangat sukar untuk diraih.
Ketika malam tiba, kebersamaan, kehangatan saling mereka rasakan. Namun status yang berbeda sudah menjadi jurang pemisah bagi mereka berdua. Sesekali terlintas di dalam fikiran Nurin penyesalan atas pilihannya. Andai saja saat itu dia mempertahankan Cintanya.
Lain halnya dengan Bian dan Fitri, mereka lebih memilih duduk-duduk bersama dengan kakaknya dan keponakannya. Mereka tak ingin melakukan hal tak senonoh meskipun mereka sedang kasmaran.
Malam berikutnya, Mereka membeli ikan laut yang besar-besar dari nelayan kemudian dipanggang pada malam hari. Sungguh luar biasa nikmat yang mereka rasakan, mereka berharap dapat kembali liburan lagi daun waktu.
Ponsel Nurin berbunyi, Nita menelpon. Tak sengaja Leony lewat dan melihat nama dilayar ponsel Nurin. Leony agak gugup dan menelan salivanya. Nurin juga agak canggung ketika Leony tak sengaja lewat disampinnya.
"Mas, gimana liburannya? seru gak?"
"Yah, kayagitulah dek."
"Ternyata dirumah sepi juga gak ada kamu Lo mas."
"Kemarin kamu diajak gak mau, kan salah kamu sendiri."
"Hehehehe, mas?"
"Apa?"
"Nanti bawain aku oleh-oleh ya?"
"Terserah aja."
"Penyu? telur penyu? atau kerang?"
"Yang bagusan dikit mas."
"Apa?"
"Tirai kerang, aku mau tirai kerang."
"Kamu sudah berani minta yang aneh-aneh ya sekarang."
"Sesekali mas."
"Tuman."
"Heheheeheee mas, sudah dulu ya."
"Iya."
Leony merasa cemburu sekarang, Karena Nurin menelpon dengan jarak yang dekat.
"Makanya mas, istrinya diajak dong. main tinggal aja." kata Leony berusaha menghapus cemburunya.
"Salah sendiri, diajak gak mau ikut. Yaa tinggal aja."
__ADS_1
Leony tak melanjutkan lagi perkataanya, cukup sakit rasanya mengetahui istrinya merindukan suaminya.
Fuuuhhhhhh
Leony menarik nafas panjang.
"Kenapa dek, kalau capek istirahat dulu sana."
"Nggak koq, cuma lapar." Leony berdiri dan mengambil makanan lagi di meja diatas Padang pasir.
"Baru makan koq lapar?" timpal Nurin.
"Makan itu energi mas, kekuatan kita."
"Emang kamu lagi lemes?"
"Nggak, biasa aja." sahut Leony tanpa memperdulikan Nurin.
"Kamu ambil ikan yang itu rasanya terlalu asin."
"Masa sih mas?"
"Iya, selain yang itu rasanya enak."
Leony mencicipi ikan yang diambilnya.
"Ya ampuuunn koq asin banget."
"Tuh kaaann, aku bilang apa?"
"Terus yang mana yang enak mas, pilihin dong mas!"
Nurin agak segan dengan permintaan Leony, tapi dia sangat senang diminta tolong olehnya.
"Nih, coba yang ini!" Nurin mencubit sedikit daging ikan dan memberikan ke tangan Leony, kemudian dia mencicipinya.
"Koq, rasanya beda banget sih sama yang ini? yang itu asin banget, yang ini enak banget."
"Emang yang kasih bumbu tadi siapa?"
"Aku sama Fira, terus... itu tuh istrinya kakaknya Fitri."
"Pantas lah rasanya beda-beda, yang kasih bumbu aja orangnya beda-beda."
"Nikmatin aja mas, yang ada kan cuma ini."
"Mana bisalah dinikmatin, asin."
"Bisa aja mas, kalau lapar."
"Kamu sih terima aja terus."
"Terima lah mas, mau gak diterima gimana lagi coba."
Nurin menghentikan perbincangan, sepertinya kalimat terakhir Leony membuat dia merasa tersindir dengan kesalahannya. Meskipun Leony tak ada niat untuk menyindir. Dia sadar, sudah menyakiti hati mantan kekasihnya itu. Pasti sangat sulit untuk bisa melupakan semua yang sudah terjadi.
__ADS_1
Malam itu Nurin merindukan Leony untuk kembali bersamanya, hingga terbawa kealam mimpi. Sayangnya mimpi itu bukanlah mimpi yang indah.