Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Sampai di Sini


__ADS_3

Siang itu, Adam berhasil mencuri waktu untuk bertemu dengan Rizka. Rupanya nafsu telah mengalahkan akal sehatnya, tanpa memikirkan ada yang terluka dibalik perlakuannya.


"Sayang, lama sekali sih kamu. Aku sudah kangen," Rizka memeluk Adam yang masih berdiri di depan pintunya.


"Aku juga kangen sama kamu Rizka," Adam mencium kening Rizka, "kita masuk saja, nggak enak dilihat orang di luar si..."


"Mamah udah lihat, Adam!


Betapa terkejut Adam dan Rizka melihat ibunya Adam yang telah berdiri di belakang mereka.


"Ma-mamah, ngapain mamah di sini?" tanya Adam terbata-bata gugup karena melihat kehadiran ibunya yang mengejutkan. Begitupun Rizka yang hanya bisa terdiam tak dapat berbuat apa-apa.


"Kamu yang ngapain di sini?!"


"A-aku ada urusan sedikit mah, sama Rizka."


"Urusan apa mau ngamar?!"


Adam gelagapan tak berkutik di depan ibunya. Sementara di belakang mereka ada Anita, pak RT dan beberapa warga ikut berdatangan.


"Tante, kok bawa-bawa pak RT sama warga? ada apa ini?"


"Nggak usah terkejut kalian berdua, setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya. Termasuk perselingkuhan kalian!"


"Ta-tapi mah..." Rizka ketakutan, wajahnya panik dan tak bisa berbuat apa-apa.


Siang itu bagaikan mimpi buruk bagi Adam dan Rizka, mereka di adili di sana tanpa belas kasihan.


"Ma'afkan aku mas, tante dan warga yang ada di sini. Aku telah membuat masalah dan membuat malu diriku sendiri. Aku berjanji nggak akan mengganggu kehidupan mas Adam lagi, tante." ucap Rizka dengan tatapan penuh sesal.

__ADS_1


Seorang warga warga paruh baya angkat bicara, "ini kejadian yang sangat memalukan di lingkungan kita. Anda sudah beristri, dan istri anda sedang hamil. Sekarang malah melakukan dosa seperti ini. Dan kamu, mbak Rizka! kamu perempuan cantik masih muda, dimana harga diri kamu? apa harga diri kamu hanya sebatas perempuan simpanan? menikah juga nggak! saya masih ingat sama pacar kamu yang biasa datang, kemana dia sekarang??"


Adam hanya bisa terdiam membisu melihat mereka diadili seperti ini. Setelah kurang lebih 2 jam, mereka semua bubar. Hanya tertinggal beberapa orang saja di sana, Rizka masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan malu. Andai saja orang tuanya tahu akan hal ini, ia pasti akan lebih malu lagi.


"Awas kamu Adam, kalau kamu mengulangi perbuatan kamu, mamah akan beritahu istri kamu! biar kamu kehilangan istri dan anak kamu sekalian!" ibunya memarahinya di halaman rumah Rizka.


Anita tak kalah kecewa dengan kelakuan adiknya yang tega mengkhianati istrinya, "Adam, kakak nggak nyangka kamu setega itu sama istri kamu! kami semua tahu dia istri yang baik, tapi kamu tega sekali berbuat seperti itu!


Adam memasuki mobilnya dan pulang, disusul oleh Anita dan ibunya yang kembali ke perusahaan. Adam melajukan mobilnya menuju rumah, pandangan warga sekitar yang memperhatikannya begitu tajam dan sinis. Rizka bahkan tak ingin melihat ke arah jendela, ia buru-buru menutup tirai jendelanya.


Di dalam kamar, Rizka hanya sendirian meratapi nasibnya. Rencana balas dendamnya menjadikan dirinya dipermalukan seperti ini. Ia tak menyangka senjata makan tuan begitu cepat menimpa dirinya. Ia menangis sendu mengingat perlakuan warga padanya.


Adam pulang dengan perasaan malu dan bersalah. Tanpa mengetuk pintu atau memberikan salam terlebih dahulu, ia masuk ke dalam rumah. Meletakkan tasnya diatas meja rias istrinya dan berbaring di kamar.


"Astagfirullah mas! kamu kayak jelangkung aja, masuk nggak kasih salam. Bikin kaget saja!" Leony terkejut dengan Adam yang tiba-tiba saja sudah ada di dalam kamar.


Adam tak menggubris perkataan istrinya, Adam malah menutup telinganya dengan bantal. Leony yang melihat sikap suaminya menarik paksa paksa bantal yang menutupi sebagian kepala suaminya.


"Hani, jangan ganggu dulu. Mas ngantuk banget," Adam memejamkan matanya. Dari raut wajahnya, sepertinya ia benar-benar lelah. Akhirnya istrinya membiarkannya tidur dan tak mengganggunya lagi.


Leony menyelesaikan pekerjaan rumahnya hingga tuntas. Namun Adam masih saja belum beranjak dari tempat tidur. Ia juga telah menyiapkan masakan kesukaan suaminya.


"Mas, kamu kenapa sih? kalau ada masalah kan bisa cerita sama aku." Leony mengguncang kembali bahu suaminya untuk kesekian kali, namun tetap tak ada jawaban.


"Aku telpon mamah suruh ke sini ya," ucapnya sambil mencari nomor telpon ibu mertuanya.


"Jangan!!!!" teriak Adam.


Teriakan Adam berhasil membuat Leony sangat terkejut, hingga. bayi yang ada di dalam kandungannya juga ikut bereaksi.

__ADS_1


Istrinya melongo, "kenapa mas?"


"Jangan kamu telpon mamah, oke?" raut wajah Adam nampak panik mendengar istrinya akan menelpon ibunya.


"Yasudah, kalau begitu sekarang kamu bangun, mandi dan makan! oke?"


Adam tak membantah sama sekali, ia berdiri dan langsung ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian dengan kaos oblong biasa, ia menuju dapur untuk makan.


"Mas, kamu kenapa sih hari ini aneh banget? ada masalah serius di kantor?"


"Ya, hani. Sangat banyak masalah di kantor, aku udah nggak tahan menghadapinya."


"Kamu harus kuat mas. Ingat mas, sebentar lagi anak kita akan lahir, kami harus berjuang demi anak kita," ucap Leony duduk dan mengambil makanan. Seharian ini ia bahkan belum ada makan, ia lelah menghabiskan waktu yang lama hanya untuk sekedar membersihkan rumah, mencuci pakaian dan memasak.


Adam menyadari perut istrinya yang sudah mentok seperti balon besar yang siap meletus pada saatnya nanti. Adam menghela nafas panjang, ia mengingat lagi kejadian tadi siang yang membuat nyalinya menciut.


"Hani, aku mau ke desa. Kamu ikut?"


Pertanyaan mengejutkan itu sukses membuat Leony hampir berjingkrak, "kapan mas?"


"Besok, siapin barang-barang kamu!"


"Ya mas, lagian aku nggak perlu nyiapin barang mas. Barang aku lengkap di sana, aku nggak akan bawa apapun yang merepotkan."


"Baguslah!"


Leony senang bukan kepalang mendengar perkataan Adam. Tak sia-sia ia hari ini membersihkan rumah sedemikian rupa. Mungkin mereka akan meninggalkan rumah beberapa hari.


Malam itu, Adam tidur lebih cepat. Tak ada ponsel yang bergetar seperti malam-malam biasanya. Tak ada Faisal yang mengirimkan chat. Leony merasa kecurigaannya selama ini salah. Meskipun sebenarnya ia belum mengetahui siapa sebenarnya 'Faisal'.

__ADS_1


Hingga matahari terbit, senyuman selalu mengembang di bibir Leony. Lain halnya dengan Adam, sejak kemarin wajahnya masam tak karuan.


Mereka berangkat pagi-pagi sekali, menghindari cuaca yang panas menyengat. Mereka membeli oleh-oleh untuk Fira dan Bude Sum. Beberapa kue kering dan buah-buahan mereka beli di pinggiran jalan menuju desa. Hingga tiba di desa, mereka terlebih dahulu pergi ke rumah di komplek perumahan untuk bersih-bersih.


__ADS_2