Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Hunian


__ADS_3

Malam yang sepi, Leony hanya duduk saja di teras rumah bersama dengan Fira. Adam telah menghubunginya, bahwa ia belum menemukan hunian yang cocok. Ia akan mencari informasi lagi besok. Adam memintanya untuk bersabar lagi sedikit.


Bude Sum datang menghampiri Leony dan Fira, ia membawakan sepiring gorengan pisang, bakwan dan tahu isi lengkap beserta saus nya. Fira sangat senang melihat sepiring besar gorengan yang dibawa bude Sum.


Fira dengan sigap menyantapnya. Dengan nafsu makannya yang menggila sekarang ini membuat berat badannya naik. Pipinya yang tirus kini nampak lebih cabi. Belum lagi pinggul dan bokongnya terlihat lebih montok dari sebelumnya.


"Nak Fira, kamu sekarang jadi lebih gemuk. Kalian berdua lebih cocok seperti kakak beradik daripada sekedar teman," ucap bude Sum tersenyum lebar memperhatikan mereka berdua.


"Alhamdulillah bude, kalau memang lebih cocok jadi kakak beradik. Lagi pula kami memang sangat akrab," sahut Leony.


"Saya melihat kalian ini jadi sangat rindu sekali sama anak-anak saya. Baru lebaran fitri kemarin mereka datang, saya sudah kangen sekali sama mereka. Saking kangen nya saya sering bermimpi buruk," ungkap bude Sum, raut wajahnya nampak sedih.


"Mimpi buruk seperti apa bude?" tanya Leony penasaran.


"Saya sering bermimpi ada badai besar, saya meminta tolong kepada anak-anak saya. Saya berusaha mengejar anak-anak, namun mereka bukannya semakin mendekat. Saya mengejar mereka tapi malah semakin menjauh," ungkapnya lagi, bude Sum bercerita dengan logat Jawa yang sangat medok.


Leony terdiam membisu mendengar cerita dari mimpi bude Sum. Mimpi yang dialami bude Sum sangat persis dengan yang dialaminya beberapa waktu lalu.


"Itu berhubungan sama keadaan psikologis bude," ucap Fira menanggapi, "dulu sewaktu saya masih bersama ayah Zahra, saya sering sekali mimpi seperti itu. Dan saya sadar, itu pertanda kita kurang mendapat pengertian dari orang yang ada dalam mimpi kita. Tentu saja, orang tersebut adalah orang yang paling kita sayangi dan kita percayai.


"Ya ndok, bude benar-benar merasa kesepian. Hanya kalian yang bisa menghibur saya di sini. Tanpa ada kalian, bude juga kesepian. Terkadang saya merindukan almarhum suami, tapi apalah daya ia sudah bisa tak dapat saya jamah lagi," ungkapnya sambil menahan air mata, nada suaranya berubah serak.


Malam itu adalah malam kelabu untuk mereka bertiga. Seketika Fira teringat ada pasar malam saat itu. Ia mengajak Leony dan bude Sum untuk pergi ke sana, daripada meratapi kesedihan lebih baik mereka menghibur diri.


Mereka berangkat menggunakan motor matic. Sedangkan bude Sum berangkat dengan menggunakan sepeda ontel nya. Mereka sudah sampai di pusat keramaian dan memarkir kendaraan mereka.


Mereka bertiga masuk ke pasar dan mencari penjual bakso lesehan, mereka memesan 6 porsi bakso campur lengkap masing-masing 2 mangkuk seorang. Tak disangka, di sana juga ada Nurin yang sedang makan sendirian. Nurin ikut bergabung setelah mengetahui kedatangan mereka bertiga. Dan mereka makan bersama.

__ADS_1


"Nak, mana istri kamu, kok sendirian saja?" tanya bude Sum heran melihat Nurin yang seorang diri.


"Istri yang mana bude?" sahut Nurin dengan senyum kecut.


"Memang istri kamu ada berapa Rin?" tanya Fira kepada Nurin.


"Siapa aja yang mau aku jadiin istri yang selanjutnya mbak, ha ha ha," ucapnya tertawa lebar.


"Ketawanya jangan lebar-lebar mas! nanti nyamuknya masuk!" ucap Leony ketus, ia jengkel mendengar perkataan Nurin barusan. Apakah bagi Nurin, perempuan juga hanya mainan? seperti yang telah dialaminya.


"Kamu lagi sensitif ya dek, kok ngegas gitu?" Nurin semakin tersenyum kecut kepada Leony.


"Dia lagi sensitif Rin. Maklum, bawaan bayi.." ucap Fira.


Sontak bude Sum dan Nurin terkejut mendengar berita kehamilan Leony.


"Apa bener ndok, kamu hamil?" tanya bude Sum masih dengan ekspresi tak percaya.


"Ma'em yang banyak ya ndok, jangan pilih-pilih makanan biar bayi nya sehat," bude Sum menasihati.


Leony tersenyum mendengar penuturan bude Sum. Hanya di sini, tempat ia mencurahkan segala keluh kesahnya. Ia kembali teringat ayah mertuanya di kota, ia mungkin juga tak seberuntung dirinya yang masih memiliki orang yang pengertian. Ia menjadi sangat sedih, kesedihan terpancar jelas di wajahnya.


Mereka semua pulang ke rumah masing-masing setelah makan malam yang menyenangkan.


***********


Adam membolak-balik brosur perumahan yang berhasil dikumpulkannya. Namun rumah itu tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Ia paling tidak membutuhkan rumah berukuran type 120. Ia lumayan kesulitan karena biasanya rumah dengan type besar belum ready di pasaran. Alias rumah akan dibangun setelah pembayaran. Sedangkan ia membutuhkan rumah itu segera. Adam menjadi frustasi dibuatnya.

__ADS_1


Tak berapa lama seseorang menelponnya. Seseorang yang membantunya mencari informasi. Ia mengatakan bahwa ada sebuah rumah type 130 yang dijual oleh pemiliknya secara cash.


Adam segera meluncur ke lapangan, dengan berbekal informasi alamat. Setelah menempuh jarak 10 km, Adam telah sampai. Si sana suasana nya nyaman dan sejuk. Penataan jalan di atur sedemikian rupa beserta tumbuhan yang menghijaukan suasana di sana. Pemandangannya terlihat sangat sejuk, perumahan yang rapi, bersih dan sangat indah.


Adam segera menemui pemilik rumah. Mereka melakukan tawar menawar hingga mendapatkan harga yang disepakati. Dengan senang hati, Adam mendapatkan harga rumah yang menurutnya lumayan murah. Tak lupa ia mengabari istrinya untuk persetujuannya. Dan istrinya langsung menyetujui.


Dengan perasaan riang ia kembali ke kantor. Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. Ia kembali ke dalam ruangannya. Dan terkejut di sana sudah ada Rizka yang duduk menunggunya.


Detak jantungnya berdetak kencang, Adam menyapa Rizka agak gugup. Sebenarnya Rizka datang di waktu yang kurang tepat, kali ini ia sedang merasa bahagia. Melihat kedatangan Rizka membuat perasaannya bercampur aduk.


Hari ini Rizka mengenakan pakaian mini sekali, dress hitam yang sangat seksi. Pikiran Adam menjadi traveling kesana kemari.


"Rizka, kenapa kamu memakai pakaian seperti itu. Sepertinya kurang pantas jika di kenakan di kantor," protes Adam.


"Aku bingung harus mengenakan pakaian kerja yang mana, aku merasa bosan. Ma'af kalau membuat kamu merasa nggak nyaman," ucap Rizka.


"Sebenarnya nggak masalah, aku cuma takut kamu di bully apalagi sampai dilecehkan dengan pakaian seperti itu."


"Sebenarnya aku nggak perduli dengan pakaianku, hari ini aku merasa sangat sedih. Jadi, aku mengenakan pakaian yang tak biasa aku pakai agar aku merasa nyaman," ucapnya dengan wajah yang sangat sedih.


"Sedih? apa yang membuat kamu sedih?" tanya Adam penasaran.


"Nggak pantas membicarakan hal pribadi di kantor, aku mau mengajak kamu makan malam ini. Itupun kalau kamu nggak sibuk. Apa kamu bisa?"


Adam menjadi sangat gugup, "ma-makan malam? em, sepertinya aku punya waktu luang malam ini."


"Nanti malam, kamu jemput aku di rumahku ya?" Rizka berdiri hendak beranjak pergi.

__ADS_1


"Oke," Adam menyetujuinya. Sayang jika melewatkan tawaran makan malam dari gadis cantik, pikirnya.


Adam terus memperhatikan jalan Rizka yang melenggok ke kanan dan kiri. Bokongnya bak body gitar sepanyol yang aduhai, membuat mata Adam tak berkedip melihatnya.


__ADS_2