Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Ada Apa?


__ADS_3

Hari sudah petang, Adam telah selesai membersihkan rumahnya. Ia menjemput istrinya yang masih di kantor pemasaran. Dilihatnya istrinya sedang bercanda dengan teman-temannya yang lain. Ia heran, sejak menikah dengannya istrinya belum pernah terlihat ceria seperti yang dilihatnya saat ini. Ia mulai berpikir, apakah istrinya selama ini tertekan berada di rumahnya? mengapa ia terlihat lebih bahagia bersama dengan teman-temannya. Adam menyadari, ia tak memiliki waktu yang berkualitas bersama istrinya.


Ia mencoba berbaur bersama yang lain, tersenyum dan menyapa. Selama ini ia tak memiliki teman dekat, pernah ada semasa sekolah. Namun sejak ia menjadi pengusaha sukses satu persatu temannya menjauh. Entah itu hanya perasaannya saja, tapi begitulah kenyataannya.


Di sini, meskipun semua dibilang orang kampung atau orang desa, namun mereka semua sangat ramah. Selama ini Adam menghabiskan waktu untuk bekerja dan terus bekerja. Hingga ia lupa ia tak memiliki teman. Tak punya teman ataupun sahabat, hanya perempuan yang selalu terpikat dengannya. Siapapun akan tertarik dengan pesona Adam.


Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman perempuannya. Ada banyak yang mendekatinya, dan sebanyak itu pula yang patah hati. Ia lebih memilih menikah dengan gadis desa yang biasa-biasa saja.


Sesekali ia mencuri pandangan ke arah istrinya, ia begitu cantik dengan senyum ceria. Adam lupa, kapan terakhir kali melihat senyuman istrinya. Hari sudah semakin sore, mereka pulang ke rumah masing-masing.


"Hani, kita makan apa malam ini?" tanya Adam ke istrinya yang sedang sibuk di dapur.


"Kita makan mie isntan saja ya mas," sahut istrinya dari dalam dapur.


"Mie? nggak ada lain?"


"Sudah lama aku nggak makan mie instan mas, aku sangat ingin memakannya."


"Ya, hani. Terserah kamu saja."


Tak berapa lama kemudian istrinya membawakan 2 mangkuk full mie instan yang dicampur dengan sayuran, cabe dan potongan tomat. Mereka berdua makan dengan lahap di depan televisi. Setelah selesai mereka duduk santai menikmati camilan roti dengan teh es.


"Hani, orang-orang disini semua ramah ya?" kata suaminya membuka percakapan. Ia sengaja bertanya karena sejak pulang tadi istrinya terlihat lebih pendiam dibanding sewaktu di kantor pemasaran.


"Iya mas, orang-orang di sini memang sangat ramah. Mereka memang orang dengan ekonomi dan pendidikan di bawah rata-rata. Tapi mereka semua memiliki etika dan norma diatas rata-rata. Itulah yang selalu membuatku kagum," kata istrinya tanpa melihat kearah suaminya.


Etika dan norma diatas rata-rata? Adam tertegun mendengar kata-kata istrinya, "Mantan pacar kamu juga sangat sopan orangnya ya hani?"


"Iya mas, beruntunglah yang bisa menikah dengannya."


Adam melirik istrinya lagi, kali ini Adam agak kecewa dengan jawaban istrinya. Ia menginginkan jawaban yang lain.


"Emm, terus kenapa kamu nggak jadi menikah sama dia dulu? bukannya kalian saling... cint-"


"Mas? nggak ada topik pembahasan yang lain apa?"


Kali ini Adam benar-benar di syok terapi oleh istrinya. Akhir-akhir ini istrinya jadi pendiam, lebih banyak tidur. Wajahnya agak pucat atau lebih tepatnya bengkak karena terlalu banyak tidur. Dan kalau ditanya jawabannya agak menyebalkan. Adam mengembuskan nafas kasar, ia terdiam sejenak.

__ADS_1


"Hani, kalau Rizka ke rumah kamu cemburu nggak?" tanya Adam iseng. Sebenarnya ia hanya berusaha menggali isi hati istrinya. Apa yang saat ini sedang ia rasakan.


"Biasa aja lah mas, lagian ibu lebih senang sama aku daripada sama mantan kamu itu," ucapnya sambil masih menguyah camilannya.


"Oya??" Adam mulai penasaran, "memangnya ibu bilang sesuatu sama kamu atau apa gitu?"


Adam terlihat sangat bersemangat.


"Iya mas, ibu bilang body aku bagus karena sering olahraga. Dan seharusnya Rizka mencontoh ku mas."


"Apa??" Kali ini Adam dibuat kebingungan dengan semua perkataan istrinya. Ia kemudian memperhatikan body istrinya yang agak bulat dan agak pendek. Kemudian ia membayangkan Rizka, body gitar sepanyol dengan tinggi semampai. Adam tertawa kecil.


"Kenapa mas?"


"Em, nggak apa-apa kok hani."


Tak berapa lama kemudian istrinya sudah terlelap dengan dengkuran kecil. Ia tertidur tanpa alas apapun, jadi Adam mengambilkannya selimut tebal dari dalam kamar dan mereka berdua tidur di depan televisi.


Keesokan pagi Adam dan Leony pergi ke tambak ikan, di sana mereka memanggang ikan dan makan bersama. Leony tak pernah melupakan menyisihkan untuk Fira dan bude Sum. Iya membaginya sama rata dalam kertas nasi


"Hani, enak sekali ya bisa tinggal di desa seperti ini?"


"Sayang sekali, mas harus mengurus perusahaan. Jadi kita nggak bisa terus berlama-lama di sini," ucap Adam sambil memakan ikan yang sudah dibakarnya.


"Jadi?" ekpresi Leony sangat datar.


"Sebentar lagi kita akan punya uang yang cukup. Mas akan beli rumah untuk kita berdua," kata Adam sambil tersenyum kepada istrinya. Berharap suasana hati istrinya membaik.


"Aku nggak mau rumah baru mas, aku suka rumah kita di sini."


"Mana mungkin hani, mas bekerja di kota. Nggak mungkin kamu akan tinggal di sini sendirian."


Sejenak mereka termenung, dengan suasana hati masing-masing. Adam tak berani mengatakan lebih jauh lagi keinginannya. Begitupun dengan istrinya, mereka hanya terdiam sembari memakan makanan di hadapan mereka.


"Mas, antar aku pulang ke rumah ya?"


"Kenapa hani?

__ADS_1


"Aku pusing, mau tidur..."


"Iya, ayo siap-siap."


Mereka menuju rumahnya, begitu masuk kedalam rumah istrinya langsung tarik selimut dan bersiap tidur, "Mas, bisakah kamu antarkan ikan yang sudah ku siapkan untuk Fira dan bude Sum?" tanya Leony dengan mata ynah sudah terpejam.


"Ya hani, mas antar dulu ikan bakarnya. Setelah itu mas akan kembali ke kolam ikan karena masih banyak yang mas belum pantau sepenuhnya. Kalau ada apa-apa kamu telpon saja mas ya?"


Istrinya hanya mengangguk, Adam pun pergi. Ia menuju kantor pemasaran. Disana sepi, hanya ada Fira.


"Permisi mbak Fira,"


"Ya, masuk!"


"Ini ada ikan bakar untuk makan malam," kata Adam meletakkan bungkusan ikan bakar diatas meja Fira.


"Makasih," Fira tersenyum, "dimana Leony?"


"Dia nggak ikut, katanya pusing terus dia tidur saja di rumah," ucap Adam lesu.


Fira bisa menebak mungkin suasana hati sahabatnya sedang kacau saat ini, "Biarkan saja dia istirahat. Dia pasti lelah."


"Sudah beberapa hari ini dia sering tidur di pagi hari. Mungkin dia sedang sakit, tapi tak ada tanda-tanda kalau dia sedang sakit. Kamu kan perempuan, mungkin kamu tahu temanmu itu kenapa?"


"Apa suasana hatinya berubah?" Fira balik bertanya.


"Ya, berubah drastis," sahut Adam sambil melototkan matanya.


"Apa dia susah diajak mengobrol?"


"Ya, agak susah. Bahkan jawabannya kadang nggak masuk akal, atau agak menjengkelkan," kata Adam, mungkin dia bisa menemukan jawaban dari teman istrinya tersebut.


"Kalau kamu periksakan ke dokter sudah pasti jawabannya istri kamu sedang hipertensi," jawab Fira santai.


Adam membuang nafas kasar, "kamu kan sahabatnya, mungkin kamu tahu apa yang harus aku lakukan. Karena sepertinya apapun yang keluar dari mulutku ia nggak menyukainya." Kata Adam lesu.


"Leony itu bukan perempuan matre, dia nggak akan mempan kalau kamu tawarkan rumah, mobil atau uang. Dia perempuan sederhana dan romantis, dia akan senang kalau kamu bisa menyentuh hatinya, meskipun yang kamu lakukan adalah hal sederhana, buat orang lain mungkin nggak ada artinya. Tapi bisa jadi hal itulah yang buat istri kamu merasa jadi istri paling beruntung di dunia," Fira sedikit terbatuk selesai ceramah panjang lebar.

__ADS_1


"Gitu ya?" Adam manggut-manggut mendengar perkataan Fira, "Oke, makasih atas masukannya," Kata Adam bangkit berdiri. Ia kemudian berpamitan.


__ADS_2