
Pulang dari pantai, mereka semua kelihatan sumringah. Semua membawa oleh-oleh, tak terkecuali Nurin yang membawakan tirai kerang untuk istrinya.
"Dek, ini." Nurin mengeluarkan bungkusan dari tasnya.
"Apa ini mas?" setelah memegang plastik kresek tanpa membukanya Nita tahu itu adalah tirai kerang, "waahh, makasih banyak ya mas!" Nita membuka tirai dari dalam kantong plastik.
"Gimana, bagus?" tanya Nurin sambil mengemasi barang-barangnya agar terlihat rapi.
"Iya dong mas cantiikk bangett, makasih ya!" Nita tersenyum senang dan membawa tirai barunya.
Nita memasang Tirai di pintu kamarnya, dia mengambil kursi dan mulai mengganti tirai kamarnya yang lama dengan tirai kerang baru.
Ibu dan Nurin yang melihat Nita sedang naik ke kursi untuk mengganti tirai sontak terkejut dan berteriak. Naas, teriakan Ibunya membuat Nita juga terkejut dan menyebabkan kursi yang dipijaknya oleng.
Bruuuugghhh
Nita terjatuh, membuat Ibunya semakin histeris. Nurin yang menyaksikan Nita terjatuh juga tak kalah terkejutnya.
Nurin menggendong Nita membawanya ke kamar, Nita yang merasakan perutnya berkontraksi hebat tak bisa berkata apapun hanya bisa meringis kesakitan.
Ibu segera menelpon Bapak untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah mereka segera membawa Nita ke klinik bidan. Namun Bidan menyuruh mereka untuk membawa Nita ke rumah sakit karena kontraksinya yang hebat dan terus menerus.
Dengan terpaksa mereka membawa Nita ke rumah sakit di pusat kota yang jaraknya lumayan jauh. Bapak melajukan mobilnya dengan kencang. Sedangkan Ibu dan Nurin terus menguatkan Nita yang terus merintih kesakitan.
"Sakit buukkkk..." Nita merintih dan menangis.
"Sabar ya nak sebentar lagi kita sampai, istigfhar ya nak istighfar!" ibu terus saja menyemangati Nita, begitu juga dengan Nurin.
Sesampainya di rumah sakit Nita segera ditangani oleh dokter. Yang lain hanya boleh menunggu di ruang tunggu. Setelah beberapa lama, Seorang dokter keluar. Dokter mengatakan bahwa Nita dan bayi nya baik-baik saja. Akan tetapi 2 hari lagi baru bisa pulang, mengingat perjalanan yang jauh juga beresiko untuk kesehatan ibu dan bayinya.
Ibunya sangat bersyukur tak terjadi apa-apa pada Nita. Merekapun sudah boleh bertemu Nita yang masih terbaring lemah di ranjang.
"Syukurlah dek gak terjadi apa-apa, kami semua sangat khawatir tadi melihat kamu kesakitan." kata Nurin dengan penuh cemas.
__ADS_1
"Alhamdulillah mas, aku gak papa."
"Lagian kamu itu ngapain sih, pasang tirai pintu segala? memangnya sudah gak ada orang lagi apa di rumah? kamu kan bisa minta bantuan Ibuk atau suami kamu?"
"Maaf pak, Nita udah salah pak."
"Kamu salah gak papa, tapi anak kamu kalau ada apa-apa nanti gimana? masih sukur bapak ada di dekat rumah cuma lihat lokasi, kalau bapak lagi sibuk kerja jauh gimana?"
Nita hanya menunduk mendengar omelan bapaknya. Bapaknya menyudahi omelannya dengan berbaring di sofa lebar di samping ranjang Nita. Sejatinya Nita adalah anak kesayangan bapak, juga anak satu-satunya. Hati bapak hancur melihat keadaan anaknya sekarang.
Ponsel Nurin berdering, orangtuanya menelpon setelah dikabarkan perihal jatuhnya Nita. Mereka sangat khawatir dengan keadaan Nita sekarang. Dan lega mendengar bahwa Nita dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja.
*******
Nita sudah boleh pulang sekarang. Sejak kejadian hari itu pengawasan terhadap Nita jadi diperketat. Bahkan dia sudah tak diperbolehkan memasak di dapur. Dulu mereka jarang memanggil bi Sumi, hanya terkadang saja karena rasa iba terhadap perekonomian bi Sumi. Sekarang mereka kembali memanggil bi Sumi untuk bekerja di rumah lagi. Hanya untuk memasak dan mencuci pakaian setelah itu dia pulang. Sisanya Ibu Nita terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendirian.
Bapak dan Ibu sedang berunding di ruang keluarga untuk mengadakan syukuran sekaligus tujuh bulanan. Hari Senin, mereka memilih hari Senin itu 3 hari kemudian.
Ibuk mulai belanja keperluan konsumsi dan segala yang diperlukan nanti. Sementara Nurin yang yang sedang sibuk karena pembangunan perumahan sudah dimulai jadi Nurin tak dapat memberikan tenaganya untuk membantu di rumah.
Malam yang cerah, acara tujuh bulanan dimulai dengan membacakan surah Yasin dan do'a selamat.
Disana juga ada Fira dan Leony. Leony terlihat cantik dan anggun dalam balutan pakaian gamis kekinian, sedangkan Fira seperti biasa menggunakan celana jeans baju Hem dan pashmina. Mereka juga bersama dengan Bude Sum.
Mereka semua mendoakan untuk keselamatan Nita dan calon bayi. Setelah acara selesai, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Fira dan Leony kini duduk di teras, dengan membawa nasi berkatan dari rumah Nita.
"Leony, kamu nggak pengen cari pengganti Nurin ?" tiba-tiba Fira bertanya seperti itu membuat Leony berfikir agak lama.
"Memangnya kenapa?"
"Nanti kamu keburu tua, lihat Nurin sekarang sudah punya keluarga kecil."
__ADS_1
"Belum terfikir Fir, lagian belum ada calon penggantinya."
"Jangan buang-buang waktu kamu, nanti keburu tua." ucap Fira datar.
"Iya juga sih, sebentar lagi Nurin akan punya anak, Bian mau menikah. Kamu juga ternyata sudah punya anak segede itu. Terus, aku kapan?"
"Ngga usah terburu-buru Leony, kamu harus cari laki-laki yang benar-benar mencintai kamu apa adanya. Dan yang paling penting, dia serius sama hubungannya terhadap kamu."
Leony terdiam sejenak, "ngomong-ngomong kalau boleh tahu kenapa kamu dulu bercerai sama suami kamu?"
Fira sedikit kaget mendengar pertanyaan Leony dan menarik nafas panjang.
"Karena aku belum kenal dia dengan baik, aku fikir dia tidak seperti itu."
"Seperti itu gimana?"
"Kami kenal cuma sebentar, 4 bulan langsung menikah atas permintaan orangtua kami. Awalnya baik-baik aja, lama kelamaan dia berubah. Atau memang sifat aslinya yang belum aku tahu."
"Memangnya dia kenapa Fir?"
"Dia suka pulang tengah malam, minum-minuman keras. Bahkan dia pulang sama perempuan, sama-sama mabok berat. Setiap hari kami bertengkar, dia juga jarang bekerja dan sering memukulku. Lama kelamaan aku mengadu sama orangtuanya. Tapi orang tuanya bilang mereka fikir kelakuannya akan berubah setelah menikah ternyata sama saja. Aku kasihan sama Zahra, semakin hari dia semakin besar, dan butuh nafkah yang jelas. Akhirnya aku putuskan untuk bercerai" Fira menyudahi kalimatnya dengan menghela nafas.
"Jadi, dia sama sekali gak perduli tentang anaknya?"
"Dia sama sekali gak perduli, beberapa tahun yang lalu dia pernah pergi kerumah orang tuaku mencari Zahra. Sejak saat itu aku putuskan untuk pindah rumah, aku gak mau Zahra tahu kelakuan bejat ayahnya. Lebih cepat menutup lembaran usang akan lebih baik dan membuka lembaran baru untuk hidup kami semua. Aku rela bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan anakku dan Ibuku yang sudah janda."
Leony sangat sedih mendengarnya. "Terus gimana dengan Anjar?"
"Aku minta dia gak berharap apapun dari aku, sangat sulit bagiku membuka hati lagi. Aku lebih senang sendirian, dan fokus pada anak dan Ibuku."
"Aku nggak nyangka kehidupan kamu seberat itu Fir."
"Iya, makanya kamu hati-hati kalau cari pasangan ya. Nurin yang sudah jelas didepan mata kamu aja masih bisa menghilang."
__ADS_1
"Iya Fir, sampai sekarang buatku masih sangat sulit."
Malam itu mereka mengobrol panjang lebar hingga larut malam, tak terasa udara sudah semakin dingin menusuk tulang. Barulah mereka beranjak untuk tidur.