
Leony merapikan barang yang mulai berdatangan silih berganti. Dari televisi, springbed, kulkas, mesin cuci, AC dan lain-lain. Ia hanya merapikan semampunya saja mengingat keadaannya yang sedang hamil.
Pemandangan mengejutkan adalah, ibu mertuanya ikut merapikan barang-barang mereka. Ia nampak seperti malaikat yang diturunkan dari langit untuk membantu Leony.
Bahkan ibu mertuanya juga memesankan beberapa makanan sebelum ia datang. Ia mengeluarkan perasaan tersembunyi nya selama ini. Sekarang ia benar-benar memperhatikan anak menantunya.
Diluar terdengar keributan, tak berapa lama suara pintu di ketuk, ternyata Anita sekeluarga juga datang berkunjung. Rumah baru Adam menjadi sangat ramai.
Narto membantu Adam menggeser lemari dan barang-barang elektronik lainnya. Setengah hari sudah mereka mendekor rumah menjadi bersih dan rapi.
"Leony, kamu sedang hamil??" tanya Anita tiba-tiba.
Leony bingung harus menjawab apa, apakah ini saat yang tepat untuk mengatakan kabar kehamilannya. Bagaimana dengan perkataan ibu mertuanya dulu yang pernah ia dengar. Akankah ibu mertua benar-benar melakukan apa yang dikatakannya dulu.
"Leony, mamah sudah gak sabar pengen sekali nimang cucu dari Adam. Kamu jangan pakai kontrasepsi ya. Sekarang kan kamu sudah tinggal terpisah dari mamah, kamu nggak perlu lagi capek mengurus rumah mamah. Sekarang kamu harus fokus mengurus rumah tangga kamu sendiri." ucap ibu mertuanya, dari sekian kalimat yang pernah dia ucapkan, kalimat ini adalah yang paling lembut yang pernah di dengar oleh Leony.
Leony menjadi bimbang harus mengatakan kenyataannya atau tidak, ia belum menjawab pertanyaan Anita, "sebenarnya aku sudah telat haid 2 bulan kak. Tapi aku nggak tahu apakah aku hamil atau tidak."
Leony menarik nafas panjang, ia sudah meminta Adam untuk tidak memberitahukan berita kehamilannya, sekarang ia yang membocorkannya. Ia hanya berharap semoga Tuhan selalu melindunginya dan bayinya.
"Kenapa kamu nggak coba tes pack Leony??" tanya Anita lagi.
"Belum kak, di desa sangat sibuk. Aku melupakan hal itu, bahkan tanggal terakhir haid saja aku sudah lupa," ucapnya tersenyum kecut.
"Kamu ini bagaimana sih Leony, pokoknya besok kami harus tes pack. Mamah takut kamu dan bayi kenapa-kenapa kalau kamu nggak mengetahui kalau kamu sedang hamil. Besok jangan lupa, beli tes pack!" ibu mertuanya meminta dengan tegas.
"Iya mah, besok aku beli tes pack."
Anak-anak Anita bermain di bawah pohon mangga yang sudah mulai berbuah. Mereka terlihat berebut buah mangga yang belum matang. Sesekali Narto berteriak pada mereka, kalau buah itu belum matang, jangan sampai mereka memetiknya.
Tak berapa lama, ponsel ibu Adam berbunyi. Ia mengangkat telponnya, saat ia menerima telpon raut wajahnya berubah. Ia seperti akan pingsan.
Ternyata bi Sri menelpon memberitahukan bahwa ayahnya Adam terjatuh dari kamar mandi. Sontak berita tersebut membuat mereka bergegas ke sana.
Bi Sri sudah menelpon seorang dokter yang biasa merawat ayahnya Adam. Untung saja ayahnya segera sadar dan tak terjadi apapun padanya.
__ADS_1
Leony yang kasihan melihat keadaan ayah mertuanya memutuskan untuk mengajak ayah mertuanya tinggal bersama mereka di rumah barunya. Agar ayah mertuanya tak merasa jenuh terus di rumah.
Dengan persetujuan semua orang di rumah, ayah Adam di bawa menuju rumah baru mereka. Ayahnya nampak senang, rupanya bertahun-tahun tinggal di rumah tanpa bisa melakukan apa-apa membuatnya menjadi stres.
Setelah beberapa saat mereka sudah tiba di rumah. Leony dan Adam menata kamar untuk ayahnya, ia memberikan ranjang yang tak terlalu tinggi untuk ayahnya agar memudahkannya untuk pergi tidur.
Keesokan hari, Leony telah selesai mencelupkan sebuah tes pack ke dalam urin yang ditampungnya.
"Hani, kamu kan sudah positif hamil, untuk apa lagi benda itu?" tanya Adam pada istrinya yang terlihat lebih sibuk pagi ini.
"Aku akan memperlihatkan tes pack ini pada mamah, mas. Sepertinya mamah akan sangat senang."
"Oke, baiklah. Hani, perawat ayah akan datang terlambat hari ini karena dia sepertinya kurang hafal jalan sini."
"Ya, mas. Nggak masalah, aku akan mandikan ayah setelah ini," ucap Leony tersenyum.
"Makasih Hani, kamu memang istri yang sangat baik," ucap Adam sambil mengecup kening istrinya, kemudian ia bergegas pergi bekerja.
Setelah Adam pergi, Leony memandikan ayah mertuanya. Selang beberapa menit perawat ayahnya datang. Ia segera mengambil alih pekerjaannya.
"Mbak Rizka, silakan masuk!" Leony mempersilakan Rizka masuk.
"Leony, rumah baru kamu bagus juga. Sayangnya terlalu kecil," ucap Rizka yang memandangi setiap sudut rumahnya.
"Iya begitulah, sederhana tapi aku sangat menyukai rumah ini."
"Aku bawakan kamu sedikit makanan," ucapnya sambil memberikan bungkusan plastik yang dari tadi ditenteng olehnya.
"Makasih, ayo kita makan bersama!" ajak Leony.
"Aku sangat sibuk Leony, jadi terburu-buru. kamu nikmati saja makanan kamu ya!" ucapnya sambil tersenyum lebar, ia kemudian berpamitan.
Setelah Rizka pergi, Anita dan ibu mertuanya kembali berkunjung. Mereka juga membawa beberapa makanan dan buah-buahan.
"Leony, dimana ayah?" tanya Anita.
__ADS_1
"Di pekarangan belakang kak bersama perawat."
"Aku juga bawakan makanan untuk ayah," ucap Anita sambil berjalan menuju pekarangan belakang rumah, tiba-tiba langkahnya terhenti melihat sebuah tes pack di lantai dan mengambilnya, "Leony, ternyata kamu benar-benar hamil!" ucap Anita sangat senang. Ia memperlihatkan tes pack yang dipegangnya dari kejauhan, "Lihat mah, mamah punya cucu baru!"
Ibu mertuanya hampir melompat kegirangan, akan tetapi Leony masih terheran. Bukankah tes pack yang di gunakan ya tadi pagi masih tersimpan di dapur di dalam kotak obat? warna tes pack nya juga berbeda.
Jadi, miliki siapa tes pack ini? seingatnya ia sudah berkali-kali menyapu rumah sejak mereka pindah namun tak menemukan tes pack warna merah muda yang sedang dipegang oleh Anita.
Melihat ekspresi Anita dan ibu mertua yang sangat senang, ia enggan mengelak kalau itu sebenarnya bukan tes pack miliknya. Dalam diam nya ia terus memikirkan siapa pemilik tes pack ini.
Ibu mertua dan kakak iparnya berpamitan, mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi Leony karena jarak rumah dan perusahaan tak begitu jauh. Setelah kepergian kakak ipar dan ibu mertuanya, ia memanggil perawat ayah mertuanya.
"Lin, Lina. Kesini sebentar!" Leony Memanggil perawat yang berumur 30 tahun itu, mungkin tes pack itu adalah miliknya, pikir nya.
"Ya, mbak?"
"Ini milik kamu? saya nemu ini di lantai. Untung saja kak Anita lihat, kalau nggak kamu bisa bingung nanti nyari nya," ucap Leony memberikan tes pack berwarna merah muda itu kepada Lina.
"Bukan punya saya mbak, bukan." tegas Lina.
"Loh, kalau bukan punya kamu terus punya siapa??"
"Saya baru aja suntik KB beberapa hari yang lalu mbak, mana mungkin saya punya tes pack. Punya mbak kali.." ucap Lina.
"Punya saya tes pack nya warna biru, Lin. Bukan warna merah muda begini," ucap Leony semakin bingung. Ia membuka kotak obat yang menempel di dinding dapur dan mengambil tes pack miliknya yang berwarna biru, "nah, ini punya saya warna nya biru."
Leony dan Lina semakin bingung dan terheran-heran.
"Mungkin punya mbak Anita kali mbak," celetuk Lina.
"Yang nemu tes pack ini di lantai mbak Anita, Lin. Mana mungkin ini punya dia. Masa ini milik... ah, nggak mungkin lah! Rizka kan belum menikah? mana mungkin dia punya tes pack." Leony menepis kecurigaannya.
"Mbak, zaman sekarang nggak menutup kemungkinan yang belum menikah udah punya tes pack, kali aja emang punya mbak Rizka. saya punya temen tuh mbak, orangnya pendiem.. diem-diem juga punya tes pack, garis dua lagi. Dan lebih parahnya, ternyata dia simpenan om-om! iiddiiihhh kan angker mbak!" celetuk Lina.
Banyak pertanyaan yang muncul di benak Leony, ia menjadi bingung dan ngeri. Kalau benar tes pack itu adalah milik Rizka. Leony menjadi terdiam seribu bahasa.
__ADS_1