
Rizka sangat kesal mendengar pilihan yang di berikan ibunya Adam. Ia membuka kunci pintu rumahnya dengan kasar. Ia membanting pintu dengan sangat keras. Lalu mengobrak abrik ruang tamu.
Ia menggulingkan meja tamu hingga vas bunga di atasnya ikut terlempar dan pecah. Tak cukup sampai disitu, ia menuju dapur dan memecahkan barang-barang berbahan plastik. Ia tak merusak barang-barang berbahan kaca. Dan terus melampiaskan kemarahannya, membuat suara yang sangat gaduh.
Setelah cukup puas melampiaskan kemarahannya pada perabotan milikinya ia duduk sambil menangis dengan keras. Tiba-tiba ia merasakan kram di perutnya. Mungkinkah akan mengalami keguguran? Tapi tidak! ia tidak akan membuat bayi yang di kandungnya hilang begitu saja.
Rizka masuk ke dalam kamarnya dan menenangkan diri. Ia berhenti menangis, sesekali mengingat rumah barunya ini seharusnya menjadi awal baru untuknya. Akan kah keinginannya untuk bersama Adam akan terwujud?
Tak disangka awalnya ia hanya ingin membalas dendam, malah jatuh terperangkap semakin dalam.
********
Leony masih mengurus bayi nya di kamar. Anaknya sangat menggemaskan, ia tak berhenti menciuminya dan bermain.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Ia berjalan keluar untuk membuka pintu, dan ternyata mereka adalah Fira, Nurin, bude Sum, Bian dan Fitri serta mbak Ningsih beserta anaknya, Patricia.
Itu adalah kejutan yang besar untuknya. Mereka semua terlihat saling berpelukan. Leony mempersilakan mereka semua masuk. Ada banyak bingkisan yang mereka bawa termasuk makanan.
"Ndok, mana bayi kamu.. bude ingin lihat, cepat!" Bude Sum sudah sangat tidak sabar.
Leony mengambil baby boy dan meletakkannya di ruang tengah. Jadi, semua orang bisa melihat nya.
"Wah, mirip sekali sama mamah nya! hallo ganteenng." Ucap Bian mengelus pipi si bayi.
Fitri juga sudah melahirkan 1 bulan lebih dulu. Anaknya bayi perempuan yang sangat lucu.
"Anak kamu umur berapa Fit?" tanya Leony pada Fitri.
__ADS_1
"Ini sudah 1 bulan setengah mbak."
"Oh, pantesan sudah boleh di bawa jalan-jalan. Kata orang tua dulu kan, kalau belum 40 hari jangan dulu di bawa bepergian."
"Iya mbak, ini juga ketar ketir bawa nya," sahut Fitri.
Leony menuju dapur membuatkan mereka semua air minum. Ia membuatkan es sirup dan kopi hitam untuk Nurin dan Bian. Ia juga menata kue yang mereka bawa di dalam piring agar lebih mudah mengambilnya.
"Ayo, diminum dulu air nya!"
Fira dengan cepat menuangkan air ke dalam gelas.
"Kamu tahu, aku dari tadi kehausan."
"Kenapa nggak ambil minum langsung ke belakang dari tadi?"
Patricia nampak senang sekali bermain dengan baby boybyang sangat menggemaskan. Karena ada 2 bayi, ia bergantian bermain dengan mereka.
"Mbak, kalian sudah menempati rumah baru kan?" tanya Leony pada Ningsih.
"Ya, aku langsung pindah nggak lama setelah aku main ke rumah kamu tempo hari."
"Tapi, aku nggak pernah melihat mbak sampai saat ini?"
"Ya, itu karena aku dan Patricia terus bersembunyi di dalam rumah. Bahkan nyaris saja persembunyian ku ketahuan. Sampai-sampai aku harus meminta jemput Fira dan memanipulasi pengawal mantan suami ku."
Wajah Ningsih kini berubah menjadi penuh kekhawatiran. Sesekali ia meminum air di tangannya untuk menenangkan dirinya. Sedangkan Patricia tak banyak bicara, ia sangat memahami penderitaan ibunya. Baginya, bisa bersama dengan ibu kandungnya saat ini dalam situasi seperti apapun adalah hal yang paling terindah di dalam hidupnya.
__ADS_1
Nurin mendekati baby boy. Ia tersenyum dan mengelus elus pipi si bayi. Ia nampak hangat dengan anak kecil maupun bayi.
"Mas, kenapa istrinya nggak diajak?" tanya Leony pada Nurin.
Untung saja saat itu suasana rumah sedang ramai, jadi tak membuat suasana menjadi canggung.
"Istri yang mana dek?" Nurin hanya tersenyum tanpa melihat kearahnya.
"Mas, mas... kamu ini setiap di tanya mana istrinya selalu saja tanya balik istri yang mana."
Leony agak kesal mendengar jawaban Nurin. Tapi Nurin tak menjawab apapun atau melanjutkan topik nya. Ia terus bermain dengan bayi di depannya.
Bude Sum mendekati si bayi, ia mengecek apakah bayi mengompol. Dan ternyata si bayi memang mengompol. Bude Sum dengan cekatan mengganti popok dan bedong bayi.
"Ngompol to le...? sini biar Mbah ganti..."
Si bayi malah tertidur sambil di bedong. Ia sangat tenang berada di tengah-tengah kebisingan orang sekitar nya. Lain hal nya dengan anak Bian, ia terus menerus minta susu ibu nya. Jadi Fitri tak berhenti menyusui sejak kedatangannya.
Melihat Fitri yang terus menerus menyusui, Leony pergi ke dapur menyiapkan makan untuk mereka. Ia hanya perlu memasak nasi, karena ia memesan masakan jadi lewat telpon.
Tak butuh waktu lama, dalam waktu kurang dari satu jam pesanan sudah tiba tepat nasi di magicom juga matang. Mereka semua makan bersama. Kehangatan mereka tak berkurang sedikitpun layak nya keluarga besar.
Hari mulai sore, mereka semua berpamitan pulang. Dan Fira mengantarkan semua penumpangnya kembali ke desa. Waktunya di desa tinggal sebentar lagi, hanya. mengabiskan beberapa unit perumahan saja menunggunya untuk bertuan.
Sedangkan Ningsih dan Patricia kembali ke rumahnya di dekat komplek perumahan di dekat sana. Mereka berpamitan, dengan haru mereka kembali ke desa.
Sedangkan Leony bergegas untuk memandikan bayi nya. Tak berapa lama Adam juga telah tiba di rumah. Wajah nya kusut dan masam, ia masuk ke kamar dan langsung pergi mandi agar terlihat lebih segar.
__ADS_1
Setelah mandi, ia pergi ke dapur. Ia heran melihat bingkisan sangat banyak bertumpuk di ruang tengah. Adam juga ingin melihat ada banyak makanan di atas meja. Ia makan untuk mendapatkan energi nya kembali.