Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Kesibukan


__ADS_3

Adam bekerja lebih keras, ibadah puasa tak menyurutkan semangatnya demi perusahaannya berjalan mulus. Adam menarik nafas panjang, setelah pekerjaannya selesai nanti ia ingin secepatnya kembali ke rumahnya di desa.


Tak ingin rasanya terus berlama-lama diperusahaan, seringkali ibu dan kakaknya mengatakan sesuatu yang menyebalkan. Sehingga membuatnya semakin tak betah berlama-lama disana.


"Dam, ini juga harus kamu selesaikan," kata Nita menyodorkan beberapa helai kertas berkas kepada Adam.


"Apa ini?" tanya Adam mengambil kertas-kertas di hadapannya.


"itu pemasukan bulan ini, sebentar lagi kan tutup buku. Itu juga daftar seluruh karyawan dan gajinya masing-masing." kata Nita sambil duduk di kursi di samping Adam. Ia mengeluarkan ponsel dan memainkannya.


"Maksud kamu aku juga yang harus membagikan gaji karyawan?" Adam berdecak heran.


"Iya, kamu disini kan buat bantu aku sama mamah. Kalau cuma aku dan mamah kewalahan. Kamu juga pasti sebentar lagi akan kembali ke desa kan?" kata Nita membenahi rambutnya yang mulai acak-acakan.


"Apa-apaan ini?" Adam terheran melihat daftar gaji karyawan pabrik dan perusahaan,"kenapa gaji karyawan turun semua?" Adam masih sangat heran dengan daftar kertas di hadapannya.


"Inflasi tahun ini sangat berpengaruh sama keadaan perusahaan, terpaksa gaji mereka semua aku potong 300 ribu perorangnya. Ditambah sebentar lagi ada tunjangan hari raya, sebisa mungkin kita menekan pengeluaran." kata Anita santai.


"Itu nggak adil, aku tahu kamu sama ibu sering memecat karyawan jika kinerja mereka kurang baik. Jadi semua karyawan yang ada diperusahaan dan pabrik ini menyisakan para pekerja yang baik kinerjanya. sampai hati kalian potong gaji mereka?!" bentak Adam.


"Memangnya kalau perusahaan sudah nggak mampu membayar gaji mereka kamu sanggup membayarnya?" Anita mulai kesal dengan Adam, karena dia merasa apa yang dilakukannya sudah benar.


"Perusahaan kita nggak semiskin itu sampai nggak mampu membayar karyawan dengan layak. Terkecuali ada yang menggelapkan dana perusahaan."

__ADS_1


"Maksud kamu aku sudah menggelapkan dana perusahaan?" Anita mulai tersinggung dengan perkataan Adam. Dia menatap Adam dengan kesal.


"Aku akan usut seluruh perusahaan termasuk dana yang keluar masuk. Mulai sekarang aku yang pegang semuanya, sampai aku nggak menemukan kecurangan apapun di dalam perusahaan." Adam pergi meninggalkan Anita dengan wajah kesal.


Anita kesal dengan sikap Adam hari ini. Disisi lain, dia juga takut dengan pernyataan Adam barusan kalau dia akan mengusut seluruh perusahaan. Karena sedikit banyaknya ia juga menggunakan saham perusahaan untuk kepentingan pribadinya.


Baru-baru ini ia membeli rumah mewah dengan uang perusahaan. Begitu juga dengan ibunya yang sudah membeli beberapa apartemen dan investasi. Kalau sampai Adam tahu dia pasti akan marah. Ia menyesal mengapa tadi memberikan berkas-berkas pengeluaran dan pemasukan serta gaji karyawan. Anita mengutuk dirinya sendiri. Kelelahannya hari ini membuatnya tidak fokus. Akh! matilah ia.


Adam berjalan menuju toilet dan membasuh wajahnya untuk meringankan pikirannya yang sedang panas. Sayang jika dia harus terus emosi saat menjalankan ibadah puasa. Setelah merasa pikirannya mulai tenang, ia kembali bekerja.


********


Leony, Fira dan bude Sum beserta beberapa orang tetangga terdekat, mereka memasak bersama hari itu di rumah. Mereka berniat mengadakan syukuran dan buka puasa bersama di rumahnya.


Tak ketinggalan es buah, menu wajib yang sangat dicari saat bulan ramadhan. Leony membuat es buah sederhana dari nanas, timun, biji selasih dan susu kental manis.


Tak terasa sudah sangat sore mendekati waktu berbuka puasa. Para pekerja bangunan sudah tiba di rumah hajat dengan pakaian rapi dan peci. Tak berapa lama kemudian waktu berbuka sudah tiba, mereka minum air sedikit kemudian pergi ke mushola untuk menunaikan ibadah sholat magrib. Selesai sholat magrib, mereka kembali lagi ke rumah hajat untuk melanjutkan berbuka puasa.


Leony yang tak sengaja duduk berdekatan dengan Nurin mengajaknya berbincang.


"Mas, mana istri kamu? kan aku bilang istrinya diajak juga sama si Arif," tanya Leony sambil memakan camilan di depannya.


"Mereka nggak bisa datang, nanti kamu bungkusin aja buat mereka." kata Nurin yang bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"Iya, nanti aku bungkusin sekalian buat bapak sama ibuk ya? nanti yang dibungkus buat bapak sama ibuk biar dibawa Bian."


"Nggak usah, nanti aku yang bawa," kata Nurin yang sudah selesai makan.


"Loh mas, memangnya kamu nggak pulang ke rumah istrimu apa?"


"Nggak, aku lagi nginep di rumah ibuk."


"Ooh, yasudah. Sebentar aku bungkusin dulu," kata Leony sambil beranjak pergi menyiapkan bungkusan. Sebenarnya setiap yang pulang akan membawa 1 kotak nasi. Tapi, khusus untuk Nurin dia membungkukkan lebih banyak.


Para tamu sudah mulai bubar, sekarang waktunya bersih-bersih. Mereka semua bekerja sama hingga selesai. Pukul 9 malam semua selesai, barulah Leony dan Fira istirahat dan tanpa sadar mereka tertidur di ruang tengah tanpa kasur. Menjelang waktu sahur barulah mereka pindah ke kamar karena sudah mulai kedinginan.


Hingga waktunya sahur, mereka bangun dengan mata yang masih sangat lengket. Karena terlalu capek seharian dan menyiapkan hajatan. Namun mereka tak perlu risau soal menu sahur, karena banyak sisa makanan mereka hanya makan masakan yang ada.


Setelah selesai sahur, mereka bersantai seperti biasa di depan televisi sambil main ponsel masing-masing hingga waktu sholat subuh tiba.


Tak terasa sudah 2 minggu mereka menjalankan ibadah puasa. Sebentar lagi lebaran, Leony sudah menyiapkan tunjangan hari raya untuk para pekerja bangunan. Dia sudah memasukkan uang 500 ribu disetiap amplop. Minggu depan, ia akan mulai membagikan tunjangan hari raya


Disisi lain sejak puasa ramadhan, Adam belum juga kembali ke desa membuatnya khawatir dan rindu. Mereka hanya bisa berkomunikasi dengan jarak jauh melalui ponsel.


Usai lebaran, Leony dan Adam berencana untuk bertunangan. Keluarga Adam juga tak keberatan dengan Leony yang sebatang kara tak memiliki sanak saudara. Leony lebih berhati-hati kali ini memilih calon pasangan hidup. Jangan sampai nantinya hubungannya dengan Adam kandas begitu saja seperti yang pernah dialami.


Menurutnya, Adam adalah sosok yang sangat bertanggung jawab, berani dan penyayang. Melihat Adam begitu menyayangi ayahnya yang sedang sakit membuat Leony semakin kagum kepadanya. Bukan tentang harta, rasa cintanya kini tumbuh dengan alami seperti yang pernah dia alami sebelumnya.

__ADS_1


Minggu depan, mereka juga akan pergi ke kota untuk membeli cincin tunangan mereka. Leony selalu membayangkan kehidupannya setelah menikah nanti, dia ingin memberikan yang terbaik untuk rumah tangganya dan juga ingin sekali berbakti kepada calon mertuanya, terutama ayah.


__ADS_2