
Sesampainya di rumah, Leony mandi membersihkan diri. Kemudian menggunakan parfume yang tadi dibelinya. Harumnya semerbak mengisi seluruh ruangan kamar.
Ia turun ke lantai bawah, dilihatnya ayahnya sedang berjalan tertatih. Ia membantu ayahnya yang menunjukkan kamar mandi, sepertinya ayah sedang kebelet. Dilihatnya ibu mertuanya sedang asyik menonton televisi. Ia sedikitpun tak berniat membantu suaminya yang kesulitan menuju kamar mandi.
Leony terus menggiring ayah mertuanya ke dalam kamar mandi. Setelah cukup lama di dalam kamar mandi, ayahnya keluar. Leony mengisyaratkan kepada ayahnya harus mengganti bajunya, karena ada kotoran yang menempel. Ayah mertuanya menurutinya, Leony kembali membantunya mengenakan pakaian.
Setelah itu ia memeriksa kamar mandi, dilihatnya ada beberapa kotoran yang tercecer. Ia pun membersihkan kamar mandi ayah mertuanya. Ia juga memasang pengharum ruang di kamar tidur dan kamar mandi ayahnya, agar lebih segar.
Setelah selesai ia keluar menuju dapur. Namun ibu mertua nya memanggil.
"Leony, sini kamu!"
"Ya, mah?" Leony berjalan mendekat.
"Kamu sudah periksa token listrik bulan ini? tagihan PDAM?"
"Sudah mah, token listrik tersisa cuma 100 ribu. Sedangkan tagihan PDAM 5 hari jatuh tempo, mah."
"Terus, kamu diam saja?"
Leony terdiam sejenak, ia harus memikirkan benar perkataan seperti apa yang akan dikatakannya.
"Saya akan minta uang sama mas Adam nanti malam atau besok, mah."
"Bagus! jangan lupa kamu kalo minta lebihin 5 juta buat mamah. Dan kalau kamu mengadukan uang 5 juta itu, awas kamu! mamah bikin kamu nggak bisa hamil seumur hidup!"
Degh! Leony tak menyahut satu katapun, ia hanya berjalan terus menuju dapur. Ia duduk terkulai lemas di meja makan. Bi Sri yang melihat merasa heran. Namun bi Sri sudah bisa menebak, pasti ibu mertuanya mengatakan sesuatu yang buruk.
"Non?" bi Sri mencoba untuk menghiburnya, "Non, bibi tadi masak enak loh non. Ada roti panggang juga," katanya dengan senyuman.
Leony hanya meliriknya dan menggeleng. Raut wajahnya kembali bersedih.
"Non, nyonya tadi bilang apa?"
__ADS_1
"Ya begitulah bi, kayak biasa," Leony bernafas perlahan, sepertinya ia sedang mencerna segalanya.
"Non, jangan putus asa ya non. Yang ngasih kehidupan, rezeki dan sebagainya itu Allah. Non jangan bersedih sama kata-kata nyonya barusan, mana mungkin nyonya nggak akan biarkan non hamil. Sementara yang kasih izin itu Allah," bi Sri berkata setengah berbisik.
"Bibi dengar semuanya?"
"Nggak non, bibi dengar sedikit. Nggak sengaja, ma'af ya non bibi nggak bermaksud menguping," ucap bi Sri perlahan.
Leony hanya terdiam dan berdiri, ia mengambil beberapa potong roti panggang. Ia mulai memakan dengan lahap. Bi Sri senang Leony masih mau makan meskipun ia sudah mendapat perkataan tak senonoh dari mertuanya.
"Bi, sini temenin aku makan."
"Iya non, ini bibi juga mau makan."
Mereka berdua makan bersama. Tak terasa hari mulai senja. Mereka berdua kemudian menyiapkan makan malam dan pergi untuk sholat magrib.
Tak berapa lama, Anita datang dengan wajah lesu dan perut lapar. Ia langsung menuju dapur dan makan. Ia makan sendirian dengan sangat lahap, setelah itu ia mandi dan tidur.
Selesai sholat Maghrib, Leony menelpon suaminya, namun tak ada jawaban. Ia berpikir mungkin suaminya sedang di jalan pulang. Setelah beberapa saat, suaminya tak kunjung tiba, ia menelpon kembali.
"Halo, ini siapa?"
"Rizka, kamu cari mas Adam ya?"
"Iya, apa dia sedang sibuk?"
"Dia masih ada kerjaan, sebentar aku kasih telponnya dulu ya."y
"Nggak perlu mbak Rizka, aku nggak mau ganggu dia bekerja."
"Okey, baik kalau begitu," Rizka mematikan sambungan telpon.
Leony kesal karena Rizka yang mengangkat telponnya. Ia mulai berpikir Rizka benar-benar bersekongkol dengan ibu mertuanya. Ia membuang nafas kasar.
__ADS_1
Leony berbaring, tak terasa ia sudah terlelap. Agak lama ia tertidur. Ia bangun sebentar dan melihat jam, sudah pukul 9 malam namun Adam tak juga kunjung pulang.
Ia kembali tidur, hingga subuh. Dilihatnya Adam sudah mendengkur di sampingnya. Ia bahkan belum mengganti pakaiannya, Leony bangkit hendak mengerjakan sholat subuh. Namun sesuatu menarik perhatiannya.
Noda pink di kemeja suaminya, meskipun samar-samar itu adalah lipstik dengan bentuk bibir tipis. Darah mulai naik ke kepalanya, ia mencium kemeja mendekati suaminya yang ternyata juga berbau alkohol. Ia mencermati sebuah wangi parfume yang familiar, parfume yang digunakan Rizka! rupanya, morning sickness yang sedang dirasakannya telah meningkatkan Indra penciumannya menjadi sangat tajam dan sensitif.
Rupa-rupanya mereka tak berhenti menguji kesabarannya. Ia mencoba tetap tenang, dan mengambil air wudhu. Kemudian mengerjakan sholat subuh. Setelah selesai, ia kembali dengan pekerjaan rumah yang begitu banyak.
Semua orang rumah sudah bangun dan selesai sarapan kemudian pergi bekerja. Leony masuk ke kamarnya, ia tahu Adam akan mencarinya. Ia membersihkan meja rias dan bagian atas lemari yang penuh dengan debu. Ia membersihkan dengan vacum cleaner, setiap sudut tak terlewat olehnya.
Tak berapa lama Adam muncul, "Hani, kamu mau ikut lagi ke kantor?"
"Nggak mas," sahutnya sambil meletakkan vacum cleaner di sudut ruangan, "Mas aku mau tanya sesuatu sama kamu."
"Kamu mau tanya apa hani?"
"Tadi malam kamu sibuk kerja atau sibuk pesta pora minuman keras?"
Adam terdiam sejenak, "Ma'af hani.. aku cuma ikut-ikutan saja, tadi malam tiba-tiba saja datang tamu, dia pemilik lahan besar di kota sebelah. Dia menawarkan sebuah kerja sama, kami mengobrol sambil minum sedikit. Ma'afkan mas, Hani," katanya sambil menunduk.
"Aku hargai kalau kamu berkata jujur mas," Leony mengambil kemeja yang di kenakan suaminya tadi malam, "Apa ini mas?" Leony bertanya sambil menunjukkan noda lipstik di bahu kemeja nya.
"Apa itu hani?" Adam memperhatikan sejenak, "itu seperti lipstik?"
"Betul, mas. Ini noda lipstik siapa?"
Adam sangat terheran dengan ekspresi yang kebingungan, "Apa kamu curiga mas selingkuh? mungkin itu lipstik kamu, hani?"
Leony tersenyum kecut, "Mas, kalau memang keberadaan ku di sini nggak ada artinya, aku siap digantikan mas. Asalkan kamu jujur, lebih cepat kamu jujur lebih baik buat kita berdua," Leony masih menatap tajam suaminya.
"Hani, nggak ada perempuan lain di hati mas selain kamu. Sekarang begini saja hani, beri kesempatan sama mas untuk mengingat kejadian semalam, siapa saja yang ada di sana dan apa yang kami semua lakukan, bisa?"
"Iya mas," Leony mengangguk.
__ADS_1
"Jangan marah ya, hani." Adam menenggang kedua bahu istrinya dengan kedua tangannya, "Mas kerja dulu."
Leony masih berdiri seperti patung, air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya tumpah. Ia yakin suaminya takkan selingkuh, namun semua yang terjadi ia tak ingin ada manipulasi.