Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Lamaran Nurin


__ADS_3

Hari ini juga sangat sepi, hari demi hari waktu terus berjalan. Semakin sepi Leony rasakan, sekarang umur Hanif genap 5 bulan. Umur Hanif semakin maju, akan tetapi Leony masih berjuang dengan kesepian dan luka di hatinya.


Ia teringat, bukankah sebentar lagi waktunya Rizka melahirkan?


Ah, perasaan itu semakin membunuhnya. Kecemburuan, ketidakpastian.


Ia menengok dari jendela kamarnya, banyak orang lalu lalang tetapi tak ada seorangpun yang dia kenal.


Masih pukul 09.00 pagi, Hanif sudah tertidur pulas di kasur. Ia memandangi wajah anaknya yang polos, di wajah itu ada mata Adam.


Mata yang membuatnya selalu merindukannya.... tidak!


Dia sudah memiliki tambatan hati yang lain, tak perlu memikirkan tentang Adam lagi. Lalu, apakah mereka harus bercerai?


Apakah dia harus pergi ke kota menyusul suaminya, mencoba peruntungan?


Hatinya kembali sakit dan menitikkan air mata. Dengan segera ia menyeka nya.


Ia berbaring di samping Hanif dan memejamkan mata, ia berharap dapat memimpikan sesuatu yang lebih menyenangkan daripada harus bergulat dengan pikirannya.


Hanif yang tidur lelap semakin anteng di pelukan ibunya. Baru saja ia hendak terlelap, seseorang mengetuk pintu mengucapkan salam.


Leony segera terjaga dan bangkit. Ia menuju ruang tamu dan membuka pintu.


"Mas Nurin?" Leony membukakan pintu.


"Ini, aku bawakan oleh-oleh dari mbak Fira." Nurin memberikan beberapa kantong bingkisan dan juga sebuah kardus yang berat.


"Apa isi kardus ini mas?"


"Katanya sih makanan kecil buat Hanif."


Nurin membantunya mengangkat semua bawaannya ke dalam rumah, karena bawaannya cukup berat. Nurin merasa kasihan jika Leony harus mengangkat bawaan yang berat.


"Duduk dulu mas, aku buatkan kopi."


Nurin yang memang dari perjalanan jauh belum sempat pulang ke rumah merasa sangat kelelahan. Jadi, ia duduk sebentar untuk beristirahat.


"Mas, ini kopinya..." Leony meletakkan kopi di hadapan Nurin.


"Hanif kok ditinggal sendirian dek? di bawa kesini aja."

__ADS_1


"Nggak usah mas, si dalam aman kok. Lagian, kalau diangkat entar malah bangun Hanif nya." Leony menghidupkan televisinya dan duduk berhadapan dengan Nurin.


Nurin asyik saja melihat ponselnya, ia melihat dengan begitu serius sehingga menarik perhatian Leony.


"Mas, kalau dah punya calon tuh buru2 di lamar mas... entar nyangkut lagi."


Nurin memandang sekilas, "iya, bentar lagi aku lamar kok... aku nggak mau jadi orang bodoh 2 kali."


Leony tersinggung mendengarnya, akan tetapi semua itu sudah jadi masa lalu bagi mereka berdua.


Akan tetapi Nurin menyesal mengatakan itu, membuat suasana menjadi agak canggung.


"Dek, aku punya foto rumah mbak Fira, kamu mau lihat?"


Leony menengok kearah ponsel Nurin, "mana?"


Nurin memperlihatkan foto rumah Fira dari luar hingga ke dalam.


"Rumahnya lumayan gede, ruang tamu, ruang keluarga, 3 kamar tidur, dapurnya juga lumayan besar. 2 kamar mandi dan pekarangannya juga luas."


Mereka berdua memperhatikan dengan seksama rumah Fira yang begitu elegan tetapi sederhana.


"Kamu sendiri nggak kepengen punya rumah besar, atau usaha gitu?"


Leony menghela nafas panjang, "kepengen mas, tapi aku lebih bahagia ada di rumah sederhana ini. Kalau usaha, sebenarnya aku berpikir ingin buka warung sembako kecil-kecilan di depan mas."


"Bagus lah dek, aku dukung kemauan kamu."


"Aku memang pengen ngomong ini dari kemarin, cuma kamu sibuk terus mas."


"Mau dibikin cepat?"


"Lebih cepat lebih baik mas, aku dan Hanif juga setiap hari punya pengeluaran. Mana mungkin aku terus menghabiskan uang royalti perumahan terus? lama-lama kami bisa jadi gelandangan."


Nurin terdiam mendengarnya, "memangnya suami kamu sudah nggak mengirim kamu uang?"


Leony merasa malu mengatakannya, tapi ia bahkan tak tahu harus bagaimana.


"Mas Adam mungkin sudah lupa pada kami, jadi aku harus berpikir mencari nafkah sendiri."


Nurin merasa terhenyak mendengarnya.

__ADS_1


"Aku akan bantu kamu sebisa ku dek, kamu tenang saja."


**********


Malam yang dingin diguyur hujan, Leony dan Hanif berbaring di atas kasur. Si Hanif yang lucu sudah pintar bersenda gurau bersama ibunya. Sesekali terdengar suara Hanif yang tertawa terbahak-bahak. Terkadang petir menyambar disertai angin yang berhembus kencang.


Keesokan hari, air menggenang di halaman rumah akibat hujan yang semalaman mendera. Leony melihat bude Sum yang berjalan dengan mencincing daster panjangnya.


Betapa bahagia dia melihat sosok bude Sum yang sudah berbulan-bulan dia rindukan. Akan tetapi Ia membiarkan bude Sum masuk ke dalam rumah dulu, mungkin ia akan beristirahat sejenak karena kelelahan dan membersihkan rumahnya yang kotor karena ditinggal dalam waktu yang cukup lama.


Sebenarnya tidak terlalu kotor, karena sesekali Leony masuk untuk sekedar menyapu dan mengepel rumah bude Sum. Terlihat dari kejauhan jendela dibuka satu per satu.


Setelah 2 jam berlalu, barulah Leony dan Hanif mengunjungi bude Sum. Dan benar, bude Sum juga baru saja bangun dari tidur siangnya. Mereka saling menceritakan keadaan mereka masing-masing selama beberapa bulan terakhir.


*********


Malam hari, Nurin bertamu lagi ke rumah Leony. Ia berani bertamu malam karena ada bude Sum. Jangan sampai mereka berduaan di rumah dan menimbulkan fitnah.


Akan tetapi, kali ini raut wajah Nurin agak berbeda dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Setelah beberapa menit mereka mengobrol santai, barulah Nurin mengutarakan maksud kedatangannya malam itu.


"Dek, sebenarnya aku kesini mau melamar kamu. Aku mau mengajak mu menikah, aku berharap kamu mau menerimaku yang sudah pernah cacat di matamu dek..."


Bude Sum dan Leony terkejut mendengar pernyataan Nurin. Leony tak bisa menjawab dengan cepat, hanya kebingungan.


"Mas... tapi aku masih punya suami."


Bude Sum menyela, "Iya le, si ndok kan masih bersuami. Kalau kamu mau melamar, bukankah sebaiknya menunggu mereka benar-benar bercerai?"


"Aku tahu bude, dek... aku mengerti posisi kamu, tapi bukankah aku sudah bilang aku nggak akan melakukan kesalahan kedua kali. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi."


Leony terdiam, sesungguhnya ia hanya memikirkan suaminya. Tetapi dia juga tak tahu apakah suaminya memikirkan nya atau tidak.


"Mas, aku belum bisa menerima lamaran kamu sekarang. Aku harus selesaikan masalah rumah tanggaku terlebih dahulu dengan mas Adam. Kalau rumah tangga kami memang sudah tidak layak dipertahankan, aku pasti akan menerima lamaran kamu mas."


Jawaban yang dilontarkan Leony membuat Nurin gembira.


"Itu sudah pasti dek, itulah yang aku mau. Kamu harus pastikan dulu rumah tangga kamu layak dipertahankan atau tidak. Aku harap kamu nggak berpikir panjang dek, karena aku yakin ini yang terbaik buat kamu."


"Ya mas, tapi kamu harus menunggu. Paling tidak, kalau kamu mau menikah resmi secara hukum kamu harus menunggu proses persidangan selesai. Kalau itu memang kemungkinan terburuk untuk rumah tangga ku."


"Baiklah dek, aku akan menunggu kamu."

__ADS_1


__ADS_2