Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Melahirkan


__ADS_3

"Hani, tolong ma'afkan mas.." Adam mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada satupun jawaban ataupun pintu yang terbuka untuknya.


Leony masih mengurung dirinya di dalam kamar. Hatinya sangat hancur saat ini, dalam tangisnya yang pilu perutnya terus berkontraksi.


Hingga kontraksi diperutnya semakin menjadi, ia menyadari bahwa saat ini ia akan melahirkan. Air matanya berhenti mengalir, kini ia menjadi sedikit gugup.


Ia berjalan perlahan menyusuri dinding menuju lemari dan mengeluarkan tas bayi dari dalam lemari.


Ia ingat baju bayi baru saja ia jemur beberapa jam lalu. Ia mencoba mengatur nafasnya dan mengambil ponsel. Menelpon kakak iparnya, memberitahukan sepertinya ia akan melahirkan.


Mendengar ucapan Leony, Anita bergegas mencari ibunya dan langsung pergi menuju rumah adiknya.


Leony membuka pintu, dilihatnya Adam berbaring di sofa. Rupanya ia tak berangkat ke kantor. Ia memejamkan matanya, entah benar-benar tidur atau hanya berpura-pura.


Leony melewati Adam begitu saja, ia mengambil pakaian bayi yang sudah kering dan perlengkapan lainnya. Kemudian memasukkannya ke dalam tas.


Lututnya bergetar dan keringat dingin bercucuran. Sakit yang ia rasakan begitu hebat hingga membuatnya hampir tersungkur.


Beruntung, kakak ipar dan ibu mertuanya segera datang membantunya. Adam yang menyadari kedatangan kakak dan ibunya segera bangkit dari sofa.


"Adam, kenapa nggak istri kamu belum di bawa ke klinik juga?!" Ibunya bersuara dengan nyaring penuh khawatir, "cepat nyalakan mobil Adam!"

__ADS_1


"I-iya mah!"


Adam baru menyadari bahwa istrinya akan segera melahirkan. Ia menjadi semakin kebingungan dan merasa bersalah. Bahkan istrinya tak mau bicara sama sekali kepadanya.


sesampainya di klinik pun, ia tak ingin melihat suaminya. Bidan yang menanganinya meminta agar Adam masuk ke dalam ruangan bersalin. Tapi Leony malah mengusirnya.


Ibu dan kakaknya menyadari mereka sedang bertengkar. Bahkan wajah Leony masih sembab dengan matanya dan bengkak. Jadi, mereka hanya diam saja memperhatikan gelagat Adam yang semakin serba salah.


"Mah, kayaknya mereka lagi bertengkar."


"Ya, biarkan saja. Nanti juga baikan."


"Gimana kalau itu semua tentang Rizka mah?"


"Nggak juga sih mah, tapi memang kayaknya ada yang aneh." Anita mengembuskan nafas kasar.


"Mah, di dalam kan nggak ada siapa-siapa. Aku masuk dulu ke ruang bersalin. Leony pasti memerlukan memerlukan dukungan!"


"Iya, buruan sana masuk!"


Anita melepaskan tas selempang nya dan memberikannya ke ibunya. "Mah, tolong telpon mas Narto suruh jemput anak-anak!"

__ADS_1


"I-iya iya, nanti mamah telpon. Cepat sana kamu masuk!"


Di dalam ruangan, keadaan Leony sudah semakin memprihatinkan.


"Sudah buka berapa buk, adik saya?" tanya Anita khawatir.


"Sudah buka 6, nggak butuh waktu lama. Sebentar lagi air ketubannya mungkin pecah." Ucap bu bidan menjelaskan.


"Leony, kamu kuat ya! sebentar lagi anak kamu akan lahir!"


Anita tak kuasa melihat adik iparnya yang kesakitan, ia turut meneteskan air mata dan sangat tegang dibuatnya.


Terlebih lagi ibu mertuanya di luar ruangan bersalin nampak sangat khawatir.


"Mah, mamah nggak ikut temenin kak Anita di dalam??" tanya Adam penuh cemas.


Ibunya malah melotot ke arahnya, bola matanya yang bulat sempurna hampir menggelinding keluar.


"Dasar laki-laki brengsek! kalau kamu nggak berulah, nggak mungkin istri kamu mengusir kamu dari ruangan bersalin kan?!"


Adam tersentak kaget mendengar ucapan ibunya, seketika nyalinya lebih menciut dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kamu sama ayah kamu itu sama saja, kamu tahu! sebelum ayah kamu sakit stroke begitu, dia selingkuh di belakang mamah, kamu tahu?! kalian berdua anak sama ayah sama saja!!"


Adam semakin terkejut mendengar perkataan ibunya. Apakah benar yang dikatakan ibu nya itu? ia semakin gemetar, seiring rintihan dan tangisan istrinya di dalam ruangan bersalin.


__ADS_2