
Sudah 1 Minggu Adam dan Leony di desa, mereka berdua benar-benar menikmati liburannya. Hari yang mendung, Leony ingin sekali mengajak Adam pergi memetik sayuran di ladang, berhubung mereka harus pulang besok.
Sebenarnya Adam masih betah, hanya saja pekerjaannya terlalu lama ia tinggalkan. Ibunya juga sudah berkali-kali menelpon agar mereka cepat kembali.
"Hani, cepetan dong.. katanya mau ke ladang?"
Istrinya keluar dari kamar dengan perlahan, ia terlihat meringis karena merasakan kontraksi palsu di perutnya.
"Sabar mas, kamu nggak lihat aku lagi kontraksi nih..."
"Aduh, kamu mau ke ladang bawa perut kontraksi begitu. Nanti kalau melahirkan di ladang bagaimana?" ucap Adam, kali ini Adam yang meringis melihat kondisi istrinya.
"Aku nggak apa-apa mas, aku bisa kok. Ayo kita berangkat!"
"Kamu yakin??"
Leony mengangguk, "iya mas."
Mereka berdua ke ladang, di sana sedang panen cabai rawit, terong ungu dan terong bulat yang berwarna hijau.
"Mbak, hati-hati jalan nya licin..." ucap seorang petani di dekatnya.
__ADS_1
"Ya, buk lek.. saya bisa kok," Leony tersenyum.
Dengan hati senang mereka memetik sayuran dan cabai ke dalam keranjang yang ditenteng oleh Adam. Adam untuk pertama kalinya ikut memanen di ladang. Ia nampak riang sekali melihat pemandangan menakjubkan di sana.
"Hani, jadi petani seperti menyenangkan ya?"
"Ya dong mas... makanya, jangan kelamaan di kota," Leony meledeknya.
"Kamu tuh, yang jangan kelamaan di desa. Naik eskalator aja merinding!" balas Adam.
Leony hanya terdiam tak membalas ejekan suaminya. Ia sangat asyik memetik sayuran di sana. Setelah selesai memetik sayur, mereka lanjut memetik cabai rawit. Mereka memetik sekitar 3-4 kg cabai rawit.
Setelah puas di ladang, mereka berdua pulang ke rumah. Dari kejauhan nampak Nurin juga berada di ladang bersama dengan ibunya. Nurin hanya melemparkan senyuman dari kejauhan.
"Apaan sih mas, kamu iri? nih aku kasih senyum juga!" ucapnya sambil tersenyum.
"Males ah!"
"Kaya kamu nggak punya mantan aja mas?!"
"Ya punya lah! mantan aku tuh yang terbaik hani, body nya aja kayak gitar span..." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, ia teringat lagi dengan perselingkuhan yang pernah ia lakukan.
__ADS_1
"Gitar spanyol?? ha ha ha ha, masih kalah lah sama body aku mas. Lihat nih, perut aku yang seksi! bisa nggak mantan kamu kayak aku??"
Adam seketika hening, ia tak berniat melanjutkan pembicaraannya. Leony pun pasti sudah tahu bahwa yang dia maksud adalah Rizka.
Mereka sudah sampai di mobil dan meluncur pulang ke rumah, di rumah mereka pun harus segera berkemas.
"Hani, mau pulang sore atau besok?" tanya Adam yang duduk bersandar di depan televisi. Ia terlihat sangat lelah dengan wajah kusut.
"Sore aja mas, aku suka pemandangan sore. Lagian kita bisa sekalian jalan-jalan. Malam ini kan malam minggu."
"Memangnya kamu mau jalan-jalan ke mana?" tanya Adam mengernyitkan keningnya.
"Ke taman aja mas, yang murah meriah. Nggak perlu ngeluarin uang."
"Kamu emangnya sudah beli perlengkapan bayi?"
"Mamah sama kak Anita bilang, mereka yang beliin perlengkapan bayi mas. Katanya, aku nggak perlu khawatir."
Adam tersenyum mendengarnya. "Oh, gitu."
Ternyata kakak dan ibunya sangat perhatian terhadap istrinya. Syukurlah, ia tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, batinnya.
__ADS_1
Sore itu mereka kembali ke kota. Dan benar saja, pemandangan sore hari di desa begitu indah. Matahari yang mulai terbenam meninggalkan mega merah membuat warna sore menjadi semakin syahdu.