
Pagi itu Leony masih berada di rumah orang tua Adam. Mereka berdua duduk santai di dekat kolam ikan dengan membawa minuman dan camilan.
Sesekali terlihat pak Yadi, tukang kebun lewat menyiram tanaman dan menyapu. Leony agak canggung dibuatnya karena pak Yadi selalu ramah dan sedikit membungkukan badannya ketika lewat di depan mereka berdua.
"Jadi, Kamu punya perusahaan?" tanya Leony kepada Adam.
"Ya, perusahaan dibidang kuliner." kata Adam sambil menyedot minumannya.
"Sepertinya perusahaan kamu sangat maju mas."
"Yah, begitulah. Ibu dan kak Anita selalu mengurusnya."
"Jadi, kamu nggak membantu ibu dan kakakmu?"
"Aku nggak tertarik, aku lebih senang bekerja sendirian sesuai sama hobiku," katanya mengambil camilan di depannya, "jadi, bagaimana dengan proyek pembangunan kamu?"
"Masih belum mulai mas, biar para pekerja istirahat dulu. Kasian mereka kalau kerja berat terus."
"Gimana sama hutang kamu ke mbak Ningsih?"
"Sudah aku bayar setengahnya mas, masih ada setengah lagi hutangku sama mbak Ningsih." Leony menarik nafas panjang, "semoga aku bisa melunasi semua hutang-hutang aku secepatnya."
"Ya, lebih cepat lebih baik."
Hari itu mereka menghabiskan waktu untuk bersantai. Adam tak perlu khawatir meninggalkan kolam ikannya karena dia juga bayar seorang pekerja.
__ADS_1
Hampir seharian mereka bersantai di taman, mereka juga mengajak ayah Adam berjalan-jalan sekitar rumah dengan kursi roda.
Adam menceritakan semua tentang keluarganya, termasuk sifat keras kepala ibunya. Ibunya tak pernah mengurus ayahnya sejak jatuh sakit setahun yang lalu. Bahkan tak mau tidur sekamar dengan ayahnya sejak beberapa bulan yang lalu.
Jadi, meskipun sedang sakit. Ayahnya berusaha seorang diri apabila hendak ke kamar mandi, atau melakukan hal lainnya selagi ia mampu. Pembantu khusus ayahnya tak berada seharian di rumah, apabila ia telah melakukan pekerjaannya ia langsung pulang. Dia hanya memandikan ayahnya, menyuapi makan dan terkadang mengajak jalan-jalan dengan kursi roda di pagi hari.
Ibunya yang sangat kuat pendirian dan keras kepala membuat siapapun tak berani menentangnya. Terlebih lagi kakaknya, Anita. Sejak dia menikah dengan suaminya, keadaan keuangannya merosot. Sedangkan dia terbiasa hidup mewah, membuat ia rela bekerja setiap hari meninggalkan anak-anak demi mendapatkan penghasilan lebih.
Anak-anak Anita diurus oleh suaminya. Meskipun sudah seringkali suaminya meminta dia untuk berhenti bekerja, Anita tak mengindahkannya. Dia malah balik memarahi suaminya karena penghasilannya yang tak mencukupi kebutuhan. Apalagi gaya hidup Anita yang mewah, suaminya takkan sanggup menuruti semua permintaannya.
Anak-anaknya yang terlantar juga sering terlambat dijemput pulang dari sekolah. Sampai suatu waktu anaknya pernah menjadi korban penculikan. Beruntung polisi dengan cepat bisa menemukan keberadaan anaknya yang hampir saja menjadi bahan perdagangan anak.
Suaminya sangat murka kala itu, karena Anita yang sibuk bekerja melupakan waktu menjemput anaknya. Sampai saat ini, rumah tangga mereka tak berjalan mulus sesuai dengan keuangan mereka, lebih sering bertengkar dan beberapa kali suaminya memukuli Anita.
Begitulah keadaan keluarga Adam, meskipun orang lain melihat mereka kaya raya. memiliki banyak uang dan perusahaan. Tapi mereka miskin kebahagiaan. Mereka punya uang untuk bersenang-senang, tapi tak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga kecil yang mereka miliki.
Adam menceritakan curahan hatinya dengan ekspresi sedih. Sesekali ia menghela nafas panjang. Dia orang yang peka dan penyayang. Melihat kondisi ayahnya sekarang membuat kesedihan Adam semakin bertambah. Sebelum ayahnya jatuh sakit, hanya ayahnya lah yang pengertian kepada anak dan menantunya, terlebih lagi kepada cucunya. Sekarang, rumah mewah ini sudah mati, seiring sang ayah yang sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Bahkan untuk berkomunikasi saja sangat sulit.
Seharian mereka bercerita tentang hidup mereka masing-masing. Begitu juga dengan Leony dan perihal dia operasi plastik. Leony juga menunjukkan foto dirinya dulu sebelum operasi.
Bagi Adam, Leony yang dulu maupun yang sekarang sama-sama cantik. Dan cantiknya itu terpancar dari hati yang turun ke mata dan tutur kata. Adam sangat mengagumi Leony, begitupun juga Leony. Setelah hampir seharian mereka mengobrol, Leony mengajak Adam pulang ke desa karena khawatir meninggalkan rumah terlalu lama. Akhirnya Adam mengantarkan Leony ke desa, kemudian kembali lagi ke kota karena harus mengerjakan sesuatu yang penting.
******
Nurin belanja di sebuah toko besar dekat tempat tinggal Leony, karena disana toko yang besar dan lengkap. Dia membeli perlengkapan bayi untuk Arif seperti popok, susu dan biskuit. Di sana Nurin bertemu Leony kembali.
__ADS_1
"Belanja apa mas?" sapa Leony terlebih dahulu.
"Beli popok sama biskuit buat Arif, kamu beli apa?"
"Aku beli sabun dan camilan nih," katanya sambil memperlihatkan keranjang belanjaannya.
"Belanjanya sendiri aja?"
"Iya mas, Fira lagi tengok Zahra, jadi aku cuma sendirian."
Hari itu mereka mengobrol santai dan pulang ke rumah masing-masing.
Nurin sedang bermain dengan Arif yang semakin lucu. Dia juga menelpon Nita menggunakan video call. Hampir seharian Nurin bermain dengan Arif. Arif yang bermain di dalam kereta terlihat sangat aktif.
Neneknya muncul dengan membawakan semangkuk bubur, kemudian menyuapinya. Badannya yang gempal karena kuat makan membuat pipinya menyembul, siapa saja yang melihatnya akan gemas.
Kini Nurin harus berpamitan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Sebelum pergi ia menciumi Arif, kemudian berpamitan. Nurin mengambil kunci motor dan menghidupkannya. Tiba-tiba Arif berhasil menyusul Nurin, dan melaju dengan kereta bayinya. Ia berteriak-teriak memanggil Nurin dan kereta nyaris saja jatuh di teras yang curam. Untungnya Nurin dan neneknya berhasil menangkap Arif dan keretanya. Arif hanya mengeluarkan ekspresi senangnya karena Nurin menangkapnya.
"Masyaallah le (panggilan untuk anak laki-laki suku Jawa), bikin kaget Ayah kaget saja kamu," kata Nurin tersenyum dan memeluk Arif.
"Baru ditinggal sebentar sudah bikin nenek jantungan kamu." kata nenek mencubit hidung cucunya pelan.
Neneknya menggendong Arif mengalihkan perhatiannya agar Nurin bisa pergi. Kemudian barulah Nurin bisa pergi dengan tenang.
Sepanjang jalan, dia hanya merenung memikirkan masa depannya yang kini sudah tak jelas arahnya. Pernikahannya sudah kandas, namun keterikatan diantara mereka masih ada, yaitu kasih sayang terhadap Arif. Dia hanya bisa berharap, suatu saat nanti dia akan menemukan perempuan yang benar-benar mencintainya dengan tulus, menerima keluarga kecilnya yang sederhana dan menerima masa lalunya. Saat itu tiba, takkan pernah dia melepaskan perempuan itu, pikirnya.
__ADS_1