
Kini, kehamilan Nita sudah memasuki trimester kedua. Badannya jadi lebih berisi sekarang. terkadang rasa mulas dirasakannya akibat kontraksi palsu kehamilannya. Nurin yang menyadari Nita akan segera melahirkan, kini memberikan uang gajihnya lebih banyak sekarang, biasanya dia memberikan 300 ribu perminggu, kini dia memberikan 600 ribu perminggunya. Nita menolak uang pemberian suaminya itu, namun Nurin memaksa dan menegaskan kalau biaya bersalin tidak murah, belum lagi perlengkapan bayi yang belum dibeli satupun. Akhirnya dengan pakasaan Nita menerima uang lebih banyak dari suaminya. Dan dia menyisihkan 200 ribu untuk setiap minggunya.
Dia merasa beruntung memiliki suami seperti Nurin, meskipun pernikahan mereka belum sah Dimata agama, di dalam hati kecil Nita dia menginginkan Nurin. Dia ingin memiliki Nurin seutuhnya. Sosok Nurin dapat membuatnya nyaman dan merasa aman jika didekatnya. Benih-benih cinta belum lagi tumbuh di hati Nita, karena tak mudah baginya untuk melupakan ayah dari anak yang dikandungnya. Melihat Nurin membuat mata hatinya terbuka lebar, dia baru tahu mana sebenarnya laki-laki yang bisa diandalkan dan mana yang tidak.
Mencintai dan memberikan segalanya kepada Sandi adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya yang pernah iya lakukan.
Sekarang Nita menjadi lebih perduli terhadap Nurin, dia lebih bisa menghargai ketulusannya dan selalu berusaha membuat Nurin merasa nyaman. Begitupun Nurin yang mulai membuka hatinya untuk Nita. Dia berharap suatu saat nanti bisa benar-benar melupakan Leony dan menjadi suami seutuhnya untuk Nita. Dan sekali lagi dia melakukan itu untuk orang tuanya. Kebahagiaan orangtuanya juga adalah kebahagiaannya.
Hari itu hari libur untuk semua pekerja, Nita dan Nurin memutuskan untuk pergi ke rumah orangtua Nurin. Setelah bersiap mereka berangkat. Di jalan, mereka melewati penginapan Sandi yang sudah selesai 100% persen sekarang.
Nurin dan Nita terperanjat melihat Sandi yang bertelanjang dada dan Amira yang berpakaian hampir bugil sedang dikeroyok massa di penginapan miliknya.
Yang membuat Nurin tak kalah terkejut adalah Leony yang ikut memukuli badan sandi dengan kepalan tangannya. Di samping Leony juga ada perempuan cantik yang mengatakan kalau dia istrinya Sandi dan memukuli Sandi menggunakan sandalnya.
Nita bukan main terkejut melihat Sandi yang babak belur. Nita menyuruh Nurin untuk berhenti dan menghampiri Sandi.
"Mas! kamu ngapain di sini?!" Teriak Nita yang ketakutan melihat Sandi babak belur.
"Kenapa mbak? kamu mau ngapain? mau belain dia sama pelakor ini?!" ucap perempuan yang mengaku istri Sandi. Nita dan Nurin sangat terkejut.
Leony juga tak kalah terkejut melihat Nurin dan Nita. Tapi Leony terus saja memukul Sandi dengan tinjunya, "kamu pantes dapat semua ini! memang kamu bajingan!"
Plak! Bug! Bag! Bug! Plak! Pluk!
Tak ada henti pukulan untuk Sandi dan beberapa warga yang geram. Sedangkan istrinya Sandi terus menjambak rambut Amira.
"Mas, kamu memang pantas diperlakukan serendah ini, karena memang kelakuan kamu yang rendahan!" ucap Nita dengan emosinya yang meluap.
"Memangnya kamu kenal dia?!" tanya istri Sandi.
"Kamu lihat anak yang aku kandung ini mbak? ini anaknya Sandi!" kata Nita sangat geram.
__ADS_1
"Apa massss? masih ada lagi perempuan lain?!"
Leony yang mendengar pengakuan Nita semakin sakit hati mendengarnya. Leony mengambil kayu dan memukulkannya ketubuh Sandi.
Bughh!!!!! bughh!!!!!
"Ternyata dalangnya cuma satu orang ya??" kata Leony semakin geram.
Leony yang hendak memukul Sandi lagi tiba-tiba terkena dorongan Sandi dan Leony terpental.
Nurin yang terkejut melihat Leony terpental segera menolongnya. Naas, Nurin yang mencoba menolong Leony sekarang Nita yang maju ambil alih memukuli Sandi.
Plak! Plak! Pluk! Bagh! Bugh!
Nita memukuli Sandi sambil membawa perutnya yang semakin buncit.
Hari itu Sandi dan Amira mendapat ganjaran atas perbuatan mereka karena tertangkap basah sedang mesum di dalam kamar kost.
Lain halnya dengan Nita, dia merasa semakin terpuruk dan malu dengan dirinya sendiri. Dia membayangkan andaikan saja dia tertangkap basah sedang mesum bersama sandi dulu. Mungkin nasibnya juga akan sama seperti Amira. Nita sangat kecewa sekali dengan laki-laki yang pernah dicintainya itu.
Sejak kejadian itu kost kostan yang dibangun sandi sudah tak pernah ada penghuninya lagi. Hanya barisan bangunan cantik yang tak berpenghuni.
Leony yang mengetahui kalau anak yang dikandung Nita adalah anak Sandi merasa semakin miris saja. Mengapa harus Nurin yang menikahi Nita? mengapa bukan orang lain saja.
Semakin memikirkan itu semakin membuatnya sesak.
Dipandangnya foto terakhir dia bersama Nurin dan badut di pasar malam beberapa bulan yang lalu. Leony sempat mencuci foto itu dengan ukuran besar. Kali ini, dia memajang fotonya bersama Nurin dan badut dulu. Dia memajangnya di dinding kamar. Leony merasa hancur sekarang.
Malam itu sulit untuknya memejamkan mata. teringat lagi kejadian tadi siang, Amira. Dia berfikir bahwa Amira teman baiknya, tapi kenyataannya dia juga sampah seperti Sandi. Sangat jijik membayangkan kelakuan mereka berdua.
*******
__ADS_1
Keesokan hari, Leony pergi bekerja hari itu lebih banyak diam dan melamun. Fira yang mengetahui kejadian semalam hanya bisa memandangi temannya itu.
"Sudahlah Leony, segala yang sudah terjadi kamu harus sabar dan ikhlas."
"Iya Fir, aku bisa sabar. Tapi untuk ikhlas kayaknya aku belum bisa."
"Kamu harus fokus, ingat kerjaan kita masih banyak. Komplek baru akan segera dibangun kan?"
"Iya Fir, kamu benar."
"Nah, untuk bangunan selanjutnya adalah bangunan komersil, tapi sayang gambar rumahnya yang dulu pernah kamu bikin sudah hilang, jadi kamu harus gambar ulang dulu."
"Jadi gambarnya hilang?"
"Iya, tolong kamu gambar secepatnya lagi ya!"
Leony hanya mengangguk saja. Sejak kejadian kemarin dia lebih banyak diam. Kali ini dia harus bekerja lagi, Leony mengambil sehelai kertas, mistar dan pensil.Dia mulai menggambar sketsa rumah komersil type 60 sekarang.
Fira membeli gorengan Bude Sum untuk camilan siang mereka berdua. Fira mengambil pisang goreng, bakwan dan tahu. Tidak ketinggalan petis pedasnya Bude Sum memang yang paling enak. Tak lupa juga Fira membeli 1 teko teh es, dia sadar ada temannya yang otaknya harus dicuci dulu dengan air es supaya adem.
Bian dan Nurin juga ikut muncul memesan kopi hitam. Kemudian mereka semua masuk ke kantor pemasaran dan makan bersama. Nurin yang memperhatikan Leony sedang serius dengan pekerjannya. Teringat kejadian kemarin, betapa marah Leony dengan kelakuan Sandi. Dia marah sampai-sampai tak memperdulikan lagi dirinya sendiri. Tak ada bedanya dengan Nita.
Akh!!!
Nurin melihat dengan mata kepalanya sendiri Nita yang tengah buncit perutnya memukuli dan menghajar Sandi.
Fuuuhhhh
Nurin membuang nafas kasar, perempuan yang terlihat anggun ketika marah juga bisa berubah seperti singa betina!
semoga saja dia takkan pernah merasakan amukan-amukan singa betina itu.
__ADS_1