
Leony yang selesai berbelanja kemudian pulang. Dilihatnya bi Inah yang masih memilih belanjaan, Leony mengambil jalan yang berjarak agar tak berpapasan dengan bi Inah.
Lebih baik menghindar saja daripada mendengar ocehannya yang membuat emosi. Sesampainya di rumah dia merasa lega dan duduk di teras. Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, Adam.
Adam membuka pintu mobil dan terlihat sedang menenteng bungkusan kiri dan kanan tangannya.
"Pagi, mbak Leony." senyumnya sumringah pagi ini.
"Pagi juga mas."
"Kamu sendirian? ini, buat kamu." Adam memberikan dua kantong plastik bawaannya.
"Iya mas, Fira sama Zahra udah berangkat ke kantor pemasaran. Kamu gak kerja mas?"
"Aku lagi istirahat, disana juga ada adik aku yang bantu."
"Syukurlah mas, punya saudara. Aku udah gak punya siapa-siapa."
"Loh, memangnya Fira bukan saudara kamu?" ekspresi Adam heran kali ini.
"Bukan mas, dia partner kerja aku. Tapi sudah seperti saudara juga. Mas sebentar aku ambilkan kamu minum dulu."
"Oh, iya."
Leony membawa belanjaannya tadi dan bungkusan yang dibawa Adam. Naas, kakinya sakit malah tersandung dan jatuh menubruk tubuh Adam.
Adam yang terbaring dengan posisi dibawah Leony merasa seperti ditindih gajah. Leony yang kesakitan dan keram berusaha menyingkir, dan hanya bisa meringis.
Leony yang kesakitan tak bisa bangkit. Darah mulai mancur di jempol kakinya. Rupanya ada bagian keramik yang pecah, ujungnya yang tajam membuat jempol kaki Leony terluka dan darahnya terus mengalir deras.
"Mbak, kaki kamu berdarah!" kata Adam sangat terkejut.
__ADS_1
Leony yang juga terkejut dengan darah yang terus bercucuran membuatnya panik tak dapat melakukan apapun. Dengan cepat Adam masuk ke dalam rumah mencari kain apa saja yang dia temukan. Kemudian membalut luka di jempol Leony.
Leony yang masih syok dengan darah yang bercucuran hanya bisa terduduk diam. Adam yang memperhatikan Leony yang masih syok membersihkan darah di lantai. Sebagian juga mengenai kemejanya.
"Mbak, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Adam yang terus memperhatikan Leony.
"I-iya," kali ini Leony seakan ingin mengeluarkan air mata karena kesakitan. Namun ditahannya saja karena malu di depannya ada Adam.
Setelah beberapa saat barulah dia merasa lebih baik dan mulai mengobrol dengan Adam. Leony mengambilkan air minum dingin dan membuatkan kopi untuk Adam. Dia juga mengeluarkan camilan yang tadi dibelinya di toko. Dua bungkus besar roti dan kacang-kacangan.
Mereka mengobrol lama sampai sore hari. Bude Sum pulang melewati rumah Leony dan mampir untuk memberikan gorengan yang masih hangat, sengaja digorengkan untuk Leony.
Tak berapa lama Adam pun berpamitan pulang. Mereka juga bertukar nomor telpon.
*******
Sore hari, Nurin dan anggota keluarga lainnya telah pulang dari aktivitas masing-masing. Nurin dan Bian sedang duduk minum kopi menonton televisi sambil menunggu ibu selesai memasak.
Kebersamaan ini nantinya akan terulang lagi seperti sebelum ia menikah, fikir Nurin. Dia sedang memikirkan kata-kata terbaik untuk menyampaikan kabar perceraiannya dengan Nita nantinya.
Setelah makan bersama selesai, semua berkumpul untuk menonton televisi. Saat itulah Nurin mengatakan kabar rencana perceraiannya.
Bapak dan ibu terkejut mendengar pernyataan Nurin bahwa ia dan Nita akan bercerai. Pernikahan yang baru seumur jagung harus kandas.
"Nak, kamu harus sabar. Benar kata bapaknya Nita perceraian kalian jangan ada seorangpun yang tahu dulu. Kabar ini pasti akan sangat mengejutkan dan jadi bahan pembicaraan saja." ucap ibu yang terlihat sangat sedih.
"Iya Rin, betul itu. Dan bapak rasa itu juga keputusan terbaik yang diambil Nita. Bapak bisa memahami keinginannya." kata bapak sambil mengganti canel televisi.
Bian yang mendengarkan kabar perceraian pun merasa lega tetapi juga sedih. Kali ini Bian hanya duduk diam membisu mendengarkan bapak, ibu dan kakaknya. Sesekali diambilnya remot televisi dari genggaman bapaknya untuk memindah canel.
Malam itu, Nita menelpon Nurin. Dia ingin menanyakan kabar bapak dan ibu Nurin. Dia mengobrol cukup lama di telpon. Mungkin setelah perceraiannya nanti akan ada perasaan sungkang. Jadi dia menghabiskan banyak obrolan di telpon .
__ADS_1
Malam terasa sepi tanpa Arif. Biasanya Nurin pulang kerja disambut dengan tangisannya. Kemudian menggendongnya hingga tertidur. Pukul 22.00 mata Nurin masih enggan terpejam. Tiba-tiba ponsel Nurin berdering, Nita.
"Mas, kamu lagi ngapain? apa kamu sibuk?" tanya Nita dengan nada kebingungan. Suara tangisan Arif yang kencang membuat suara Nita tertelan.
"Aku lagi duduk-duduk aja dek, ada apa dek? Arif nangis lagi?" tanya Nurin khawatir.
"Iya mas, Arif nangis terus. Sepertinya nyari'in kamu mas. Kalau kamu gak sibuk kamu mau kesini nggak? Arif sudah nangis satu jam mas, nggak mau berhenti." ucap Nita dengan nada kelelahan yang dari tadi mengurus Arif.
"Iya dek, kamu tunggu aja mas pulang sekarang." Nurin mematikan ponselnya dan segera pergi.
Bian yang melihat kakaknya pergi terburu-buru sangat heran dan bertanya, "Kak, mau kemana larut malam begini?"
"Kakak mau pulang dulu, si Arif nangis terus. Biasa kakak gendong, seharian kan belum lihat kakak mungkin dia kangen." katanya sambil mengambil helm dan menyalakan motor, "Kakak berangkat dulu, kamu kunci aja pintunya kakak gak pulang." setelah mengucapkan itu Nurin langsung pergi.
Bian kemudian mengunci pintu. Ibu yang terheran melihat Nurin pergi selarut ini juga bertanya pada Bian. Bian menjelaskan tentang Arif yang menangis.
"Bagaimana kakak mau berpisah sama kak Nita buk, Arif saja masih ketergantungan sama kak Nurin." ucap Bian sambil menggaruk kepalanya.
"Iya, kasihan si Arif. Masih kecil tak bisa merasakan kasih sayang orang tuanya kalau mereka berpisah. Makanya Bian, kamu kalau pacaran jangan suka berbuat yang aneh-aneh. cari perempuan juga yang baik-baik, jangan asal pilih saja. Nantinya kamu sendiri yang akan kesulitan."
"Ya buk," Bian hanya menjawab sepatah kata saja. Menurutnya tak ada hubungannya masalah kakaknya dengan dirinya. Dia hanya mengiyakan nasihat ibunya. Karena apapun yang dikatakan ibunya memang benar adanya.
Bian sangat prihatin dengan keadaan yang dialami kakaknya. Dia hanya bisa berdo'a semua akan baik-baik saja. Dan hubungannya dengan Nita pun bisa secepatnya diresmikan.
Untunglah, beberapa bulan terakhir dia menyimpan uang gaji nya dengan sangat hati-hati. Uang itu rencananya akan digunakan untuk biaya pernikahannya dengan Fitri nanti.
******
Jarak rumah orangtuanya dan Nita lumayan jauh, sekitar 20 km. Tempat tinggal Nita diujung perbatasan desanya dengan desa lain. Dengan jarak sejauh itu, Nurin melaju kencang dengan motornya agar segera sampai.
Sesampainya di rumah, dilihatnya Arif yang baru saja terpejam dan masih sesenggukan karena terlalu lama menangis. Nurin segera mengambil Arif dari gendongan neneknya. Nurin memeluk Arif dengan kasih sayang, rupanya Arif merasakan kehadiran Nurin kembali membuka matanya namun terlihat tenang. Tak lama kemudian dia tertidur pulas di pelukan Nurin.
__ADS_1