Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Bangkai Tercium Juga


__ADS_3

Leony dan Adam sudah sampai di rumahnya. Rumah yang mereka tinggalkan kurang lebih seminggu sudah dipenuhi dengan debu. Jadi sesampainya di rumah bukannya langsung istirahat, melainkan harus menyapu dan mengepel lantai terlebih dahulu.


Leony mulai mengepel lantai, tetapi Adam memanggilnya.


"Hani, sini biar mas yang mengepel. Kamu masuk ke dalam kamar, dan jangan menginjak lantai sebelum kering, oke?!" ucapnya merebut gagang pel dari tangan istrinya.


"Iya mas."


Leony tak membantah, ia masuk ke dalam kamarnya. Ia berjalan perlahan sambil mengusap perutnya yang kembali berkontraksi.


Adam mengepel lantai seluruh rumah. Terlihat keningnya agak basah oleh keringat. Satu persatu ruangan ia bersihkan. Setelah selesai ia mengembalikan pel ke dapur dan menyusul istrinya di kamar.


"Hani, jadi jalan-jalan ke taman nggak?"


Leony berhenti memainkan ponselnya, "ya mas, ayo bersiap."


Leony mengganti pakaiannya dan mereka bersiap berangkat. Namun baru saja mereka hendak membuka pintu, dari luar terdengar ketukan pintu dan suara berisik.


"Itu kayak suara anak-anak kak Anita deh mas, Vania sama Vanya."


Dan benar saja, setelah ia membuka pintu, serombongan keluarga besar sudah datang. Ayah Adam juga ada di sana, serta Narto. Keluarga yang dulu sempat pecah, sepertinya telah kembali utuh.


Kebahagian terpancar di mata Narto, ibu mertua dan anak-anak Anita. Vania dan Vanya kini sudah tak terlalu kurus seperti dulu lagi, badannya juga mulai berisi, kulit mereka menjadi putih bersih. Sekarang Anita mulai bisa membagi waktu untuk anak-anak dan pekerjaannya.


Ketegangan antara Narto dan ibu mertuanya juga nampak reda. Mereka nampak mengobrol ringan di sofa. Siapapun yang melihatnya pasti akan iri, mereka dua adalah keluarga besar yang sedang berbahagia.


Anita masuk paling belakang dan membawa bungkusan yang sangat besar.


"Leony, ini calon anakmu. Seharian aku sama mamah belanja di mall." Ucapnya meletakkan seluruh bawaannya di atas meja.


Adam dan Leony terperangah melihat bawaan kak Anita yang tak tanggung-tanggung. Ia bahkan 2 kali bolak balik ke dalam mobil.


"Sebanyak ini kak??" Leony masih terheran dengan perlengkapan bayi yang dibawa oleh kakak iparnya.


"Iya, tapi ingat. Sebelum di gunakan di cuci dulu!"


"Makasih kak, mamah!"

__ADS_1


Mereka semua membongkar belanjaan perlengkapan bayi nya. Melepaskan Lebel dan meletakkan nya di dalam keranjang untuk memudahkan dicuci besok.


Ada bermacam-macam pakaian bayi baru lahir. Karena belum mengetahui jenis kelamin, mereka hanya memilih warna secara acak saja.


Adam dan ibunya pergi keluar untuk membeli cemilan. Ia meninggalkan ponselnya di samping Leony. Anita dan anak-anaknya sangat senang sekali melihat perlengkapan bayi di depan mereka.


[mas..]


Ponsel Adam berbunyi, Leony menengok sekilas pesan chat di ponsel Adam, Faisal. Meskipun tanpa nama, Leony yakin itu adalah nomor Faisal yang biasanya mengirim pesan chat ke Adam. Ia menjadi bingung, kenapa sekarang tidak ada nama maupun foto di ponsel Adam. Sepertinya Adam sudah menghapus nomor itu.


Untuk mengobati rasa penasarannya, ia beranikan diri untuk membalas pesan chat nya.


[Iya, ada apa?]


Dengan cepat, pesan terkirim dan di baca.


[Bisa kita bicara?]


[Ada apa? aku sedang sibuk. Katakan saja di telpon]


[Aku nggak bisa keluar sekarang, keluarga ku sedang berkumpul di rumah]


Leony mengirimkan foto Anita dan yang lain sedang sibuk dengan belanjaannya. Dan foto itu segera dilihat oleh Faisal, alias Rizka.


[Mas, aku hamil]


Melihat pesan chat itu, tangan Leony menjadi bergetar. Kapala nya menjadi pusing seketika. Namun ia berusaha tak berburuk sangka. Ia kembali mengetikkan balasan.


[Kamu hamil anak siapa?]


Seketika Leony langsung mendapat balasan lagi.


[Ya anak kamu lah mas, masa kamu mau berbuat tapi nggak mau bertanggung jawab?!]


Bagaikan di sambar petir, Leony merasakan detak jantungnya seakan berhenti. Ia merasakan perutnya berkontraksi lagi. Namun ia berusaha tegar dan terus membalas pesan.


[Kapan kita bisa ketemu?]

__ADS_1


[Secepatnya mas, aku akan tunggu kapanpun kamu bisa]


Leony semakin bergetar dan seakan mau pingsan. Untung saja ia sedang duduk. Andaikan ia berdiri, pasti ia sudah ambruk.


[Temui aku besok di cafe pelangi pukul 2 siang]


Tak butuh waktu lama, ia langsung mendapatkan balasan.


[Ya, mas]


Jantung Leony berpacu sangat kencang. Ia sedang mengalami apa, musibah? atau sial? ia tak bisa berpikir jernih, ia menyandarkan kepalanya di sofa.


Entah untung atau buntung, ia melihat ponsel ibu mertuanya tergeletak di atas meja. Ia memiliki sebuah ide.


"Kak, boleh aku pinjam handphone mamah?"


"Kamu pakai saja Leony, tapi ponselnya menggunakan sandi pola. Sini, biar ku aktifkan!"


Leony meraih ponsel ibu mertuanya dan memberikannya ke Anita. Setelah Anita berhasil membuka kuncinya, Leony mulai beraksi.


Ia memasukkan nomor Faisal ke dalam ponsel ibu mertuanya. Dan berhasil mendapatkan satu nama, Rizka!


Ia hampir pingsan membaca nama di hadapannya. Ia membuka chat Rizka dan dan ibu mertuanya. Dan... ia menemukan foto yang mungkin seharusnya tak ia lihat saat ini. Foto Rizka bersama Adam yang sedang tidur berdua di dalam kamar tanpa busana.


Dengan cepat ia mengirimkan segala bukti ke ponselnya. Termasuk foto layar isi chat dia dengan Rizka. Sebelum matanya akhirnya semakin gelap. Leony terbaring tanpa sadarkan diri.


Anita dan Narto yang melihatnya mengira kalau Leony hanya tertidur. Anita menyadarkan Leony.


"Leony, kamu tertidur?? kamu tidur apa pingsan?"


Leony berusaha menyadarkan dirinya dan dengan lemah ia berdiri.


"Aku ngantuk kak, aku mau tidur."


Matanya yang sayu dan memerah, membuat Anita berpikir kalau ia benar-benar mengantuk. Leony berjalan dengan gontai ke dalam kamarnya. Ia sudah tak memperdulikan lagi keluarganya yang berada di ruang tengah.


Hingga ibu mertuanya dan Adam tiba di rumah, ia tak menggubris siapa pun lagi. Ia berpura-pura tidur di dalam tangisannya yang pilu.

__ADS_1


__ADS_2