
Hari Sabtu yang cerah, Adam dan Leony akan pergi ke desa Makmur. Setelah sekian lama sibuk dengan pekerjaan, baru hari ini mereka menyempatkan untuk kembali de desa.
Namun semangat itu tak terpancar dari wajah Leony. Masih pukul 8 pagi, ia kembali tertidur seperti hari-hari sebelumnya. Adam sangat heran melihat istrinya yang tak biasanya tidur pagi.
"Hani, hani. Kamu sakit?" Adam menempelkan telapak tangannya di kening istrinya, namun isrinya tak mengalami demam, wajahnya pun tak pucat sama sekali, "hani, kita jadi berangkat ke kota, sekarang?"
"Hm?" istrinya berusaha membuka mata, namun ia kembali terlelap.
Adam heran dengan tingkah istrinya, akhirnya ia membiarkannya tertidur lagi. Adam turun ke lantai bawah dan duduk menonton televisi. Tak berapa lama, ibunya datang bersama dengan Rizka. Mantan tunangannya dulu.
"Hai mas, apa kabar?" tanya Rizka duduk di sofa agak jauh dari Adam.
"Baik, kamu apa kabar?" Adam balik bertanya, di dalam hatinya masih ada perasaan dag dig dug saat melihat Rizka, terlebih lagi jika harus mengobrol langsung berhadapan. Rasanya seperti, ingin pipis ke kamar mandi.
"Ya, biasa saja mas. Istri kamu mana mas?"
"Ada, di kamar," Adam tak berani menatap Rizka berlama-lama, namun sekilas ia tahu bahwa pesonanya masih tetap sama. Pesona yang dulu membuatnya jatuh cinta.
"Mamah ingin meminjam dress istri kamu kemarin, dan mamah ingin mengembalikannya sekarang," kata ibunya Adam sambil menenteng kantong plastik berwarna putih.
Ibunya berjalan naik ke atas menuju kamar Leony, dan benar saja ia menemukan menantunya tengah mendengkur pagi-pagi begini. Ibu mertuanya pergi ke kamar mandi dan mengambil sedikit air dalam gayung. Kemudian menyipratkan air ke wajah menantunya.
"Bangun, bangun!" ia terus menyipratkan air ke wajah menantunya hingga wajahnya menjadi basah, "ayo bangun, menantu pemalas!"
"Ma-mah," Leony berusaha bangkit dan mengusap-usap wajahnya yang sudah basah.
"Kamu lihat ini jam berapa menantuku sayaaanng?? ini baru jam setengah 9 kamu tahu? tidur jam segini mengundang penyakit. Mamah nggak mau merawat kamu nanti kalau kamu sakit karena kebiasaan tidur pagi-pagi begini. Ini dress kamu yang mamah pinjem, sekarang kamu bangun! apa kamu nggak malu, dibawah ada mantannya Adam lagi bertamu dan kalau dia tahu kamu sedang tidur mau ditaruh dimana muka kamu?!" ibu mertuanya keluar kamar setelah mengomelinya.
Leony berusaha bangun, ia juga bingung kenapa akhir-akhir ini ia sering tidur pagi-pagi. Ia mencuci wajah dan mengembalikan dress nya ke dalam lemari. Ia kemudian turun ke bawah dan benar saja, di sana ada Rizka. Leony tersenyum tipis melewati mereka di ruangIstri televisi, ia menuju dapur dan mengambil sarapan.
__ADS_1
Adam lalu menyusul istrinya, ia berpikir mungkin saja istrinya akan cemburu. Ia melihat istrinya yang sedang makan dengan wajah lesu.
"Hani, kamu sakit?"
Istrinya hanya menggeleng, ia terus melanjutkan makannya dengan wajah lesu.
"Hani, kamu nggak marah kan Rizka main ke sini?"
Istrinya tetap menggeleng.
"Ayo siap-siap, kita ke desa. Jadi, kan?"
Istrinya hanya mengangguk.
"Mas tunggu ya, di ruang televisi."
Istrinya tetap menggangguk lesu. Adam kembali menemui Rizka di ruang tengah. Sejujurnya, Leony hanya kesal tidurnya diganggu oleh ibu mertuanya tadi. Ia masih sangat mengantuk namun terpaksa bangun. Tapi ia lega, sebentar lagi akan pulang ke desa. Dia sangat merindukan Fira dan rumahnya di sana.
Leony tersenyum tipis, "Sudah lama datang mbak Rizka?"
"Baru saja," jawab Rizka tersenyum lebar, "sepertinya saya mengganggu istirahatmu?"
"Sama sekali tidak, waktu istirahat itu siang hari. Bukan pagi hari!" sahut ibu mertuanya sambil melirik Leony sinis, "kalau kamu jam segini apa yang kamu lakukan?" tanyanya kepada Rizka.
"Aku jam segini biasanya lagi aerobik mah,"
"Nah, itu baru sehat. Pantesan badan kamu langsing dan segar, kamu rajin olharaga. Bukannya malas-malasan di kamar, apalagi tidur," ibu mertuanya tak berhenti menyindir Leony.
Leony yang mempunyai bawaan tenang, tak begitu memperlihatkan kekesalannya, ia hanya duduk diam. Tak berapa lama suaminya muncul, mereka pun berpamitan pergi.
__ADS_1
"Mereka pasangan yang serasi ya mah?" ucap Rizka.
"Serasi apanya, gadis kampungan macam begitu. Mamah malu kalau sampai jalan atau kepesta bareng sama dia."
"Jangan begitu mah, dia sama Adam memang sudah berjodoh. Lain halnya dengan kami, meskipun kami saling cinta tapi ayah nggak merestui apa yang bisa kami perbuat mah?"
"Padahal dulu kalian serasi sekali, memang ayahnya Adam keterlaluan sama kamu. Sekarang coba lihat, dia cuma bisa menyusahkan orang seisi rumah. Menolong dirinya sendiri saja dia nggak mampu!"
"Jadi, dimana ayah mah? Rizka juga mau bertemu," ia bertanya sambil menoleh keseluruh ruangan.
"Ayahmu di kamar, baru selesai mandi dan makan. Seperti bayi saja, kerjanya makan, tidur lalu ke kamar mandi," ia berkata sambil menghembuskan nafas kasar, "sudahlah Rizka, membahas orang di rumah ini membuat mamah frustasi saja.
"Iya mah, daripada menggosip lebih baik kita jalan-jalan saja mah? hari ini club kita ada pertemuan sederhana, makanya aku datang kesini untuk jemput mamah. Katanya di sana lahan parkir terbatas, kita bisa datang berdua saja menggunakan satu mobil mah," katanya sambil memperbaiki riasannya.
"Sebenarnya mamah bosan bertemu sama mereka terus,"
"Kenapa mah?"
"Kamu tahu kan, mereka itu kalau bicara sama mamah suka seenaknya."
"Mau bagaimana lagi mah, mereka memang dari dulu seperti itu. Mamah sabar saja ya," kata Rizka sambil bangkit berdiri.
Mereka berduapun pergi dengan menggunakan mobil Rizka. Sesekali ibunya Adam menanyakan apakah penampilannya kali ini sudah bagus, ia takut akan dicela teman-temannya lagi. Entah memang karena ia yang bermodel kuno ataukah teman-teman clubnya sengaja mengejeknya.
Lain halnya dengan Adam dan Leony, kini mereka telah sampai di desa. Pertama kali yang ditemui Leony adalah sahabatnya, kemudian bude Sum. Ia membawa beberapa oleh-oleh untuk mereka.
Ia juga bertemu dengan Fitri, istrinya Bian. Ia sedang mengantarkan bekal untuk suaminya makan siang. Fitri terlihat lebih gemuk, terlebih lagi perutnya mulai terlihat buncit kerena tengah hamil 4 bulan.
Adam membiarkan Leony bersama Fira sedang bernostalgia, sedangkan ia pergi ke rumahnya di komplek. Ia membersihkan seluruh ruangan dengan vacum cleaner dan menyalakan AC agar udara di dalam ruangan berganti.
__ADS_1
Leony juga bertemu dengan Nurin, mereka mengobrol seperti biasa layaknya teman. Dan bercanda satu sama lain. Hanya disinilah, Leony dapat menemukan ketenangan. Hanya saja nasib percintaannya kurang beruntung di sini.