Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Kepergian


__ADS_3

Setelah selesai merayakan grand opening, semua orang libur bekerja. Mereka semua bersantai di rumah. Namun tak begitu yang dialami Leony, pekerjaan rumah padat setiap hari.


Hari sangat mendung, siap memuntahkan air berjuta-juta liter di atas atap rumah. Baru saja bi Sri dan Leony selesai menjemur pakaian namun mereka harus buru-buru mengangkat jemuran mereka lagi. Mereka berdua terlihat sangat sigap karena gerimis sudah mulai turun diiringi angin yang sangat kencang. Seketika hari menjadi gelap dan petir mulai bersahutan.


Leony dan bi Sri memindahkan jemuran ke dalam dan menata ulang. Setelah selesai mereka masuk ke kamar masing-masing karena ketakutan.


Sesekali petir menyambar dengan sangat keras, dan membuat listrik menjadi padam. untung saja mereka mempunyai lampu emergency yang menyala otomatis ketika listrik padam. Jadi mereka tak perlu khawatir.


Seketika Leony ingat, PDAM telah jatuh jatuh tempo tanggal pembayarnya. Ia menjadi frustasi, ia lupa meminta uang kepada suaminya. Jika ibu mertuanya tahu, tentulah ia akan sangat marah, ia menjadi ketakutan.


Ia mencoba untuk tidur, melupakan sejenak tentang tagihan air, listrik, uang ibu mertua dan sebagainya. Memikirkan semua itu hanya membuatnya seakan akan bisa menjadi botak.


Ia memejamkan mata dan terlelap. Ia bermimpi, lagi-lagi mimpi menyeramkan seperti tempo hari. Ia berjalan di sebuah tempat keramaian. Tiba-tiba ada badai angin topan yang sangat dasyat. Tanah yang dipijaknya seketika terbelah dan membuat lobang yang besar. Ia berlari berusaha menghindari lobang dan angin topan yang besar.


Ia melihat suaminya dan berusaha memanggil, namun suaminya tak mendengar panggilannya. Adam meninggalkan Leony sendirian ditengah kerumunan orang yang sedang berlari.


Leony pun terbangun dari tidurnya, ia meneteskan air mata mengingat mimpinya yang baru saja dialaminya. Ia teringat Fira, ia sangat membutuhkan sosok teman sekarang. Ia mencoba menelpon Fira. Beberapa saat kemudian Fira mengangkat telponnya.


"Fir, kamu lagi sibuk?"


"Nggak juga, ada apa?"


"Aku mau pulang ke desa, tapi mas Adam mungkin nggak akan perbolehkan aku."


"Kenapa?"


"Kamu tahu sendiri dia sekarang terlalu sibuk."


"Mau aku jemput?"


"Apa kamu nggak sibuk?"


"Aku harus ke tempat mbak Ningsih, ada yang harus selesaikan sedikit. Kamu mau sekalian ikut ke sana?"


"Iya, aku ingin sekali ikut sama kamu Fir."


"Tapi kamu harus minta izin suami kamu dulu."

__ADS_1


"Iya, nanti aku coba bujuk dia."


Setelah mengobrol secukup nya, mereka menyudahi percakapan di telpon. Hanya dengan mendengar suara Fira hatinya menjadi lumayan tenang, ia merasa sangat kesepian.


Ia menunggu suaminya bangun. Cuaca diluar pun masih gerimis dan mendung. Ia merasa lapar dan turun ke bawah untuk makan. Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Ia tak ingin ibu mertuanya memarahinya lagi karena tagihan air ataupun yang lainnya. Ia merasa sangat lelah untuk mendengarkan semua itu.


Adam terbangun, setelah Adam bangun dari tidurnya yang cukup lama Leony mengajaknya untuk makan di bawah. Kali ini ia harus cukup pintar untuk menghindari Omelan ibu mertuanya.


Mereka berdua makan, namun tak terlihat ibu mertuanya keluar dari kamar. Sepertinya ia masih menikmati tidurnya yang panjang.


"Mas, aku mau pulang ke desa."


Adam yang sedang menyuap nasi ke mulutnya dibuat berhenti sekejap, "nanti saja hani, tunggu mas punya waktu luang," Adam kemudian menyuap nasinya.


"Kapan mas?"


"Sabar dulu hani..."


"Mas, pekerjaanku sedang membutuhkanku mas."


"Fira nggak mungkin melakukan semuanya sendirian mas," Leony mulai kesal dengan suaminya.


"Kamu kenapa sih hani? kamu nggak betah ya tinggal di sini?"


Tiba-tiba ibu mertuanya muncul mengejutkan, "ooh, jadi kamu sudah nggak betah tinggal di sini?!" tanya ibu mertuanya.


"Ma-mamah," Leony sangat terkejut dengan kehadiran ibu mertuanya.


"Kamu lihat sendiri kan Adam, istri kamu tercinta ini memang sudah nggak betah tinggal di rumah ini? memangnya kamu disiksa apa tinggal di sini?!" perkataan ibu mertuanya benar-benar menjadi tamparan mental buat Leony.


"Mas, aku cuma minta izin untuk ke desa karena pekerjaan. Bukan berarti aku ini nggak betah tinggal di sini," ucap Leony yang semakin kesal dibuatnya. Rasanya air matanya akan mengalir lagi kali ini, namun ia berusaha membendungnya.


"Hani, mas kan sudah bilang nanti saja tunggu mas punya waktu luang. Mas juga sangat ingin melihat kolam ikan dan tambak di sana!"


"Kamu nggak dengar Leony, suami kamu bilang apa? kamu mau jadi pembangkang?!" ucap ibu mertuanya sambil melotot dan berkacak pinggang.


"Mah, bisa kah mamah nggak memperkeruh keadaan?"

__ADS_1


"Apa? memperkeruh keadaan? mamah cuma heran sama sikap kamu yang seperti itu, mamah juga akhir-akhir ini perhatikan kamu memang sudah nggak betah tinggal di rumah ini. Kamu lebih banyak tidur di kamar tanpa perduli kan orang di rumah ini."


"Mah, mamah jangan mengada-ngada seperti itu mah."


"Hani, mas juga perhatikan sikap kamu memang berubah akhir-akhir ini. Sebaiknya kamu masuk kamar kamu sekarang!" Adam memerintahkan Leony dengan tegas, matanya menatap tajam kebawah. Ia tak ingin menatap siapapun, baik ibunya atau istrinya.


"Bukan aku yang berubah mas, tapi kamu!" Leony berjala. menuju kamar dengan perasaan sangat kesal.


Leony masuk kamar dan mencari barang-barang pribadi miliknya. Adam masuk kamar menyusul.


"Hani, kenapa kamu kumpulkan barang-barang kamu?" Adam bertanya terheran-heran.


"Kamu dan mamah sama saja mas, kalian bilang aku nggak betah di rumah. Sekarang biar aku tunjukkan aku yang nggak betah tinggal di sini!" Leony terus berjalan mondar-mandir mengumpulkan barang-barangnya.


"Kamu sadar apa yang kamu lakukan hani?" Adam melototkan matanya besar-besar.


"Biar aku kasih tahu sama kamu mas, aku sudah berusaha jadi istri dan menantu yang baik di rumah ini. Aku bahkan menyingkirkan kepentingan pribadiku untuk mengabdi di rumah ini. Tapi aku nggak pernah dihargai di rumah ini mas!"


"Jadi, kamu benar-benar akan pergi hani? kamu benar-benar akan membangkang perkataan suamimu ini?"


"Ya, mas!" Leony telah siap dengan barang-barangnya.


"Apakah perlu aku bebaskan kamu dari tanggung jawabmu sebagai seorang istri?" tanya Adam sambil menatap tajam.


"Kalau memang itu mau mu dan mamah mu, dan kalau itu membuat kamu merasa lebih baik, silahkan mas!"


"Kamu sakit, hani!"


"Bukan aku mas, tapi kamu! kamu bukan hanya sakit mas, tapi kamu buta dan tuli!" Leony sangat geram.


"Baik, silahkan kamu keluar dari rumah ini Hani. Kalau itu membuat kamu merasa lebih baik!"


"Baik, mas!" Leony mengangkat tasnya dan menuruni tangga, ia mengambil motor dari garasi dan mengenakan jas hujan. Dan ia pun pergi.


Hujan turun semakin lebat, mengantarkan kepergiannya dari rumah mewah itu. Dan ibu mertuanya yang dari tadi mengintip tertawa terbahak-bahak. Ia sangat senang karena berhasil menghasut suami istri yang masih lugu itu.


Dan bi Sri melihat semua kejadian itu, ia juga melihat kekejaman seorang ibu mertua terhadap anak dan menantunya sendiri. Bi Sri sangat sedih, ia juga sangat kesal kepada Adam yang tak memiliki naluri seorang suami.

__ADS_1


__ADS_2