
"Janinnya sehat ya ibu, nah ini posisi kepala bayi sudah ada di bawah. Sehat terus ya ibu sama dedek bayi nya." ucap dokter kandungan kepada Leony. Hari ini jadwalnya memeriksakan kandungan. Sayangnya tak ada siapapun yang menemaninya.
Setelah mendapatkan resep vitamin, ia menebusnya di apotek dan pulang ke rumah. Menaiki sepeda motor sendirian kurang bagus untuk ibu hamil, tapi apalah daya Adam terlalu sibuk di kantor. Dan untuk meminta tolong kepada Anita dan ibu mertuanya ia masih sungkan.
Hari ini cukup bersemangat, ia ingin sekali mengantarkan makan siang untuk suaminya. Ia mampir kesebuah rumah makan sederhana dan memesan 5 porsi makanan.
Ia menuju ke perusahaan dengan sepeda motornya. Sesampainya di kantor, ia menuju ruangan Adam. Ia bertemu dengan Anita sebelum sampai ke ruangan Adam, jadi Leony menitipkan saja makanan yang tadi dibelinya.
"Kenapa kamu nggak anter sendiri makanannya Leony?" tanya Anita.
"Nggak kak, aku mau pulang saja. Aku malu mengganggu mas Adam, siapa tahu dia sedang sangat sibuk sekarang."
"Kamu ini aneh sekali, masa sama suami sendiri kami sungkan?"
Leony tersenyum kecut mendengarnya, "aku pulang dulu ya kak, jangan lupa kak panggil mamah juga untuk makan sama-sama."
"Iya iya, udah pulang sana.. bumil keluyuran aja, bukannya minta anterin sama suami malah keluyuran sendiri." kata Anita yang masih terheran dengan adik iparnya itu.
Leony hanya membalas perkataan Anita dengan senyuman kecut, ia lalu pulang. Di depan pintu loby ia bertemu dengan Faisal, salah satu HRD perusahaan di sana.
"Faisal, tunggu!"
Faisal menoleh kearah sumber suara, ia memutar balik arah jalannya, "iya buk, ada apa?"
__ADS_1
"Em, Faisal saya minta nomor handphone kamu pak Adam yang memintanya."
"Oh, iya Buk.. ini buk nomor handphone saya ada di kartu nama ini," ucap Faisal menyodorkan sebuah kertas kecil kartu nama.
Leony membaca sekilas tulisan di kartu nama, "em, Faisal ada nomor yang lain nggak selain ini?"
"Ada buk, tapi itu nomor pribadi buk, bukan untuk pekerjaan kantor. Biasanya saya cuma menggunakan nomor yang ada di kartu ini saja," ucap Faisal dengan sangat ramah.
"Oh, begitu. Yasudah, terima kasih!"
"Ya buk, sama-sama."
Leony pulang dengan mengantongi sedikit pencerahan tentang kecurigaannya. Sebenarnya ia tak ingin mengetahui apapun yang Adam lakukan di ruang lingkup pekerjaannya, hanya saja hati kecilnya yang membuatnya melakukan hal itu. Paling tidak, berhasil menepis kecurigaannya membuatnya merasa puas.
Hari itu Ningsih juga menelponnya, ia mengatakan ingin mengunjungi rumah baru Leony. Dengan senang hati ia pulang dengan segera dan membeli beberapa cemilan.
"Jadi, bagaimana mbak bisa bertemu kembali dengan puteri mbak ini?" tanya Leony sangat penasaran. Bahkan ia selalu menatap penuh hangat pada anak gadis di depannya. Anak itu sama sekali tidak mirip dengan ibunya.
"Ceritanya panjang sekali Leony, intinya sekarang ini saya sudah tidak kesepian lagi karena puteri saya Patricia sudah dalam pelukan saya, Patricia memutuskan untuk tinggal bersama saya sekarang ini. Ini adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup saya yang pernah saya rasakan."
"Saya turut senang mendengarnya mbak."
"Selama ini, Patricia tinggal bersama nenek dan ayahnya. Kami dipisahkan sewaktu Patricia masih berumur 5 bulan. Saat itu, dunia saya seakan hancur," Ningsih menceritakan masa lalunya dengan berlinang air mata.
__ADS_1
Patricia yang berada di samping ibunya juga ikut meneteskan air mata mendengar cerita masa lalu ibunya yang pahit.
Ningsih menyeka air matanya, "mantan suami saya dulunya adalah seorang CEO besar. Kehidupannya penuh dengan glamour bergelimang harta. Berbeda dengan saya yang hanya perempuan dari keluarga sederhana. Dari situlah awalnya pernikahan kami tak disetujui, dan lama-kelamaan suami saya juga berubah. Ia terpengaruh dengan pergaulan bebas, dan berkomplot dengan beberapa mafia yang menyeretnya ke dalam masalah. Dan masalah pernikahan kami menjadi semakin rumit. Tapi saya gagal membawa puteri saya, hiks hiks," Ningsih terus terisak, Patricia memeluk Ningsih dari samping.
"Cobaan mbak ternyata sangat berat," ucap Leony hanya bisa mendengarkan cerita mengerikan yang seperti dongeng di telinganya. Ternyata kehidupannya saat ini masih jauh lebih baik, dalam hati ia bersyukur.
"Saya terus mencari puteri saya kemana-mana karena mereka sudah pindah sejak saya dan Patricia dipisahkan. Saya sangat putus asa saat itu, rasanya saya sudah tak punya harapan hidup lagi. Setiap hari saya hanya bisa berdo'a pada Tuhan agar suatu saat Patricia juga mencari saya dan bisa bersama lagi suatu hari nanti, dan hari ini saya merasa menjadi manusia yang paling bahagia di dunia. Inilah harta dan separuh nafas saya," ucap Ningsih membelai rambut Patricia. Patricia juga terisak mendengar perkataan ibunya.
Lama mereka mengobrol hingga sore hari, obrolan itu berakhir dengan air mata bahagia. Leony tak menyangka akan bisa melihat Patricia hari ini. Karena Ningsih hanya tinggal seorang diri di rumah nya yang mewah. Bahkan untuk membuka hati pada laki-laki lain saja dia sudah tak mau. Rupanya inilah penyebabnya, rasa cinta dan kehilangan yang dialaminya membuatnya sangat terguncang.
Ningsih dan Patricia sama sekali tak mirip, karena Patricia memiliki gen ayahnya. Namun sikapnya yang lembut menurun pada sang ibu. Sekarang Patricia berumur 18 tahun, ia memutuskan untuk tinggal bersama ibunya dibandingkan ayah dan ibu sambungnya atau neneknya.
Kedatangan Ningsih ke tempat tinggal Leony juga untuk melihat contoh bangunan komersil yang akan di pasarkan di dekat tempat tinggal Leony. Ningsih sangat tertarik untuk membeli 1 unit rumah di komplek sana.
Mereka bertiga berjalan-jalan santai di area komplek perumahan, di sana suasananya terlihat sangat indah. Patricia setuju dengan pilihan ibunya untuk membeli rumah disana. Setelah kepergian Patricia dari rumah ayahnya, Ningsih memikirkan untuk menjual rumah lamanya dan mencari rumah baru untuk menutupi jejak mereka.
Akan tetapi masih banyak lagi kekhawatiran mereka tentang itu, ayahnya adalah seorang CEO besar yang bekerja sama dengan mafia. Mencari keberadaan Ningsih dan Patricia bukanlah hal yang sulit untuk mereka lakukan.
Jadi untuk sementara Ningsih harus vakum dan membuat identitas baru untuk menutupi keberadaan mereka.
Setelah bercengkrama panjang lebar hingga sore hari, Ningsih dan Patricia berpamitan. Namun untuk sementara mereka mencari tempat persembunyian, dan tak akan kembali ke rumah lama mereka untuk selamanya.
"Jaga kesehatan kamu Leony, dan jagalah keutuhan rumah tangga kamu," ucap Ningsih diujung perbincangan.
__ADS_1
"Baik, mbak."
Ningsih dan Patricia perlahan hilang dari pandangan Leony.