Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Pilihan


__ADS_3

Di luar dugaan, menjaga seorang bayi tak mudah. Bayi yang rewel di tengah malam membuat Leony harus terjaga hampir sepanjang malam. Adam pun juga ikut terbangun mendengar rengekan dari anaknya.


Dilihatnya istrinya sedang menggendong bayi nya yang tak berhenti menangis. Ia merasa kasihan pada istrinya. Namun apalah daya, istrinya bahkan sudah berhari-hari bersikap dingin padanya. Seakan akan Adam hidup bersama dengan orang asing.


Oooeeeeekkkk ooooeeeeeeeekkkkkk oooeeeeeeekkk !


Si bayi terus menangis. Adam bangkit dari tidurnya dan berusaha mengambil bayi nya.


"Hani, sini biar aku yang gendong." Ucap Adam langsung merebut anaknya. Ia sudah tak tahan mendengar tangisan bayi yang begitu memilukan di telinga nya.


Leony melepaskan pelukan bayinya dan Adam segera menggendongnya. Sebenarnya seumur hidupnya ia tak pernah menggendong bayi. Meskipun dia juga punya keponakan, tak pernah sekalipun ia menggendongnya sejak bayi.


"Ssssttt, sama papah ya nak... sudah, bobo jangan nangis lagi."


Dan ajaibnya, si bayi langsung terdiam di pelukan Adam. Leony yang melihatnya merasa heran dan tak serasa di ledek oleh si bayi. Sudah hampir setengah jam ia berdiri menggendong bayi nya yang juga tak kunjung berhenti menangis. Baru 10 detik ia di pelukan ayahnya malah sudah berhenti menangis.


"Hmm, minta nya di gendong papah ya sayaanng... kenapa? bosen digendong sama mamah, iya? mamah sih, cemberut aja... iya kan baby boy??"


Leony semakin memalingkan wajah nya seolah tak mendengar apapun.


"Hani, mas laper. Masakin nasi goreng dong?"


Tak ada satu pun jawaban yang di dengar oleh Adam.


"Hani...?"


Masih tak ada jawaban.


"Hani, jangan tidur dulu. Mas laper nih, masakin nasi goreng dulu sana."


"Minta masakin aja sama Rizka mas, siapa tahu masakan dia lebih enak dari pada masakan aku."


Adam menghembuskan nafas kasar. Ia merasa emosi mendengarnya. Tapi ia juga sadar, ia tak mempunyai hak untuk melampiaskan emosinya. Bagaimana pun juga semua ini adalah ulahnya.


Setelah cukup lama menggendong, Adam meletakkan bayi nya yang sudah tertidur pulas. Ia lalu berjalan ke dapur dan membuka magicom. Sebenarnya masih ada lauk untuk dimakan, telur dan juga mie instan. Tapi ia ingin makan nasi goreng, jadi ia memasak nya malam itu.

__ADS_1


Ia menyiapkan semua bahan dan memasak nasi goreng. Dan ia tak lupa menambahkan sambal terasi instan sebagai penyedapnya.


Aroma nasi goreng mengisi hampir seluruh rumah. Setelah matang, ia pun makan dengan lahap. Dilihatnya jam yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Ternyata menjaga bayi bukan hal yang mudah. Bangun tengah malam bahkan membuat perutnya menjadi lapar.


Leony menyusul ke dapur dan membuka wajan. Dilihatnya masih ada seporsi nasi goreng lagi. Ia mengambil piring dan mengisi nasi goreng di piringnya.


"Habiskan aja Hani, mas udah kenyang."


Namun Adam memang berbicara seorang diri. Tak ada satu kata apapun yang keluar dari mulut istrinya. Ia hanya berlalu setelah mengisi piringnya dan mengambil air putih. Dan berlalu begitu saja untuk makan di kamar.


"Sabaarr sabaarrr ...." Adam menggumam sendiri.


Melihat istrinya yang makan di kamar, membuatnya enggan untuk masuk. Jadi, ia hanya berbaring di sofa sambil menonton televisi.


************


Keesokan pagi, ia terbangun dan masih di sofa. Rupanya semalam ia ketiduran. Ia mencari bayi nya, tak ada di kamar. Rupanya bayi nya sedang dimandikan.


Adam bersiap untuk pergi ke kantor. Ia segera mandi dan sarapan. Ternyata istrinya sudah menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cepat. Meskipun ia memiliki seorang bayi, ia tak melalaikan satu pekerjaan pun.


"Hani, mas berangkat kerja. Kalau perlu sesuatu tinggal telpon saja, mas akan pulang secepatnya."


Di kantor ia bahkan tak dapat tersenyum lega. Sikap istrinya yang dingin lambat lain juga sudah mengubahnya menjadi dingin pula.


Ia melangkah ke ruangannya, dan betapa terkejutnya ia di sana sudah ada Rizka, Anita dan ibunya.


"A-ada apa ini? kenapa semua berkumpul di ruangan ku?" Tanya Adam masih kebingungan.


"Kita ada rapat tertutup sebentar di sini, cepat duduk Adam!" Sahut ibunya.


Rizka terlihat agak menunduk tak seperti biasanya. Wajahnya juga pucat pasi seperti tak tidur semalaman. Kantung matanya sangat nampak hitam, meskipun ditutupi oleh riasan tetap saja tak merubah apapun. Kulitnya juga lebih kering dan gelap.


Adam mengambil duduk di samping Anita yang berhadapan langsung dengan Rizka.


"Rizka, Adam. Mamah rasa mamah nggak perlu menjelaskan lagi apa tujuan kita mengobrol di sini."

__ADS_1


Suasana menjadi tegang setelah ibunya mengatakan itu.


"Rizka, berapa umur kandungan kamu sekarang?"


"Dua bulan setengah mah, 10 minggu." Jawab Rizka lemah.


"Rizka, Adam. Kalian berdua nggak akan bisa bersatu. Mamah akan beri pilihan untuk kalian. Mau nggak mau kalian harus memilih salah satunya!"


Suasana semakin tegang, tak ada satu pun yang berani menyela pembicaraan ibunya.


"Kalian nggak akan mungkin bisa bersama, jadi mamah cuma akan beri 2 pilihan."


Ibunya menjeda kalimatnya lalu melanjutkan. "Pertama gugurkan saja kandungan kamu, Rizka. Melahirkan anak dari suami orang hanya akan membuat kamu malu dan menghancurkan reputasi kedua orang tua kamu."


Mereka semua terkejut dengan perkataan ibunya.


"Itu pilihan pertama, dan pilihan kedua... kamu boleh pertahankan kandungan kamu kalau memang kamu sayang sama anak itu, tapi setelah dia lahir kamu harus membiarkan saya merawatnya. Dan kamu bisa melanjutkan hidup kamu lagi. Dan sekali lagi alasannya Orang tua kamu nggak akan membiarkan kamu membuat mereka malu karena kamu hamil dengan suami orang!"


Rizka terdiam seribu bahasa mendengar perkataan ibunya Adam. Tak terkecuali Adam dan Anita.


"Bagaimana kalau saya nggak memilih salah satunya??" tanya Rizka, ia mengatakan dengan suara yang bergetar.


"Kalau kamu nggak memilih keduanya, terpaksa saya akan membicarakan masalah ini sama orang tua kamu. Mungkin orang tua kamu punya solusi yang lebih baik."


Rizka terperanjat mendengar perkataan ibunya Adam.


"Rizka, biarkan anak ini lahir! mamah akan merawat ini!" Ucap Adam pada Rizka.


Rizka hanya terdiam mendengar perkataan Adam.


"Saya nggak menyangka Rizka, saya pikir kamu adalah perempuan berpendidikan yang memikirkan sesuatu dengan matang. Tapi ternyata saya salah! lihatlah akibat dari pikiran pendek kamu! seharusnya kamu memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu. Bukan hanya kamu, tapi juga kamu!" Ibunya menunjuk Adam dengan kasar.


"Kalian berdua sama-sama pendek akal! percuma kalian sekolah tinggi tapi pemikiran kalian sangat dangkal!"


Suasana menjadi semakin tegang.

__ADS_1


"Rizka, saya tunggu jawaban kamu!"


Rizka mengangguk dan berdiri keluar ruangan Adam. Ia segera pulang dengan cepat.


__ADS_2