Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Si Mulut Pedas


__ADS_3

Zahra sudah dijemput Fira ke tempat tinggalnya. Kini kehadiran Zahra memberi kehangatan bagi rumah mereka. Rasanya seperti menemukan keluarga yang telah lama hilang. Kebersamaan yang Leony rindukan, sudah lama rumah ini tak memiliki kehangatan.


Ditambah lagi Zahra anak yang penurut, Sholeha dan rajin mengerjakan pekerjaan rumah tanpa diperintah. Membuat Leony semakin takjub dengan kepandaian yang dimiliki Zahra. Selama ini Neneknya mengajarkan semua kebaikan kepada cucunya. Dan menjauhkan sifat memanjakan sehingga Zahra tumbuh sebagai anak yang rajin dan mandiri.


Siang itu adalah siang yang sangat sibuk bagi para pekerja kuli bangunan. Tak terkecuali Nurin, yang sudah begadang semalam karena Arif yang terus menangis. Ditambah lagi dengan cuaca yang terik membuatnya terlihat pucat pasi.


Leony berjalan-jalan menelusuri area perkomplekan yang baru. Kini pembangunan sudah mencapai 50%. Senyum di bibirnya terus saja menghiasi. Dia berharap komplek perumahan barunya ini mendapatkan banyak peminat seperti sebelumnya.


Di tengah kesibukannya dia tak memperhatikan sekelilingnya. Hingga sebuah mobil menyerempetnya dan membuatnya tak sadarkan diri.


Para pekerja yang melihat kejadian itu terkejut dan histeris. Pemilik mobil langsung membawa Leony ke klinik terdekat. Syukur lukanya tak seberapa dan tak menyebabkan luka fatal.


Nurin, Bian dan Fira segera menyusul mereka ke klinik. Disana mereka melihat Leony yang sudah mulai sadarkan diri.


"Mbak, maafkan saya ya. Saya sudah menyerempet mbak dan gak fokus di jalan," ucap laki-laki di hadapan Leony. Namun Leony yang masih syok tak memberikan respon apapun terhadap perkataan laki-laki di depannya tersebut.


"Mas, kamu koq bisa-bisanya gak memperhatikan jalan? ini kan bukan jalan aspal, jalan cuma pinggirannya sawah masa kamu bisa nabrak orang?" tanya Bian sangat heran dengan laki-laki di depannya yang sangat ceroboh.


"Maafkan saya ya mbak, saya akan bertanggung jawab. Yang terpenting mbak mau maafin saya." ucapnya dengan penuh rasa bersalah.


Leony masih saja tak memberikan respon, dia hanya mengatakan kalau dia ingin pulang ke rumah. Akhirnya laki-laki yang sudah membuat Leony celaka mengantarkan Leony sampai ke rumahnya. Dia juga memberikan uang sebanyak 5 juta kepada Leony.


Setelah mengantarkan Leony pulang ke rumah, laki-laki itu mengatakan ingin segera pergi karena ada urusan yang sangat penting. Dia meninggalkan KTP dan ponselnya sebagai jaminan. Dia berkata akan kembali lagi nanti malam. Sebenarnya Leony tak membutuhkan ponsel dan KTP laki-laki itu, tapi melihat ketulusannya membuat Leony membiarkan saja apapun yang akan dilakukannya.


Leony hanya di rumah sendirian sekarang. Semua orang kembali untuk bekerja. Leony juga meyakinkan bahwa dia bisa berjalan dan mengurus dirinya sendiri, sehingga semua orang merasa lega.


Sesekali dia meringis kesakitan. Sebagian tubuhnya kini mulai membiru. Terdengar suara ponsel laki-laki yang tadi ditinggalnya terus bergetar. Leony kebingungan harus mengangkat telpon atau tidak. Kalaupun dia mengangkat telpon pastilah akan menimbulkan banyak tanda tanya. Sehingga dia memutuskan untuk membiarkan saja ponsel itu bergetar seharian. Silih berganti nomor yang menelpon. Tak satupun yang dijawabnya.


Hingga malam tiba laki-laki itu kembali ke rumah Leony dengan pakaian yang rapi tapi wajahnya sangat kusam penuh masalah.

__ADS_1


Akhirnya mereka mengobrol di dalam rumah. Leony duduk bersandar di depan televisi.


"Mas, ponsel kamu seharian ini penuh panggilan," ucap Leony menyodorkan ponsel.


"Benarkah?" laki-laki itu memeriksa ponselnya.


Leony mengangguk dan mengambil KTP laki-laki itu hendak mengembalikannya. Dilihatnya sekilas 'Adam' nama laki-laki di depannya, "mas, ini KTP kamu."


Adam meraih KTP nya dan memasukkan kedalam dompet. Adam kembali memeriksa ponselnya yang seharian ditinggalkannya. Leony hanya fokus menonton tv. Fira muncul menyuguhkan minuman dingin dan teh hangat untuk Adam.


Setelah selesai memeriksa ponselnya Adam menatap Leony dan Fira bergantian. "Apa kalian cuma tinggal berdua di sini?"


"Gak juga, kami bertiga di sini," kata Fira sambil kembali menyuguhkan camilan, "silahkan diminum."


Tak lama kemudian terdengar suara Zahra yang memanggil Fira, "itu suara anakku Zahra, maaf saya tinggalkan kalian dulu." Kata Fira kepada Adam dan Leony.


Malam itu mereka mengobrol lama sampai larut malam. Hingga Leony mengatakan kalau dialah pemilik perumahan Griya Makmur Residens. Adam terkejut mendengarnya, ternyata dia sudah mencelakai diplover perumahan tempat tinggalnya.


Mereka akhirnya mengobrol panjang lebar.


Sedangkan Fira dan Zahra asyik di kamar dengan pekerjaan mereka membuat kerajinan tangan tugas sekolah Zahra. Mereka membuat bunga gantung yang sangat indah. Bunga gantung terbuat dari kantong plastik.


Sayangnya, Zahra yang sangat mengantuk sudah tak sanggup mengerjakan kerajinan itu lagi. Dia tertidur pulas tanpa menghiraukan ibunya yang terus membuat kelopak bunga sampai larut malam.


********


Keesokan hari Leony mencoba untuk berjalan-jalan pagi untuk melemaskan kaki dan badannya yang sudah membiru dan sakit. Di jalan dia berpapasan dengan bi Inah.


"Dek, saya lihat tadi malam ada mobil yang belum pernah kelihatan sebelumnya. Mobil siapa itu?" tanya bi Inah kepada Leony.

__ADS_1


Pastilah bi Inah sedang menginterogasi dan akan menyebarkan gosip baru nantinya. "Nasabah Bi, dia mau beli rumah."


"Ooh, saya kira pacar kamu dek." Bi Inah tersenyum mendengarnya. Namun siapapun dapat membaca senyumnya bukanlah senyum yang tulus, melainkan senyum palsu.


"Bibi mau kemana?"


"Saya mau beli sayur dek, eh ngomong-ngomong kamu kalau panen sayur bagi-bagi dong sama saya. Masa cuma Mbak Sum yang kamu kasih terus."


"Bibi mau, nanti saya petikan besok-besok ya."


"Yaiyalah, saya kan juga tetangga kamu. Walaupun rumahnya agak jauh tetap aja tetangga ya kan, dek?"


"I-iya Bi." Leony merasa sudah tak sanggup untuk terus berdiri.


Bi Inah yang melihat Leony seperti orang kesakitan bertanya, "kamu kenapa dek?"


"Saya habis kecelakaan kemarin Bi."


"Koq bisa, memangnya kamu ngapain koq sampai bisa kecelakaan begitu?" dia bertanya tanpa memperlihatkan empati.


"Yah, begitulah Bi. Namanya juga musibah siapa yang tahu."


"Iya ya dek, namanya musibah siapa yang tahu. Kaya Nita istrinya Nurin. Baru menikah 6 bulan koq sudah melahirkan aja. Emang kamu gak tahu ya kelakuannya Nurin selama ini?"


Pertanyaan yang menyebalkan dan rasanya tak perlu dijawab. Rasanya seperti orang ini lebih baik disambar geledek saja sekarang. Timpal Leony dalam hati.


"Ma'af Bi, saya gak tahu masalah itu. Itu bukan urusan saya dan saya nggak perduli." Leony bergegas meninggalkan bi Inah secepatnya sebelum dia melontarkan kalimat lainnya. Dengan berjalan tertatih-tatih Leony terus berjalan.


"Dek, jangan lupa sayurannya besok ya!" teriaknya kepada Leony.

__ADS_1


"Ya." Leony hanya membalas hanya dengan satu kata saja.


Leony duduk di tera rumahnya. Niatnya untuk berjalan-jalan melemaskan kaki dan badannya malah mendapat sial pagi ini.


__ADS_2