Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Rindu


__ADS_3

Hari libur Nurin memutuskan untuk pergi ke rumah orangtuanya. Sebelum pergi, ia menggendong Arif terlebih dahulu. Arif yang sangat menggemaskan membuat Nurin selalu tergoda untuk menggendongnya.


Setelah puas menggendong dan bermain, ia pun berpamitan. Nurin membawa banyak melon untuk di bawa pulang. Kakek dan nenek Arif berpesan agar Nurin cepat kembali. Meskipun ia dan Nita sudah resmi berpisah, Nurin tetap saja diperlakukan dengan sangat baik layaknya anak sendiri.


Nurin pulang dengan perasaan tenang dan senang. Setelah menempuh perjalan lumayan jauh, dia sampai ke rumah orangtuanya. Di sana sepi tak ada siapapun, karena bapak dan ibunya sedang pergi ke ladang. Dia pergi ke dapur dan memeriksa makanan di meja, meskipun ia sudah makan di rumah mertuanya perutnya kini kembali minta diisi. Dilihatnya tempe goreng, daun singkong rebus dan sambal.


Dia mengambil sepiring penuh nasi dan makan dengan lahap. Ternyata makanan dirumahnya memang berbeda dengan di rumah Nita. Di sini dia makan ala kadarnya. Lebih sering lalapan daun singkong yang di colet sambal, daun singkongnya pun tinggal petik di samping rumah. Terkadang hanya terong goreng yang dipetik dari ladangnya. Atau jika ada ikan itu dari hasil pancingan bapaknya.


Sedangkan di rumah Nita ada banyak menu disetiap masakan. Meja makan penuh dengan sayur dan lauk pauk. Bapak Nita adalah seorang pegawai negeri dan hanya punya anak satu membuat hidup mereka jauh dari kata kekurangan.


Makanan di meja cukup menjadi gambaran betapa perbedaan kasta yang jauh diantara Nurin dan Nita. Nurin menghela nafas, kini ia sudah selesai makan.


Setelah makan, dia mengambil pancing hendak pergi ke kolam pemancingan terdekat yang baru saja di buka tak jauh dari rumahnya. Dia menghidupkan motor dan pergi. Sesekali tetangganya menyapa dia mau kemana dan mengapa anak dan istrinya tak diajak. Dia menjawab mencari-cari alasan saja.


Ditempat pemancingan terlihat ada beberapa orang yang sedang memancing. Di sana ada beberapa blok kolam ikan dengan jenisnya masing-masing. Ada juga kolam khusus untuk membudidayakan ikan-ikannya.


Hari ini Nurin ingin memancing ikan yang sangat jarang dikonsumsi keluarganya, ikan Gurame dan lain sejenisnya. Dia ingin keluarganya juga makan enak sesekali, tak tega melihat di meja makan hanya ada sayuran dan sambal hampir setiap hari.


Setelah beberapa saat, dia sudah mendapat 2 ekor ikan yang besar. Ia ingin memancing 2 ekor lagi agar mereka dapat menikmati masing-masing satu ekor perorangnya. Dia ingin makan enak nanti malam, timpalnya dalam hati.


Siang itu Nurin sangat senang sekali dan bersemangat. Setelah beberapa saat satu ekor ikan besar menyambar pancingnya lagi, ia sangat bersemangat dan bergulat dengan ikan yang lebih besar kali ini. Di tengah-tengah pergulatan seru dengan ikan besar, ia tak sengaja melihat Leony. Leony sedang memancing bersama Adam, laki-laki yang sudah menyerempet Leony beberapa waktu lalu.


Leony berhasil membuat Nurin gagal fokus kali ini. Untung saja mangsa dipancingnya tak lolos begitu saja. Dia berhasil mengangkat ikan gurame dengan bobot 3 kg, benar-benar memacu adrenalin.


Sesekali dia memperhatikan Leony dan Adam dari kejauhan. Mereka terlihat tertawa dan makan minum bersama. Nurin merasa kali ini Leony telah menemukan pengganti dirinya. Dia hanya tersenyum melihat Leony yang terlihat bahagia dengan Adam.


Nurin sudah mendapat 4 ekor ikan gurame sekarang, dan pergi menimbang bobot ikan yang dibawanya. Sesekali dilihatnya Leony dan Adam, kali ini mereka juga sedang mengahajar mangsa yang cukup besar. Tak berapa lama mereka berhasil menaikkan ikan yang cukup besar.


Nurin pulang dengan menenteng ikan gurame yang besar-besar. Dia juga mampir ke warung untuk membeli arang dan bumbu. Sesampainya di rumah, ia membersihkan ikan lalu membumbuinya.


Bian, bapak dan ibu sudah pulang dari ladang. Mereka heran melihat Nurin membuat bara api di samping rumah. Namun sebelum mereka sempat bertanya, mata mereka tertuju pada baskom besar yang berisi ikan yang sangat banyak dan besar. Bian, bapak dan ibu tak berhenti bertanya dengan senangnya melihat semua itu. Mereka seakan-akan sedang melihat keajaiban dunia.


Mereka semua beramai-ramai membakar ikan, sedangkan ibu menyiapkan sambal yang banyak, merebus kacang panjang dan menggoreng terong yang tadi dipetiknya di ladang.

__ADS_1


Sore itu, untuk pertama kalinya Nurin melihat bapak dan ibunya makan enak setelah sekian lama. Hatinya merasa puas, bisa memberikan sesuatu yang lebih kepada orangtuanya. Sedangkan Bian makan dengan lahapnya dan terus menerus memuji bumbu ikan bakar yang menurutnya sangat enak.


Malam hari, Nurin hanya dikamar memainkan ponselnya. Dia mencari nama Nita dan menelponnya.


"Assalamu'alaikum," Nurin menelpon.


"Wa'alaikumsalam," Nita menyahut.


"Gimana kabar kamu disana dek?"


"Alhamdulillah, baik mas. Mas Apa kabar disana?"


"Aku baik dek, kamu lagi ngapain jam segini?"


"Aku kan lagi telponan mas," kata Nita sambil tertawa kecil.


"Iya, kamu benar," Nurin tersenyum, "kamu sudah makan?"


"Kenapa?"


"Aku nggak selera makan, ingat Arif terus," kata Nita dengan suara yang sedih.


"Sabar dek, ini kan hari Kamis. Sebentar lagi kan bapak sama Ibuk anterin Arif kesana."


"Iya mas, tapi aku kangen Arif setiap menitnya mas."


"Jangan dikangenin terus dek, kasian nanti Arif bisa sakit. Dia juga bisa ngerasain apa yang kamu rasa loh dek."


"Iya mas,"


"Lagian kamu harus fokus sama pelajaran kamu kan?"


"iya mas."

__ADS_1


Lama mereka mengobrol, setelah perpisahannya baru kali ini mereka mengobrol banyak di telpon. Nurin khawatir Nita yang terus memikirkan Arif malah tidak fokus ke pelajarannya dan takut Nita menyepelekan kesehatannya. Setelah beberapa lama mereka mengobrol, hati mereka menjadi lebih tenang sekarang. Kemudian Nurin mengakhiri obrolannya di telpon.


Masih pukul 20.00, Nurin ingat ada pasar malam ini. Dia mengambil kunci motor dan dilihatnya Bian sudah pergi lebih dulu hanya meninggalkan wangi parfumnya yang menyengat.


Nurin juga segera pergi ke pasar malam. Di sana dia hanya makan sedikit pentol bakso saos kacang karena perutnya masih sangat kenyang. Dan Fira datang mengejutkannya.


"Makan yang banyak!" kata Fira yang tiba-tiba muncul disampingnya.


Nurin terkejut, "Loh mbak, kamu di sini juga?"


"Iya dong," kata Fira sambil menusuk pentol bakso.


"Zahra udah pulang ke rumah neneknya mbak?"


tanya Nurin yang heran melihat Fira sendirian.


"Iya, dia sudah pulang. Jadi sepi lagi."


"Leony nya mana mbak?"


"Tuh," Fira menyeret bibirnya kesamping kearah Leony yang sedang asyik berjalan-jalan dengan Adam.


"Pacar baru ya mbak?" tanya Nurin sedikit terkekeh, dalam hatinya antara sakit dan bahagia.


"Iya," jawab Fira singkat.


"Lah terus mbak kapan punya pacar baru?"


"Kamu cari-in lah buat aku."


"Nanti mbak, kalau ada yang cocok."


Mereka berdua terkekeh sambil menikmati bakso pentol di depan mereka. Mereka berdua mengambil mangkuk dan mengisinya pentol dengan saos kacang pedas. Tak lupa mereka memesan es kelapa yang dicampur dengan krimer kental manis. Mereka duduk mencari posisi duduk yang nyaman untuk bersantai.

__ADS_1


__ADS_2