
Adam semakin bingung dengan istrinya, ia semakin sering tidur. Bahkan sanggup tidur dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Ia hanya bangun sebentar kemudian pukul 2 siang ia kembali tidur hingga pukul 5 sore. Pukul 7 malam ia sudah kembali tidur.
Lama-kelamaan Adam agak geram melihat kelakuan istrinya. Adam mengambil sedikit air dalam gayung dan menyiprat-nyipratkan ke wajah istrinya.
"Bangun, hani! ayo bangun!" Adam berusaha membangunkannya.
Leony terbangun, ia melihat wajahnya sudah basah dengan air yang sengaja di cipratkan suaminya. Ia terdiam sejenak, mengingat kembali perlakuan yang sama oleh ibu mertuanya.
"Hani?! kamu nggak sakit tapi kenapa kerjamu hanya tidur dan tidur terus?!"
"Mas, bisakah kamu biarkan saja aku tidur? lagipula aku nggak pernah melalaikan tugas rumah tanggaku."
"Mau sampai kapan? kamu mau jadi orang pemalas? sekarang cepat mandi!"
Air mata mulai mengalir di pipinya, namun ia cepat-cepat mengusapnya, "mas, aku nggak akan pergi kemana-mana hari ini. Kepalaku pusing."
"Apa? sekarangpun kamu masih mau tidur lagi? kamu lihat sekarang jam berapa? ini masih pukul 10 pagi dan aku sudah selesai dengan pekerjaanku. Tapi kamu masih saja tidur!"
"Mas, kalau kamu lihat rumah ini berantakan kamu boleh pukul aku. Dan kalau aku belum memasak kamu juga boleh tampar aku," ucap Leony kembali menarik selimut. Ia kembali berbaring dan matanya mulai berkaca-kaca lagi, dan kembali memejamkan mata.
Adam semakin geram, bukan hanya malas. Kali ini istrinya sudah berani membantahnya. Namun ia berusaha untuk tetap tenang. Dia pun pergi kesal sambil membanting pintu.
Hingga sore hari, Adam belum juga pulang. Istrinya sudah memasak menu makanan yang lain. Seperti halnya di rumah mertuanya, ia berusaha menjadi istri dan menantu yang baik. Ia juga sudah mandi dan membersihkan seisi rumah. Ia juga mencabuti rumput-rumput kecil yang mulai tumbuh di halaman rumah. Suaminya tak pernah memperhatikan hal sedetail itu jika mengurusi rumah. Ia bahkan tak pernah mau tahu.
Sudah hampir Maghrib, Leony telah selesai menunaikan ibadah sholat maghrib. Hanya dengan sholat lah, hatinya menjadi tenang. Ia menunggu kedatangan suaminya sambil menonton televisi, namun hingga pukul 8 malam suaminya tak kunjung datang. Akhirnya ia tidur di depan televisi.
__ADS_1
Satu jam kemudian Adam datang, ia datang masih datang keadaan marah. Bahkan malam ini ia harus melihat istrinya sudah tidur lagi. Ia benamkan emosinya saat ini, ia sadar sudah hampir larut malam. Ia tak memakan masakan istrinya sama sekali hari ini, kecuali hanya sarapan pagi. Ia sudah makan di warung sebelum pulang ke rumah. Jadi ia langsung pergi tidur ke kamarnya.
Keesokan pagi, ia membenahi barang-barang pribadinya. Hari ini Adam berniat pulang lebih awal. Meskipun ia telah berjanji pada istrinya akan tinggal di desa selama seminggu penuh, namun ia tak dapat memenuhinya karena pekerjaan penting telah menunggunya. Selain itu, ia tak ingin terus melihat istrinya yang bebas tidur semaunya. Paling tidak, jika kembali ke rumah orang tuanya waktunya bermalas-malasan menjadi lebih sedikit.
"Hani, kita pulang sekarang. Persiapkan barang-barang mu!" kata Adam menengok ke arah dapur.
"Kenapa buru-buru mas, bukankah masih ada waktu 2 hari lagi sesuai janjimu mas?" tanya istrinya dengan nada agak gemetar.
"Mas terlalu sibuk, mas hampir setiap jam ditelpon sama sekretaris untuk hal ini,itu dan sebagainya. Mas harap kamu mengerti," kata Adam menuju meja makan. Ia melihat istrinya memasak sup kesukaannya.
"Baiklah, mas," kata istrinya sambil membersihkan meja kompor yang agak kotor. Setelah itu ia pergi ke kamarnya menyiapkan barang miliknya.
Adam berpikir mungkin istrinya masih marah kepadanya sehingga ia tak mau sarapan bersamanya. Jadi ia hanya makan sendirian saja. Ia menikmati masakan istrinya, ia selalu puas dengan masakan istrinya yang selalu enak.
Selesai makan Adam duduk bersantai sejenak, sedangkan istrinya mencuci piring bekas makan suaminya dan membersihkan seluruh ruangan. Ia harus membersihkan seluruh ruangan dengan benar, karena ia tak tahu kapan mereka akan kemari lagi. Ia juga mencabut listrik kulkas, untuk mencegah terjadinya korsleting. Setelah itu mereka pulang ke kota.
Leony terdiam seperti diamnya batu, ia hanya menengok ke jendela mobil sebelah kirinya. Memalingkan pandangannya dari suaminya. Hingga mereka telah sampai diperbatasan kota. Leony melihat ada warung penjual bakso di sana, ia menyuruh suaminya untuk menepi.
"Mas, berhenti sebentar!"
"Kenapa? ada apa?" Adam segera menepi.
"Aku lapar, aku mau makan bakso itu."
"Kenapa kamu nggak sarapan tadi? bahkan sisa sup tadi kamu buang begitu saja."
__ADS_1
"Aku nggak selera makan mas, kamu mau ikut makan atau disini saja?"
Adam berpikir sejenak, "Aku akan temani kamu makan," katanya ikut turun dari mobil.
Leony memesan 1 mangkuk bakso, 1 mangkuk mie ayam dan 1 mangkuk lagi keripik pangsit isi bakso. Ia juga meminum 2 gelas teh es.
Adam berpikir Leony juga memesan untuk dirinya, namun ia salah. Semua yang barusan dipesannya untuk dirinya sendiri. Adam terheran-heran melihat istrinya memesan begitu banyak makanan dan minuman.
"Hani, punya mas mana?" tanya Adam iseng, memastikan kalau semua makanan di hadapannya memang untuknya atau istrinya seorang.
"Mas, ini punyaku. Kalau kamu mau, kamu pesan saja sendiri," kata istrinya mulai makan.
Adam hampir terbelalak mendengar perkataan istrinya. Ia berpikir mungkin istrinya tertukar dengan kembarannya. Atau ia sedang kerasukan. Karena sifat yang selama ini ditunjukkan sangat berbeda. Dimana istrinya yang dulu? namun istrinya mengatakan dan melakukan hal tak biasa ia lakukan begitu saja tanpa ada rasa bersalah. Seolah-olah ia memiliki kepribadian ganda.
"Mas?! mas?!"
"I-iya apa hani?"
"Kamu ngelamun apa sih mas?! dipanggil dari tadi nggak nyahut-nyahut?!"
"Hani, nggak biasanya nada bicara kamu tinggi seperti ini. Sebenarnya kamu kenapa sih hani?? kalau ada masalah kamu kan bisa cerita sama aku," ucap Adam semakin kesal karena istrinya memanggilnya dengan nada lantang tak seperti biasanya.
"Aku??" Leony menunjuk dirinya, "Aku biasa aja mas. Bukannya bicara nada tinggi juga sudah biasa dikeluarga kamu??"
"Hani, mas ngerasa kamu akhir-akhir ini berubah!"
__ADS_1
"Aku??" Leony menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya.
Leony tersenyum kecut, ia bahkan tak mengerti sama sekali akan perasaan istrinya. Sebenarnya yang berubah menurutnya bukanlah dirinya, melainkan suaminya. Selama ini ia berusaha mengerti semua orang, namun orang lain tak pernah mau mengerti dirinya.