Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Grand Opening


__ADS_3

Adam dan Leony sudah tiba di kantor perusahaan, di sana seluruh ruangan di hiasi dengan bermacam-macam hiasan dinding, bunga-bunga yang cantik dan lampu hias. Ada banyak souvenir dan bingkisan. Semuanya terlihat ikut memeriahkan grand opening cabang baru sekaligus syukuran.


Jajan dan nasi kotak tersebar penuh di meja panjang dengan seksi konsumsinya. Sebuah meja kecil juga menyediakan anggur merah dan anggur putih.


Leony dan Adam duduk di kursi berdekatan, di samping nya juga ada Anita dan kedua putrinya dan Narto suaminya. Hanya ayah nya Adam yang tak terlihat, mereka takut kesehatannya memburuk karena kelelahan dan sebagainya. Terakhir ketika mereka menggelar acara pernikahan Adam dan Leony, kesehatan ayahnya agak terganggu.


"Hani, kamu gabung sama mamah di sana kan perempuan semua," perintah Adam.


"Nggak mas, aku di sni aja."


"Mas sebentar lagi mau ajak partner kerja mengobrol sambil makan dan minum, kamu sama mamah sama kak Anita saja di sana ya?"


"Kenapa sih mas? kamu malu punya istri seperti aku?" tanya Leony ketus tanpa melihat kearah suaminya.


"Aku cuma suruh kamu kumpul sama mamah di sana, kamu kok ngomong kayagitu sih?"


"Aku sadar mas, penampilan aku yang terburuk di sini. Semua orang di ruangan ini nggak ada yang seperti aku."


"Mas nggak bilang kalau mas malu, malahan penampilan kamu sangat cantik hari ini hani. Kalau begitu yasudah kamu ikut mas makan-makan. Tapi ingat, kamu jangan ikutan minuman anggurnya."


"Kenapa mas? kenapa kalau kamu sama Rizka boleh minum tapi aku nggak boleh?"


"Perempuan yang baik itu nggak akan menyentuh minuman haram seperti itu, kamu ngerti?"


"Aku sudah bosan jadi perempuan baik mas."


"Hani, kamu kenapa sih?"


"Aku akan ikut sama kamu duduk bareng partner kerja kamu mas."


"Terserah kamu ajalah, aku pusing lihat sikap kamu begini!"


Leony dan Adam menemani partner kerja di meja makan dan bersenang-senang di sana. Melody organ dan band menjadi background obrolan mereka.


Ibu Adam, Anita dan Rizka berjalan mendekat dan duduk bergabung bersama. Mereka nampak seperti bangsawan, mengalahkan tamu mereka.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Leony menghadiri acara para seperti ini, namun dari sikap dan tatapan matanya tak sedikitpun ia merasa gugup atau canggung. Berhadapan dengan ibu mertuanya dan Rizka membuat darahnya mengalir menghangatkan seluruh tubuhnya. Ia sedang menyiapkan dirinya untuk melawan jika ibunya dan Rizka akan mempermalukannya di depan orang banyak nanti.


Namun hingga malam tiba, ibu mertuanya tak sedikitpun melontarkan kalimat pedas atau sindiran seperti biasanya. Leony terheran, namun tetap tenang. Di sisi lainnya ibunya sedang asyik mengobrol dengan anggota club nya. Entah apalah yang mereka bicarakan membuatnya terkadang tertawa sinis, terkadang terbahak, sesekali Rizka melemparkan tatapannya pada Leony dan segera memalingkan wajahnya.


Hari sudah larut, acara sudah hampir selesai. Para tamu satu persatu berpamitan pulang, begitu juga dengan para karyawan. Terlihat beberapa pekerja bayaran untuk bersih-bersih sudah mulai berdatangan. Mereka mulai membersihkan setiap meja dan ruangan.


Adam berusaha bangkit berdiri, kelihatannya ia hanya mabuk ringan, berbeda dengan tamunya yang barusan pulang. Ia sempoyongan dan beberapa kali menabrak meja dan kursi, bahkan sebuah gelas jatuh dan pecah karena menabraknya.


"Mas, kamu bisa nyetir kan?" tanya Leony berusaha membantu Adam berjalan.


"Aku baik-baik saja hani, aku masih sadar 98%, hehehehe," katanya berjalan mengambil tasnya diatas meja.


Tiba-tiba Rizka datang mendekat, "Mas, aku akan mengantar kalian pulang. Aku masih bisa menyetir," kata Rizka tersenyum kepada Leony dan Adam.


"Nggak perlu Rizka, kami bisa pulang sendiri. Mas Adam masih sangat sadar, kamu bisa lihat sendiri," ucap Leony tegas.


Ibu mertuanya datang mendekati mereka, "sudahlah Adam, itu demi keselamatan kalian juga. Biarkan Rizka mengantar kalian sampai rumah. Tak baik menolak kebaikan."


"Kebaikan? sebelum dia memikirkan orang lain, lebih baik dia pikirkan dirinya sendiri terlebih dahulu, dia bahkan muntah-muntah di toilet karena banyak minum, sekarang dia mau mengantarkan kami? lebih baik kami yang yang mengantarkannya pulang, kasian perempuan masih lajang tengah malam begini menyetir sendirian, apalagi dalam keadaan mabuk."


Rizka dan ibunya dibuat bungkam dengan perkataan Leony. Mereka berdua hanya terdiam mematung mendengar perkataan Leony yang terdengar santai.


"Nggak usah mas, aku lebih lihai mengemudi daripada kamu," katanya dengan senyuman, "baiklah, kita pulang masing-masing saja," kata Rizka menyudahi percakapan dan berjalan anggun menuju keluar diikuti oleh ibunya Adam.


Raut wajah ibu mertuanya kini berubah, ia terlihat kesal namun tetap acuh. Ia menoleh ke arah Leony dengan tatapan menyeringai. Leony hanya berpura-pura tidak melihatnya.


Mereka pulang menggunakan mobil masing-masing. Sesampainya di rumah mereka semua langsung tertidur. Berbeda dengan Leony, ia menyelesaikan sholat isya yang tertunda. Ia sudah mengerjakan sholat sebelumnya di masjid dekat perusahaan. Untungnya di sana juga ada masjid, jadi ia tak perlu risau. Semenjak kehamilannya, ia jadi lebih rutin sholat.


Dalam do'anya ia selalu meminta agar ibu mertuanya bisa menerima kehadirannya dan kehadiran buah hatinya. Ia sangat ingin memiliki keluarga yang selama ini didambakannya.


Tak terasa air mata mengalir di pipinya, ia menyudahi do'a-do'a nya. Ia berbaring tidur di samping Adam yang daritadi sudah tidur seperti orang pingsan. Ia bahkan bisa melihat air liurnya yang menetes di bantal suaminya.


"Mas, mas! bangun! kamu ngiler!"


"Hmmmm."

__ADS_1


"Mas!" Leony mengguncang-guncang tubuh suaminya, "bangun mas!"


Akhirnya Adam terbangun dan membersihkan air liurnya.


"Cuci wajahmu mas, jorok sekali mas!"


"I-iya iya, kamu berisik sekali!"


Adam berjalan menuju kamar mandi dengan sempoyongan. Setelah mencuci wajahnya, Adam keluar kamar mandi dan, bruuukkkk!


"Mas, mas!" Leony panik melihat Adam yang tersungkur.


Ia berpikir mungkin Adam pingsan, namun ia hanya kehilangan keseimbangannya. Ia membantu suaminya berdiri sampai ke ranjang dan membaringkannya.


"Makanya mas! besok minum lagi yang banyak!" Leony sangat geram kepada suaminya.


"Jangan berisik hani, nanti mamah dengar."


"Awas kamu mas, kalau besok aku lihat kamu minum lagi. Aku pecahin semua minuman-minuman itu pakai tangan tanganku sendiri mas!"


"Iya hani, terserah kamu saja."


"Kamu tahu nggak mas, mulut kamu bau alkohol. Bau nya menyengat sekali mas!"


"Iya, iya. Besok juga hilang sendiri."


Leony menggelar bad cover di bawah dan menurunkan 2 buah bantal.


"Ngapain kamu tidur disitu hani, nanti kamu kedinginan bisa masuk angin."


"Bukan aku yang tidur di sini mas, tapi kamu. Cepat turun!" Leony menggulingkan tubuh suaminya ke pinggir ranjang, "cepat mas, turun! malam ini kamu tidur di bawah!"


"Kamu tega sekali hani," dengn terpaksa Adam turun dan tidur di bawah.


"Aku bosan mas jadi istri yang baik. Mungkin besok aku akan siksa kamu juga!"

__ADS_1


"Apa?!" Adam terbelalak dengan perkataan istrinya.


Leony sudah menutup seluruh badannya dan tidur membelakangi suaminya.


__ADS_2