
Awal bulan sudah tiba, saatnya Leony untuk kembali ke Desa. Dia sangat khawatir meninggalkan Fira di sana sendirian. Dia menjual murah barang-barang miliknya kepada tetangga terdekatnya. Kemudian mengemasi barang-barang dia pergi.
Tepat pukul 16.00 dia tiba di rumah. Fira terkejut melihat kedatangan Leony yang tanpa kabar.
"Surprise!"
Mereka berdua berpelukan melepas rindu.
"Jam berapa datangnya kamu?"
"Baru aja koq."
"Laper nih,masakin yang enak dong!"
"Yeeaahh, temen baru datang di suruh masak. Pegel nih pinggangnya."
Fira hanya tersenyum mendengarnya, untung saja dia tidak pergi ke kebun hari ini jadi bisa pulang cepat dan membawa makanan yang sudah matang. Leony juga membawa banyak makanan dan buah-buahan. Sudah lama mereka tak makan bersama.
Keesokan hari mereka berdua berangkat kerja mengendarai kendaraan masing-masing.
Rindu sekali rasanya dengan Desanya ini.
Sesampainya di sana, Leony sangat bahagia melihat beberapa baris komplek perumahan yang sudah tegak berdiri dan sedang di cat. Rumah itu di cat warna warni dengan sangat cantik dan mungil.
Dia berdiri cukup lama memandangi semua bangunan itu, dia juga berjalan berkeliling melihat dan memeriksa bangunannya hingga ke dalam. Rumah minimalis type 36 yang sederhana nan cantik dengan 2 kamar.
Gang demi gang dia masuki satu persatu hingga dia bertemu dengan Bian dan Nurin.
"Loh mbak, kapan datang?!" Bian terperanjat kaget melihat kedatangan Leony secara tiba-tiba. Bian yang bertanya dengan nada nyaring membuat Nurin juga ikut terkejut.
"Aku datang kemarin sore, gimana kabar kamu?"
"Saya baik mbak, senang bisa lihat mbak lagi."
"Iya Bian, Mbak juga senang lihat kamu lagi."
Nurin hanya memperhatikan Leony dan Bian yang mengobrol. Sungkan rasanya ingin ikut bergabung di sana, sehingga Nurin mencari kesibukannya sendiri.
Lama Bian dan Leony mengobrol hingga Fira menelpon meminta Leony untuk datang. Leony terkejut ternyata ada beberapa orang yang datang untuk membeli rumahnya secara cash dan ada juga yang membawa uang DP. Hari itu mereka sangat sibuk melayani pembeli dan menguruskan berkas-berkas.
Tak terasa hari sudah petang, Mereka semuapun pulang kerumah masing-masing. Hari itu Leony sudah mengobrol dengan semua orang, kecuali Nurin. Mereka berdua terlihat sama-sama menghindar. Sakit rasanya menerima kenyataan pahit bahwa mereka sudah menjalani hidup masing-masing. Rasanya masih sulit untuk percaya.
__ADS_1
Plek!
Fira menepuk bahu Leony menyadarkannya dari lamunan, "kamu pasti mikirin Nurin kan?"
"Iya,kamu tahu aja."
"Putus cinta memang sakit rasanya, tapi kamu pasti bisa move on. Aku yakin."
"Iya Fir,aku pasti bisa. Tapi rasanya sakit sekali."
"Kamu yang sabar ya!"
Fuuuhhhh, Leony menarik nafas panjang.
"Oh iya aku mau tanya, Anjar itu pacar kamu ya?"
Fira menarik nafas dan lama terdiam hingga akhirnya menyahut, "iya."
"Huuuu woow, ternyata beneran." Leony masih tak percaya. Dia masih membelalakkan matanya yang bulat.
"Kamu tahu dari mana, dia ngomong ya?"
"Enggak, dia gak ngomong cuma gak sengaja lihat wallpaper hp dia. Ngomong-ngomong kamu gak pernah telponan sama dia koq betah banget sih?"
"Kamu sadis banget deh."
"Haahahahaaaa." Kali ini Fira tertawa mendengar kata sadis yang dilontarkan Leony. Kalau dilihat memang hubungan mereka terlalu sadis, tak pernah bertemu. Atau saling telpon, setidaknya. Leony menjadi kebingungan dengan tingkah Fira dan hubungannya yang membingungkan itu.
Keesokan hari, kantor pemasaran dipenuhi para Nasabah. Mereka hampir kewalahan menghadapi para pembeli, tak menyangka di desa ini mereka berhasil membuat usaha mereka berjalan lancar. Selain oleh desa yang letaknya strategis, pendapat dari Ningsih juga selalu mereka dengarkan. Ningsihlah yang selama ini berperan penting dibalik kesuksesan mereka.
Sore harinya mereka pergi ke kota membeli bingkisan untuk diberikan kepada Ningsih. Tak lupa mereka juga membelikan Nurin dan Bian. Nurin dan Bian bagaikan 'tangan lainnya' untuk mereka. Leony dan Fira menyusun bingkisan sedemikian rupa serta menyelipkan kartu ucapan terima kasih.
Selain itu mereka juga membeli beberapa makanan seperti martabak manis, Pizza, buah-buahan beraneka macam. Malam itu Nurin dan Bian dipanggil ke kediaman Leony dan dan Fira untuk makan-makan dan mengambil bingkisan.
"Dek, aku mau ke rumah bos dulu sebentar katanya ada sedikit bingkisan yang harus diambil."
"Iya mas." Nita hanya mengatakan 'iya' tidak ada keinginan untuk mengikuti dia pergi. Jelas saja berbeda, andaikan mereka menikah didasari cinta, pastilah sekarang dia bergelayut manja ingin ikut. Tapi cinta diantara mereka tak terpancar baik itu dari Nurin maupun Nita. Jadi meskipun Nita mengetahui kalau yang dia datangi adalah mantannya Nurin sekalipun, tak sedikitpun dia merasa cemburu.
Fuuuhhhh
Nurin menarik nafas kasar, entah sampai kapan hubungan tanpa cinta akan seperti ini. Dia hanya ingin menikah 1 untuk selamanya, rasa cinta kepada orang tuanya membuat dia membuang satu-satu cintanya Leony pergi begitu saja. ''Aku memang bajingan.'' Timpal Nurin dalam hati.
__ADS_1
"Dek, kamu gak mau ikut?"
"Ngapain mas? aku malu."
"Malu kenapa?"
"Malu lah sama mantan kamu, aku gak punya muka ketemu sama dia."
"Itukan masa lalu dek."
"Tetap aja mas, udahlah mas kamu koq jadi perduli sama aku sih? aku gak kamu ajak juga gak papa koq." Kata-kata Nita menyadarkan Nurin kalau memang dia malu dan tak mau ikut meskipun dipaksa.
"Yasudah, mas berangkat dulu."
"Mas, tunggu! biasanya bingkisannya apa aja?"
"Emm, biasanya sih perlengkapan rumah tangga gitu dek kayak sabun mandi sabun cuci odol, sembako dan masih banyak lagi."
"Nanti kalau sudah dapat kasih ke Bapak sama Ibuk kamu aja ya mas, di sini masih banyak sabun dan lain-lainnya."
"Kamu yakin??"
"Iya mas, beneran."
"Yasudah kalau gitu, nanti mas sekalian nginap aja tempat Ibuk ya? kan kalau pulang kesini juga kejauhan."
"Iya mas, gak papa koq." Nita membalas perkataan suaminya itu dengan senyuman tanpa ada tanda keberatan sedikitpun.
Nurin pergi menuju rumah Leony. Dia tidak juga membawa tangan kosong, akhirnya dia membeli beberapa minuman botol yang dingin dan beberapa roti.
Sesampainya di sana sudah ada Bian dan Bude Sum. Di teras juga sudah tersedia bermacam macam makanan dan hidangan yang tak ada di jual di desa. Malam itu mereka berpesta pora.
"Mas, ini bingkisan buat istri kamu di rumah." Kata Leony sambil tersenyum menyodorkan bingkisannya.
"Iya, makasih ya." Mendengar suara Nurin saat itu saja membuat hati Leony bergetar. Ternyata hingga saat ini dia masih mencintai laki-laki dihadapannya itu.
Begitupun dengan Nurin, mereka hanya saling menyembunyikan seolah olah tak pernah ada apapun diantara mereka.
"Kamu beli minuman banyak banget mas?"
"Iya dek, masa aku kesini gak bawa apa-apa?"
__ADS_1
"Ngapain repot-repot mas, tapi yasudahlah kan buat kita makan minum sama-sama juga"
Nurin tersenyum mendengarnya. Dan yang membuat Nurin paling bahagia adalah Leony sudah mau berbicara dengannya. Sejak kedatangannya 3 hari yang lalu, baru malam ini mereka mengobrol lagi. Senang rasanya bisa melihatnya tersenyum lagi meskipun sekarang mereka bukan siapa-siapa.