Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Ikhlas


__ADS_3

Kini usia kandungan Nita sudah genap 9 bulan lewat beberapa hari. Setiap malam dia merasakan susah tidur karena pergerakan bayi yang semakin aktif dan seringnya kontraksi palsu. Dia tidur sangat gelisah karena tendangan bayi di dalam perut, bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil dan merasakan gerah yang luar biasa.


Ketika semua orang sudah terlelap tidur Nita merasakan pinggangnya sangat pegal. Dia mencoba untuk tidur namun matanya tetap terjaga.


Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Pegal di pinggangnya tak kunjung reda. Dia mencoba untuk berbaring memejamkan matanya. Tak lama kemudian pegal di pinggangnya hilang untuk beberapa saat. Setelah itu Nita merasakan kontraksi yang hebat. Dia berusaha meraih pintu kamarnya dan membuka kunci. Hampir saja dia terjatuh karena kesakitan. Kamarnya yang terletak agak jauh dari kamar Nurin dan Ibunya membuat dia memerlukan waktu dan tenaga untuk sampai ke depan kamar Nurin. Saat itu dia berusaha meraih gagang pintu kamar dan menggedor-gedor pintu kamar Nurin.


Nurin yang tertidur lelap hampir saja tak mendengar gedoran pintu. Nita yang sudah sangat kesakitan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, air matanya juga tak dapat mengalir. Akhirnya Nurin membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Nita yang berpegangan di tembok meringis kesakitan.


Segera Nurin berlari menggedor pintu kamar Bapak dan Ibunya. Bapak dan Ibu pun terbangun. Nurin terus menggedor dan mengatakan kalau Nita akan melahirkan. Bapak dan Ibu terkejut mendengarnya dan segera lari berhamburan keluar.


Mereka membawa Nita ke klinik bidan terdekat. Di sana Nita hanya bisa merintih kesakitan tanpa bisa mengeluarkan air mata dan sepatah katapun. Semua orang menjadi panik melihatnya. Namun Bidan mengatakan Nita baru saja mengalami pembukaan awal, masih harus bersabar beberapa saat lagi.


Semua orang menunggu dengan cemas dan khawatir melihat Nita yang terus kesakitan. Hingga pukul 09.00 barulah air ketuban pecah dan Nita terlihat sangat lemas. Namun dia harus menyiapkan tenaganya lagi untuk mengejan. 3 orang bidan dengan sigap membantunya bersalin.


Nita terus berjuang melahirkan bayinya.


"Naak, kamu kuat. Kamu bisa, terus mengejan ya nak!" ibu terus saja menyemangati anaknya.


"Dek, mas di sini. Kamu bisa, kuat ya dek! sebentar lagi kamu akan bertemu anakmu." ucap Nurin yang selalu mendampinginya.


Hampir satu jam lamanya Nita mengejan, akhirnya sang bayi lahir ke dunia dengan sehat dan selamat.


"Bayinya laki-laki, selamat ya. Bapak silahkan kalau mau mengadzankan bayinya." ucap bidan sambil menuju kamar sebelah.


Nurin pun mengikuti bidannya, sedangkan bidan satunya lagi masih sibuk mengurus Nita dan sedikit pendarahan yang dialaminya.


Lega rasanya bisa melahirkan bayi yang sehat dan selamat. Begitu juga dengan Nita yang terlihat segar pasca bersalin. Semua orang bahagia dengan kehadiran anggota baru keluarganya.


Sekarang mereka memiliki kesibukan baru, yaitu bergadang. Mengurus bayi secara bergantian adalah hal yang menyenangkan. Nita sangat bahagia sekali melihat wajah anaknya sangat mirip dengannya, bukan ayah kandungannya.

__ADS_1


Setiap malam bayi kecil menangis dan diurus bergantian tak terkecuali Nurin. Meskipun bukan anak kandungnya, sifat bawaan Nurin yang lemah lembut membuat semua orang percaya bahwa dia bisa menjadi ayah yang baik untuk anak Nita nanti.


Setelah bayinya berumur 40 hari kemudian mereka melaksanakan Aqiqah tasmiyah untuk sang bayi.


"Muhammad Arifin Zailani."


"Bagus sekali namanya Nak." ucap sang nenek setelah mendengar nama cucunya yang sangat kental berbau islami.


"Ya buk, Nita mau anak ini nanti menjadi anak yang Sholeh. Jangan seperti ibunya yang tak pernah menjalankan syariat agama."


"Iya nak, semua Ibuk pasti menginginkan yang terbaik dan do'a terbaik untuk anaknya. Ingat, nama adalah do'a."


Mereka tersenyum bahagia melihat Arif yang sudah berusia satu bulan lebih sekarang.


********


Hari itu hari kebahagiaan untuk semua orang tak terkecuali Leony. Kehadiran seorang bayi adalah sebuah anugerah terindah yang Tuhan berikan. Setelah kelahiran sang bayi, Leony mulai mengikhlaskan untuk kepergian Nurin dari hatinya untuk selamanya.


Tak ada lagi hati yang cemburu, hanya ada keihklasan di hatinya. Apalgi setelah melihat wajah sang bayi. Begitu tenang dan senang melihatnya. Leony juga ingat, bahwa dirinya hanyalah seorang anak yatim piyatu yang diadopsi oleh seorang petani janda. Dia kembali mengingat sosok ibu yang sudah membesarkannya. Nasibnya memang kurang beruntung. Akan tetapi, entah kenapa Leony senang dengan keputusan Nurin untuk menikahi Nita. Bukan hanya demi orang tuanya, Nurin juga sudah memberikan status kepada bayi yang tak berdosa itu.


Dia juga ingat perlakuan Sandi kepadanya, tak menyangka bahwa anak yang selama ini dikandung Nita adalah anak dari Sandi. Sekarang dia harus memikirkan untuk mencari pengganti Nurin, dan yang pasti harus lebih berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Cukup Nita dan Fira yang menjadi cerminan untuk dirinya. Jangan sampai itu juga terjadi padanya.


Leony dan Fira berpamitan untuk pulang. Nita yang sangat berterima kasih karena kedatangan dan juga hadiah yang sangat banyak, mereka berdua dibungkuskan lauk dan jajanan yang sangat banyak oleh Nita.


Hari itu menjadi hari yang sangat bahagia bagi semua orang. Leony pulang ke rumah dengan perasaan yang lega dan lapang.


"Senyum kamu sumringah banget." ucap Fira yang sedari tadi memperhatikan Leony.


"Iya, rasanya sekarang aku bisa ikhlas mas Nurin bahagia sama Nita. Asalkan dia bahagia aku juga bahagia."

__ADS_1


"Yang bener kamu?"


"Iya Fir, cuma sayang nasibku gak seberuntung Nita."


"Semoga saja nasib kamu nanti lebih beruntung daripada dia."


"Amiinnn."


Leony membuka bungkusan Lauk yang diberikan Nita. Dia memasukkannya ke dalam kulkas, dan juga kue dan jajanan yang sangat banyak.


"Banyak banget makanan kita." ucap Fira yang lewat untuk mengambil air putih.


"Iya, mau dibagikan lagi apa pantas?"


"Gak usahlah, nanti aku panggil Zahra kesini aja ya. Dia doyan daging kambing dimasak kayagitu."


"Kapan kamu bawa Zahra? emangnya dia udah libur sekolah?"


"Besok aku jemput Zahra. Sebenarnya sih belum libur sekolah, tapi aku jemput lebih awal jadi dia gak ambil rapornya nanti. Biar Ibuku aja yang ambil rapornya."


"Asyiikk kita ada anggota keluarga baru nih." ucap Leony sangat gembira, sambil mengambil piring untuk kembali makan.


"Loh, kamu makan lagi?"


"Iya, disana tadi makannya gak puas banyak orang. untung dibungkuskan banyak kayagini." ucapnya mengambil kembali lauk yang tadi dimasukkannya ke dalam kulkas. Kini lauk satu baskom penuh sudah ada di depannya.


Fira juga mengambil piring dan mengambil nasi dalam megicom, "sebenernya aku juga masih lapar."ucapnya sambil tersenyum.


Malam itu mereka berdua mengulang lagi makan malamnya.

__ADS_1


__ADS_2