Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Pernikahan Bian


__ADS_3

Hari pernikahan Bian dan Fitri sudah tiba. Pesta pernikahan berlangsung meriah dan mewah. Bian, selama ini menabung uangnya dengan baik hingga dapat melaksanakan hari paling bahagianya dengan sangat layak.


Satu persatu tamu berdatangan. Nuansa ungu coklat muda membuat dekorasi terlihat sangat elegan. Leony dan Fira menjadi tamu undangan yang paling lama sana, hampir 2 jam mereka duduk-duduk saja dan mengobrol dengan para tamu yang tak lain adalah para pekerja bangunan.


Nurin terlihat mondar mandir menyediakan segala keperluan yang masih kurang atau memerlukan bantuan. Tak berapa lama keluarga Arif beserta kakek dan neneknya datang ke pesta pernikahan. Namun Nita tak nampak keberadaannya.


Nurin yang melihat kedatangan Arif langsung menyambutnya dengan senyuman dan ekspresi bahagia. Mereka berdua nampak bermain bersama di tengah keramaian, layaknya seorang ayah dan anak. Arif yang kini sudah mulai berjalan, terlihat sangat lincah membuat Nurin kewalahan dibuatnya.


Fira yang gemas menghampiri Arif dan memberikannya sepotong kecil kue bolu. Arif menerimanya tanpa takut sedikitpun.


"Anak kamu lucu banget Rin," kata Fira sambil bermain dengan Arif.


"Iya mbak, lagi lucu-lucunya."


"Istri kamu mana? koq nggak kelihatan?"


"Ada mbak, lagi sibuk."


"Oh, lagi sibuk dibelakang?"


"Iya mbak," sahut Nurin. Untung saja dia sudah memikirkan jawaban yang tepat. Nurin agak heran mengapa akhir-akhir ini banyak yang bertanya mengenai istrinya. Nurin jadi bingung harus menjawab apa. Untung saja, semua orang yang bertanya selalu mempercayai jawabannya.


Acara berlangsung meriah hingga selesai. Setelah menikah, Bian juga membeli sebidang tanah dan mulai membangun rumahnya sendiri. Rumah yang dibangunnya sederhana namun kokoh deengan ukuran 6x8 m2.


Nurin bahagia melihat Bian hidup bahagi. Berbanding terbalik dengan dirinya yang sekarang. Nurin berharap suatu saat nanti ia juga akan memiliki keluarga kecil yang bahagia.


Hari demi hari telah berganti, hari pernikahan Leony pun juga semakin dekat. Ia terlihat pergi bersama Adam kesebuah salon besar dan terkenal. Leony memesan beberapa gaun berwarna merah muda, pakaian adat Jawa berwarna hitam, gaun putih dan kebaya putih. Ia juga memilih tipe riasan, warna eyeshadow dan lipstik.


Setelah keluar dari salon, mereka menuju percetakan terbaik di kota. Mereka memilih kertas undangan berwarna merah hati, membuat foto prewedding serta memilih jenis souvernir.


Leony sedang melihat-lihat souvernir didepannya. Ia sangat tertarik dengan souvernir bross hijab di depannya, bross itu bermacam warna, dihiasi mutiara dan menjuntai memanjang. Harganya tertera 400.000 ribu per 100 buah.


"Mas, aku mau yang ini deh," ucap Leony masih memperhatikan souvernir yang lainnya.


"Kamu yakin mau yang itu? kalo mas sih lebih suka yang souvenir gelas yang ini," kata Adam sambil menunjuk souvenir gelas di depannya.


"Bross hijab kan lebih bermanfaat mas, bisa pake buat pasang hijab. Kalo gelas, paling cuma jadi pajangan, harganya juga lebih mahal." kata Leony sambil memperhatikan harga yang tertera di plastik pelindung 550 ribu per 100 buah.


"Terus kalo laki-laki yang dapat souvenir bross nya gimana dong? kan nggak asyik." kata Adam mencibir.


"Kan bisa buat istrinya lah mas,"

__ADS_1


"Kalau nggak punya istri gimana?"


"Em.. yasudahlah terserah kamu, gimana kalau souvenir bross nya beli 4 pack, gelasnya 3 pack?"


"Nggak adil, bross nya 4 dan gelasnya 4, oke?" ucap Adam sambil menunjukkan 4 jarinya.


"Terserah mas, kan kamu yang bayar."


Mereka berdua tersenyum dan mengambil masing-masing 4 pack souvenir. Kemudian bersiap untuk foto prewedding. Leony mengenakan dress berwarna putih dan Adam menggunakan jas berwarna putih.


Setelah semua selesai mereka melakukan pembayaran dan pulang.


"Mas, kita jalan-jalan sebentar ya?"


"Kemana?"


"Terserah aja mas, aku laper," kata Leony memegang perutnya yang sudah keroncongan.


Adam melirik jam tangannya, rupanya jam sudah menunjukkan hampir pukul 3 sore, patutlah Leony kelaparan. Adam mempercepat laju mobilnya dan berhenti di rumah makan sederhana.


Adam memesan soto ayam kampung, sedangkan Leony memesan lalapan ayam bakar. Mereka makan dengan lahap. Sesekali Adam menengok kearah Leony, dilihatnya calon istrinya yang memang sudah sangat kelaparan.


Setelah sekian lama sendirian, kini ia jatuh cinta dengan perempuan sederhana disampingnya. Ia teringat mantan tunangannya dulu, Rizka. Rizka kehidupannya sangat glamor, tak seperti Leony yang bergaya apa adanya. Meskipun ia mampu untuk bergaya.


"Kenapa, Hani?"


"Dipanggil koq diam aja?" Leony terheran dengan Adam yang sejak tadi melamun.


"Mas terpesona sama kamu." Adam tersipu malu.


"Buruan dimakan sotonya, kalau dingin kan sudah nggak enak rasanya."


"Oke, Hani."


"Kenapa jadi Hani sih mas?"


"Panggilan kesayangan yang baru buat kamu." Adam kembali tersipu malu.


hampir saja Leony tersedak mendengar rayuan calon suaminya itu.


"Mas?"

__ADS_1


"Apa?"


"Mamah orangnya cuek banget ya?"


"Iya, mamah emang kayagitu. Tapi sebenernya dia perhatian koq."


"Oya?"


"Iya, biasanya aku merengek sama mamah minta pijitin, minta masakin makanan kesukaan aku, mamah mau kerjakan dengan senang hati."


"Oh, gitu ya,"


"Tapi, mamah juga punya kekurangan. Ya, kalau sama ayah, sejak ayah sakit hubungan mereka jadi renggang. Mamah juga terlalu sibuk dan capek di perusahaan. Tapi..." Adam tak melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa mas?"


"Baru-baru ini mamah bikin aku kecewa lagi, mamah sama kak Anita menggunakan uang perusahaan untuk membeli apartemen dan entah buat apalagi uang yang lainnya, sampai-sampai perusahaan hampir saja bangkrut."


"Masa sih mas?"


Adam hanya menarik nafas panjang. Leony paham sekali bahwa Adam sangat menyayangi ayah dan ibunya. Tapi, tetap saja Adam memiliki tanggung jawab yang besar. Leony sadar, ia harus mendukung suaminya.


"Mas, ayo pulang!"


Tiba-tiba ponsel Adam berdering, seseorang menelpon. Ekspresi Adam terlihat panik.


"Ya, tunggu saya! Saya akan sampai dalam 10 menit." Adam mengakhiri panggilan telponnya.


"Ada apa mas?"


"Di pabrik telah terjadi kebakaran, ayo kita kesana!" Adam bergegas mengambil tas dan segera membayar ke kasir, kemudian melaju kencang kearah pabrik.


Di sana sudah ada 5 DAMKAR, meskipun kebakaran cukup besar karena ada ledakan, namun api dengan cepat dapat dipadamkan. Dan tak ada korban jiwa karena hampir seluruh karyawan saat itu telah pulang.


Untung saja, api dapat segera dipadamkan. Korban jiwa dan kerugian besar dapat dihindarkan. Ibu dan Anita yang baru saja tiba disana histeris dan syok melihat pabriknya yang terbakar


Leony dan Adam berusaha menenangkan keduanya. Setelah api dipadamkan, mereka juga segera pulang. Beruntung, area yang terbakar bukanlah area vital dari pabrik. Jadi, pabrik masih bisa beroperasi lagi besok.


Mereka semua pulang kerumah, di sana sudah ada suami Anita dan juga anak-anaknya. Mereka khawatir telah terjadi sesuatu pada Anita dan segera mencarinya.


Suami Anita dan anak-anaknya mengajak Anita untuk pulang kerumah. Namun, Anita menolak. Ia berdalih ingin menenangkan diri dan menenangkan ibunya yang masih syok. Akhirnya, suami Anita dan anak-anaknya tidur dirumah ibunya malam itu.

__ADS_1


Adam merasa senang, sejak bertengkar dengan dengan ibunya, kakak iparnya tak pernah muncul lagi, Adam merasa lega karena kakaknya mau mengalah dan membuka hati.


__ADS_2