Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Resah


__ADS_3

Leony pergi dari rumah diiringi dengan hati yang sangat sakit. Hujan yang sangat lebat menemani kepergiannya. Ia tetap meneruskan perjalanan hingga perbatasan kota. Dan terus melanjutkan perjalanannya.


Badannya terasa beku bersamaan dengan hatinya. ia terus melaju kencang seakan tak memperdulikan keselamatan diri dan bayi yang dikandungnya. Ia hanya ingin segera sampai ke kampung halamannya.


Ia menyadari pilihannya selama ini juga telah salah. Apa yang dialaminya saat ini tak ada bedanya dengan Fira dan Nita. Perempuan malang yang harus menghidupi anaknya seorang diri.


Ciiiitttttttt! bruuaakkkk!


Leony menghentikan laju sepeda motornya, di hadapannya terjadi kecelakaan. Jantungnya berdebar kencang tak beraturan. Ia meneruskan perjalanan perlahan kemudian menepi. Terlihat ada banyak orang yang menolong para korban kecelakaan.


Ia turun dari sepeda motornya dan duduk di kursi panjang sebuah warung kopi. Ia memesan air teh hangat untung menghangatkan tubuhnya dan beristirahat sejenak menenangkan pikirannya.


Terlihat dari kejauhan kecelakaan tersebut antara sesama motor. Untung saja tak ada korban jiwa. Mereka semua masih dalam keadaan sadar. Leony bersyukur ia dan bayinya tak terkena dampak kecelakaan tersebut. Mengingat kecelakaan tersebut tepat di depannya.


Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah hujan reda. Ia meminum teh hangat yang baru saja dipesannya.


"Dek, kamu sedang apa di sini?" seseorang mengejutkannya dari samping.


Leony menoleh dan ia terkejut ternyata orang tersebut adalah Nurin, "Mas, kamu ngapain di sini?" Leony kembali bertanya.


"Aku mau ke kota, tiba-tiba aja hujan. Terpaksa aku berhenti dulu," Nurin duduk di samping Leony, "Kamu kok pake motor sih dek? suami kamu mana?"


Leony agak bingung harus menjawab apa, "dia sibuk mas, aku ke desa sendirian. Kamu pasti mau nengok istri kamu ya mas? kalau aku nggak salah istri kamu melanjutkan kuliah di kota kan mas?"


"istri yang mana dek?" Nurin bertanya tanpa mengharapkan jawaban, ia berdiri menuju meja minumnya dan mengambil kopinya dan memindahkannya ke meja tempat Leony duduk.


"Kok istri yang mana mas? memangnya istri kamu ada berapa?" tanya Leony agak kesal mendengarnya.


Nurin hanya tersenyum, ia juga bingung harus menceritakannya atau tidak. Jadi ia hanya mengalihkan pembicaraan saja, "Dek, untung saja kamu nggak kenapa-kenapa tadi. Kecelakaan itu tepat di depan kamu kan tadi?"


"Ia mas, aku jadi sangat takut. Makanya aku putuskan untuk nggak melanjutkan perjalanan," ucapnya sambil meminum teh hangat miliknya. Sejenak ia menarik nafas panjang merasakan hangat mulai menjalar keseluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Kalau kamu sudah punya suami sebaiknya suami kamu yang antar kamu pergi, dek. Kasian kalau ada apa-apa di jalan. Apalagi kalau perempuan itu sedang hamil. Jangan sampai pergi sendirian." ucap Nurin sambil menyeruput kopi miliknya.


"Perkataan kamu manis sekali mas, aku jadi tersanjung," Leony tersenyum tanpa melihat kearah Nurin. Namun sayang Nurin tak dapat melihat senyum nya yang berarti lain. Dimatanya kini hanya ada kekecewaan. Ia sudah tak mempercayai segala bentuk ucapan manis laki-laki. Kekecewaan yang dirasakannya sudah semakin dalam.


"Aku mau pergi ke kota dek karena mbak Fira yang memintaku ke tempat mbak Ningsih. Aku harus mengantarkan dokumen penting," ucap Nurin sambil berdiri, ia memesan roti panggang dengan isian dengan suara agak nyaring.


"Oya mas? kira-kira dokumen apa ya?" tanya Leony.


"Aku nggak tahu dek, tapi mbak Fira bilang dokumen ini nggak ada hubungannya sama griya makmur. Ini tentang proyek baru mbak Ningsih."


"Benarkah mas, sepertinya kabar baik."


Lama mereka mengobrol hingga hari sudah sangat sore dengan mendung yang masih lumayan gelap.


Nurin menelpon Fira untuk memberitahunya dokumen akan ia kirim lagi besok hari. Dan Fira mengiyakannya. Akhirnya Leony dan Nurin pulang menuju desa bersamaan menggunakan sepeda motor mereka masing-masing.


Setengah jam kemudian mereka tiba di desa Makmur. Jalanan terlihat licin dan becek, mereka harus berhati-hati agar tak tergelincir. Pepohonan terlihat basah dan semakin segar dengan pancaran awan berwarna kuning orange.


Dari raut wajahnya, Fira dapat menebak telah terjadi sesuatu padanya. Namun ia enggan menanyakan. Ia membantu Leony itu mengangkat tas bawaannya ke dalam kamar.


Seperti biasa, mereka menyiapkan makan malam bersama. Setelah matang, mereka makan bersama.


"Sayurannya seger banget," ucap Fira menengok sayuran di dalam wajan, sebenarnya ia hanya basa basi. Karena Leony lebih banyak diam sejak tadi.


"Iya Fir, apa kamu petik sendiri di kebun?" tanya Leony sambil terus mengoseng sayurannya.


"Hahaha, aku? mana mungkinlah. Pakde Min yang mengantarkannya,"


Leony terlihat sangat sedih, "Maaf, aku nggak fokus dengan segalanya. Perumahan dan ladang jadi terlantar gara-gara aku."


"Kamu nggak perlu bilang begitu, semua baik-baik aja, baik itu perumahan maupun ladang," ucap Fira menghibur Leony. Ia menyadari kesedihan Leony.

__ADS_1


"Aku dan mas Adam sudah nggak sejalan lagi," ucapnya sambil mematikan kompor, kemudian mengambil mangkuk dan memindahkan sayuran yang sudah matang.


"Namanya juga dua orang yang menjadi satu, perlu waktu untuk bisa menyatu," ucap Fira membantu menyiapkan makanan.


"Benarkah?"


Fira hanya mengangguk, kemudian ia melanjutkan, "Semua butuh perjuangan Leony, dan perjuangan kamu masih terus berlanjut. Jangan sampai kamu gagal, seperti aku."


"Iya, lebih baik kita makan dulu," ucap Leony duduk di meja makan.


Mereka berdua makan malam bersama. Leony sangat senang, meskipun di meja makan hanya ada sayur buncis yang dioseng dengan tempe. Dan ayam goreng kentucky yang dibeli oleh Fira, namun ia merasa bahagia. Kebahagiaan yang tak mungkin di perjual belikan.


Sejenak ia teringat Adam, apakah Adam akan mencarinya nanti, besok atau lusa. Ia merasa takut jika mereka harus berpisah. Apalagi Adam belum mengetahui kalau ia sedang mengandung. Ia menepis keresahan yang ia rasakan. Ia mencoba menikmati makanan di hadapannya dan kebersamaannya saat ini.


Setelah makan makan malam, mereka duduk santai di teras. Fira mengeluarkan buah semangka dan pepaya yang tadi siang dibelinya.


"Nih, buat cuci mulut," katanya menyodorkan 2 piring buah yang sudah dipotong.


"Perut aku udah nggak muat Fir,"


"Di kasih jeda dong, masa mau langsung dimakan aja," Fira menyodorkan segenggam uang beserta catatan, "ini hasil ladang beserta catatannya, tadi pakde Min yang kasih."


Leony membuka catatan, hasil penjualan sayuran. Dan juga pengeluaran untuk pembelian pupuk dan obat insektisida. Catatan itu sangat detail.


"Pekerja ladang udah aku bayar semua, kamu tenang aja," ucap Fira sambil memakan potongan buah semangka.


"Benarkah, makasih banyak. Tanpa kamu aku nggak bisa apa-apa Fir," ucap Leony semakin sedih.


"Ya, sama-sama. Lebih baik besok kamu ke ladang tinjau langsung. Biar para pekerja juga lihat kalau kamu perduli sama mereka."


"Oke, besok aku ke ladang," ucapnya dengan senyum yang lebar.

__ADS_1


Ia menghitung uang hasil ladang, ada 3 juta tujuh ratus ribu. Ia menyimpan baik-baik uang itu.


__ADS_2