
Adam menelpon Leony, ia berniat menjemputnya besok sore. Hari mulai malam dan mendung, ia pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, ia baru teringat perjanjiannya dengan Rizka, ia pasti sudah menunggunya.
Adam berpikir tak akan mengulangi perbuatannya dengan Rizka, ia takut jika ia menemui Rizka kejadian tempo hari akan terulang kembali. Adam menjadi bingung alasan apa yang akan dikatakannya nanti jika ia menolak menemani Rizka untuk makan malam bersama malam ini.
Adam menghentikan mobilnya, di dalam hatinya bagaikan ada malaikat baik dan setan jahat yang sedang berbicara. Malaikat yang baik mengatakan kalau dia harus pulang segera dan melupakan Rizka. Sementara setan jahat seakan berkata dalam pikirannya untuk menggunakan kesempatan yang ada di depan matanya.
Lagipula, mulai besok ia tak akan bisa bersama Rizka lagi karena ia harus menjaga perasan istrinya. Ini mungkin kesempatan terakhirnya bisa bersenang-senang dengan Rizka. Meskipun itu hanya sekedar makan malam.
Setan jahat menang, ia berhasil membuat Adam memutar balik mobilnya. Ia pergi menuju rumah Rizka. Adam memarkir mobil dan berlari menuju pintu, pakaiannya basah kuyup karena hujan sangat deras.
Rizka menyambutnya dengan senyuman manis, jantung Adam berdebar kencang melihat celana mini hot pants yang dikenakan Rizka.
"Mas, pakaian kamu basah kuyup begini. Sebaiknya kamu lepas, nanti masuk angin," ucapnya sambil meraba-raba dada Adam dengan genit.
"Nggak usah Riz, di sini nggak mungkin ada pakaian laki-laki kan. Mana mungkin aku melepaskan pakaianku tanpa ganti?" ucap Adam duduk di sofa.
"Tenang saja mas, aku punya gantinya. Aku punya pakaian laki-laki milik kakak ku," ucapnya menuju ke kamarnya. Ia mengambil pakaian dari dalam lemari dan memberikannya pada Adam.
Adam termenung sejenak, seingatnya Rizka tak punya kakak laki-laki. Tapi Adam tak menanyakan tentang itu, mungkin yang dimaksud Rizka adalah kakak sepupu.
Adam mengganti pakaiannya, setelah itu kembali keluar duduk di sofa. Di meja sudah ada 2 botol minuman anggur. Dan Rizka sudah menuangkannya ke dalam gelas.
"Di luar hujan sangat lebat. Sepertinya makan malam kita gagal kali ini mas. Kita ganti saja dengan minum anggur, bagaimana?" tanya nya duduk bersandar di sofa menikmati anggurnya.
"Ya, terserah kamu saja," Adam duduk di sofa di samping Rizka, "kamu bilang kamu sangat sedih, apa yang membuat kamu jadi sedih?" tanya Adam
Rizka terdiam sejenak, "Ayah dan ibuku sangat ingin aku menikah, tapi sampai sekarang belum ada seorang laki-lakipun yang bisa merebut hatiku," ucapnya sangat sedih.
"Orang tua kamu sangat buru-buru, umur kamu masih muda. Pasti nanti akan ada laki-laki yang singgah di hati kamu."
__ADS_1
"Ya, mas. Jujur saja mas, aku masih belum bisa move on dari kamu," ucapnya menunduk, "orang tuaku malah menjodohkan aku sama anak dari teman bisnisnya, mana mungkin aku mencintai orang yang sama sekali belum aku kenal."
Adam terdiam mendengar perkataan Rizka, "jalani saja dulu, siapa tahu seiring berjalannya waktu kamu bisa membuka hati untuknya."
"Aku cuma mau kamu mas, bukan yang lain. Tapi nyatanya tak seindah keinginanku. Tapi, itu nggak masalah buatku. Kamu mau menemani aku makan malam, minum bersama saja aku sudah sangat senang."
"Benarkah?"
"ya, mas."
Mereka berdua minum anggur sampai setengah sadar. Di tengah kesadaran mereka, mereka kembali melakukan hubungan terlarang yang tak seharusnya dilakukan.
*************
Pukul 7 pagi, ibu Adam mengunjungi rumah Rizka. Ia mengenakan pakaian resmi, ia dan Rizka sudah berjanji untuk pergi ke pesta pernikahan salah satu teman club mereka.
Ibunya mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Ia membuka pintu yang ternyata tak dikunci. Ibunya menjadi penasaran karena keadaan rumah yang sangat sepi. Ia berjalan menuju kamar Rizka, yang ternyata juga tak dikunci. Ibu Adam membuka pintu kamar perlahan, dan bak petir menyambar. Ia melihat anaknya dan Rizka tidur seranjang tanpa busana.
Ia seakan terkena serangan jantung, nafasnya tersengal-sengal melihat pemandangan dihadapannya. Ia menjadi bingung apa yang harus ia perbuat. Apakah ia akan membangunkan mereka berdua dan mencaci makinya? ataukah pergi begitu saja? tidak!
Ibunya mengambil ponsel dari dalam tas nya dan memotret pemandangan yang sangat menjijikan itu! ia berpikir akan membahasnya nanti di rumah. Setelah berhasil mengambil foto, ibunya lalu pergi dengan perasaan murka.
Tak berapa lama Adam terbangun, ia membangunkan Rizka dan mengajaknya mengulang kembali perbuatan mereka tadi malam. Bak menyelam minum air, Adam lupa akan konsekuensinya nanti. Ia berpikir tak akan ada seorangpun yang mengetahuinya.
Setelah puas bermain, mereka masing-masing mandi membersihkan diri. Adam ingat harus menjemput Leony pagi ini. Leony pasti sudah menunggunya sekarang.
Sedangkan Rizka bersiap untuk pergi ke pesta pernikahan teman clubnya. Setelah mandi, ia duduk di depan meja rias dan mulai merias wajahnya. Adam berpamitan pada Rizka, mereka berdua tersenyum penuh kepuasan dan kebahagiaan layaknya sepasang kekasih.
Rizka berusaha menelpon ibunya Adam, namun tak ada jawaban. Ia heran, biasanya jika ia menelpon akan langsung diangkat. Tapi sudah berkali-kali ia menelpon tak ada jawaban.
__ADS_1
Rizka sudah selesai dengan riasannya dan mengenakan gaun mini berwarna coklat gelap dengan high heels berwarna merah hati. Ia berangkat menuju pesta pernikahan yang tak jauh dari rumahnya.
Di sana mencoba menemukan ibunya Adam di antara keramaian. Setelah beberapa saat ia berhasil menemukan ibunya Adam dan mendekat, di sana juga ada Anita.
"Mah, kok aku ditinggalin sih.. kita kan udah janji berangkat bareng?" ucap Rizka bergelayut manja pada ibunya Adam.
"Panggil saya Tante, memangnya sejak kapan saya ngelahirin kamu?! saya dijemput Anita, kamu lihat sendiri kami datang bareng," ucap ibunya tanpa melihat kearah Rizka. Untuk menatapnya saja membuat perutnya mual ingin muntah. Ibu Adam mengambil tempat duduk yang diiringi Anita. Anita hanya tersenyum tipis kepada Rizka.
Rizka mengikuti mereka berdua untuk duduk. Namun ibunya Adam mengambil arah berlawanan agar tak bisa memandang perempuan di sampingnya yang sudah membuatnya jijik pagi ini.
Anita tak kalah heran melihat tingkah ibunya pagi ini. Bukankah ia biasanya lebih akrab dengan Rizka ketimbang dengan anak-anaknya sendiri? Anita terus menebak apa yang tengah terjadi.
Ibunya juga sudah mengisyaratkan sebelumnya ia harus mengatakan bahwa Anita yang telah menjemputnya pagi ini. Meskipun sebenarnya adalah sebaliknya. Pertanyaan dan sikap ibunya yang tak biasa membuat Anita curiga dan ingin tahu.
Hingga mereka pulang, ibunya Adam selalu menghindari Rizka. Hanya Anita yang sesekali terlihat mengobrol dengan Rizka berusaha bersikap santai seolah tak terjadi apapun.
Setelah dari undangan pernikahan, mereka langsung menuju kantor. Di sana ibunya berusaha mencari Adam namun tak menemukannya. Ia mencoba menelponnya,
"Adam, kamu dimana?" tanya ibunya dengan ketus. Jujur saja ibunya masih teringat jelas kejadian tadi pagi. Untung saja ia tak menemukan anak laki-lakinya itu sekarang. Andaikan bertemu, mungkin 1-2 tamparan sudah mendarat di wajahnya.
"Aku di jalan mah."
"Mau kemana kamu?"
"Aku akan menjemput Leony mah, sekarang sudah hampir sampai."
"Bagus, jemput secepatnya istri kamu! dan cepat pulang!"
Tut tut, ibunya mematikan telponnya. Adam berpikir apalagi yang akan ibunya lakukan pada Leony kali ini. Ibunya pasti akan memarahi, memaki Leony lagi. Untung saja ia sudah membelikan sebuah rumah untuk istrinya.
__ADS_1