Takdir Gadis Desa

Takdir Gadis Desa
Pertemuan dengan Rizka


__ADS_3

Malam itu si bayi tidur nyenyak dan nyaman dalam balutan bedong. Leony meletakkannya di kasur dan berbaring di sampingnya. Ia terus memandangi bayi nya yang malang.


Adam mendekati istrinya, ia duduk di samping springbed.


"Hani, kamu udah makan? kayaknya mas belum liat kamu makan selain tadi pagi kita makan bareng mamah."


Tak ada jawaban, hanya suara detak jam di dinding.


"Mas mau keluar sebentar, mas harus bicara sama Rizka. Pulangnya, mas akan belikan kamu sate ya. Kamu suka sate kan?"


Masih tak ada jawaban. Adam berdiri dengan gontai, ia mengambil jaketnya dan kunci mobil. Ia mengirim pesan pada Rizka untuk bertemu di taman.


Ia pergi ke taman di tempat perjanjian. Tak butuh waktu lama, Rizka datang segera.


"Ada apa mas?" tanya nya masih berdiri di hadapan Adam.


"Duduk dulu Rizka."


Rizka menyilang kan kedua tangannya di depan dada lalu duduk di samping Adam.


"Rizka, bisa kah kamu nggak membuat semua nya menjadi rumit?"


"Apanya mas?"


"Sikap orang tua kamu sudah keterlaluan, membuat semua orang menjadi canggung."


"Kenapa kamu nggak ngomong aja langsung sama mamah sama papah aku? kenapa kamu ngomong nya depan aku? kamu takut?"


Adam terdiam mendengar perkataan Rizka yang benar adanya.


"Aku nggak bsa menyakiti hati istriku Riz. Bisakah kamu beri aku pilihan yg nggak terlalu sulit untuk nya? selain, pernikahan kita?"


"What??!" Rizka memandang Adam penuh heran dan sangat kecewa.

__ADS_1


"Kamu lupa mas? waktu kamu lagi seneng-seneng sama aku, kamu happy banget, kamu ingat?? sekarang giliran aku minta pertanggung jawaban atas perbuatan kamu, kamu lari gitu aja?? kamu sunat 2 kali?? gampang, body guard papah aku pinter kok kalau cuman nyunat kayagitu."


"Jangan dong, ngawur kamu!"


"Berani berbuat, berani lah bertanggung jawab mas!"


"Riz.. aku mohon sama kamu, dengan aku berpoligami nggak akan membuat aku, kamu ataupun istri aku menjadi bahagia. Kita bertiga akan sama-sama menderita."


"Nah, tuh kamu sadar mas! terus kenapa kamu mau aja selingkuhan istri kamu? itu berarti kamu juga pengen lihat dia menderita."


"Aku khilaf Riz, aku pikir kamu nggak akan hamil seperti sekarang."


"Kamu pikir aku mandul apa mas?!"


Adam terdiam mendengar apa yang dikatakan Rizka.


"Denger ya mas, kamu harus tetap menikahi aku. Meskipun seperti yang kamu bilang kita bertiga nggak akan bahagia, aku nggak akan menyerah. Tinggal kita lihat mas, siapa yang lebih kuat, aku atau dia!"


Rizka menyilang kan kedua tangannya. "Masih ada lagi yang mau kamu katakan mas?"


Rizka terdiam mendengar perkataan Adam. Dilihatnya lagi laki-laki yang ia sukai di hadapannya. Laki-laki itu masih babak belur dengan luka memar di wajahnya. Tapi ia rasakan lagi sakit di hatinya, rasa sakit dan malu yang ia rasakan belum sebanding.


"Mudah sekali mas buatmu, habis manis sepah di buang. Sayang sekali mas, aku nggak berniat sedikitpun melepaskan mu. Aku nggak meminta kamu menceraikan istri kamu, aku cuma ingin kamu bertanggung jawab atas anak ini."


Setelah mengatakan itu, Rizka berdiri baranjak dari tempat duduk nya. Ia tak menoleh sedikitpun kearah Adam. Adam masih terdiam membisu. Ia juga tak tahu apa yang akan ia berbuat selanjutnya.


Ia masih terduduk meskipun Rizka sudah berlalu beberapa puluh menit yang lalu. Adam kemudian berdiri dan menuju mobilnya. Ia mencari penjual sate di taman, tempat biasa istrinya membeli sate. Namun sayang, penjual sate itu tak berjualan malam ini. Terpaksa ia mencari pedagang lainnya. Ia berharap istrinya akan menyukai rasanya.


Sesampainya di rumah, Adam meletakkan sate di meja depan televisi. Ia membangunkan istrinya untuk makan sate.


"Hani, sate nya di ada di depan televisi. Kamu harus makan, kata mamah nanti air susu kamu bisa kering kalau kamu nggak makan. Sana cepat, makan dulu."


Adam berbaring di samping bayi nya dan menarik selimut. Agak lama suasana hening, akhirnya Leony bangkit dan keluar dari kamar untuk makan. Adam hanya berpura-pura tidur saja, ia berharap istrinya akan menghabiskan makanan yang ia beli.

__ADS_1


Ia ingat, dulu ia sering memarahi istrinya karena kerjanya selalu makan. Ia juga sering memarahinya ketika istrinya mengidam karena sering tidur seharian. Kini, istri yang dulu hangat menjadi dingin sedingin es. Perasaannya begitu hancur.


Keesokan pagi sebelum berangkat kerja, ia membantu istrinya untuk momong bayi nya hingga pekerjaan rumah istrinya selesai. Sampai sang istri selesai mandi dan berdandan, baru lah ia pergi bekerja.


"Hani, aku sudah meminta mamah untuk mencarikan seorang satpam untuk di rumah kita. Sebentar lagi satpam nya akan datang bersama mamah. Kamu baik-baik ya di rumah."


Leony hanya mengangguk mendengarkan suaminya. Ia sedikit lega dan merasa aman mendengarnya.


"Oh, ya Hani. Aku juga minta memanggil kembali pembantu rumah tangga yang dulu pernah bekerja di rumah mamah. Dia akan tinggal di sini, mungkin sore dia akan datang dari kampung nya. Kamu sabar ya, mulai sekarang kamu nggak perlu capek-capek mengerjakan pekerjaan rumah sendiri lagi. Kamu bisa fokus sama baby boy." Ucap Adam tersenyum.


"Makasih mas."


Adam bahagia sekali mendapat kalimat terima kasih dari istrinya. Kali ini, ia merasa usahanya di hargai sang istri. Tapi lebih dari itu, ia menginginkan Leony mema'afkannya dan memulai hubungan yang harmonis lagi.


Adam berangkat ke kantor dengan perasaan tenang. Ia ingin pulang cepat hari ini, jadi ia berniat buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Ia sudah tak ingin bekerja hingga larut malam.


Sementara itu, ibu nya Adam sudah tiba di rumah bersama dengan seorang security. Si ibu juga membawa seorang tukang yang mengerjakan pos security tepat di depan pagar rumah. Tidak tanggung-tanggung, demi cepat selesai, ia membayar 3 tukang kuli bangunan.


"Leony, mamah bawa 3 orang tukang kuli bangunan. Mereka akan mengerjakan pos kecil di depan pagar."


"Iya mah, makasih banyak mah."


"Ya, itu bukan apa-apa. Kamu punya es batu di kulkas?"


"Ada mah, buat apa mah?"


"Mamah nggak terlalu pinter menyuguhkan makanan atau masakan ke orang lain. Kamu bikin minum dulu sana buat para tukang sama si satpam. Siapa tahu mereka haus."


Leony menyerahkan bayi nya pada ibu mertuanya, sementara ia membuatkan minuman.


"Untuk makanannya, kamu saja yang pikir ya. Kamu bisa pesen duku di luar. Kalau besok kan kamu bisa suruh bulek Sarti yang masak. Adam udah kasih tahu kamu kan, tentang bulek Sarti?"


"Iya, sudah mah."

__ADS_1


"Bagus lah kalau begitu."


Ibu nya masuk ke dalam rumah dan bermain sebentar bersama dengan cucu nya. Lalu setelah itu ia berangkat bekerja ke kantor.


__ADS_2