
Krek...
Billa membuka pintu rumahnya dan melihat seorang yang berdiri dihadapannya.
'Cowo itu?' Fikir Billa sambil memperhatikan orang dihadapannya itu.
Dia benar-benar tak menduga jika Bismalah orang yang datang ke rumahnya.
Tapi untuk apa? Fikir Billa.
Bisma sangat terkejut dengan orang yang baru saja membuka pintu, dia melihat Billa yang juga tengah memperhatikannya dengan tatapan aneh.
Tak ada kata yang terlontar dari keduanya, kedua pasang mata itu bertemu dalam satu titik.
Beberapa saat suasana terasa hening, Bisma merasa hanyut dalam hangatnya tatapan mata lentik perempuan itu.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Billa.
Pertanyaan Billa membuat Bisma tersadar dari lamunan anehnya itu.
"Emm, maaf. Oh ya, ternyata kamu tinggal disini?" Tanya Bisma kemudian.
"Iya, terus?" Billa balik bertanya.
"Jadi kamu adiknya Rafael?" Tanya Bisma lagi.
Billa merasa sedikit kesal kepada Bisma, dia berbicara sangat berbelit-belit tanpa menjawab pertanyaan darinya.
Billa tak menjawab pertanyaan Bisma.
"Aku nggak nyangka lho kalau kita ketemu disini." Ucap Bisma sambil sambil tersenyum.
"Ya terus, kamu ada perlu apa sama Coco?" Tanya Billa kemudian.
"Aku mau antar paket ini, dia udah nunggu lama kasian kan?" Ucap Bisma sambil menunjuk kotak cukup besar yang ia letakkan dilantai.
Darr!
Tiba-tiba saja suara petir menggelegar dengan kerasnya.
Billa dengan reflek memeluk Bisma yang ada dihadapannya.
Dia sangat takut dengan suara petir, dia berfikir jika petir sangatlah mengerikkan.
dia pernah mengalami trauma dimasa kecil, dimana dirinya tidak diberi masuk oleh ibu tiri.
Malam itu hujan turun dengan derasnya, Billa tak sengaja memecahkan piring bekas makan hingga dia dihukum oleh ibu tirinya.
Dia diseret dengan paksa keluar rumah, suasana malam itu sangat mencekam.
Hujan deras disertai angin dan petir yang menggelegar, Billa merasa ketakutan berada diteras sendirian.
Dia terus menangis sambil terus menggedor pintu, berharap ibu tirinya itu merasa kasihan dan mau membukanya.
Tapi Tante Vera tak memiliki hati sebesar itu, dia sama sekali tak memperulikan Billa.
Mati sekalipun sepertinya ibu tirinya itu tetap tidak perduli.
Semenjak saat itu Billa menjadi sangat takut terhadap petir.
Bisma menelan ludahnya kasar, dia sangat merasa kaget, bukan karena suara petir itu, tapi oleh pelukan Billa yang terasa hangat ditubuhnya.
Namun tak dapat dipungkiri jika jauh didalam lubuk hatinya dia merasa senang.
Suara petir semakin terdengar menakutkan, mereka seperti datang berbondong-bondong.
Billa semakin mempererat pelukannya. Bisma membalasnya dengan senang hati.
Hujanpun turun seiring dengan suara petir yang terus menerus menggelegar.
Bisma sangat menikmati saat-saat itu, rasa itu semakin kuat dia rasakan. Dan dia benar-benar yakin jika perasaannya itu adalah cinta.
"Kamu kenapa?" Tanya Bisma dengan suara lembut.
Seketika Billa tersadar, dia segera melepaskan diri dari dekapan Bisma. Dia terlihat sedikit salah tingkah.
"Aku takut." Ucap Billa dengan kaki yang masih bergetar.
"Jangan takut, petir itu jauh. Kita nggak akan kena kok." Balas Bisma menenangkan Billa.
"Ya tapi tetep aja." Ucap Billa kemudian. Bisma kembali tersenyum, sepertinya senyum Bisma tak pernah habis saat berada didekat perempuan itu.
"Oh ya, Rafaelnya ada?" Tanya Bisma kemudian.
"Ada, sebentar aku panggilin." Ucap Billa, diapun masuk kedalam rumahnya itu.
Bisma melihat hujan yang turun dengan begitu derasnya. Hujan bagaikan cinta yang dia rasakan, turun dari yang kuasa membasahi hati yang lara, dan mengalir dengan apa adanya.
Dia berfikir cintanya seperti hujan, ketika musim kemarau dia sangat mengidamkan cinta(hujan), namun cintanya tak kunjung bertuan.
Dan ketika musim hujan tiba, cinta itu datang, bahkan sampai dia sendiri tak dapat membendung perasaan cintanya(air hujan).
"Hey, udah nyampe? Sorry ya tadi gue habis dari kamar mandi." Ucap Rafael yang tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Ya, nggak apa-apa. Ini paket loe, dan tandatangan disini." Ucap Bisma sambil memberikan selembar kertas.
Rafaelpun menandatangani surat bukti tanda terima itu.
"Hujannya deres banget ya!" Ucap Bisma kemudian.
"Iya nih, mending loe masuk aja dulu sambil nunggu hujannya berhenti." Ajak Rafael.
"Boleh tuh, apa lagi sambil ngopi." Jawab Bisma sambil cengengesan.
"Ahh, loe bisa aja Bis. Ayo dah." Ucap Rafael kemudian. Merekapun masuk kedalam.
***
Bisma dan Rafael duduk diruang tamu.
"Jadi Billa itu adik loe?" Tanya Bisma membuka pembicaraan.
"Iya, adik gue. Loe kok tau Billa sih?" Rafael balik bertanya.
"Dia adik kelas gue disekolah. Dia baik banget orangnya." Ucap Bisma sambil tersenyum.
"Dia emang baik, nggak macem-macem juga anaknya. Loe suka sama dia?" Tanya Rafael.
Bisma kembali tersenyum mendengar pertanyaan Rafael.
"Kebeneran dia masih jomblo, deketin gih!" Seru Rafael kemudian.
"Tapi dianya cuek." Jawab Bisma.
"Ya emang diamah orangnya kaya gitu. Tapi kalau udah kenal baik kok." Ucap Rafael.
Bisma hanya manggut-manggut saja, dia merasa senang karena kaka perempuan itu telah memberi lampu hijau untuknya.
"Udahlah, ngapain juga bahas itu. Oh ya Raf, si Bos bulan depan mau ngetrip lagi tuh. Loe mau gabung nggak katanya?" Tanya Bisma mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya? Kemana lagi dia? Ngetrip mulu perasaan. Kayanya nggak habis-habis duitnya itu orang." Ucap Rafael.
"Gue juga belum tau pasti sih kemana cuma dia suruh gue buat kabarin ke loe." Balas Bisma.
Billa Menghampi mereka yang tengah berbincang hangat sambil membawa nampan kopi.
"Gue mah kalo masih dipulau jawa ok ok aja sih. Tapi kalo harus naik pesawat mah ogah ahh gue takut, gue pobia ketinggian. Secara diakan mainnya keluar negri, ke Belanda." Balas Rafael.
"Belanda sih kampung halamannya, mungkin sekalian jengukin neneknya sambil minta ongkos buat pulang." Ujar Bisma sambil cengengesan. Rafael tertawa mendengar perkataan Bisma.
Bisma memperhatikan Billa yang sedang menaruh gelas diatas meja.
Rafael yang melihat itu sedikit mengerti dengan apa yang terjadi.
"Makasih ya de! Ehh, kamu maukan temenin Bisma dulu disini?" Tanya Rafael pada Billa.
"Aku belum selesai didapur Co!" Tolak Billa.
"Udahlah, bentar doang kok. Coco ada panggilan VideoCall nih." Ucap Rafael.
"Bis, sorry gue tinggal bentar ya!" Ucap Rafael.
"Siap." Balas Bisma sambil mengacungkan jempolnya kearah Rafael.
Rafaelpun beranjak dan langsung pergi menjauh dari mereka.
Billa melirik Billa yang masih berdiri mematung, berharap perempuan itu mau menemaninya berbincang.
Billa tak ambil pusing dengan perkataan Rafael, dia tak ingin mencari masalah lagi.
Dia harus segera membereskan pekerjaannya, sebelum ibu tirinya kembali memarahinya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Billa pergi meninggalkan Bisma.
Namun tiba-tiba Bisma meraih tangan Billa dengan sedikit kasar.
Spontan Billa langsung tersengkur dan terduduk disamping Bisma.
Billa sangat merasa kaget dibuatnya.
"Kamu apaan sih? Lepasin tangan aku!" Ucap Billa yang merasa risih dengan perlakuan laki-laki itu.
"Disini aja, temenin aku." Ucap Bisma dengan wajah melasnya.
"Aku masih banyak kerjaan Bisma." Jawab Billa.
"Nggak apa-apa, sebentar aja. Besok aku jemput kamu didepan ya?" Ucap Bisma kemudian.
"Aku berangkat bareng Dicky besok." Jawab Billa.
"Kenapa? Dicky punya motor sedangkan aku nggak?" Tanya Bisma.
"Ya nggak gitu juga." Jawab Billa yang merasa sedikit tak enak.
"Aku besok bawa motor kok, punya bos." Ucap Bisma kemudian.
Billa tak mengiyakan juga tak menolak permintaan Bisma, dia hanya terdiam, dia sangat malas melayani obrolan Bisma ini.
__ADS_1
***
Didapur Tante Vera melihat pekerjaan yang masih berserakan, piring kotor masih menumpuk dan lantai masih terasa licin.
"Kemana anak itu? Kerjaan masih banyak gini? Awas aja kamu!" Gumam tante Vera, diapun beranjak pergi dan mencari Billa.
Dia melihat Billa yang tengah duduk diruang tamu bersama seorang laki-laki.
Seketika matanya membulat, amarahnya memuncak.
"Sama siapa dia?" Gumamnya pelan.
Diapun segera menghapiri Billa dengan langkah tergesa-gesa.
"Heh kamu! Ngapain kamu bawa laki-laki kerumah ini? Udah mulai berani kamu ya? Murahan banget sih jadi perempuan sama kaya ibu kamu si Dinar itu. Ucap Tante Vera dengan menggebu-gebu.
Billa yang mendengar itu reflek menjauh dari Bisma, perasaannya menjadi sangat tidak enak, dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Bisma merasa sangat kaget, kenapa wanita paruh baya itu tiba-tiba datang dan memarahinya.
Keduanya terdiam, mereka tak tau harus berbicara apa.
"Enak aja kalian mau berbuat m***m disini, cari tempat lain sana!" Ucap Bisma Tante Vera dengan kasar.
Seketika Billa merasa sangat malu terhadap Bisma atas perkataan ibu tirinya itu.
Dimana dia harus menyembunyikan wajahnya sekarang? Dia merasa harga dirinya sudah habis diinjak-injak oleh ibu tirinya itu.
Bisma mengerutkan keningnya, dia sama sekali tak mengerti dengan perkataan Tante Vera.
"Maksud tante apa, ya?" Tanya Bisma kemudian.
"Ehh, tunggu sepertinya saya pernah lihat kamu." Ucap tante Vera mengalihkan pembicaraan.
Bisma semakin bingung, dia merasa belum pernah bertemu dengan Tante Vera.
"Kamu yang ada difoto itu kan? Oh bagus kamu udah berani menampakkan diri rupanya. Sekalian aja kamu nikahin dia, udah cape saya liat dia ada aja ulahnya." Ucap Tante Vera dengan menggebu-gebu.
"Maksudnya gimana sih tante?" Tanya Bisma seperti orang bodoh karena sama sekali tak mengerti dengan yang Tante Vera katakan.
"Mama ngomong apa sih?" Tanya Billa setengah berbisik pada Tante Vera.
"Bill, ini ada apa sebenernya?" Tanya Bisma kemudian.
"Udah kamu pulang aja sana Bisma!" Seru Billa.
"Udah cepet sana kamu beresin kerjaan didapur! Itu juga baju-baju saya yang ada di box semuanya harus kamu cuci pakai tangan jangan pakai mesin, nanti tagihan listrik bisa bengkak!" Ucap Tante Vera kasar.
"Maaf tante, kenapa harus Billa yang kerjain itu semua? Kenapa nggak tante sendiri aja?" Tanya Bisma membela Billa.
"Ehh, siapa kamu berani atur-atur saya? Dirumah ini semua pekerjaan adalah tugas dia. Ya anggap aja dia sebagai pembantu, udah makan sama tidur gratis disini, apa harus dia juga enak-enakan kaya putri?" Ucap Tante Vera kasar.
Bisma benar-benar tercengang mendengar itu.
Dia baru mengingat perkataan Felly waktu itu, kalau ibu tiri Billa sangatlah galak.
Ternyata memang benar apa yang dikatakan Felly, Bisma sudah membuktikannya sendiri.
"Udah, cukup ma! Billa akan kerjain semua itu, tapi mama nggak perlu teriak-teriak kaya gini, malu." Bisik Billa.
Dia tak ingin Bisma mendengar kata-kata pedas yang ibu tirinya itu katakan padanya, dia benar-benar malu.
"Kenapa harus malu? Kamu sama ibu kamu itu emang nggak tau malu. Buktinya sampai sekarang kamu masih aja tetep tinggal disini. Kalau kamu malu harusnya kamu pergi cari tuh si Dinar, tinggal aja sama dia!" Ucap Tante Vera yang semakin menggebu-gebu.
Mata Billa terlihat memerah mendengar ucapan wanita paruh baya itu.
Sepertinya tak akan pernah habis kata-katanya untuk mencaci Billa.
Dia tak tau harus menyembunyikan rasa malunya itu dimana, harga dirinya telah mati didepan Bisma.
Bisma yang melihat Billa bersedih merasa sangat tak kuasa, dia tak menyangka jika ibu tirinya sekasar itu.
Rasanya dia ingin memeluk perempuan itu dan menenangkannya. Namun apa daya, itu mustahil dia lakukan sekarang.
"Maaf Tante, bukannya saya mau ngajarin atau apa. Sebaiknya tante nggak perlu bicara seperti itu, kasian Billa, dia pasti sedih dengan perkataan tante." Ucap Bisma kemudian.
"Terserah sayalah, mulut-mulut saya, lagian kamu siapa berani ikut campur urusan saya?" Jawab Tante Vera sinis.
"Udahlah Bisma, percuma kamu ngomong juga. Nggak ada gunanya, mama aku nggak akan ngerti. Lebih baik kamu pulang aja sekarang!" Seru Billa.
"Tapi, Bill?" Ucap Bisma menggantung.
Sedetik kemudian Billa membalikkan badannya, dia menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya asal, diapun segera melangkah pergi sebelum ibu tirinya itu kembali menghinanya didepan Bisma.
Bisma menatap kepergian Billa sendu, seolah dia merasakan kesedihan yang dirasakan Billa.
"Ayo pergi! Tunggu apa lagi?" Seru tante Vera mengusir Bisma.
"Kalau gitu, saya permisi tante! Salam buat Rafael." Pamit Bisma, diapun pergi meninggalkan rumah itu dengan berat hati.
Dia berat meninggalkan Billa yang sedang bersedih sendirian.
***
__ADS_1