
"kalian makanlah dulu, biar Ian kakek yang gendong." ucap om Ardi.
"memangnya nggak merepotkan, pa?" tanya Billa.
"tentu tidak Bill, papa justru senang." jawab om Ardi.
Bismapun memberikan Ian kepada om Ardi, sedangkan mama Vera menatap mereka dengan datar, entahlah apa yang sedang dia pikirkan.
Bisma dan Billapun berjalan turun dari pelaminan. Mereka mencicipi berbagai makanan yang disediakan oleh pihak wedding organizer.
"ini seger banget lho Bisma." ucap Billa sambil terus menyantap salad buah yang tadi dibawanya.
"oh ya? Aku mau dong." ucap Bisma.
"coba buka mulutnya!" seru Billa, Bismapun membuka mulutnya dan bersiap menerima usapan dari Billa.
Tapi ketika sedikit lagi sendok yang dipegang Billa akan menyentuh mulut Bisma, Billa dengan cepat menarik sendok itu kearah mulutnya, lalu dia memakan salad buah itu sendiri.
"kamu ngerjain aku Bill." ucap Bisma sambil tersenyum, dia geleng-geleng kepala sambil memperhatikan Billa yang dengan lahapnya memakan salad buah.
Tiba-tiba saja dia jadi teringat tentang perjuangannya untuk memiliki Billa, dulu perempuan itu sangat menderita karena keegoisannya, cinta yang Bisma miliki terlalu erat mengikat Billa, sehingga Billa merasa kesakitan dibuatnya.
"kenapa?" tanya Billa saat menyadari Bisma memperhatikannya sambil senyum-senyum.
"nggak apa-apa, apa kamu nggak mau mengadakan resepsi pernikahan dan duduk di pelaminan seperti mereka? Dulu kita menikah hanya didepan saksi dan keluarga aja." ucap Bisma.
"biarlah Bisma, pernikahan kita juga udah lama. Aku nggak kepikiran untuk ngadain resepsi, pasti ribet." jawab Billa.
Bisma hanya manggut-manggut.
"kak Billa!" terdengar suara yang memanggil Billa, Billa menoleh kebelakang. Terlihat Liona yang sedang berlari kecil ke arahnya.
"ehh, Li. Kamu kenapa?" tanya Billa.
"aku kangen sama kak Billa." ucap Liona sambil bergelayut manja di lengan Billa.
"iya, kak Billa juga kangen sama kamu." ucap Billa.
"sama kak Bisma nggak kangen nih?" tanya Bisma.
Billa dan Liona menatap kearah Bisma.
"kangen, tapi nggak sekangen aku ke kak Billa." jawab Liona. Bisma dan Billa terkekeh mendengar perkataan Liona.
"kamu memang anak jujur Li." ucap Bisma sambil terkekeh.
"ehh, Ian kemana kak?" tanya Liona.
"itu, dia lagi digendong sama papa." jawab Billa sambil menunjuk kearah pelaminan.
Dari posisi mereka, mereka bisa melihat kalau Ian sedang merengek dan tidak mau diam digendong om Ardi.
"Ian nangis kak, boleh Liona bawa dan ajak main Iannya?" tanya Liona.
"bawa aja." jawab Billa.
Liona dengan semangatnya berjalan menuju keatas pelaminan dan mengambil alih Ian dari gendongan om Ardi.
Liona sudah pandai mengajari Ian berjalan, dia menurunkan Ian dan menuntunnya untuk bisa berjalan sendiri.
Ternyata sedari tadi Ian rewel karena ingin turun dari gendongan kakeknya, dia ingin bebas berjalan sesuka hatinya.
Billa yang melihat Ian dituntun Liona langsung mengembangkan senyumnya, dia merasa bahagia, dia sudah memiliki semua didalam hidupnya. Suami yang sangat mencintainya, keluarga yang menyayanginya, dan anak yang sangat dia banggakan.
Kemudian pandangannya beralih kepada Veni yang sedang tersenyum menyambut tamu-tamunya.
Billa ikut tersenyum, dia bersyukur kalau sekarang kakak tirinya itu juga merasakan kebahagiaan yang dirasakan Billa. Akhirnya Veni bisa menuai hasil dari apa yang dia tanam dulu.
Perjuangan Veni dan Rafael untuk bersanding di pelaminan itu tidaklah mudah. Billa masih ingat betul bagaimana dulu Veni curhat sambil menangis-nangis kepadanya.
__ADS_1
Mama Vera menolak habis-habisan untuk merestui hubungan Rafael dan Veni, bahkan mama Vera sampai menghina Veni seperti dia menghina Billa. Mama Vera tidak merestui mereka karena Veni adalah anak tiri dari mama Dinar, dia masih menyimpan dendam yang sangat besar kepada mama Dinar.
Rafael dan Veni tidak menyerah untuk memperjuangkan cinta mereka, hingga suatu hari, tepatnya tiga bulan yang lalu, seluruh keluarga dikejutkan dengan pernyataan mereka yang mengaku sudah menikah secara sah dimata hukum dan agama. Mereka memilih
menikah diam-diam tanpa sepengetahuan semua keluarga.
Rafael lebih memutuskan keluar dari rumah dan tinggal dirumah kontrakan, mama Vera tidak rela ditinggal pergi oleh putra satu-satunya itu, dia sangat syok berat dengan kejadian itu, sampai akhirnya dia jatuh sakit selama satu bulan lamanya.
Entah apa yang terjadi pada mama Vera selama dia sakit, setelah keadaannya sedikit membaik, dia menangis-nangis dihadapan Rafael agar dia mau kembali kerumah. Bahkan mama Vera mau memberi restu atas pernikahan mereka asalkan Rafael mau pulang bersamanya.
Veni dan Rafael merasa sangat bahagia, dengan senang hati mereka mengabulkan keinginan.Mama Vera.
Billa berharap kalau mama Vera akan selamanya seperti ini dan tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi.
"ma... ma... ma..." terdengar suara cadel Ian, itu membuyarkan lamunan Billa, Billa baru tersadar kalau Ian sedang berjalan ke arahnya sambil dituntun Liona.
"eeh, anak mama sayang." ucap Billa sambil melentangkan kedua tangannya, diapun menyambut Ian lalu menggendongnya.
"kak Bisma kemana kak?" tanya Liona.
Billa menoleh ke samping, dan benar saja, Bisma memang tidak ada disana.
'Kemana perginya dia? Perasaan tadi masih ada disini.' tanya Billa didalam hati.
"tes... Tes..." terdengar suara dari mikrofon yang menggelegar disetiap sudut aula, semua tamu yang datang langsung mengarahkan pandangannya kearah panggung, termasuk Billa dan Liona.
Billa menganga ketika melihat suaminyalah yang sekarang sedang berdiri diatas panggung sana. Billa sedikit tidak percaya Bisma bisa ada disana sekarang.
"...saya hanya ingin mengucapkan selamat untuk sepasang pengantin yang sedang berbahagia saat ini, semoga kebahagiaan ini akan senantiasa selalu kalian rasakan sampai selamanya." ucap Bisma kemudian.
"amiin." ucap Rafael dan Veni yang ada diatas pelaminan, kemudian mereka saling melempar senyum.
"...dan saya mohon izin untuk menyanyikan sebuah lagu, untuk istri terhebat saya Vabilla Ahsyaniza, yang duduk disebelah sana." ucap Bisma sambil menunjuk kearah Billa yang sedang menggendong Ian.
Seketika semua mata mengikuti arah telunjuk Bisma, mereka penasaran dengan istri terhebat yang dimaksud oleh Bisma.
Wajah Billa langsung memerah ketika menyadari semua orang sekarang sedang menatap kearahnya.
kegugupannya.
Lantunan musik yang melowpun mulai dimainkan...
Liona buru-buru memasang rekaman video dari ponselnya.
You are my sunrise You are the daylight Hiding the shadows of my mind
You are my sundown You're giving the moon life Not even stars can shine so bright
So why does it rain? It feels just the same As if I'd be on my own without you
So I'm thinkin About the memories Through this song It helps me forget 'Bout everything that went wrong
And although I know That we're not through for sure Deep down in my heart the pain I can't ignore, oh-oh-oh And so I sing my song, mmh
You are the future And even the flowers Are turning your way To reach higher
But when I stand In this pooring rain It feels just the same As if I'd be on my own without you
So I'm thinkin About the memories Through this song It helps me forget 'Bout everything that went wrong
And although I know That we're not through for sure Deep down in my heart the pain I can't ignore, oh-oh-oh And so I sing my song
Need, oh how I need How I feel that I need to be Need to be strong how I Need oh how I need How I feel that I need to be Need to be stronger
How I feel that I need to be Need to be stronger How I feel that I need to be Need to be stronger
Semua orang dibuat heboh dengan penampilan Bisma, terdengar riuh tepuk tangan dari tamu yang datang.
"terimakasih semuanya, kalau boleh saya mengucapkan tiga kata untuk istri terhebat saya. I LOVE YOU." ucap Bisma sambil tersenyum, diapun turun dari atas panggung dan berjalan menghampiri istri terhebatnya itu.
__ADS_1
"Bisma romantis banget yaa." ucap Veni sambil senyum-senyum sendiri.
Rafael yang mendengarnya merasa cemburu karena Veni memuji-muji orang lain di hadapannya.
"ehem." dehem Rafael dengan suara yang sengaja dikeraskan. Veni baru sadar kalau suaminya itu sedang jealous karena perkataannya.
"ehh, kamu juga nggak kalah romantis kok." ucap Veni sambil merangkul Rafael.
"nggak, aku akui kalau aku nggak bisa seromantis si Bisma." ucap Rafael pasrah. Veni terkekeh geli melihat Rafael merajuk.
sementara itu, disisi lain.
"aaa, kak Bisma sweet banget sumpah, aku jadi tambah nge fans sama dia." ucap Liona, dia lompat-lompat kegirangan sambil melihat hasil rekamannya.
"nggak usah lebay Li, memangnya dia artis apa?" tanya Billa sambil terkekeh melihat ekspresi berlebihan dari adiknya itu.
"tapi itu kenyataannya kak, kakak beruntung sekali bisa dicintai sama kak Bisma. Aku juga maunya nanti punya suami yang sama kaya kak Bisma." ucap Liona dengan menggebu-gebu.
"ya udah, foto copy dulu kak Bismanya, terus kamu nikah sama foto copyannya. Jadi sama persis kan, ha ha." ucap Billa yang diiringi tawanya.
Ian memasukkan jarinya kedalam mulut Billa yang sedang terbuka lebar. Dan itu berhasil membuat Billa berhenti tertawa, sekarang giliran Liona yang mentertawakan Billa.
Saat itulah Bisma sampai dihadapan Billa dan Liona.
"kalian lagi bicarain aku ya? Seru banget sih ngeghibahnya." ucap Bisma dengan percaya dirinya.
"nggak kok, kita lagi bicarain Veni sama Coco." jawab Billa mengelak.
"ya udah kalau nggak mau jujur, gimana tadi, kamu suka nggak?" tanya Bisma kemudian.
Sebelum Billa sempat menjawab, Liona sudah terlebih dahulu buka suara.
"aku suka banget kak, kak Bisma keren banget sumpah. Aku mau share videonya, siapa tau aja nanti jadi viral." ucap Liona bersemangat.
Bisma hanya tersenyum, dia tau kalau dirinya memang keren kalau sedang berada diatas panggung. Kepedean sekali ya si Bisma ini.
Tiba-tiba mama Dinar menghampiri mereka yang sedang asyik berbincang.
"ayo kita foto bersama!" seru mama Dinar.
Merekapun sekarang sudah berkumpul diatas pelaminan untuk diambil gambarnya, dua keluarga yang tadinya saling bersitegang, kini terlihat bahagia.
Pertama, semua anggota keluarga berpose secara formal, yang kedua dan seterusnya, mereka berpose sesuka hati mereka. Bisma terlihat menggendong Ian sambil mengacungkan jempolnya, Billa merangkul Liona sambil menunjukkan deretan gigi mereka, Veni dan Rafael mengangkat dua jari mereka berbentuk huruf v, sedangkan mama Dinar dan om Suryo terlihat kaku meskipun fhotoghrafer sudah menyuruh mereka bergaya bebas.
Sedangkan om Ardi tersenyum lebar sambil merangkul mama Vera, sedangkan yang dirangkul tidak menunjukkan ekspresi apapun, wajahnya terlihat datar, entahlah apa yang terjadi dengan mama Vera, hanya dirinya dan Tuhan yang tau.
Tapi dengan begitu, semoga saja dia memang sudah berubah, melupakan masa lalu dan memaafkan orang-orang yang telah menyakiti hatinya.
Takdir memang aneh, terkadang kita tidak bisa menduga takdir apa yang akan Tuhan berikan kepada kita. Tapi terkadang, kitapun bisa mengubah takdir itu didalam hidup kita. Asal ada kemauan pasti ada jalan.
Entahlah!
Takdir membawa cinta kepada setiap hati yang bernyawa.
Takdir membawa bahagia pada siapapun yang percaya akan adanya cinta.
Jalani takdir kita sebaik mungkin, maka itu bisa jadi menjadi kebahagiaan di hidup kita, jangan mengelak dari takdir, bisa jadi itu akan menjauhkan kita dari kebahagiaan.
The end...
Alhamdulillah akhirnya saya bisa menamatkan novel pertama saya ini, meskipun sangat sedikit sekali peminatnya. Tapi saya tetap senang bisa menamatkan novel ini, setidaknya disini masih ada orang yang ***mau membaca karya saya ini...
Dan sekarang saya akan mencoba menulis novel kedua saya yang berjudul HATI YANG TERBENGKALAI, semoga saja masih ada orang yang berkenan untuk membacanya...
Terimakasih untuk yang sudah memberi like, komentar disetiap episodenya, saya sangat berterimakasih sudah mau menghargai karya saya...
Pesan untuk reader, jadilah pembaca yang jujur... Jangan jadi pembaca gelap, setelah membaca, sempatkanlah untuk sekedar me-like, satu like kalian sangat author butuhkan...
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak untuk para pembaca setia cerita ini, saya harap kalian bisa mengambil hikmah dari dalamnya...
__ADS_1
Salam manis dari author***... :-)