
"Ky! Kamu udah gila!" Balas Billa sambil menepis Dicky.
"Kamu yang udah main gila sama dia sayang." Ucap Dicky.
Dia seperti orang tak waras, tertawa kemudian marah.
Bisma tak hanya tinggal diam, dia melayangkan kepalan tangannya pada wajah Dicky hingga berkali-kali.
"Loe berani sentuh dia gue habisin loe!" Seru Bisma.
Dicky jatuh tersungkur, sedetik kemudian dia beranjak dan membalas pukulan Bisma.
"Udah! Berhenti!" Seru Billa.
Namun keduanya tak memperdulikan Billa, meraka terus berbaku hantam meluapkan semua emosi yang ada didalam hati mereka.
"Loe yang udah berani sentuh dia, dasar b*****an!" Seru Dicky menggebu-gebu.
Billa sangat ketakutan, kenapa dia selalu saja berada dalam posisi sulit seperti ini.
Bisma dan Dicky terus saja saling memukul, mereka tak mau mengalah satu sama lain.
"Berhenti!" Seru Billa, nada bicaranya berubah menjadi pelan, suaranya seperti sudah habis dia keluarkan.
Dia benar-benar lelah menghadapi semua ini.
Dia tersungkur didinding sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Aku mohon pergi dari sini." Seru Billa.
Air matanya seolah tak pernah habis, dia kembali menagis, menangisi semua yang terjadi didalam hidupnya.
Bisma dan Dicky jatuh tersungkur kedua arah yang berbeda.
Bisma tersungkur dihadapan Billa, dia melihat jika perempuan itu sedang menangis.
"Pergi, aku mohon." Ucap Billa disela tangisnya.
Bisma mulai mendekat kearahnya.
"Aku nggak bisa pergi Bill, aku takut kamu diapa-apain sama dia." Ucap Bisma.
"Bicara loe udah kaya orang bener aja. Gue nggak sudi sentuh dia, karena dia bekas loe!" Ucap Dicky.
"Mulai sekarang diantara kita nggak ada hubungan apa-apa lagi!" Lanjutnya.
Sedetik kemudian dia pergi meninggalkan kamar Billa.
Dia benar-benar kecewa telah dihianati oleh kekasihnya.
Dia fikir jika kekasihnya itu akan setia, tapi ternyata tidak.
"Kamu jangan nangis lagi, ya! Kita pasti bisa keluar dari masalah ini." Ucap Bisma menenangkan Billa.
Billa sedikit menoleh kearah Bisma, masih bisa dia bicara seperti itu?
"Kamu juga pergi dari sini!" Seru Billa mengusir Bisma.
Bisma benar-benar tak bisa melakukan hal itu, dia takut jika Dicky akan kembali lagi dan berbuat macam-macam kepada Billa.
Apa lagi Rafael belum juga kembali.
"Pergi!" Sentak Billa dengan nada tinggi.
"Ok, aku pergi. Tapi tunggu aku buat jemput kamu dari sini." Ucap Bisma.
Diapun beranjak, sebelum pergi Bisma menoleh kearah Billa, dia sangat tak tega meninggalkan perempuan itu.
Bismapun memutuskan untuk menunggu didepan, memastikan jika Dicky tidak kembali dan Billa baik-baik saja.
***
Rafael baru saja tiba dirumah sakit, dia segera menuju kamar ruang rawat inap papanya.
Terlihat kedua orang tuanya itu sedang berbincang, Rafael segera menghampiri keduanya.
"Ada apa, Pa?" Tanya Rafael sesampainya disana.
"Ada yang mau papa tanyakan sama kamu." Jawab Papa kemudian.
"Soal apa, pa?" Rafael balik bertanya.
"Ini soal adik kamu. Sebenarnya siapa yang udah berani berbuat seperti itu kepada dia? Kamu tau Raf?" Tanya Papa kemudian.
__ADS_1
Rafael sedikit berfikir, dia merasa bingung untuk menceritakan semuanya. Dia takut jika serangan jantung papa kembali kambuh.
"Jujur aja, Raf! Papa mau semua masalah ini cepat selesai, papa mau segera menikahkan adik kamu itu. Papa takut kalau waktu papa nggak cukup untuk lihat Billa menikah." Ucap Om Ardi.
Tante Vera sangat kesal ketika suaminya itu terus saja mengungkit-ngungkit tentang kematian.
Padahal dia sangat yakin jika suaminya itu akan sembuh, perkembangannya saja sudah jauh lebih baikan.
"Papa kok ngomongnya kaya gitu sih?" Tanya Rafael.
"Iya maka dari itu, papa mau kamu bawa orangnya kesini. Papa mau bicara sama dia." Ucap Om Ardi.
Rafaelpun sedikit mempertimbangkan keinginan papanya itu.
***
Rafael memarkirkan motornya dipekarangan Rumah.
Dia benar-benar lelah menghadapi masalah ini, dia sangat ingin beristirahat.
Dia sangat merindukan bau kasur dikamarnya.
Rafael segera turun dan berjalan memasuki rumahnya.
Dahinya mengerut ketika melihat Bisma yang masih berada disana, dia terlihat sedang duduk disalah satu anak tangga teras rumahnya.
Rafaelpun segera menghampirinya.
Bisma yang menyadari kedatangan Rafael segera menegurnya.
"Raf, loe udah balik?" Tanya Bisma.
Rafael menatapnya dengan sinis.
"Kenapa loe masih disini? Balik sana!" Seru Rafael.
"Iya, gue nunggu loe pulang. Biar ada yang jaga Billa. Gue titip dia, ya!" Balas Bisma.
Diapun beranjak dan segera pergi, dia merasa sedikit lega karena setidaknya Rafael akan melindungi Billa jika nantinya Dicky kembali.
Tiba-tiba Rafael mengingat permintaan papanya untuk bertemu dengan Bisma.
Entahlah, Rafael akan mengabulkan permintaan papanya itu. Demi kebaikan semua orang. Fikir Rafael bijak.
Diapun segera menghampiri Bisma yang sedang memanaskan motornya.
Bisma mengerutkan keningnya.
"Om Ardi mau ketemu sama gue?" Tanya Bisma.
"Iya, loe temuin papa sekarang. Ini alamat rumah sakit sama nama ruang rawat inapnya." Rafael memberikan secarik kertas itu kepada Rafael.
Dengan ragu Bisma menerimanya.
Kira-kira apa yang akan dikatakan Om Ardi? Apa dia juga akan memarahi dan memukulinya sama seperti Rafael tadi?
Bismapun segera menepis fikiran negatifnya itu.
"Makasih Raf." Ucap Bisma sebelum akhirnya dia tancap gas.
***
Bisma terlihat celingukan mencari ruang rawat inap Om Ardi, diapun meminta bantuan kepada beberapa penjaga.
Setelah lama berputar-putar, akhirnya diapun menemukan yang dia cari.
Dia sedikit ragu untuk membuka pintu itu, dia merasa sangat takut.
Dia tak bisa membayangkan bagaimana kemarahan Om Ardi ketika melihat wajahnya.
Tiba-tiba saja pintu itu terbuka tanpa Bisma membukanya.
Ternyata Tante Vera yang keluar dari dalam sana.
Dia mengerutkan keningnya melihat keberadaan Bisma.
Bisma yang mendapat tatapan seperti itu tersenyum kearahnya.
"Ngapain kamu?" Tanya Tante Vera sinis.
"Saya mau jenguk Om Ardi, Tante." Jawab Bisma.
Tante Vera merasa ada yang janggal dengan kedatangan laki-laki itu.
__ADS_1
Tapi dia tak dapat berfikir lagi, dia sudah tak tahan ingin segera pergi ke toilet, toilet didalam sedang dibersihkan petugas.
'Ya udah, lah!' Ucap Tante Vera asal, diapun meninggalkan Bisma yang kebingungan sendiri.
Bismapun memasuki ruangan itu.
"Assalamualaikum." Ucap Bisma.
Om Ardi yang sedang makanpun menoleh kearahnya.
"Waalaikumsalam." Balas Om Ardi.
Bisma segera menghampirinya.
"Gimana keadaannya Om?" Tanya Bisma kemudian.
"Saya agak mendingan." Jawab Om Ardi.
Bisma merasa bingung harus memulai dari mana dia berucap. Dia sangat grogi ketika berhadapan dengan Om Ardi.
Om Ardi menatap Bisma dengan ragu. Apa mungkin dia yang sudah melakukan hal itu kepada Billa? Fikir Om Ardi.
"Apa Rafael yang minta kamu datang kemari?" Tanya Om Ardi.
"Iya, Om." Jawab Bisma.
"Jadi kamu yang sudah membuat putri saya h***l?" Tanya Om Ardi to the point.
Bisma menundukkan kepalanya mendapat pertanyaan seperti itu.
"Saya minta maaf Om, saya hilaf." Balas Bisma.
Om Ardi sangat tak menyangka jika Bismalah yang sudah berbuat keji kepada putrinya.
"Atas dasar apa kamu berani berbuat seperti itu?" Tanya Om Ardi kemudian.
Bisma terdiam, dia benar-benar malu, dia tak tau harus menyembunyikan wajahnya dimana saat ini.
"Apa kamu mencintai anak saya?" Tanya Om Ardi.
Bisma sedikit menoleh kearahnya.
"Iya, Om. Saya sangat mencintai Billa." Jawab Bisma.
"Apa kamu mau menikahi anak saya?" Tanya Om Ardi lagi.
"Iya, Om, saya mau. Saya akan menikahi Billa secepatnya." Jawab Bisma.
Om Ardi terdiam, dia seperti memikirkan susuatu.
Dia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali berkata.
"Dengar baik-baik kata-kata saya, kalau kamu mau bertanggung jawab dan menikahi anak saya, saya mohon jangan pernah sekalipun lagi kamu menyakiti perasaannya." Ucap Om Ardi.
Bisma terdiam mendapat nasihat seperti itu.
"Selama ini sayapun belum bisa membahagiakan dia, saya berharap lebih terhadap kamu. Tolong bahagiakan dia, dia pantas mendapatkan itu. Saya yakin kalau kamu benar-benar mencintai anak saya, sedari dulu kamu selalu berusaha mendapatkan cinta anak saya." Ucap Om Ardi.
Bisma seperti terhanyut dalam kesedihan ketika mendengar perkataan Om Ardi, dia seperti kembali menemukan sosok ayahnya yang selama ini telah tiada.
"Saya minta dengan sangat, jaga Billa dengan baik, saya tidak ingin melihat air matanya kembali menetes, sudah cukup anak itu menderita selama ini." Ucapnya lagi.
"Kamu janji Bisma?" Tanya Om Ardi kemudian.
Bisma mengangkat sedikit wajahnya, melihat kearah Om Ardi.
"Iya, Om, saya janji. Saya akan berusaha untuk membuat Billa bahagia, sebisa saya. Saya juga akan menjaga Billa, karena saya benar-benar mencintai dia." Ucap Bisma.
"Seorang laki-laki itu yang dipegang adalah kata-katanya, jangan buat saya kecewa karena telah menikahkan kamu dengan anak saya." Ucap Om Ardi.
"Iya, Om." Balas Bisma.
Om Ardi menghembuskan nafas lega, akhirnya mulai ada titik terang dari masalah yang dihadapi putrinya itu.
***
Hari ini Tante Vera memutuskan untuk pulang, karena Rafael sudah terlihat lebih fresh dan kembali kerumah sakit.
Mereka bergiliran satu sama lain untuk menemani Om Ardi.
Tante Vera merasa kaget ketika tiba dirumah, kondisinya sangatlah berantakkan.
Bantal kursi berserakkan dilantai, taplak meja tidak berada diposisinya, meja-meja yang ditempeli banyak debu.
__ADS_1
Kemarahannya seketika memuncak, dia begitu lelah karena beberapa hari dia kurang tidur, dengan melihat keadaan rumah seperti itu membuatnya ingin meluapkan semua kemarahannya, kepalanya terasa ingin pecah.
Siapa yang bertanggung jawab atas ini semua?