Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
pertemuan didalam bis


__ADS_3

Happy reading guys, jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....


***


Dikamar, terlihat Billa yang sedang memainkan ponselnya, dia pura-pura sibuk dengan benda itu untuk menghindari Bisma.


Bismapun langsung duduk disebelahnya.


"8ill?" ucap Bisma. Billa tak menjawab, dia masih sibuk dengan ponselnya.


Bisma yang merasa dicueki, langsung merampas ponsel itu dari tangan Billa.


"Bisma apaan sih? Balikin!" seru Billa saat ponselnya sudah Bisma ambil alih.


"kamu selalu aja menghindar dari aku, Bill." ucap Bisma dengan tatapan seriusnya, Billa langsung buang muka, dia tidak berani untuk melihat Bisma yang menatapnya dengan tatapan seperti itu.


"apa kamu mau main kerumah mama Dinar?" tanya Bisma kemudian, seketika Billa tersenyum kegirangan, dia langsung menoleh kearah Bisma.


"iya, aku mau." ucap Billa terdengar antusias.


"Minggu depan kita pergi kesana, pas aku libur." balas Bisma.


"ya udah, kira-kira aku bawa apa ya kesana?" tanya Billa.


"emm, gimana kalau kamu bikin black fores? Soalnya black fores buatan kamu enak banget." jawab Bisma.


"apa nggak memalukan?" tanya Billa.


"nggak sayang, aku yakin mama Dinar juga bakalan suka, sama kaya aku." jawab Bisma.


"oh, ya udah deh." balas Billa.


Seketika suasana berubah menjadi hening.


15 detik, 30 detik, 60 detik, tidak ada suara yang keluar dari mulut keduanya hingga akhirnya...


"Bill." ucap Bisma lirih.


"ya?" balas Billa.


"kalau aku nggak ada, kamu bakalan merasa seneng atau sedih?" tanya Bisma.


"maksud kamu apa?" Billa balik bertanya.


"ya jawab aja." balas Bisma. Billa menatapnya dengan heran, dia tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan Bisma.


"maafin aku atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan sama kamu, aku nggak menyesal melakukan itu, karena dengan itu aku bisa memiliki kamu." ucap Bisma.


"kadang aku merasa cemas saat memikirkan kamu, aku merasa cemas kalau akhirnya aku nggak bisa membuat kamu bahagia seperti yang aku janjikan sama papa kamu, selama 5 bulan kita menikah, aku belum bisa kasih kebahagiaan itu." ucap Bisma tertunduk lesu.


Billa merasa kasihan ketika melihat perubahan wajah Bisma.


"kamu jangan bicara seperti itu Bisma, aku bahagia atau nggak itu sama sekali nggak penting, aku udah terbiasa hidup tanpa kebahagiaan, tapi belakangan ini aku merasa ada yang berbeda dengan kehidupan aku, setelah pernikahan itu terjadi, rasanya ada yang aneh, ini seperti bukan kehidupan aku yang sebelumnya." ucap Billa dengan serius.


"apa itu artinya kamu nyaman dengan kehidupan kamu yang sekarang?" tanya Bisma.


"aku juga nggak tau Bisma, aku juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi dalam hidup aku? Raga aku seperti terbawa angin, terombang ambing kesana kemari, aku nggak bisa melawan laju angin, aku hanya bisa pasrah mengikuti kemanapun tiupan angin itu membawa aku pergi." ucap Billa panjang lebar.


"aku rasa angin itu adalah aku." ucap Bisma sambil tersenyum kearah Billa.


"ya, aku rasa juga seperti itu." balas Billa.


"jadi, apa kesimpulannya kamu udah bisa terima aku sekarang?" tanya Bisma kemudian.


"aku juga nggak tau Bisma, biarkan semua berjalan apa adanya, seperti air yang mengalir." balas Billa.

__ADS_1


Bisma tersenyum lebar mendengar perkataan Billa.


"iya, aku akan sabar nunggu saatnya kamu bilang cinta buat aku." ucap Bisma kemudian.


***


Veni membanting tubuhnya asal keatas kasur, perjalanan dari kota Bandung menuju Lembang membuatnya sangat lelah.


Apalagi drama yang terjadi hari ini, sungguh sangat menjengkelkan, untung saja disepanjang perjalanan tidak ada polisi yang beroperasi sehingga dia bebas membawa mobilnya dengan leluasa.


Dia berpikir bagaimana cara untuk mengambil kembali sim dan ktp yang ditahan oleh Rafael.


Sial, memangnya dia polisi apa? Bisa-bisanya dia mengambil paksa surat-surat berharga milik Veni.


Lalu bagaimana besok ketika dia akan pergi bekerja? Pasti akan banyak polisi yang beroperasi dijam sibuk pada hari senin seperti besok.


"Ahh, gue punya ide." ucap Veni.


Diapun segera meraih ponselnya dan membuat panggilan kepada Bisma.


***


Sementara itu, dirumah Bisma.


Bisma dan Billa terlihat masih bersantai disofa, tiba-tiba ponsel Bisma berdering.


"tolong ambilin hp aku, Bill!" seru Bisma, Billapun langsung mengambil ponsel Bisma yang diletakkan diatas meja samping sofa itu.


Billa mengerutkan keningnya ketika mengetahui siapa yang menelfon Bisma.


"siapa, Bill?" tanya Bisma.


"Veni." jawab Billa datar.


"kenapa nggak diangkat?" tanya Bisma.


"ya tentu boleh dong." jawab Bisma.


Dengan sedikit ragu, Billapun menjawab panggilan itu.


"hallo?" ucap Billa setelah panggilan itu terhubung.


Disebrang sana, Veni sedikit kaget ketika mendengar suara perempuan yang mengangkat telfonnya.


'pasti ini cewe caper itu' batin Veni.


"hallo, Ven? Kamu kenapa?" tanya Billa karena tidak ada tanggapan dari sebrang sana.


"Bismanya mana?" tanya Veni.


"ada, sebentar." Billapun menyodorkan ponsel itu kepada Bisma.


"kamu pegang, loadspeak aja." ucap Bisma.


Billapun mengikuti apa yang Bisma katakan.


"ada apa loe telfon gue? Loe tau nggak? Loe itu ganggu gue sama istri gue." ucap Bisma sedikit sinis, Billa sedikit mencubit perut Bisma karena perkataannya.


"ngapain sih pake bilang gitu segala?" tanya Billa sedikit malu.


"biarin aja, aku kan pengen berduaan aja sama kamu tanpa ada yang ganggu." balas Bisma.


Hati Veni terasa mendidih ketika mendengar percakapan antara Bisma dan Billa, dia merasa sangat iri dengan kedekatan mereka.


Sedangkan dia selalu merasakan sesuatu yang aneh ketika Bisma menatapnya, dia sangat benci terhadap Billa, kenapa harus Billa yang menjadi istri Bisma? Kenapa bukan Veni yang terlebih dahulu masuk kedalam kehidupan laki-laki itu?

__ADS_1


"apaan sih Bisma? Malu didenger Veni." balas Billa.


"biarin aja." sahut Bisma.


Seketika Veni tersadar, dia berpikir dia harus membuat rencana agar Billa dan Bisma bertengkar lalu mereka bercerai, Veni tersenyum sinis memikirkan hal itu.


"ehem." dehem Veni cukup keras.


"tuh, kan? Ven maaf ya. Tadi kamu mau bicara apa?" tanya Billa kemudian.


"ok, gue nggak akan basa basi. Suruh orang yang tadi gue tabrak motornya balikin sim sama ktp gue secepatnya, memangnya dia siapa berani sita-sita surat berharga orang lain?" ucap Veni panjang lebar.


"apa? Sim sama ktp loe ditahan Rafeal? Kok dia nggak cerita sama gue tadi?" tanya Bisma.


"tapi ya pantes aja sih dia tahan sim sama ktp loe, loe kan memang ngeselin." sambung Bisma.


"gue lagi nggak mood buat berdebat sama loe ya! Gue mau ktp sama sim gue balik besok, gue nggak mau nunggu lama ya! Pokoknya besok loe harus anterin kerumah gue!" balas Veni dengan kesalnya.


Sedetik kemudian dia langsung menutup sambungan telefon itu, yang membuat Bisma mengerutkan keningnya.


"tuh, kan dia jadi marah." ucap Billa.


"memang kerjaannya dia itu marah-marah sayang." balas Bisma.


"kok kamu tau sih?" tanya Billa.


"ya karena mama Dinar sama Liona bilang begitu, dia itu perempuan nggak beres sayang." balas Bisma.


"kamu nggak boleh bilang gitu Bisma, bagaimanapun juga dia kakak aku, ya walaupun kakak tiri." balas Billa.


"iya, iya. Aku minta maaf." balas Bisma.


***


Sedari tadi Rafael memainkan sim dan ktp Veni, dia hanya membolak-balik benda kecil itu sambil sesekali tersenyum kecut.


"Venita Adera Deraulia." gumam Rafael pelan.


Entah sejak kapan Rafael terus memikirkan tentang perempuan menyebalkan yang tadi ditemuinya itu.


Sepertinya ada yang aneh dengan tatapan perempuan itu kepada Bisma, Rafael bisa melihatnya dengan jelas tadi saat Veni menatap Bisma.


Entahlah itu hanya perasaannya saja atau memang begitu kenyataannya?


Rafael harus memastikan semuanya, jika benar seperti itu, Rafael harus memperingatkan perempuan itu, dia tak ingin Veni mengganggu rumah tangga adiknya dengan Bisma, sudah cukup Billa menderita selama ini, sekarang saatnya Billa untuk bahagia bersama Bisma, jangan sampai ada orang ketiga yang menjadi alasan Billa untuk tidak bahagia.


***


Keesokan harinya.


Pagi ini Veni terpaksa pergi bekerja dengan menaiki bis, seumur hidupnya dia baru merasakan naik kendaraan umum.


Berdesak-desakkan didalam bis, membuat Veni kapok untuk kembali menaiki bis lagi besok, sungguh pengalaman yang sangat menyebalkan.


'sial banget sih gue, kalau nggak kepaksa-kepaksa banget, gue nggak sudi naek kendaraan kaya gini.' gumam Veni dalam hatinya.


Dengan tiba-tiba bis itu mendadak berhenti, yang membuat semua penumpang kaget, apalagi sebagian penumpang yang tidak kebagian kursi sampai terjatuh karenanya.


Veni yang kehilangan keseimbanganpun ikut terjatuh diantara orang-orang yang memenuhi bis itu.


Beberapa penumpang mulai menaiki bis itu yang membuat suasana semakin sesak.


"ugal-ugalan banget sih nyetirnya!" seru Veni sambil beranjak dari jatuhnya, rambutnya terlihat berantakkan akibat insiden itu.


Rafael yang baru menaiki bis itu memperhatikan perempuan yang menggerutu itu dari belakang, ketika Veni kembali membalikkan badannya, dia sangat kaget ketika melihat Rafael yang berada tepat dihadapannya.

__ADS_1


Rafael terlihat lebih kaget dari Veni ketika mengetahui jika perempuan itu adalah Veni.


"loe!" ucap keduanya spontan.


__ADS_2