
Sempet males sih buat lanjutin ceritanya, viewersnya sih udah lebih dari 6.000 tapi yg like dan komen dikiiit banget, bikin autornya down...
tapi ya udahlah ya, mungkin rejekinya autor hhee,,
***
"saya sih gimana Billa aja, kalau Billa maunya seperti itu, saya tidak akan melarangnya, asalkan Billa senang sayapun pasti akan ikut senang." jawab Bisma.
"jadi bagaimana Bill? Kamu setuju?" tanya mama Dinar.
Billa terdiam, dia bingung harus menjawab apa, dia menoleh kearah Bisma, Bisma mengangguk sambil tersenyum padanya.
"maaf ma, bukannya Billa nggak mau atau menolak tinggal disini, Billa sebenarnya pengen banget tinggal sama mama. Tapi Billa mau belajar mandiri, Billa juga punya tanggung jawab buat layanin Bisma." balas Billa dengan mantap.
"ya, kalau kamu sudah mengambil keputusan, mama bisa apa?" ucap mama Dinar.
Bisma tidak menyangka jika Billa akan menolak tawaran orang tuanya demi dirinya, Bisma tersenyum memikirkan hal itu.
Tiba-tiba Liona datang menghampiri mereka dengan wajah berbinar-binarnya.
"kak, ikut kekamar aku yuk! Ada yang mau aku tunjukkan." seru Liona dengan antusias.
"sesuatu apa?" tanya Billa.
"ayo, ikut dulu!" jawab Liona.
"ya udah, ayo! Kamar kamu dimana?" tanya Billa kemudian.
"diatas!" Liona dan Billapun berjalan menaiki anak tangga menuju kelantai 2 rumah itu.
Setelah mereka pergi, Bisma, mama Dinar dan om Suryo berbincang-bincang hangat tentang pekerjaan mereka masing-masing.
***
Liona dan Billa sedang melihat-lihat album foto keluarga, foto sewaktu Veni dan Liona masih kecil semua ada didalam sana.
"hahaha :D" seketika tawa Liona dan Billa pecah, menggelegar disetiap sudut kamar yang terbilang megah itu.
"kakak nggak nyangka ternyata Veni nggak ada giginya waktu kelas 4 sd." ucap Billa disela tawanya.
"dan kakak tau, saat itu juga dia dengan percaya dirinya nyatain cinta sama cowo, dan cowo itu lari ketakutan karena kak Veni nggak ada giginya." ucap Liona menggebu-gebu.
"hahaha :D" mereka kembali tertawa bersama.
__ADS_1
"iya, aku juga tau cerita ini dari mama." ucap Liona.
"kalian lagi ngetawain apa sih?" tanya Bisma yang tiba-tiba datang.
Billa langsung menutup photo album itu, dia tidak ingin Bisma melihatnya.
"nggak, kita cuma lagi bicarain tentang masa kecilnya Liona, iya kan?" jawab Billa meminta persetujuan Liona.
Liona mengangguk cepat, Bisma langsung duduk dipinggiran kasur itu tepat disamping Billa.
"oh ya Bill, kenapa kamu tolak permintaan mama?" tanya Bisma dengan tatapan seriusnya.
Liona terus memperhatikan mereka, bukan mendengarkan apa yang mereka bicarakan, tapi dia fokus memperhatikan setiap tatapan yang Bisma lontarkan kepada Billa.
Anak remaja itu seperti sedang mencari tentang apa itu namanya cinta, dia belum pernah merasakannya, tapi ketika dia melihat kedua pasangan itu saling menatap, Liona seperti sedikit paham apa yang dimaksud dengan cinta itu.
Liona kagum kepada Bisma dan Billa, karena mereka selalu terlihat romantis, keromantisan itu terjadi sangat natural dimata Liona.
"ya kan aku udah kasih alasannya tadi, memangnya alasan aku itu nggak masuk akal, ya?" jawab dan tanya Billa.
"aku nggak keberatan kok kalau kamu mau tinggal disini sementara, biar kamu bisa melepas kangen kamu sama mama." balas Bisma.
"nggak Bisma, keputusan aku nggak akan berubah, aku mau tetep tinggal dirumah kamu." jawab Billa.
"ehem." dehem Liona yang merasa dirinya dicueki sedaritadi.
Bisma dan Billa langsung menoleh kearahnya.
"kamu kenapa?" tanya Billa.
"emm, padahal kalau kakak tinggal disini, aku pasti bakalan seneng banget, biar aku ada temen." ucap Liona.
"kan ada kak Veni." balas Billa.
"ahh, dia mah ngeselin, nggak bisa dijadiin temen, dia itu suka ngatain aku anak kecil terus, padahal aku kan udah besar." ucap Liona sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"apa? Veni ngatain kamu anak kecil? Padahal sikapnya dia yang kaya anak kecil, gampang ngambekan." ucap Bisma.
Dan saat itu pula Veni yang lewat didepan kamar Liona langsung menimbrung percakapan mereka.
"ngapain loe pada nyebut-nyebut nama gue?" tanya Veni sinis.
"kamu udah pulang, Ven?" ucap Billa basa-basi.
__ADS_1
"ngapain lagi loe ada dirumah gue? Bikin badmood aja." Veni melirik Billa sambil melipat tangannya didepan dada.
"loe kok sinis banget sih sama istri gue? Inget Billa itu adik loe, jadi dia bebas mau main kesini. Malahan om Suyo nyuruh Billa menanggap ini sebagai rumahnya sendiri." ucap Bisma.
"apa? Jadi udah ketauan ya sekarang apa sebenernya tujuan loe, loe mau menguasai rumah ini, kan?" tuding Veni dengan keyakinannya.
"astaga Ven, nggak gitu." ucap Billa.
"ehh, jaga ya mulut loe. Sebelum gue bungkam paksa mulut loe itu." ucap Bisma.
Billa menyenggol Bisma sedikit kencang, mengisyaratkan untuk tidak menggubris perkataan Veni, tapi Bisma yang emosi tidak dapat membiarkan Veni berbicara seenaknya tentang Billa.
"loe kok ngomongnya gitu sih, lagian kak Billa ini baik, nggak kaya loe yang bisanya cuma marah-marah aja, bicaranya juga sembarangan kaya nggak disekolahin aja itu mulut." ucap Liona.
"apa loe bilang? Loe banding-bandingin gue sama dia?" balas Veni dengan nada tinggi.
"loe itu bisa nggak sih nggak usah sambil bentak-bentak gue? Pantesan aja sampai sekarang loe ini masih jombo, loe itu galak, nggak ada cowo yang mau sama loe. Yang ada semua cowo itu ilfil liat loe marah-marah terus." ucap Liona yang semakin gencar saja memojokkan Veni.
Seketika wajah Veni memerah, semerah tomat matang, amarahnya semakin memuncak, seperti keluar dua tanduk dikepalanya, dikedua telinganya seperti mengeluarkan banyak sekali asap, dia menatap Liona dengan tatapan pemangsanya, bersiap untuk menerkam Liona.
"bocah kurang ajar!" serunya sambil mendekat kearah Liona, habis sudah riwayat adiknya itu sekarang.
Tapi Liona yang menyadari kemarahan kakaknya itu, langsung berlari menjauh darinya.
"aaaaa." teriak Liona saat dikejar oleh Veni yang semakin marah.
"jangan lari loe!" seru Veni yang terus mengejar Liona sampai mengelilingi kambar itu hingga beberapa kali.
"harus banyak amit-amit sayang, jangan sampai anak-anak kita nanti seperti mereka." ucap Bisma.
"biarin aja, jadi setiap hari rumah nggak bakalan sepi. Iya, kan?" balas Billa.
"iya deh, aku ngalah aja sama kamu." balas Bisma.
Billa hanya tersenyum menanggapinya.
***
Veni membanting tubuhnya asal keatas kasurnya, dia sangat lelah setelah memberi pelajaran kepada adik menyebalkannya itu, dan pada akhirnya Liona menang karena selalu meminta perlindungan dari papanya.
Tiba-tiba perkataan Liona tadi terlintas kembali dipikirannya, perkataannya itu seolah tepat sasaran dan menancap tepat dihati Veni hingga dia merasa galau ketika mengingat perkataannya.
'apa mungkin bener gue jombo karena gue galak? Terakhir gue pacaran, si Dino mutusin gue karena gue marah-marahin dia didepan temen-temennya.'
__ADS_1