Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Kematian Felly


__ADS_3

"Sekarang jawab pertanyaan aku dengan jujur. Apa kamu cinta sama Felly?" Tanya Billa kemudian.


Walaupun dia sudah tau apa jawbannya, namun dia ingin mendengarnya langsung dari mulut Dicky.


"Maafin aku Bill, aku juga nggak tau kenapa perasaan ini ada dihati aku. Aku nggak bisa bohong sama kamu, sama diri aku sendiri. Aku memang jatuh cinta sama Felly. Cinta itu datang karena aku terbiasa sama-sama sama Felly." Jawab Dicky dengan jujur.


Seketika air mata Billa jatuh membasahi pipi cabinya, cinta yang dia genggam selama ini kini benar-benar telah terlepas.


Dia tak bisa membendung air matanya lagi, dia menangis sejadi-jadinya dihadapan Dicky.


Dicky sama sekali tak membantunya untuk mengusap air matanya, karena perasaan cintanya kepada Billa telah mati.


"Kamu jahat Ky! Aku nggak sangka kamu nyakitin aku kaya gini, Aku bener-bener nyesel udah minta kamu jadian sama Felly." Ucap Billa disela tangisnya.


***


Felly berjalan gontai menuju rumah Dicky dengan senyum yang mengembang dibibirnya.


Dia membawa kue ulang tahun untuk Dicky. Dia begitu bersemangat, dia tak sabar ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu.


Dia bisa membayangkan betapa senangnya Dicky ketika dirinya datang membawa kejutan itu.


Dicky akan mencium dan memeluk dirinya dengan mesra. Itu harapannya.


Dari kejauhan, dia melihat Billa dan Dicky yang sedang berbincang, dia sedikit mendekat.


Samar-samar dia mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, tapi tidak terlalu jelas, Fellypun terus mendekat.


"Mereka lagi ngomongin apa sih?" Tanya Felly. Dia segera memasang telinga baik-baik.


"Ya jangan salahin aku dong kalau akhirnya jadi kaya gini, waktu aku lagi cinta-cintanya sama kamu, kamu malah suruh aku jadian sama Felly. Aku sama sekali nggak suka sama dia." Ucap Dicky sedikit kasar.


Felly menganga mendengar penuturan Dicky. Dia sedikit tak percaya.


"Iya, tapi kamu janji akan selalu jaga hati. Aku percaya sama kamu." Ucap Billa.


"Terus mau kamu apa sekarang? Kamu mau kasih tau Felly kalau sebenarnya kita pacaran dibelakang dia? Kalau kita udah nipu dia selama ini?" Ucap Dicky dengan nada tinggi.


Brak!


Tiba-tiba saja kue yang dipegang Felly terjatuh, seketika kue itu hancur bersatu dengan tanah, sehancur perasaannya saat ini.


Felly begitu kaget mendengar percakapan mereka.


Dia tak dapat membendung air matanya yang mendesak keluar.


Sontak Billa dan Dicky menoleh kearah suara itu.


Terlihat Felly yang berdiri mematung tak jauh dari tempat mereka berbincang.


"Felly?" Ucap Dicky dan Billa bersamaan.


Felly tak kuasa menahan rasa sakit dihatinya, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia berlari menjauh dari Billa dan Dicky.


Menjauh dari kenyataan yang pahit ini. Dia menyeret paksa kakinya untuk terus berlari entah kemana.


"Ky, ayo kita kejar Felly sekarang!" Ucap Billa.


Dengan cepat Dicky mengejar Felly yang telah menjauh. Billapun segera mengikutinya.


Felly terus berlari, dia sungguh tak menyangka dua orang yang sangat dekat dengannya begitu tega menghianati dirinya.


'Kenapa Dicky sama Billa tega bohongin aku? Ternyata selama ini mereka menjalin hubungan dibelakang aku. Ternyata selama ini Dicky hanya mencintai aku dengan pura-pura.' Ucap Felly dalam hati.


Fikirannya benar-benar kacau, dia terus berlari membelah jalanan yang ada. Entah kemana kakinya akan membawa raganya pergi.


"Awas Fell...!" Seru Dicky saat melihat Felly hendak menyebrang dan dari arah berlawanan terlihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Aaaaaaaaa....." Teriak Felly.


Tabrakanpun tak terhindarkan, Felly terpental beberapa meter kebelakang.


Seketika darah berceceran dimana-mana, bau amis mulai menyengat. Terlihat tubuh Felly yang sudah terbujur kaku diatas aspal.


Mobil yang menabrak Felly terus melaju tanpa memperdulikan apa yang telah terjadi.


"Felly?" Teriak Billa.


Dia sangat tak menyangka jika Felly mengalami kecelakaan.


Dengan cepat Dicky dan Billa menghampiri Felly yang setengah sadar.


"Ky!" Ucap Felly dengan suara yang melemah.


"Fell, kamu yang kuat ya! Ada aku disini, aku sayang sama kamu. Ayo kita kerumah sakit sekarang!" Ucap Dicky.


Seseorang membantu dengan meminjamkan mobilnya untuk membawa Felly kerumah sakit.


Billa tak tau apa yang harus dia lakukan, tubuhnya terasa lemas, kakinya sangat gemetar ketika melihat darah segar yang terus mengalir dari kepala Felly.


Dia seperti sadar tak sadar menyaksikan peristiwa naas itu.


Billa sangat merasa bersalah, ia mengutuk dirinya sendiri.


Felly segera dilarikan ke UGD, keadaannya begitu memprihatinkan.


Billa segera menghubungi keluarga Felly dan siapa saja yang ada dikontaknya.


Billa dan Dicky merasa sangat cemas, melebihi rasa cemas saat Felly dirawat kemarin.


Tanpa diduga Bisma datang kerumah sakit untuk melihat keadaan Felly.


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Billa saat melihat kedatangan Bisma.


"Tadi akukan dapet sms dari kamu dan kebetulan kontrakan aku deket rumah sakit ini. Sekalian aja aku mau liat keadaan Felly." Jawab Bisma.


Tak berselang lama kedua orang tua Felly tiba di ruang UGD. Mereka segera menghampiri Billa, Bisma dan Dicky.

__ADS_1


"Gimana keadaan Felly? Ya Allah baru saja tadi pagi Felly pulang dari rumah sakit, sekarang dia masuk rumah sakit lagi." Ucap Tante Vallen sambil menangis sejadi-jadinya.


"Felly didalam om, tante. Kita juga belum tau gimana perkembangannya. Dia masih ditangani dokter. Kita do'akan agar dia baik-baik aja." Jawab Billa.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Tadi pagi sepulang dari rumah sakit Felly langsung bikin kue buat kasih kejutan dihari ulang tahun kamu Dicky." Lanjut Tante Vallen.


Dicky yang mendengar itu sangat terkejut, dia sangat menyesal, ternyata cinta perempuan itu sangat besar kepadanya.


'Jadi tadi dia mau kasih gue kejutan?' Ucap Dicky dalam hati.


Dicky menitihkan air matanya. Baru kali ini seumur hidupnya dia meneteskan air mata untuk seorang perempuan.


Dia sangat menyesal, dia merasa marah, marah terhadap siapa?


"Ini semua gara-gara loe!" Sentak Dicky sambil menunjuk kearah Billa.


Billa tertegun, dia sangat kaget mendengar bentakan Dicky. Dia merasa ketakutan.


"Kalau aja loe nggak ungkit-ungkit masalah itu, Felly nggak akan kecelakaan kaya gini!" Suara Dicky semakin mengeras.


Billa tak menyangka Dicky menyalahkannya seperti itu, seketika dia berubah menjadi sangat menakutkan bagi Billa.


Billa menggelengkan kepalanya cepat, dia tak sanggup menjawab tudingan Dicky.


Hatinyapun merasa sesak melihat kejadian naas itu terjadi pada Felly, ditambah lagi Dicky menyalahkan dirinya.


Lengkap sudah penderitaan yang dia rasakan, dia sungguh takut dengan kemarahan Dicky.


Air matanya menggambarkan kesedihan hatinya.


"Heh! Maksud loe apa? Loe nggak bisa nyalahin dia!" Ucap Bisma membela Billa.


Bisma menyembunyikan Billa dibelakangnya.


"Loe jangan ikut campur, ini urusan gue sama dia!" Seru Dicky yang sangat emosi.


"Urusan dia itu urusan gue juga." Balas Bisma tak kalah kasar.


"Kalau terjadi sesuatu yang buruk sama Felly, loe adalah orang pertama yang gue cari." Bentak Dicky sambil kembali menunjuk kearah Billa.


Billa tak kuasa lagi membendung air matanya, tangisnya seketika pecah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Dicky.


"Loe berani sentuh dia! Abis loe sama gue!" Sentak Bisma, dia menepis tangan Dicky dengan kasar.


"Hey! Sudah-sudah. Jangan ribut disini. Kita harus hormat. Apa kalian nggak kasihan sama Felly yang lagi berjuang didalam sana?" Lerai Om Ferdi.


Semua terdiam, Dicky tersungkur dilantai meratapi semua yang terjadi.


Dia sangat menyesal dengan keadaan, dia tak sanggup jika harus kehilangan Felly.


Belum sempat dia membahagiakan Felly seutuhnya.


Bisma menghampiri Billa yang tak berhenti menangis disalah satu kursi disana.


Dia sangat menyayangkan jika perempuan yang dia cintai disia-siakan seperti ini.


"Kamu jangan nangis lagi ya! Kamu nggak salah dalam kejadian ini, ini murni kecelakaan." Ucap Bisma mencoba menenangkan Billa.


Bisma memeluk Billa, dia bisa merasakan apa yang dirasakan perempuan itu.


Dia sangat mengerti, dia takkan membiarkan Billa menangis sendirian.


Billa tidak keberatan dengan pelukan Bisma, dia menumpahkan air matanya dalam dekapan Bisma.


"Semuanya akan baik-baik aja. Kamu jangan takut. Ada aku disini." Bisik Bisma tepat ditelinga Billa.


Billa tak menjawab, dia begitu larut dalam kesedihannya.


***


Didalam ruangan UGD, dokter dan timnya terus berusaha sebisa yang mereka mampu untuk menyelamatkan Felly. Beberapa peralatan sudah mereka gunakan untuk membantu detak jantung Felly agar tetap stabil.


Terlihat keringat dingin keluar dari pelipis dokter yang menangani Felly.


Mereka sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya. Namun Tuhan berkehendak lain, Felly tutup usia diumur yang masih muda.


Dokterpun menginformasikan berita duka itu pada keluarga Felly.


"Dengan menyesal saya katakan, jika Felly tidak tertolong. Dia meninggal dunia. Akibat benturan keras dan kebocoran diotaknya." Ucap dokter.


Semua orang dibuat tercengang dengan perkataan dokter itu, serasa dunia berhenti berputar detik itu juga.


Dicky menerobos dokter dan memaksa masuk keruang UGD itu.


Terlihat sehelai kain putih menutupi seluruh tubuh Felly yang terbujur kaku diatas ranjang.


Dicky berharap jika orang yang berada dibalik sana bukanlah Felly, dia berharap jika yang dikatakan dokter itu salah.


Dia membuka kain penutup itu perlahan, terlihat wajah pucat Felly yang tersenyum.


Ternyata itu adalah benar kekasihnya, tubuhnya terasa lemas, kakinya bergetar dengan hebat.


Air matanya kembali menetes hingga mengenai jasad Felly.


"Kenapa kamu tinggalin aku secepat ini?" Ucap Dicky disela tangisnya.


"Aku belum sempat membalas cinta kamu yang tulus buat aku." Lanjutnya.


"Kamu pasti lagi becanda kan? Ayo bangun sekarang!" Seru Dicky yang setengah berteriak.


"Ayo bangun sayang, BANGUN!" Dicky berteriak karuan seperti orang tak waras.


Dia sangat menyesal, apa tak ada lagi kesempatan untuknya membahagiakan Felly?


Kenapa akhir cerita cintanya berujung dengan penyesalan? Kenapa Felly meninggalkannya dengan sejuta kesalah pahaman yang belum sempat terselesaikan.


Kedua orang tua Felly, Billa dan Bisma memasuki ruang UGD itu, mereka sangat terpukul dengan kepergian Felly.

__ADS_1


Om Ferdi menghampiri Dicky yang menangis sambil memeluk jasad putrinya itu. Dia membawa Dicky duduk agar laki-laki itu sedikit tenang.


"Sudahlah, kita harus ikhlas." Ucap Om Ferdi.


Billa langsung memeluk tubuh Felly yang sudah tak bernyawa itu sembari menangis.


Dia sungguh tak percaya jika Felly sudah tiada, tiada dengan cara yang seperti ini.


Dia merasa perjuangan yang dia lakukan untuk membahagiakan Felly tidak tercapai.


Dan pada akhirnya Felly pergi dengan kekecewaan yang mendalam.


"Fell kenapa kamu pergi sebelum aku kasih kamu penjelasan? Kenapa kamu pergi dengan kesalah pahaman ini?" Ucap Billa disela tangisnya.


Dicky menoleh kearah Billa, dia menatap perempuan itu dengan tatapan tajam, seolah dia ingin memangsanya.


Dicky menjauhkan Billa dari Felly, dia mendorongnya dengan kasar.


"Bukan penyakitnya yang bikin Felly mati, tapi LOE!" Bentak Dicky dengan kasar.


"Seneng loe liat Felly mati? Inikah yang loe mau? Sekarang kemauan loe udah terwujud. Seneng loe? Puas loe?" Ucap Dicky semakin menggebu-gebu.


Billa jatuh tersungkur kelantai, dia benar-benar tak menyangka Dicky setega itu terhadap dirinya, hatinya begitu sakit.


Tangisnya semakin menjadi-jadi. Dia tak tau setan apa yang baru saja merasuki Dicky hingga Dicky dengan kasarnya memperlakukan dirinya.


Bisma mendorong Dicky, dia tak terima jika perempuan yang dia cintai diperlakukan kasar seperti itu.


"Loe berani sentuh dia!" Bisma sangat emosi, dia mengepalkan tangannya dan melayangkannya pada wajah tampan Dicky.


Buk!


Bisma memukul Dicky dengan sangat keras, hingga tangannyapun terasa sakit.


Dicky menyusut ujung bibirnya yang sedikit berdarah.


Dicky tak tinggal diam, sedetik kemudian dia hendak membalas pukulan Bisma, namun Om Ferdi segera menghentikannya.


Billa sangat ketakutan melihat kemarahan Dicky. Dia tak tau apa yang harus dia lakukan dalam situasi seperti itu.


Hatinya benar-benar hancur, apa tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?


"Hey! Sudah-sudah Kalian jangan bertengkar disini! Kita harus hormat." Lerai Om Ferdi, dia segera menjauhkan Dicky dari Bisma yang sama-sama emosi.


"Sekali lagi loe bentak-bentak apa lagi sampai nyakitin dia, gue nggak segan-segan berbuat lebih nekad dari ini. Loe fikir disini cuma loe yang paling bener? Loe yang paling sedih kehilangan dia? Kita semua juga sedih. Tapi ini semua udah takdir. Loe harus terima kenyataan ini." Ucap Bisma dengan bijak.


"Udahlah Bis, dia memang bener. Aku yang menyebabkan Felly meninggal, aku yang salah. Aku memang bodoh!" Ucap Billa mengutuk dirinya sendiri.


"Bagus deh kalo loe sadar! Sekarang juga kalian pergi dari sini!" Dicky berteriak tak karuan.


"Sudahlah Ky, apa yang dibilang nak Bisma ini benar. Felly pasti sedih liat kalian seperti ini!" Seru Tante Vallen melerai.


Semua terdiam, hanya isak tangis Billa yang terdengar.


"Semenjak Felly mengidap penyakit itu, Om sama tante sudah menduga jika suatu saat hal ini pasti akan terjadi. Dan benar saja, saat itu sudah tiba. Felly berpulang kepangkuan Tuhan." Ucap Om Ferdi sambil menatap jasad putrinya.


"Mungkin Tuhan lebih menyayangi Felly dari pada kita sebagai orang tuanya. Dia nggak mau Felly merasakan sakit yang lebih lama." Ucap Tante Vallen.


"Kita ikhlas dengan kepergian Felly, kita yakin jika Felly akan menjemput kita kelak untuk ikut bersamanya disurga." Ucap Om Ferdi.


***


Didunia ini tak ada satupun sesuatu halpun yang kekal abadi, semua akan menghilang pada waktunya.


Harta, tahta, nyawa semua adalah milik yang maha kuasa.


Mungkin rasa sakit atas kehilangan sesuatu akan selalu membekas didalam hati.


Namun dunia takan berhenti sampai disini, bumi akan terus berputar mengikuti porosnya.


Suasana pemakaman Felly begitu mengharukan. Beberapa kerabat datang untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa.


Satu persatu orang yang menghantar Felly menuju peristirahatan terakhirnya mulai meninggalkan pemakaman.


Dicky terlihat lebih sedih dibandingkan orang tua Felly.


Dia memeluk batu nisan Felly sambil menangis.


Dia sangat sangat menyesal, dia masih belum bisa menerima kenyataan jika kekasihnya telah tiada. Tiada dengan cara yang seperti ini.


Belum sempat dia membahagiakan Felly seutuhnya, belum sempat dia membalas cinta tulus Felly.


Billa merasa sangat terpukul dengan kepergian Felly, dia merasa sangat bersalah, rasa penyesalan yang sangat mendalam dihatinya.


Apa yang dikatakan Dicky memang benar, bukan penyakit Felly yang membuatnya mati, tapi dialah penyebab kematian Felly.


Jika saja dia tidak mementingkan perasaannya mungkin Felly akan bertahan hidup lebih lama lagi.


Keegoisannya yang membuat ini semua terjadi.


Sedari tadi malam dia tak berhenti menangis, dia merasa sangat kehilangan sahabat terbaik dalam hidupnya.


Matanya terlihat membengkak.


Bisma selalu berada disampingnya, dia mencoba untuk menghibur Billa, namun Billa tetap terlarut dalam kesedihannya.


Billa tak berani untuk mendekat, dia takut Dicky kembali marah seperti semalam dan akan membuat suasana semakin kacau.


Andaikan kamu ngerti perasaan aku Ky, aku sedih liat kamu kaya gini. Aku sedih sama semua yang terjadi dan kamu nyalahin aku.


Maafin aku Fell, aku belum sempat buat kamu bahagia, bahkan diakhir hayat kamu aku bikin kamu kecewa.


Tapi percayalah Fell, aku sayang sama kamu, kamu sahabat terbaik yang pernah aku punya.


Aku nggak tau kedepannya akan seperti apa hari-hari aku tanpa kamu Fell.


Andai saja waktu bisa aku putar kembali, aku akan buat kamu bahagia seutuhnya, tanpa mengharap cinta Dicky kembali.

__ADS_1


Maafkan keegoisaan aku ini, aku menyesal Fell. Jeritan hati Billa.


***


__ADS_2