Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Berkunjung ke Lembang


__ADS_3

"tuh, kan ada." ucap Veni sambil tersenyum penuh kemenangan saat menemukan apa yang dia cari.


"kenapa nggak dari tadi sih? Hahaha :D" gumam Veni yang diiringi tawanya. Diapun segera mengambil surat berharganya itu.


Rafael yang baru kembali mengerutkan keningnya mendapati Veni yang sedang tertawa sendiri.


"loe lagi ngapain?" tanya Rafael.


Astaga!


Suara Rafael itu mengagetkan Veni, sontak Veni beranjak dari duduknya dan sedikit menjauh dari Rafael.


Rafael melihat isi tasnya yang sudah berantakan diatas rumput sintetis.


"apa-apaan ini?" tanya Rafael yang terlihat marah, dia melihat Veni yang memegangi benda kecil ditangannya, itu adalah sim dan ktp miliknya.


"gue cuma mengambil apa yang jadi hak gue." jawab Veni.


"astaga! Kenapa gue bisa sebodoh ini!" ucap Rafael, dia mulai mendekati Veni, tapi Veni langsung berlari menjauhinya.


"sial!" umpat Rafael.


Saat sudah berada beberapa meter jauh dari Rafael, Veni kembali membalikkan badannya.


"wlee." seru Veni sambil menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yang mengejek musuhnya.


Dia terus melakukan itu sambil berjalan mundur.


Tapi tiba-tiba Rafael tersenyum geli melihat kelakuan Veni, dia melihat Veni seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan keinginannya.


Astaga!


'apa yang gue pikirin? Dia terlihat sangat lucu.' gumam Rafael dalam hati.


Rafaelpun mulai membereskan berkasnya kembali kedalam tas, sesekali dia tersenyum sambil memunguti kertas itu.


"dasar cewe gila!" umpatnya sambil terus tersenyum mengingat Veni yang menjulurkan lidak kearahnya.


***


Hari-haripun berlalu dengan sangat cepat, hampir setiap hari Billa selalu bervideo call dengan mama Dinar dan Liona hanya untuk sekedar bercerita ataupun bercanda.


Billapun sempat bervideo call dengan Veni, ternyata sim dan ktpnya sudah kembali, dengan itu Bisma tidak perlu lagi untuk membujuk Rafael untuk mengembalikannya.

__ADS_1


Billa dan Bisma memasuki sebuah taksi online yang tadi dipesan Bisma, hari ini mereka akan mengunjungi rumah mama Dinar di Lembang, Billa terlihat antusias.


Taksi itupun melesat dengan lumayan cepat.


"Bisma, kamu pernah berapa kali datang kerumah mama?" tanya Billa ditengah perjalanan.


"baru 2x, itupun karena pertama aku kesana mama Dinarnya nggak ada dirumah, ehh aku malah ketemu Veni." jawab Bisma.


"terus, waktu kamu sama Veni direstoran itu lagi apa?" tanya Billa.


"iya itu, aku kira yang aku ajakin ketemuan itu mama Dinar, ehh taunya Veni yang sengaja ngasih nomornya sendiri sama aku aku, bukan nomor mama Dinar." jawab Bisma, Billa hanya manggut-manggut saja.


Kurang lebih satu jam taksi itu melaju, akhirnya mereka sampai juga ditempat tujuan.


Bisma dan Billa turun dari taksi itu setelah membayar sesuai argonya, merekapun langsung berjalan menuju pintu utama rumah itu.


Ting... Nong...


Bisma menekan bel yang ada dihadapannya.


"ternyata rumah mama besar banget ya Bisma?" ucap Billa.


"iya, maaf ya Bill aku belum bisa kasih kamu rumah sebesar ini." balas Bisma.


"memangnya kamu berencana kasih aku rumah sebesar ini?" tanya Billa.


"kalau ada rezekinya sih pengen." jawab Bisma sambil tersenyum.


Tiba-tiba pintu dihadapan mereka itu terbuka, terlihat Liona yang membukakan pintu rumahnya itu.


"aaaaa kak Billaaa, aku kangen bangeet." teriak Liona yang langsung memeluk Billa.


Billa sangat senang mendapat sambutan seperti itu dari tuan rumah, diapun dengan senang hati menyambut pelukan Liona.


"sama aku nggak kangen?" goda Bisma.


Liona melepaskan pelukannya dari Billa lalu menoleh kearah Bisma.


"kangen, tapi kangennya cuma 20%, 80%nya buat kak Billa.% jawab Liona.


Bisma hanya terkekeh menanggapinya.


"ehh, kalian sudah datang, ayo masuk!" seru mama Dinar yang baru datang.

__ADS_1


"mama." ucap Billa, dia langsung bercipika cipiki dengan mamanya itu.


Bisma meraih tangan mama Dinar dan menciumnya, sungguh menantu yang baik, pikir Liona saat melihatnya.


"ayo kita masuk." seru mama Dinar.


Merekapun masuk kedalam rumah yang bisa dibilang megah itu.


***


Bisma, Billa, dan om Suryo duduk diruang tamu, Bisma sangat senang karena mereka disambut dengan baik oleh papa tiri Billa itu.


"jadi ini yang bernama Billa, akhirnya kita bisa bertemu juga, ya." ucap om Suryo.


"iya, om. Saya senang bisa bertemu dengan keluarga om." jawab Billa.


"jangan panggil saya om, panggil saya papa sama seperti Veni dan Liona." ucap om Suryo.


"oh, iya. Baik pa, maaf ya pa kalau Billa bakalan sering-sering main kesini." ucap Billa.


"kamu jangan sungkan, pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untuk kamu. Anggap saja ini adalah rumah sendiri." jawab om Suryo.


Saat itu juga Mama Dinar datang sambil membawa potongan kue yang dibawa Billa tadi, dia meletakkannya diatas meja.


Setelah itu, diapun duduk disebelah om Suryo.


"pa, Veni kemana? Kok dari tadi ggak kelihatan?" tanya mama Dinar.


"tadi jam stngah 6 dia udah berangkat jogging sama teman-temannya." jawab om Suryo.


Mama Dinar manggut-manggut saja.


"papa berharap Billa akan tinggal disini setelah dia melahirkan, papa sangat rindu suara tangisan bayi." ucap om Suryo.


Bisma dan Billa saling menatap, mereka tidak menyangka dengan perkataan om Suryo.


"tapi itu kembali lagi kepada Bisma, kalau Bisma mengizinkan, kalaupun tidak, mama sama papa akan sering berkunjung kesana." sambung mama Dinar.


Bisma tersenyum sebelum akhirnya berkata.


"saya sih gimana Billa aja, kalau Billa maunya seperti itu, saya tidak akan melarangnya, asalkan Billa senang sayapun pasti akan ikut senang." jawab Bisma.


"jadi bagaimana Bill? Kamu setuju?" tanya mama Dinar.

__ADS_1


Billa terdiam, dia bingung harus menjawab apa, dia menoleh kearah Bisma, Bisma mengangguk sambil tersenyum padanya.


__ADS_2