Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Mama Vera oh mama Vera


__ADS_3

Om Ardi tidak menyangka akan dipertemukan kembali dengan mama kandungnya Billa setelah 20 tahun lebih, fisiknya tidak banyak berubah, masih terlihat menarik seperti dulu meskipun diwajahnya nampak garis-garis kerutan.


Tatapan mata sayunyapun masih sama, masih terasa hangat.


Mama Dinar menelan salivanya sendiri, kenapa mereka harus dipertemukan dalam situasi seperti ini? kenapa mama Dinar tidak berpikir panjang kalau papanya Billa juga akan menjenguk Billa bersama dengan istrinya.


Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, apalagi saat melihat tatapan tajam mama Vera padanya, seolah ingin menerkam dan menelannya hidup-hidup.


Om Suryo yang tidak tahu kalau pria paruh baya itu adalah papa kandung Billa, hanya bereaksi biasa saja. meskipun mama Dinar sudah menceritakan semua tentang masalalunya, tapi om Suryo tidak pernah sekalipun melihat wajah papa Billa sebelumnya.


Billa menggigit bibir bawahnya saat melihat mama Dinar dan mama Vera saling menatap dengan tatapan yang sulit diartikan, dia melirik kearah Bisma, terlihat wajah Bisma yang tegang sambil memperhatikan mereka, sepertinya Bismapun merasa khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Suasana berubah menjadi hening, sampai akhirnya...


"ohh, jadi sekarang kamu muncul disini? kemana saja selama ini?" teriak mama Vera dengan mata yang hampir keluar.


Baru saja satu kalimat yang dia ucapkan, tapi terasa menusuk kedalam hati mama Dinar.


"saya tau, pasti setelah berhasil merebut hati suami saya, tapi gagal memilikinya, kamu mencari target lain untuk dijadikan mangsa, cih! dasar p****r!" seru mama Vera meluapkan emosinya.


Semua orang dibuat kaget dengan perkataannya, om Ardi menjadi tidak enak hati atas sikap sang istri.


"ma, ingat tujuan kita kemari ingin menjenguk cucu kita, bukan mencari masalah." bisik om Ardi pada istrinya itu.


"diam dulu kamu pa!" seru mama Vera.


"Maafkan saya mbak Vera, saya memang bersalah. saya menyesal" ucap mama Dinar sambil menundukkan kepalanya.


"nggak ada gunanya menyesal, kamu tau gara-gara kamu rumah tangga saya hampir hancur." tanya mama Vera dengan nada tinggi.


"...apa kamu tau bagaimana perasaan saya selama bertahun-tahun hidup berdampingan dan membesarkan anak haram hasil hubungan suami saya dengan wanita lain?" bentak mama Vera dengan nada tinggi.


"stop! tante ini siapa sih? kenapa beraninya bentak-bentak mama?" tanya Liona dan langsung memeluk mamanya yang menangis karena mendapat bentakkan dari mama Vera.


"diam kamu anak kecil, oh atau kamu juga sama seperti dia, anak haram hasil hubungan gelap dengan suami orang." ucap mama Vera sambil menunjuk kearah Billa.


"maaf, maksud anda bicara seperti itu apa ya? kami merasa tidak nyaman dengan tuduhan-tuduhan anda itu." om Suryo merasa geram dari tadi melihat istrinya dimaki-maki.


"dia ini perempuan nggak bener, dia p****r, sama seperti anaknya ini, hamil sebelum nikah, memang benar apa kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." ucap tante Vera menggebu-gebu.


Om suryo, mama Dinar dan Liona kaget mendengar penuturannya.


"apa? benar apa yang mbak Vera bilang Bill, Bisma?" tanya mama Dinar melirik Billa dan Bisma bergantian.

__ADS_1


Bisma tertunduk menahan malu, apa yang harus dia katakan? sedangkan Billapun hanya diam.


"jawab mama Bill!" seru mama Dinar.


"itu benar, ma. Maafkan saya karena tidak sebaik yang mama kira, saya mau menebus semua kesalahan saya kepada Billa." ucap Bisma masih sambil menunduk, dia enggan melihat kekecewaan diwajah sang ibu mertua.


"...tapi percayalah, saya sangat mencintai Billa." sambung Bisma.


Mama Dinar terdiam mendengar pengakuan Bisma, itu bagaikan suatu tamparan keras untuknya, bagaimana mungkin hal buruk yang sama dapat menimpa putrinya.


"jangan sok-soakan kaget seperti itu, anak haram melahirkan anak haram, bukankah itu suatu prestasi yang sangat luar biasa. hahaha." Mama Vera tertawa puas karena berhasil memojokkan mama Dinar dan Billa, dua perempuan yang sangat dibencinya.


Mama Dinar merasa diinjak-injak oleh perkataan mama Vera, tapi apa daya, diapun tidak dapat menyangkal hal itu karena yang dia katakan memang benar adanya.


"tolong jaga bicara anda, saya bisa melaporkan anda kepada pihak yang berwajib karena sudah mencemarkan nama baik istri saya." ucap om Suryo yang geram dan sudah habis kebasarannya.


"hahaha anda ini lucu sekali ternyata, dia ini bukan perempuan baik-baik, saya tau betul dia adalah perempuan penggoda, dan sepertinya dia berhasil menggoda anda dengan kepura-pura baikannya." ucap mama Vera menggebu-gebu.


"cukup mbak, saya bukan perempuan seperti yang mbak bilang, semua terjadi tanpa dikehendaki." ucap mama Dinar dengan air matanya yang sudah meleleh.


"maafkan istri saya, dia bicaranya suka ngelantur. ayo kita pergi ma!" seru om Ardi lalu menarik paksa mama Vera agar ikut keluar bersamanya.


"tapi mama belum selesai bicara pa!" mama Vera meronta.


Hatinya terasa dicabik-cabik oleh perkataan Billa, bagaimana mungkin dia tidak ingin melihat cucu yang selama ini dia nantikan, tapi dia merasa sudah tidak memiliki muka dihadapan mama Dinar atas apa yang telah diperbuatnya, om Ardi masih mematung diposisinya sambil memegangi handle pintu.


"...kemarilah pa, Rian mau digondong sama papa, kakeknya." sambung Billa.


Om Suryo sedikit banyak sudah mulai paham dengan apa yang jadi masalah diantara mereka ketika Billa memanggil pria paruh baya itu papa.


Om Ardi berbalik dan melangkah mendekati Billa.


"maafkan papa nak, papa tidak bisa jadi papa yang baik buat kamu." ucap om Ardi dengan mata yang berkaca-kaca.


"nggak pa, papa adalah yang terbaik, Billa sayang sama papa." ucap Billa sambil bersandar manja pada papanya.


"sini papa mau lihat cucu papa, siapa namanya? Rian ya?" tanya om Suryo.


"iya, namanya Muhammad Adrian DhiyaRahman, kita panggil Rian pa." ucap Bisma sambil tersenyum.


Billa memberi kesempatan papanya untuk menggendong sang bayi, om Ardi sangat terharu ketika mengangkat tubuh kecil si bayi, dia kehilangan kesempatan menimang-nimang putri kandungnya saat bayi. Dia berharap dengan hadirnya anak Billa, dia bisa menebus semua waktu yang sudah terbuang sia-sia.


Sementara itu, diluar ruangan perawatan Billa, langkah Rafael dan Veni terhenti ketika mendengar suara keributasan dari dalam sana. Mereka mengurungkan niatnya untuk langsung masuk, mereka menguping apa yang sebenarnya sedang diributkan.

__ADS_1


"siapa sih yang lagi marah-marah?" tanya Veni namun tidak digubris Rafael, Rafael sedang sibuk sendiri dengan fikirannya ketika mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya.


Rafael menelan salivanya, itu adalah mamanya yang sedang teriak-teriak sehingga suaranya terdengar sampai keluar.


Veni memegang handle pintu hendak masuk kedalam, namun dengan cepat Rafael menahan tangannya karena merasa situasi didalam sana sedang memanas.


"jangan masuk dulu!" seru Rafael.


Veni menatap Rafael kemudian beralih melihat tangan Rafael yang menyentuh tangannya, lalu kembali menatap Rafael lagi.


Rafael merasa grogi ketika Veni menatapnya seperti itu, tiba-tiba saja jantungnya jadi dag dig dug tidak menentu, Veni terus menatap Rafael yang juga sedang menatapnya.


Veni jadi geram sendiri karena Rafael tidak juga menyingkirkan tangannya, tapi Veni tidak lagi memperdulikan tangan Rafael yang memegangi tangannya, dia lebih tertarik dengan ucapan orang yang sedang marah-marah didalam sana.


Dia memasang telinganya lebar-lebar untuk memperjelas apa yang sebenarnya orang itu katakan.


Veni terbelakak kaget ketika memahami maksud dari ucapan si orang yang sedang marah-marah itu, Veni menyimpulkan kalau Billa adalah anak hasil hubungan diluar nikah dan bayi yang baru dilahirkan Billa juga adalah anak haramnya bersama Bisma.


"nggak nyangka gue." ucap Veni sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Rafaelpun tersadar dari lamunan anehnya tentang Veni yang terlihat sempurna saat tidak sedang marah-marah.


"nggak nyangka apa?" tanya Rafael.


"loe nggak denger tadi?" Veni balik bertanya, Rafael menggeleng karena memang sedari tadi dirinya hanya fokus memperhatikan Veni.


"apa jangan-jangan loe juga tau kalau Billa adalah anak haram dan bayinya juga sama seperti dia, anak hasil hubungan gelap?" tanya Veni dengan wajah serius.


"loe tau dari mana?" tanya Rafael yang jadi tegang ditanya seperti itu, menurutnya ini adalah aib dalam keluarganya, dan orang lain tidak sepatutnya tau soal masalah ini.


"loe ini tuli atau budeg sih? Jelas-jelas orang yang marah itu ngomong seperti itu tadi." jawab Veni semakin geram.


Rafael terdiam.


"udah ahh, gue mau masuk. kayanya lagi seru didalam." ucap Veni yang langsung mendorong pintu kedalam.


"Ven, jangan dulu!" cegah Rafael, tapi Veni sudah terlanjur masuk kedalam.


Rafael menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


'sepertinya masalah baru akan muncul.' batin Rafael.


Tinggalkan jejaknya ya readers...

__ADS_1


__ADS_2